
*Alenna... Alenna... Lucu banget sih.
Batin Kenzo.
"Barengan yuk*!"
πππ
"Kenzo! Kamu kok ninggalin sih?!" Datanglah Sarah yang membawa beberapa paper bag, keluar daru toko. Kini ia sudah berada di samping Kenzo dengan tangan yang memeluk lengan Kenzo. Alenna hanya diam.
"Loh, kok bisa ada dia disini?" Sinis Sarah bertanya. Alenna masih diam. Tangannya terus menatap tangan Sarah yang memeluk lengan Kenzo.
Seolah menyadari arah pandangan Alenna, Kenzo segera melepaskan tangan Sarah dari lengannya.
Sarah menatap Kenzo kesal.
"Owh iya gue lupa, lo kan sekarang lagi deket sama Steven, pantes aja lo sekarang ke mall. Pasti abis dapet duit dari dia kan?" Fitnah Sarah sinis. Alenna hanya diam dengan tangan yang mengepal, dan Sarah menyadari itu.
"Sarah, jangan sembarangan"
"Aku gak sembarangan Kenzo. Dia tuh tukang manfaatin orang!" Lanjut Sarah semakin menjadi-jadi. Amel yang sedaritadi diam, kini sudah tidak tahan lagi melihat Alenna di hina. Dan parahnya Alenna hanya diam. Yang benar saja!.
Brak!
Amel sengaja menjatuhkan barang belanjaannya ke lantai begitu saja. Ia pun berjalan ke arah Sarah dengan tatapan tajam. Banyak pasang mata yang menyaksikan hal tersebut. Mulai dari yang hanya sekedar lewat, yang berada di toko, dan para staff mall tersebut.
Plakkk!
Tamparan keras di Terima oleh Sarah. Gadis itu merasakan perih di pipinya, ia pun memegang pipinya yang merah lalu menatap Amel horror. Semua orang terkejut bukan main, termasuk Alenna, Kenzo, dan para pasang mata yang menonton.
"LO YA! MASIH AJA GAK KAPOK!. UDAH GUE PERMALUIN DI SEKOLAH, MASIH AJA MAU NAMBAH LAGI!"
"maksud lo ngejelek-jelekin Alenna depan Kenzo apa? Mau pansos? Mau caper? Hah?. Jawab!" Sarah hanya diam namun tatapannya masih tajam. Sudah dua kali ia di tampar. Apalagi dengan adik kelasnya sendiri.
"Lo gak puas di sekolah udah bikin Alenna mimisan sampe pingsan?. Mikir dong! Lo punya otak kan?. Sikap lo tuh udah kayak jalang tau gak?!" Masih banyak kata-kata kasar yang Amel keluarkan. Ia tak habis pikir dengan Sarah. Dia selalu saja menindas Alenna.
"Mel udah mel" Pinta Alenna dengan suara lemas. Kepalanya pusing mendengar kegaduhan disini. Pandangannya mulai kabur.Β
__ADS_1
"Gak bisa len! Dia udah kelewatan!"
Kata Amel dengan napas memburu. Alenna diam wajahnya mulai pucat.
"Tunggu, Alenna mimisan? Pingsan?" Tanya Kenzo bingung. Amel beralih kearah Kenzo.
"Iya! Alenna mimisan sampe pingsan, gara-gara nih cewek, yang sengaja ngelempar bola basket ke arah Alenna pas di sekolah!. Dan dengan tanpa rasa bersalah nih anak malah nyalahin Alenna" Jelas Amel. Kenzo menatap Sarah dingin. Sangat. Dingin. Sampai mata Sarah tak sanggup menatap matanya lagi.
"Kenzo bukan gitu a-"
"Bukan gitu apanya? Jelas-jelas begitu kenyataannya. Udahlah gak usah kebanyakan alesan" Potong Amel tidak membiarkan Sarah membela diri.
"Lo tau apa sih?!. Lo jangan ngebelain cewek jalang kayak dia deh!. Di bayar berapa lo sama dia sampe bisa-bisanya ngefitnah gue kayak gitu?. Hah?!" Mendengar penuturan Sarah, Amel semakin di buat naik pitam. Nih anak bener-bener...
"Wah bener bener nih or-" Ucapan Amel terpotong karna mendengar suara Alenna.
"Mel udah mel udah... Kita pulang aja yuk" Sungguh, suara Alenna terdengar sangat lemas seperi orang sakit. Bibirnya kering dan tatapannya kosong. Kenzo memperhatikan Alenna dengan lekat, Kenzo merasa ada yang tidak beres pada Alenna.
Kenzo sebenernya berniat untuk menghentikan pertengkaran tersebut. Namun ia ingin mendengarkan semua penjelasan nyata yang keluar langsung dari mulut Amel dan Sarah sendiri. Jadi ia urungkan niatnya.
Mungkin karna sudah telah tersulut emosi, Amel tidak menggubris permintaan Alenna. Bahkan Amel tidak sadar bahwa betapa lemahnya Alenna saat ini.
"Jaga mulut sampah lo ya"
"Emang dasarnya dia lemah kok"
Alenna berusaha untuk tetap berdiri tegap. Menjaga keseimbangan. Memulihkan pandangannya. Melawan rasa pusing. Itulah yang dilakukan Alenna sekarang. Namun semuanya sia-sia saat seseorang memeluknya dengan sangat erat dan membisikkan sesuatu ke pendengaran Alenna.
"Bertahan"
Setelah itu, kedua sudut bibir alenna tertarik ke atas membentuk senyuman yang sangat tipis namun terpancar ketenangan. Benak Alenna menghangat mendengar itu.
Itu memang bukanlah kata yang romantis dan membuat siapapun yang mendengar nya akan luluh. Bukan. Melainkan, bagi Alenna itu adalah sebuah dukungan tulus yang Alenna dengar.
Sarah dan Amel terkejut melihat Kenzo yang memeluk Alenna dengan erat. Seolah tidak ingin di lepas. Sedangkan Alenna, mata sudah tertutup didalam dekapan itu dengan wajah yang sangat pucat seperti mayat. Kenzo mengelus kepala Alenna tulus. Ia tidak peduli berapa banyak orang yang melihat adegan ini. Ia tidak peduli sekali. Bahkan ia sanggup membeli mall ini supaya orang lain pergi dari sini dan membiarkan posisi Kenzo dan Alenna tetap seperti ini.
Merasa ada yang aneh, Kenzo merenggangkan dekapannya. Aneh, Alenna tidak bergerak. Sesaat kemudian Kenzo segera menggendong Alenna ala bridel style. Melihat wajah Alenna yang pucat, membuat Kenzo panik. Hatinya tak tenang.
__ADS_1
Jangankan Kenzo, Sarah, Amel, dan para penonton pun terkejut. Ada yang kasihan, ada yang kesal, ada yang penasaran, dan ada juga yang hanya ingin sekedar tahu.
Kenzo membawa Alenna berjalan pergi dari keramaian, lebih tepatnya pergi ke luar mall.
"Liat, Ini semua gara-gara lo jalang!" Sinis Amel. Ia pun pergi menyusul Kenzo yang membawa Alenna. Sarah? Hanya diam. Terkejut, itulah yang dirasakan Sarah. Ia terkejut dengan Alenna yang tiba-tiba saja pingsan. Apa yang telah terjadi pada Alenna? Apa separah itukah efek bola basket yang ia lempar?.
Sarah memejamkan mata dan menarik napas dan membuangnya perlahan.
Tenang Sarah... Dia pasti bakalan baik baik aja. Lo gak perlu khawatir.
Sarah pun pergi berjalan menghindari semua tatapan yang menatapnya. Entah lah, banyak tatapan sinis nan tajam kearahnya. Namun Sarah terus berjalan pergi.
"Eh liat deh... Dia yang tadi tampar itu kan?"
"Iya, katanya sih dia jahat"
"Iya mungkin"
"Hush gak boleh ngomongin orang"
"Abis dia jahat"
"Cowok tadi ganteng banget ya. Cewek yang pingsan juga cantik banget. Cocok"
"Eh, itu ada belanjaannya ketinggalan"
Benar, belanjaan Amel tertinggal di lantai. Mungkin Amel melupakannya.
"Udah kasih aja ke sekuriti"
Kira-kira seperti itulah yang di bicarakan para saksi mata setelah kejadian tersebut telah usai.
Di sisi lain Kenzo telah membawa Alenna pergi kerumah sakit. Sungguh ia sangat khawatir. Di otaknya banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab mengenai gadis yang berada di kursi penumpang dengan keadaan tertidur.
Apa yang terjadi pada Alenna?. Apa yang Alenna alami?. Alenna sakit apa?. Apa masalahnya dengan Sarah?. Kenapa Sarah membenci Alenna?. Dan masih banyak lagi.
Pertanyaan itu berputar terus di otak Kenzo sampai ia tiba di sebuah rumah sakit.
__ADS_1
πππ