
Bugh!
Bugh!
Alenna dan Aldo terjatuh ke lantai karna kedua sosok tersebut memukul kepala mereka dengan balok kayu yang mereka bawa. Alenna dan Aldo tak sadarkan diri.
πΊπΊπΊ
"Hosh hosh hosh..." Amel dan Angga terengah-engah sambil menyentuh kedua lutut nya. Untung saja ia sudah keluar dari tempat tersebut.
"Loh... Ngangetin gue aja... Mel... Hoshh" Ucap Angga masih terengah-engah. Amel menatap Angga.
"Tadi tiba-tiba ada setan di sebelah gue. Gue kaget" Jawab Amel sama terengah-engah. Tak lama, Steven keluar dari rumah hantu tersebut dan menghampiri Amel serta Angga.
"Oy!" Steven menepuk pundak Angga dan Amel. Mereka terlonjak kaget.
"Ish! Ngagetin aja!" Kesal Amel menatap Steven kesal.
"Lo berdua ngapain ninggalin sih? Kasian noh Alenna sama Aldo" Jelas Steven. Amel dan Angga terdiam, sedetik kemudian mata mereka membulat.
"ALENNA SAMA ALDO!" Teriak mereka baru sadar bahwa meninggalkan temen mereka di dalam rumah hantu.
"Ya ampun... Kenapa gue bisa ceroboh sih? Gimana sama Alenna? Terus gimana sama ayank beb gue?" Cerocos Amel khawatir.
"Bucin!" Ketus Angga tapi tak di perdulikan oleh Amel.
"Udah yuk mending kita cari mereka" Ajak Amel hendak kembali kerumah hantu tapi pundaknya di tahan Angga.
"Lo berani?" Tanya Angga memastikan. Amel terdiam wajahnya terlihat pucat kembali dan ia meneguk salivanya susah payah. Membayangkan kejadian tadi saja membuatnya bergidik ngeri.
"Tuh, lo aja gak berani. Udah nanti juga mereka keluar" Kata Angga yang di angguki Steven dan Amel.
"Tuh, kita duduk di situ aja, nunggu mereka" Steven menunjuk kursi panjang yang diduduki Amel dan Alenna tadi. Mereka pun berjalan kesana dan duduk sembari menunggu Alenna dan Aldo keluar.
Mereka mencoba berpikir positif! Terlebih merekan tahu bahwa Alenna tidak takut dengan yang namanya hantu-hantuan. Pasti mereka akan keluar secepatnya.
πΊπΊπΊ
Alenna mengerjapkan matanya berkali-kali, kepalanya sangat pusing. Saat mata Alenna telah terbuka sempurna, ia merasakan cairan menetes di kelapanya. Alenna pun melihat dan menyentuh jidatnya. Darah...
Kepala Alenna berdarah.
Ia melihat sekeliling, satu nama yang terpikirkan oleh Alenna.
Aldo... Dimana Aldo?
Batin Alenna. Matanya mencari sosok Aldo.
Ia menyadari bahwa mereka berada di ruangan yang gelap dengan pencahayaan minim dan terlihat seperti tidak berpenghuni, kosong, serta kumuh.
Alenna bangkit berdiri perlahan dan memeriksa, apakah tasnya masih aman. Ternyata tas itu tidak kemana-mana dan masih bertengger manis di pundak Alenna.
"Hmmmmppp-" Alenna mendengar suara seseorang. Ia menajamkan pendengaran nya dan mengikuti sumber suara.
Berhentilah ia di sebuah pintu yang Alenna sendiri ada apa di dalamnya. Bahkan Alenna tidak tau apakah pintu itu terkunci atau tidak.
Alenna teringat akan sesuatu.
Pistol!.
Alenna segera mengeluarkan pistol yang ada di dalam tasnya. Ia tidak tahu apakah ini ada pelurunya tau tidak. Yang jelas ia ingat surat dari Kenzo. Alenna sedikit takut menggunakan benda ini. Walaupun hanya memegang.
Bruk!
Alenna menendang pintu tersebut dan terbukalah menampilkan sebuah ruang kosong yang sangat kumuh. Ia berjalan perlahan memasuki ruangan itu, sampai ia menemukan Aldo. Ia di dudukan di kursi, kedua tangannya di ikat ke belakang, dan mulutnya di sumpal dengan kain.
"Aldo!" Ia segera berjalan menuju Aldo. Yang di panggil menatap Alenna terkejut dan melihat kearah pistol yang di bawa Alenna. Lalu Aldo menggeleng kuat.
Alenna bingung, apa maksud Aldo menggeleng.
"Aldo! Lo gapapa kan?" Tanya Alenna saat sudah berada di hadapan Aldo.
__ADS_1
Aldo menatap Alenna tajam, sangat tajam. Alenna bingung dengan tatapan itu. Aldo terus menjerit dan memberikannya isyarat yang Alenna tidak tahu apa maksudnya.
"Lo kenapa sih? Ayo kita keluar di sini" Alenna hendak membuka ikatan di tangan Aldo. Tapi Aldo memberikan petunjuk dengan dagunya kearah belakang Alenna. Seakan ada seseorang di belakang.
Alenna mengikuti arah pandang Aldo dan benar saja, di belakangnya ada sosok dengan pakaian serba hitam tengah memegang pistol.
Dorr!
"AKHHH!" teriak Alenna terkejut saat mendengar suara tembakan. Senapan itu menembus ke langit langit ruangan tersebut. Orang yang menembak meletuskan pistolnya ke arah atap ruangan, seakan memberikan peringatan.
"Siapa lo?!" Tanya Alenna sambil menunjukkan pistolnya ke arah sosok tersebut. Tangannya bergetar saat sosok itu mendekatinya dengan pistol yang juga ada di tangannya.
"jangan ngedeket! Atau gue tembak!. Pergi!!!" Teriak Alenna pada sosok itu agar menjauh.
Oh Tuhan Alenna sangat takut sekarang. Bagaimana ini?
Sosok itu tak takut sedikitpun, bahkan ia malah terus maju sambil menodongkan nya pada Alenna.
Ya Tuhan... Tolong!.
Batin Alenna memohon.
Sial! Alenna tidak bisa mundur lagi. Ia menabrak dinding di belakangnya. Seketika Mata Alenna terbelalak saat melihat sosok itu mengarahkan senapan nya pada Aldo yang masih berada di kursi.
"JAUHIN PISTOL ITU DARI ALDO! ATAU GUE TEMBAK LO SEKARANG!!!" Teriak Alenna memperingati. Alih alih menurut, sosok itu malah membuka masker hitam yang ia kenakan dengan topi hitam dan kacamata hitam yang ia kenakan.
Alenna membuka mulutnya tak percaya melihat siapa yang ada di hadapannya ini. Alenna menatap sosok itu dengan tatapan yang bercampur antara, terkejut, tak percaya, marah dan kecewa. Bercampur menjadi satu.
"Sa-sarah?"
Ucap Alenna terbata. Sarah mengisyaratkan salah satu anak buahnya yang berada tak jauh darinya untuk melakukan sesuatu. Alenna bahkan tidak tahu sejak kapan orang itu ada di belakang Sarah.
Anak buah Sarah mengangguk patuh lalu pergi begitu saja meninggalkan Sarah, Alenna dan Aldo. Bukan hanya Alenna yang terkejut, Aldo pun ikut terkejut saat tahu siapa yang telah melakukan ini semua. Aldo terus meronta tak karuan. Tapi apalah daya, dia tidak bisa apa-apa sekarang.
"Sarah... Ke-kenapa lo ngelakuin ini?"
πΊπΊπΊ
Sebuah notifikasi masuk di layar ponsel Steven, Angga, dan Amel secara bersamaan. Mereka segera mengecek handphone mereka masing masing.
From: Unknown
Datanglah ke ΓΓΓΓΓΓ
Kalian akan mendapatkan kejutan. Kedua sahabat kalian juga ada disana.
Setelah membaca pesan tersebut, mereka mengerutkan alisnya bingung. Tak sadar mereka saling pandang.
"Kenapa lo ngeliat gue kayak gitu?" Tanya Angga saat melihat Amel menatapnya aneh.
"Nih" Amel menyodorkan isi pesan yang ia dapatkan tadi kepada Angga dan Steven.
Mereka terkejut karna pesannya sama seperti pesan yang mereka Terima.
"Lah... Gue juga dapet nih!" Ucap Angga menunjukkan juga.
"Gue juga" Saut Steven.
Mereka terdiam sebentar berpikir.
"Dari siapa nih? Kok bawa bawa... "
"Alenna sama Aldo?" Kata Amel melanjutkan perkataan Angga.
"Kayaknya kita harus dateng ke tempat itu deh. Soalnya kan Alenna sama Aldo gak keluar-keluar dari tuh rumah hantu. Gue jadi khawatir... " Usul Amel.
"Udah sejam kita nunggu disini" Lanjut Amel mengangguk.
"Mending kita tanya dulu ke rumah hantunya. Siapa tau mereka ke sesat" Usul Angga.
"Hm bener juga. Ayo!" Mereka segera kembali ke rumah hantu dan bertanya pada penyelenggara apakah mereka mendapati Alenna dan Aldo di rumah hantu. Tapi penyelenggara bilang mereka sedang istirahat, mereka sudah cek bahwa tidak ada orang lain lagi di dalam rumah hantu tersebut. Amel, Angga, dan Steven semakin khawatir serta bingung harus mencari Alenna dan Aldo kemana lagi.
__ADS_1
Mereka mendatangi setiap wahana, tapi nyatanya mereka tidak bertemu dengan Alenna dan Aldo. Lelah mencari, mereka beristirahat sebentar.
"Gimana nih? Mereka gak ketemu..." Ucap Angga frustasi.
"Gue juga gak tau" Ucap Amel ikutan frustasi karna sahabat dan kekasih nya pergi entah kemana.
Steven sendiri masih diam. Pikirannya kacau, ia takut Alenna kenapa-kenapa.
Alenna... Kamu dimana? Kenapa gak ada jejak kayak gini?.
Batin Steven.
Aldo... Kamu kemana sih? Kenapa ngilang gitu aja? Kemana kalian berdua?.
Batin Amel.
Mana sih Alenna sama tuh orang?. Kayak setan aja ngilang tiba-tiba.
Batin Angga.
Setelah hening beberapa saat, Steven kembali membuka suara.
"Kita emang harus ke tempat yang dikirim itu!. Gue yakin, Alenna sama Aldo di sana"
πΊπΊπΊ
"Kenapa?! Lo tanya kenapa?!" Bentak Sarah di depan wajah Alenna. Wajah Sarah terlihat sangat merah karna amarah.
"Seharusnya lo mikir!. Lo yang udah ngerebut semuanya dari gue!. Keluarga, masing sayang, Kenzo, Steven, dan harta!. Semuanya lo ambil dari gue!. Setelah itu dengan gampangnya lo tanya gue kanapa?!!" amarah Sarah sepertinya sangat memuncak sekarang. Lidah Alenna keluh air matanya terlepas begitu saja dari pelupuk mata.
Semua yang di katakan Sarah salah!. Alenna yang bahkan merasakan itu, tapi kenapa seolah olah Sarah yang tersakiti disini?!.
"Kenapa lo selalu hidup bahagia Alenna?!. Kenapa?!!. Sedangkan gue selalu aja iri sama lo karna lo punya segalanya!"
"Papa ngusir gue dari rumah karna lo! Mama nampar gue karna lo!, Kenzo ngebatalin pertunangan nya demi lo!, Karna dia cinta sama lo!, Dan Steven dia rela mabuk karna lo!!. Semuanya karna lo Alenna!!" Sarah terus saja berteriak di hadapan Alenna yang kini sudah menangis. mata Sarah memerah menahan tangis, walaupun tetap saja mengeluarkan air mata.
Ia tak menyangka bahwa saudara tirinya melakukan perbuatan seperti ini hanya karna rasa iri padanya. Alenna sungguh tak habis pikir.
"Terus apa yang gue dapet? Hah? . Gak ada" Kata Sarah perlahan.
Tapi tak berselang lama, wajahnya langsung berubah dan menampilkan ekspresi mengerikan dan seringaian yang sungguh membuat Alenna takut.
"Sekarang, biarin semua orang benci sama lo. Gue mau semua orang benci sama lo! . Karna itu satu satunya cara biar lo menderita, Alenna Patricia" Ucap Sarah kembali mengarahkan pistolnya kepada Aldo. Alenna melebarkan matanya.
Srret!
Sarah mengambil pistol di tangan Alenna saat Alenna lengah dengan tangannya yang terbalut oleh sarung tangan hitam Sarah mudah untuk mengambil pistol tersebut, tanpa harus takut dengan sidik jari. Tentu saja, Sarah benar-benar licik.
Alenna tak tau harus bagaimana lagi. Ia tak punya apa-apa untuk perlindungan sekarang. Ingin sekali Alenna mencari bantuan dengan ponselnya, tapi apalah daya handphone nya saja di ambil Sarah saat dia pingsan.
"Sarah gue mohon! Jangan lakuin ini ke dia!. Gue mohon Sarah...
Lo boleh lukain gue asalkan jangan dia!. Aldo gak ada sangkut pautnya dalam masalah ini!. Gue mohon Sarah... " Mohon Alenna dengan tangis yang sangat menyedihkan.
Ia tak mau orang lain terlibat dalam masalah ini, ia tidak mau Sarah menjadi pembunuh. Tak apa jika Alenna di lukai, asalkan jangan Aldo, dia tidak tahu apa apa masalah ini.
Sarah menyeringai puas saat Alenna berhasil di taklukkan. Namun tentu saja ia tak merasa iba melihat adik tirinya mengemis belah kasihan nya seperti ini.
"Udah terlambat, gue mau semua orang benci sama lo"
Dorr!
πΊπΊπΊ
HAYYY GUYSSSSS APA KABAR NIH???
KASIH OPINI KALIAN YA MENGENAI CHAPTER INI.
JANGAN LUPA JUGA UNTUK VOTE DAN COMMENT CERITANYA.
SAMPAI JUMPAππππ
__ADS_1