BROKEN

BROKEN
wake up!


__ADS_3

"Udah terlambat, gue mau semua orang benci sama lo"


Dorr!


🌺🌺🌺


"ALDO!!!" teriak Alenna saat melihat tubuh Aldo terkena timah panas dari Sarah yang menembak Aldo di bagian perut menggunakan pistol yang Alenna dapatkan dari Kenzo.


Alenna berlari ke arah Aldo yang sudah berdarah. Alenna menangis melihat temannya sekaligus kakak kelasnya terbujur dengan darah yang mengalir dari perut sampai menembus bajunya.


"Aldo!. Gue mohon bertahan, plisss Aldo gue bakal bawa lo pergi dari sini" Ucap Alenna dengan sesegukan. Ia membuka tali yang melilit di mulut Aldo sehingga Aldo bisa berbicara.


Aldo melihat Alenna dengan tatapan aneh.


"Pe-pergi... Len.. " Cicit Aldo dengan raut wajah kesakitan. Alenna menggeleng. Ia tidak tega meninggalkan Aldo sendirian dengan si iblis Sarah.


"Enggak! Gue gak mau ninggalin lo. Kita pergi dari sini" Ketika Alenna hendak membuka tali Aldo, Sarah menjambak rambut Alenna dari belakang membuat Alenna meringis.


"Mau kemana lo?. Udah disini aja" Ucap Sarah yang sangat terdengar mengerikan. Alenna meronta sambil terus menangis.


"Biadap lo Sarah!. Lepasin Aldo!" Geram Alenna sambil terus melawan.


"Lepasin dari dunia maksud lo?. Oke gue turutin" Alenna melotot saat melihat Sarah yang kembali mengarahkan pistolnya kepada Aldo.


"Jangan!. Sarah gue mohon jangan lagi!" Sarah menyeringai melihat Alenna yang bagaikan pengemis yang meminta belas kasihannya.


"Gue mohon Sarah... Gue mohon... " Mohon Alenna lagi walaupun ia berusaha menahan rasa sakit di kepala dan rambutnya.


"Sa-sarah, lo licik!. Cewek murahan! Jalang!" Saut Aldo menatap Sarah benci. Sarah menyeringai lagi.


"Lep-pasin Alenna!" Lanjut Alenna meringis karna sesekali perutnya sakit.


"Wow! Drama yang menarik. Oke akan gue turutin" Sarah membidik Aldo dan...


Dor!


"AKKHH!!!"


"ALDO!!!!!!"


Sarah melepaskan jambakan nya pada Alenna. Segera Alenna berlari mendekat ke arah Aldo. Ia menangis sejadi-jadinya saat melihat Aldo sudah menutup mata. Ia menggeleng perlahan...


"Gak, ini gak mungkin... Aldo bangun... Aldo bangun do... Kita harus pergi dari sini!" Ucap Alenna lirih sambil terus menangis.


Semua salah lo len! Salah lo! Lo emang pembawa sial!.


Batin Alenna menyalahkan diri sendiri.


Tanpa Alenna sadari, Sarah mendekat dan menaruh sebuah pistol dan handphone punya Alenna di samping nya. Pistol pemberian Kenzo yang masih terdapat sidik jari milik Alenna. Setelah itu ia dan anak buahnya segera pergi entah kemana, menghilang di balik kegelapan. .


"Lo harus bertahan Aldo... Gue mohon sama lo. Ini semua salah gue" Mohon Alenna. Perlahan mata Aldo terbuka walaupun hanya sedikit. Tiba-tiba saja tangannya di genggam oleh Aldo. Alenna senang melihat Aldo yang masih bisa meresponnya.


"Aldo... "


"Al-alenna... G-gue mo-mohon sama lo... Lo harus kuat ha-hadepin Sarah. Lo gak boleh putus asa. Ungkap kejahatan Sarah... " Alenna kembali menangis mendengar ucapan Aldo yang sekarang terdengar sesekali meringis kesakitan.


Ya Tuhan... Aldo gak salah ya Tuhan! Tolong kuatkan dia. Alenna mohon...


Batin Alenna.


Aldo berusaha tersenyum kepada Alenna walaupun sesekali ia batuk dan darahnya terus mengalir dari bagian tubuh yang Sarah tembak.


"Gu-gue per-gi ya len..." Genggaman tangan Aldo melonggar, senyumnya pudar, dan matanya tertutup sekarang.


Alenna menutup mulutnya tak percaya melihat Aldo yang sudah tiada di hadapannya.


"Aldo! Bangun do! Kita kerumah sakit sekarang. Ayo!"


"Bangun do!. Nanti Angga nyariin lo!. Amel khawatir sama lo Aldo! Bangun!" Alenna terus memanggil nama Aldo dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa Aldo belum tiada.


Sampai akhirnya ia menyerah dan terduduk lemas di lantai dekat kursi dimana Aldo di ikat. Alenna nangis terisak-isak melihat Aldo yang sudah tak bisa membuka matanya lagi.


"Ke-kenapa bisa kayak gini? Kenapa gak gue aja?! Kenapa harus orang yang gak bersalah!" Teriak Alenna sangat putus asa.


Alenna terus menangis sambil terus memanggil Aldo untuk bangun. Tapi nihil, kedua timah panas telah ada di tubuhnya sekarang.


BRUK!


Saat Alenna hendak membuka semua ikatan di tubuh Aldo, Tiba-tiba saja pintu di dobrak dengan keras sampai membuat Alenna tersentak dan berbalik melihat siapa orang yang telah melakukan perbuatan tersebut.


Matanya terbuka saat melihat siapa yang datang. Amel, Angga, dan... Steven. Mereka juga sama terkejutnya melihat keberadaan Alenna disana, ditambah mata mereka yang mereka alihkan kepada samping Alenna, Aldo.


Mata mereka tak percaya melihat pemandangan mengenaskan di hadapan mereka.


"ALDO!!!!" teriak ambil berlari kearah Aldo yang sudah tak berdaya. Gadis itu menangis sambil terus mengguncang tubuh Aldo.


"Aldo?" Steven dan Angga segera berjalan menghampiri Aldo. Mereka sangat tekejut saat melihat tubuh Aldo di penuhi luka di perut khusus nya.


Steven beralih menatap Alenna yang tampak kacau.


"Alenna? Aldo Kenapa bisa kayak gini?" Tanya Steven memegang pundak Alenna yang masih terisak tangis. Ia sangat ingin menjelaskan tapi hatinya sangat dan sulit untuk menjelaskan.


"Steven... Aldo...Dia... " Alenna sangat sulit untuk menjelaskan. Ia masih sangat trauma. Steven memeluk Alenna memberikan ketenangan pada gadis itu.


"Aku takut Steven... Mereka jahat! Sarah jahat! Mereka bunuh Aldo!" Steven mengelus kepala Alenna lembut. Ia sadar betul bahwa Alenna sedang trauma sekarang.


Ia sempat terkejut saat Alenna membawa nama 'Sarah' dan 'mereka'.


"Ssssttt tenang. Aku disini, jangan takut" Alenna masih terus menangis di pelukan Steven.

__ADS_1


Angga memeriksa denyut nadi Aldo berserta napasnya. Berharap masih ada secercah harapan pada Aldo. Tapi ia meneguk salivanya susah payah sambil meneteskan air mata. Amel yang melihat Angga menangis semakin liar otaknya untuk berpikir yang tidak tidak.


"Angga, Aldo masih hidup kan? Dia baik baik aja kan?. Yakan?" Tanya Amel mengguncang tubuh Angga yang sekarang tatapannya kosong. Angga tak merespon apapun. Mendengar Amel semakin histeris Alenna dan Steven melepaskan pelukan nya.


"JAWAB ANGGA!" Teriak Amel di depan wajah Angga. Kini keadaan semakin tak beraturan.


Angga memeluk Amel dengan erat walaupun Amel terus meronta, tapi Angga tidak peduli dan terus memeluk Amel.


"Aldo... Dia udah meninggal, Mel" Amel menggeleng pelan saat mendapat satu kenyataan yang begitu pahit menimpa hidupnya. Tubuhnya lemas dan ia terduduk di lantai dengan derai air mata dan penampilan yang sangat kacau.


"Gak, gak mungkin Angga... Aldo tuh kuat. Dia pasti cuma pura-pura, dia pasti mau ngeprank gue doang" Amel kembali berusaha meyakinkan dirinya bahwa Aldo masih hidup dan ia hanya bersandiwara.


"Aldo bangun... Ini gak lucu tau gak?!" Alenna yang melihat itu semakin timbul rasa bersalah di hatinya.


"Mel... Udah Mel. Lo harus ikhlas, Aldo udah gak ada Mel... Lo harus kuat" Ucap Angga menenangkan Amel. Sampai akhirnya Amel pun menyerah dan tatapannya menjadi kosong.


"Lo harus Terima semua kenyataan Mel... Aldo udah ninggalin kita semua dan itu udah takdir" Tangis mereka semua pecah saat ucapan Steven membuat mereka kembali ke kenyataan pahit.


Bahwa mereka kehilangan sosok sahabat sekaligus kekasih Amel yang sangat ceria dan menjadi moodboster di antara mereka semua. Yaitu, Aldo.


🌺🌺🌺


Satu persatu orang-orang pergi meninggalkan pemakan Aldo, terkecuali Amel, Angga, Steven, Alenna, dan para sahabat Aldo yang lain. Aldo adalah yatim piatu, dan ia hanya diurus neneknya yang berada di bogor, tapi mengenai hal ini neneknya sudah tahu bahwa cucunya telah tiada. Namun karna sudah renta, Amel meminta nenek Aldo agar tidak di haruskan ke Jakarta, karna Amel takut bahwa terjadi sesuatu pada neneknya Aldo. Amel juga berjanji agar Amel dan kawan-kawan saja yang mengurus pemakaman Aldo. Walapun tadinya penuh penolakan dari sang nenek, akhirnya nenek Aldo mau meski dengan berat hati menerima kenyataan bahwa cucunya telah tiada dengan cara yang mengenaskan.


Amel terus menangis di pemakaman Aldo dan semuanya memaklumi hal itu.


"Amel, gue pamit ya. Lo harus tabah ya... " Pamit Julio kepada Amel dan kawan-kawan. Setelah itu diikuti dengan teman Aldo dan Steven lainnya.


Tinggalah Amel, Angga, dan Steven yang tersisa di pemakaman. Alenna tak jauh berbeda dengan Amel yang menangis tersedu-sedu.


"Mel, ayo kita pulang" Ajak Angga yang diangguki oleh Amel. Alenna berjalan di samping Amel sambil merangkul gadis itu sama halnya yang di lakukan Angga.


Steven berjalan di belakang Alenna.


"Permisi" Langkah Steven terhenti dan ia tertinggal oleh Amel, Alenna, dan Angga.


Steven melihat dua orang berseragam layaknya polisi berdiri di sampingnya.


"Ya pak, ada apa?" Tanya Steven sopan.


"Jadi begini, kami akan melakukan penyelidikan atas kematian saudara Aldo. Kami minta kesediaan Anda untuk membantu kami dalam penyelidikan. Apa anda bersedia?" Tanya polisi itu. Steven berpikir sejenak.


"Baik saya bersedia, apa yang bisa saya bantu pak?" Tanya steve menyetujui.


"Anda membantu kami untuk mencari kesaksian atau keterangan mengenai orang yang berada di tempat kejadian bersama korban. Jika anda tahu, harap hubungi kami untuk melaporkan" Jelas polisi tersebut.


"Baik Pak" Jawab Steven mantap.


"Kalau begitu Terima kasih atas kerja samanya" Polisi itu mengulurkan tangannya. Steven menjabat tangan polisi tersebut.


"Sama sama pak"


Batin Steven bersungguh-sungguh.


🌺🌺🌺


"Mel... Lo mau makan apa?" Tanya Alenna kepada Amel yang hanya diam duduk tanpa merespon.


"Gue gak laper" Acuh Amel dengan tatapan kosong tanpa melihat Alenna maupun Angga.


Alenna menghela napas berat. Ia tahu pasti Amel masih terpuruk karna kepergian Aldo, kekasihnya. Di lain sisi di hati Alenna, ia sangat menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.


Amel bangkit dari duduknya secara tiba-tiba dan berjalan begitu saja. Alenna dan Angga saling pandang.


"Mel lo mau kemana?!" Tanya Angga sedikit berteriak karna Amel telah jauh. Amel tak menjawab pertanyaan Angga dan terus berjalan.


Alenna menunduk, air matanya menetes. Rasa bersalah bersarang di hati dan pikirannya.


Angga melihat Alenna yang hanya menunduk dan sesekali air matanya menetes. Angga mengusap bahu Alenna.


"Lo jangan sedih, gak usah merasa bersalah. Ini semua bukan salah lo"


Ucap Angga mencoba menenangkan Alenna. Didengar tapi tidak di anggap, itulah yang Alenna lakukan saat mendengar ucapan Angga yang baginya tidak bisa mengubah opininya bahwa ia bersalah.


Atas semua yang terjadi, apa gue masih pantes jadi sahabat lo Mel... Apa gue masih pantes di bilang sahabat? Apa gue masih bisa di sebut beruntung?. Gue rasa sebentar lagi itu semua bakal hilang.


Gue bersalah Mel... Semuanya salah gue... Maafin gue Aldo.


🌺🌺🌺


Alenna berjalan gontai menuju rumahnya. Tatapannya kosong, penampilan nya terlihat menyedihkan.


Saat sampai di rumah, ia terus berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Johan yang tengah menyambutnya di ruang tamu.


"Alenna" Panggil Johan. Alenna menghentikan langkah dan menatap Johan yang berjalan mendekat.


"Papa turut berduka atas kepergian teman mu" Alenna mengangguk pelan dan hendak kembali berjalan tapi bahunya di tahan oleh Johan.


Alenna menoleh ke belakang menatap Johan.


"Papa tau apa yang kamu rasakan Alenna..." Mata Alenna berkaca-kaca melihat mata Johan.


Hatinya menjerit. Sedetik kemudian dia memeluk Johan erat dan menangis sejadi-jadinya disana.


Alenna menumpahkan rasa sedihnya kepada Johan walaupun hanya dengan air mata. Johan membalas pelukan Alenna dan mengusap lembut rambut anaknya.


"Tenanglah Alenna... " Ucap Johan.


Alenna gak kuat pah! Alenna gak kuat!. Semua orang bakal benci Alenna nantinya, termasuk papa.

__ADS_1


Batin Alenna menjerit.


"Ayo, kita makan dulu" Johan merangkul Alenna menuju meja makan dan ia menyuruh Alenna untuk duduk di salah satu kursi.


Alenna menurut dan langsung duduk.


Johan berniat untuk mengambil kan Alenna makanan tapi ucapan Alenna menghentikan pergerakan Johan dengan pertanyaan nya.


"Apa papa cinta sama mama?" Tanya Alenna tiba-tiba. Johan diam lalu perlahan berjalan duduk di samping Alenna.


"Kenapa nanya gitu?. Pastilah papa cinta sama mama kamu, papa sangat...kangen sama mama kamu" Johan mengusap kepala Alenna lembut.


Alenna bisa menatap mata Johan mencari bohongan disana, tapi tidak ada.


"Tapi kenapa papa gak nyari tahu penyebab mama meninggal? Seharusnya papa cari tahu" Ucap Alenna. Pertanyaan itu yang ingin ia tanyakan sedari dulu. Tapi baru sekarang berani ia tanyakan lagi.


Johan terdiam lalu menunduk, tangannya juga sudah tidak mengusap kepala Alenna.


"Papa ingin mencari tahu saat itu, tapi polisi bilang itu murni kecelakaan. Jadi papa percaya bahwa itu hanya karna kecelakaan"


Ucap Johan dengan suara pelan.


Alenna menggeleng pelan.


enggak pa! Itu bukan cuma karna kecelakaan! Tapi itu karna... Sarah dan ibunya Karin!. Mereka yang ngebunuh mama!.


Alenna pengen ngasih tau papa, tapi... Alenna gak mau ucapan mama menjadi kenyataan. Kalau sampai Alenna bongkar pada waktu yang gak tepat, ini semua akan menjadi bahaya dan nyawa papa bisa terancam. Jadi Alenna butuh waktu yang pas untuk ungkap semuanya.


Batin Alenna.


Johan kembali menatap Alenna dan tersenyum lalu mengusap kepala Alenna sebentar.


"Mama udah tenang disana. Kita gak perlu ngusik dia lagi, jadi biarin takdir berjalan semestinya. Papa gak mau kamu kembali terpuruk lagi, papa cuma mau Alenna yang ceria dan Alenna yang hangat" Lanjut Johan.


Alenna terdiam, matanya berkaca-kaca menahan tangis.


Alenna bahkan gak tau kapan Alenna bisa ceria lagi kayak dulu, setelah semua yang terjadi. Alenna rasa... Itu mustahil.


Batin Alenna.


"Yasudah, ayo kita makan" Alenna kembali tersadar dari lamunannya.


"Eh enggak pah, Alenna mau istirahat" Tolak Alenna. Johan mengangguk paham. Alenna pun pergi menuju kamarnya meninggalkan Johan yang tersenyum senang melihat Alenna kembali bersikap hangat padanya.


Disisi lain, Karin melihat keharmonisan yang perlahan tercipta antara Johan dan Alenna dari kamarnya yang berada di lantai atas. Ia mengeram kesal sambil terus menyumpahi Alenna dalam hati.


"Sialan" Geram Karin lalu ia menutup pintu kamarnya


🌺🌺🌺


"Gimana dengan Alenna?" Tanya David pada lawan bicarannya.


"Alenna?" Tanya orang tersebut balik. David meletakkan gelas cappucino nya di atas meja lagi.


"Kenzo, bagaimana dengan Alenna?" Kenzo mengernyit kan dahi tampak berpikir. Sedetik kemudian ia tersadar arah pembicaraan mereka.


"Ahh soal itu... Tenang saja, saya usahakan Alenna baik-baik saja" Jawab Kenzo.


"Pistol itu? Sudah kau kasih ke Alenna?" Tanya David lagi. Kenzo mengangguk sebagai jawaban.


"Terus isinya?" Tanya Johan lagi.


"Tentu saja beserta isinya. Percuma saya ngasih pistol tapi tidak ada isinya" Jawab Kenzo yang membuat David terkekeh.


"Ya udah santai" Masih dengan kekehan David berkata seperti itu.


"Ingat, kau harus membawa Alenna ke Amerika dalam beberapa hari lagi" Peringat David yang di angguki Kenzo. Perlu kalian ketahui banyak sepasang mata yang memperlihatkan Kenzo dan David di cafe Malaka, tempat yang biasa di kunjungi Alenna.


Tapi Kenzo dan David tidak peduli dengan tatapan itu, terutama para pengunjung perempuan yang selalu berbisik-bisik membicarakan Kenzo dan David. Bagi David mereka melihat kearah nya karna David tahu bahwa dia tampan jadi mencuri perhatian, tapi bagi Kenzo mereka memperhatikan nya karna mereka punya mata. Bertolak belakang bukan?.


"Lalu kau bagaimana?" Tanya Kenzo.


"Nyusul" Kenzo mengangguk paham. Setelah beberapa saat hening, David kembali membuka mulut.


"Oh ya, tentang Sarah gimana? Ada yang terbaru dari dia?" Kenzo nampak terdiam sebentar.


Memang belakangan ini ia mencari tahu tentang Sarah, tapi baru sedikit informasi yang ia dapatkan dari 'penyelidikan nya'.


"Saya tidak tahu dia pergi kemana setelah diusir. Yang jelas, saya memberikan pistol pada Alenna untuk berjaga-jaga, karna suatu saat dia dalam bahaya. Apalagi kalau saya lagi gak di samping dia, pasti tambah membahayakan lagi" Jelas Kenzo. David mangut-mangut.


"Saya rasa Sarah bakalan balas dendam sama Alenna. Saya yakin itu, terlebih dia anak yang memprioritaskan apapun yang dia mau harus dia dapatkan. Karna itu dia sangat berbahaya" Lanjut Kenzo. Jujur David kagum dengan sosok di hadapan nya ini. Pemikirannya luas dan dewasa. Memang tak salah David mempercayai Alenna pada Kenzo.


"Karna itu secepatnya saya mau membawa Alenna ke Amerika. Lagipula dia sebentar lagi akan ulang tahun, saya mau bikin dia bahagia" Kenzo teringat bahwa sebentar lagi ulang tahun Alenna. Ia sudah mempersiapkan sesuatu untuk Alenna nantinya.


"Bener, bentar lagi dia ulang tahun. Kau pasti sudah mempersiapkan sesuatu kan?" Dengan mudah David menebak Kenzo.


Kenzo hanya mengedikkan bahu.


Tapi tentu saja tebakan David tidak salah.


"Jangan lupa untuk mengundang Leksi" Usul David. Kenzo hanya mengacungkan jari telunjuk nya.


🌺🌺🌺


hiii guysss! apa kabar?


jangan lupa untuk Vote dan comment cerita ini ya... πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ’—πŸ™


sampai jumpaπŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2