
*Sebenernya bang David sama Kenzo kenapa sih? ~Alenna
Kepercayaan? Apa maksudnya? ~Kenzo
Gue emang bukan tipe abang yang bisa nunjukin rasa sayang gue ke elo dek... Tapi gue punya cara sendiri untuk selalu buat lo bahagia dan percaya sama gue
Bahagia selalu adekku Alenna...
~David*
๐๐๐
"KYA!!! ALENNA!" Teriak Amel sambil berlari kearah sahabatnya dengan merentangkan tangan. Gadis itu segera memeluk Alenna dengan erat, seolah ingin mengatakan bahwa ia sangat rindu. Sedangkan yang dipeluk membeku sekaligus kaget. Kini mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang berada di Koridor sekolah.
"Akhirnya lo masuk juga"
"Lo udah sehat kan?"
"Masih pusing?"
"Udah minum obat?"
"Sarapan?"
"Minum susu?"
"Nger-"
"Alah bacot!. Pusing pala gue nih!" Potong Alenna kesal menatap Amel sebal. Percayalah, sejak kejadian di cafe, Alenna di antar oleh Steven kembali ke rumah. Tak perlu di tanya bagaimana keadaan rumahnya saat dia datang. Sepi... Ya, itulah yang hanya bisa di deskripsi kan dirumah sebesar itu.
Alenna pikir, ia akan di sambut. Atau paling tidak ada papanya yang di rumah dan menampilkan wajah cemas. Namun ternyata tidak! Ekspetasinya salah! Salah!. Tunggu, itu hanya pikiran Alenna,ย bukan berharap.
Sekalinya ia berharap, toh juga tidak akan ada yang pernah terjadi.
Di dalam kamar Alenna hanya merenung, ia bingung. Alenna memikirkan, kenapa bang David pergi tiba-tiba? Kenapa kenzo? Apa mereka berantem? Tapi berantem karna apa?. Tapi bentar, mereka ngobrolin apa pas gue ke toilet?.
Kira-kira seperti itulah yang ia pikirkan seharian penuh. Jangan tanya Alenn sudah makan atau belum, tentu saja sudah. Kenzo tidak akan membiarkan nya kelaparan. Jadi dia mengirim banyak, banyak, banyak sekali makanan lewat online ke rumah Alenna.
"Tuh kan! Lo masih pusing... Kalau gitu mah gak usah sekolah Alenna!" Kata Amel. Alenna berdecak sambil memutar bola mata malas.
"Gue pusing tuh karna lo!. Lagian pagi-pagi gini udah berisik aja. Bikin pala gue yang tadinya sehat, sekarang jadi pusing gara-gara" Ketus Alenna. Amel hanya menyengir. Percayalah, Amel sangat merindukan sahabatnya ini di sekolah.
"Ya kan gue kangen sama lo... Maklum lah"
"Kangen apaan? Orang gue cuma gak masuk sehari. Lagian lo kan juga udah jenguk gue. Kenapa kangen?"
"Ya kan biasanya ada yang bisa gue jailin, ada yang traktir gue, ada yang jewer gue, ad- ADUHHHH!!! SAKIT!"
Amel meringis kesakitan karna telinganya di jewer oleh Alenna.
"Nih biar gak kangen" Kata Alenna masih menjewer telinga Amel. Bahkan semakin parah.
"Aduduh!!! ampun ampun!" Alenna pun melepaskan tangannya dari telinga Amel. Telinga Amel panas, ia pun mengusap telinganya dan menatap Alenna horror.
"Lo mah gi-"
"Alenna!" Alenna dan Amel beralih ke sumber suara yang telah memotong ucapan Amel. Angga. Disana ada Angga yang berjalan menuju mereka.
Alenna tersenyum membalas senyum Angga, sahabatnya.
"Angga"
"Akhirnya lo masuk. Gue khawatir lo kenapa-kenapa" Kata Angga kepada Alenna.
"Enggak kok, gue gapapa" Ujar Alenna.
"Alhamdulillah kalo gitu" Lega Angga.ย
"Oh ya len, lo bawa HP gak?" Tanya Amel tiba-tiba. Alenna menggeleng pelan.
"Enggak"
"Bagus" Senyum Amel tipis, namun Alenna menyadarinya.
"Kenapa emang?" Tanya Alenna.
"Oh enggak kok. Nanya doang" Tak mau ambil pusing. Alenna tak mau banyak tanya lagi.
"Yodah yuk masuk. Ngapain coba di sini" Ajak Amel. Angga dan Alenna mengangguk setuju. Merekapun berjalan menuju kelas. Namun langkah mereka saat dilihatnya keadaan sepi, tak ada orang sedikit pun. Alenna mengernyit bingung.
"Loh kok sepi?" Tanya Alenna heran.
"Gue juga gak tau" Jawab Angga. Tak mau ambil pusing dia pun duduk ke tempatnya dan menuruh tasnya.
Amel dan Angga menyusul ke tempat dimana Alenna berada.
"Ini udah jam berapa?" Tanya Alenna kepada Amel.
"Udah jam 7 lewat" Alenna semakin heran. Kemana teman-temannya yang lain?. Tidak mungkin mereka bolos semua kan?.
"Yang lain kemana sih? Kok sepi banget kayak kuburan?. Masa iya pada bolos semua" Amel dan Angga hanya mengedikkan bahu acuh.
"Kalau gitu, gue keluar dulu" Pamit Angga berjalan keluar.
"Gue ikut deh" Amel menyusul.
"Eh! Lo pada mau kemana?" Tanya Alenna. Amel menengok kebelakang.
"Keluar, nyari yang laen" Jawab Amel lalu berjalan lagi.
"Jan lama-lama" Amel hanya mengacungkan jempol dan menutup pintu kelas rapat. Setelah itu, Alenna menenggelamkan wajahnya di atas meja dengan kedua tangan menopang. Ia pun memejamkan matanya.
"*Alenna... Kamu itu calon istri saya kelak"
"Kamu suka coklat?"
"Suka"
"Es krim?"
"Suka"
"Permen?"
"Suka"
"Boneka?"
"Suka"
"Saya?"
__ADS_1
"Suka*"
"Akh!" Alenna mengumpat kesal saat mengingat kejadian yang berputar seperti film. Ia teringat akan kenzo. Benar. Apakah ucapan kenzo hanya ngombalan semata? Atau malah sebaliknya?.
Enggak, itu pasti cuma gombal doang.
Batin Alenna merasa bahwa itu tidaklah benar adanya. Sungguh, suasana yang sepi memang menyenangkan bagi Alenna, namun mungkin ia akan terus memikirkan kejadian yang tak mau ia pikirkan.
Jleb!
Alenna mengangkat kepalanya. Yang ia lihat hanya kegelapan sekarang. Tidak, Alenna tidak pingsan. Melainkan lampunya mati.
Aduh nih kenapa lagi coba?
Alenna berdiri perlahan sambil meraba-raba. Takut menabrak sesuatu.
Ia harus keluar dari kelas yang gelap gulita ini.
Oh iya kan ada HP gue.
Ia pun mencoba untuk membuka tasnya. Saat tak ketemu, barulah ia menyadari bahwa ia tidak membawa handphone tadi.
Aduh... Resek amat dah. Nih sekolah belum bayar listrik ya?.
Mau tak mau Alenna berjalan dengan hati-hati sambil terus meraba-raba sekitar. Sampai saatnya ia menabrak sesuatu di depannya. Ia tidak tahu jelas, apa yang ada di hadapannya. Tinggi, itulah yang Alenna rasakan. Karna penasaran, Alenna perlahan mendekat. Lebih dekat. Lebih dekat. Dan...
Deg!.
Anjir! Ini siapa?
Alenna terkejut saat merasakan deru napas dan detak jantung dari hadapannya ini. Sontak ia menjauh, namun dengan segera Sosok di hadapannya ini mendekapnya.
Alenna membuka matanya dan memberontak.
"Woy lepasin!. Siapa sih lo?!. Lepasin!" Alenna terus memberontak. Namun, sosok yang memeluknya malah semakin erat.
"Sssttt" Desis orang tersebut.
Tak tahu kenapa Alenna malah menurut dan diam. Selama beberapa menit posisi mereka masih sama.
"Lo siapa?" Tanya Alenna. Jujur Alenna merasa tenang saat di dekap orang ini. Namun hatinya juga waspada, karna tidak tahu siapa yang mendekapnya ini.
"Lo yakin gak tau gue?" Alenna langsung mendorong tubuh tersebut, dan berhasil.
"Steven?" Alenna sedikit bisa melihat orang tersebut mengangguk.
Pipinya memerah. Benar, itu Steven.ย
"Lo-lo ngapain disini?" Tanya Alenna gugup.
"Nemenin lo" Jawab Steven santai. Alenna mengernyit.
"Ne-nemenin gue? Kenapa?" Tanya Alenna lagi.
"Lo gak liat. Inikan mati lampunya"
Alenna terdiam. Perlahan, Alenna merasa Steven berjalan mendekat kearahnya. Sontak Alenna berjalan mundur.
"Lo-lo mau ngapain?"
"Woy?"
Steven tak menjawab, ia terus berjalan. Alenna semakin takut, ia takut.ย Alenna terus berjalan mundur sampai dirasanya sebuah meja, yang Alenna duga meja guru.
Alenna semakin bingung saat tak bisa kemana mana lagi.
"Steven lo mau ngapain sih? Jangan macam-macam ya?!" Alenna mulai kesal, namun suaranya bergetar. Jantungnya berpacu lebih cepat.
Jarak diantara mereka sangatlah sempit, sampai Alenna merasa sesak. Ditambah kedua tangan Steven yang mengurungnya di kedua sisi meja.
Demi apapun... Gue takut.
Ingin sekali Alenna mendorong, namun ia sangat takut, sampai tak punya keberanian.
Sial banget sih!.
Batin Alenna kesal karna tak dapat melakukan apapun.
Damn!. Wajah Steven perlahan mendekat kearah wajah Alenna. Lebih dekat,lebih dekat. Alenna memejamkan matanya karna tak sanggupย melihat wajah Steven yang begitu dekat.
Alenna tidak menyadari, bahwa Steven mengambil sesuatu di belakangnya dan berbisik sesuatu di telinganya
"Hayooo, ambigu" Alenna membuka matanya tiba-tiba saat mendengar itu. Dan mendorong Steven sampai terjungkal kebelakang. Steven hanya terkekeh.
Alenna merasa pipinya sangat panas sekarang, jantungnya masih tidak terkontrol.
Sialan lo Steven!.
Batin Alenna. Sebenarnya apa yang ia pikirkan dengan kejadian tadi?.
Bukan, Alenna tidak berpikir yang aneh aneh kok. Sungguh, percayalah...
๐
Steven bangun dan berdiri.
"Alenna... " Panggil Steven.
"Apa?!" Suara Alenna naik satu oktaf.
"Nyante dong, ngegas mulu" Ujar Steven.
"Hmmm ya apaan?"
"Lomaujadipacarguegak?"
Deg!
Tunggu, Steven ngomong apaan tadi?. Gue gak salah dengarkan?.
Batin Alenna bingung karna Steven berkata dengan begitu cepatnya.
"Hah?"
Steven mendekat, namun masih menyisakan jarak diantara mereka. Sedetik kemudian, Steven mengambil tangan Alenna dan menggenggam nya.
Alenna terkejut.
Ayo dong jantung... Jangan kerja terlalu keras kenapa sih?!.
โgue gak bisa memulai ini semua terlebih dahulu, tapi gue akan berikan sebuah kode kalau gue suka sama lo. Kalau lo mengerti akan kode ini maka kita akan bersamaโ
__ADS_1
Kata Steven dalam. Alenna merasa jantungnya berdegup cepat.
"Gue hanya cowok biasa yang memiliki banyak kekurangan dan mungkin tak pantas mengharapkan cinta lo, tapi kalau lo bersedia menerima gue menjadi kekasih, gue berjanji akan melakukan apapun yang terbaik buat lo"
"Setelah sekian lama, saat inilah waktu yang paling aku tunggu, yaitu saat yang tepat untuk mengutarakan perasaan dan isi hati ini. Aku ingin mengungkapkan sebuah hal yang tak sanggup lagi aku pendam lebih lama. Aku mencintaimu, maukah kamu menjadi pacarku?"
Deg!
Pasokan oksigen di ruangan ini semakin menipis, membuat Alenna merasa sesak.
"Steven gue... " Alenna tidak tahu harus menjawab apa. Ia memperhatikan wajah Steven yang tersenyum dan wajahnya terlihat lebih cerah dari biasanya. Ya walaupun penglihatan nya begitu minim karna gelap. Tapi Alenna merasa seperti itu.
Oke Alenna... Lo tinggal bilang "iya" Atau "enggak".itu doang.
Alenna menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan napasnya perlahan.
Lo harus yakin sama pilihan lo...
Kalau lo, bisa nerima dia di hati lo.
"Iyaguemaujadipacarlo"
"Hah?"
"Ck, iya gue mau jadi pacar lo" Alenna tersenyum dan begitu juga Steven. Ia tampak begitu bahagia.
Tanpa diduga, Steven memeluk Alenna erat. Dengan pelan namun pasti, Alenna membalas pelukan Steven sambil memejamkan mata. Menikmati aroma khas Steven yang begitu menyegarkan.
"Thanks"
Jleb!
Lampu kelasnya menyala dan menampilkan semua teman kelasnya masuk sambil bertepuk tangan, histeris, dan ada juga yang bersorak-sorak tidak jelas. Steven dan Alenna menyudahi acara berpelukan nya. Alenna sungguh terkejut.
"CIEEEE!!!! YANG UDAH JADIAN!!!"
"ASIK ALVEN!"
"PJ WOY PJ!"
"belum mukhrim woy! main Peluk-peluk AJA!"
"BACOT AJE LO JOMBLO!"
"LO JUGA JOMBLO!"
"SESAMA JOMBLO GAK BOLEH GITU WOY!"
"tau nih, lama-lama gue bawa ke kua lo semua"
"ALENNA, PJ NYA DI TUNGGU"
"Akhirnya setelah satu abad"
"Gila lama banget satu abad!"
"Emang berapa?"
"Lima abad anjay"
"Yeayyyy"
Alenna tertawa mendengar celoteh teman-teman nya. Owh jadi ini semua sudah di rencana kan?.
Pikir Alenna sangat mudah menebak situasinya. Amel dan Aldo berjalan menghampiri Alenna dan Steven.
"Cieee yang udah jadian" Wajah Alenna panas sekarang. Sungguh ia malu.
Steven hanya melontarkan kekehan saat mendengar Aldo menggodanya dan Alenna.
"Pipinya merah tuh kak Steven" Tunjuk Amel kearah Alenna yang memalingkan wajahnya. Melihat itu, Steven mengelus kepala Alenna lembut.
"Awww so sweet nya" Ujar Amel.
Sialan lo mel...
Batin Alenna.
"Pokoknya, lo harus ngasih traktiran ke kita semua" Tuntut Aldo kepada Alenna dan Aldo.
"HAH? LO GILA YA?!"
"Cieeee! Barengan" Yups! Alenna dan Steven menjawab berbarengan sakin terkejut nya.
"Aduh... Kompak banget sih!"
"Lo berdua harus ngasih pajak jadian ke kita semua. Gak ada penolakan harus!" Tuntut Aldo lagi.
"Kampret lo"
"Oke deh! Deal!"
"GUYS!!! JAM ISTIRAHAT, JANGAN NGELUARIN UANG SEPERSEN PUN!"
Teriak Aldo membuat orang yang berada di kelas Alenna, menjadi diam dan mengerutkan alis.
"Kenapa?"
"Ada maling kah?"
"BUKAN!. TAPI... KITA SEMUA DI TRAKTIR SAMA STEVEN DAN ALENNA. SEPUASNYA!"
"YEAHHHH HHHHH"
"SERIUSAN?"
"ASIK!"
"BIKIN BANGKRUT AH!"
"LUMAYAN DI TRAKTIR KAKEL COGAN"
"MANTAPLAH"
"GUE SIAP NGABISIN JAJANAN KANTIN KOK KAK!"
Mereka bersorak-sorak senang. Sedangkan Alenna dan Steven hanya terdiam mematung sambil tatap-tatapan terkejut. Yang benar saja, kelas Alenna dan kelas Steven ditraktir sepuasnya.
Dikira gue bank duit apa ya? ~ Steven-Alenna 2019
Namun mau tidak mau, jadilah mereka mentraktir kedua kelas seluruhnya. Sepuasnya. Saat bel istirahat berbunyi.
__ADS_1
๐๐๐