
"*Kenapa sama Steven bang?!!"
Tanya Alenna dengan suara bergetar saat mendengar nama Steven di sebut.
"Steven... dia di rumah sakit sekarang dan dia lagi koma"
Deg*!
🌺🌺🌺
Jantung Alenna berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia sangat cemas dan semua kecemasan nya menjadi kenyataan. Sungguh, Alenna tak salah lagi. Feeling nya tepat. Alenna menggeleng pelan saat sambungan telepon tersebut sudah terputus. Tak sadar, air matanya melolos keluar begitu saja.
Amel dan Angga yang melihat wajah Alenna tak tampak berubah, membuat mereka bingung ada apa dengan Alenna.
"Eh len, lo kenapa?" Tanya Amel yang berada di samping Alenna.
"Lo kok nangis? Kenapa? Siapa yang nelpon?" Tanya Angga bertubi-tubi.
Alih alih menjawab, Alenna malah langsung berdiri dari duduknya dan bergegas meninggalkan Angga dan Amel dengan wajah yang terlihat sangat memprihatinkan.
Segera Amel dan Angga mengikuti Alenna yang pergi begitu saja.
"Alenna!"
"Alenna lo kenapa? Lo mau kemana?"
"STEVEN KOMA!" jawab Alenna berbalik menghadap Amel dan Angga lalu kembali berjalan meninggalkan kedua sahabatnya yang mematung terkejut.
Amel dan Angga saling pandang, sedetik kemudian.
"STEVEN!" Kata mereka bersamaan.
🌺🌺🌺
Alenna berlari memasuki rumah sakit saat sudah sampai disana, Central Hospital. Berderai air mata, ia bertanya kepada salah satu suster yang berada disana.
"Suster!" Panggil Alenna. Salah satu suster pun menoleh dan menghentikan langkah nya.
"Iya ada apa?" Tanya suster itu.
"Pa-pasien bernama Steven be-berada di mana ya?" Cicit Alenna.
"Oh mari saya tunjukkan" Alenna mengangguk dan mengikuti langkah sang suster yang menuntunnya untuk menuju Steven.
__ADS_1
Setiap langkah Alenna berdoa agar Steven selamat dan tidak terjadi hal-hal yang sedaritadi merayap di kepala Alenna.
"Ini kamarnya" Kata suster itu menunjukkan salah satu kamar di hadapan mereka. Alenna mengangguk.
"Makasih, suster" Ucap Alenna, suster itu mengangguk dan pergi. Alenna memperhatikan dengan seksama. Ia belum mengumpulkan keberanian untuk melihat keadaan Steven di dalam sana.
"Alenna?" Alenna tersentak saat mendengar seorang wanita memanggil namanya. Alenna pun menoleh dan mendapati Stephanie yang tengah berjalan mendekat kearahnya dengan wajah yang tak kalah memprihatinkan dari Alenna.
Segera Alenna memeluk Stephanie dan menangis sejadi-jadinya. Ia mencurahkan semua kecemasan, kesedihan, dan kekhawatirannya kepada Stephanie yang ikut menangis juga sambil membalas pelukan Alenna.
Stephanie mengelus punggung Alenna berharap kekasih adiknya ini tenang.
"Steven kenapa kak?" Tanya Alenna masih dengan isak tangis. Stephanie menuntun Alenna untuk duduk di kursi panjang yang semula ia duduki. Mereka pun duduk disana.
Stephanie melepaskan pelukannya perlahan.
"Dia kecelakaan" Jawab Stephanie pelan. Alenna kurang puas dengan jawaban Stephanie.
"Tapi, kenapa Steven bisa sampe koma kak?" Tanya Alenna sedikit menuntut penjelasan.
"Saat itu, dia lagi ngendarain motor dan keadaannya lagi hujan deras, otomatis jalanan basah. Entah dia ngebut atau gak liat ada polisi tidur, dia oleng dan... Nabrak mobil yang dari lawan arah"
Alenna masih diam, menunggu Stephanie melanjutkannya.
Alenna menutup mulutnya tak percaya mendengar penjelasan dari Stephanie
"Dia ngeluarin banyak darah dan di tambah, polisi baru menemukan Steven satu jam kemudian karna baru mendapat laporan dari beberapa orang yang lintas di jalan itu"
Alenna terus saja menangis, entah berapa banyak air mata yang ia keluarkan saat ini, bahkan tak terhingga.
"Ta-tapi kenapa kak Stephanie gak bilang ke aku? Kenapa aku baru tau sekarang?" Tanya Alenna. Memang di pikir-pikir benar juga apa yang di tanyakan Alenna. Kenapa saat tahu Steven kecelakaan, Stephanie tidak langsung mengabarinya. Membuat Alenna khawatir setengah mati.
"Sebelumnya aku minta maaf, Kemarin aku dan Leksi sibuk cari tahu penyebab Steven kecelakaan. Aku bulak balik ke polisi, sampai belum sempat ngabarin kamu. Maaf... " Kata Stephanie pelan saat meminta maaf. Alenna paham, tak ada yang perlu di permasalahkan lagi. Sekarang yang Alenna pentingkan adalah, Steven.
"Iya kak, Alenna ngerti" Jawab Alenna mencoba untuk tersenyum tipis. Begitu juga dengan Stephanie yang ikut tersenyum.
Kamu beruntung Steven, masih ada orang yang khawatir sama kamu. Yang masih bisa nangis saat kamu dalam keadaan seperti ini, karna itu kamu harus bersyukur punya kak Stephanie dan keluarga mu.
Batin Alenna.
Lo beruntung dek, punya pacar kayak Alenna. Dia bisa ngertiin lo, perhatian sama lo dan dia orang yang sangat baik ke keluarga kita. Karna itu Jangan lo sia-siain Alenna.
Batin Stephanie.
__ADS_1
"Hm kak, Alenna mau liat Steven. Boleh gak?" Tanya Alenna. Tak di pungkiri, Alenna sedaritadi gatal ingin bertemu kekasihnya itu. Namun karna ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi, jadi dia lebih memilih mendengarkan Stephanie bercerita dulu.
"Boleh dong... " Alenna tersenyum dan berdiri lalu berjalan menuju kamar Steven. Sejenak ia berhenti saat berada di depan pintu rumah sakit dimana Steven berada. Alenna menghapus air matanya yang masih tersisa di pipi mulusnya. Walaupun tetap saja terlihat bahwa gadis itu tengah menangis.
Alenna pun membuka pintunya perlahan. Terlihatlah Steven yang tengah terbaring dengan perban yang melilit di kepalanya, Steven juga mengenakan alat oksigen untuk membantunya bernapas.
Agenda berjalan mendekati Steven dan duduk di kursi yang berada di sebelah bangsal Steven.
Sebisa mungkin ia tidak menangis saat melihat keadaan Steven yang seperti ini.
"Steven... " Panggil Alenna lirih.
"Kan aku udah bilang, jangan ngebut... Tapi kenapa kamu gak dengerin aku?. Kan jadinya kayak gini... Seharusnya kamu di rumah aku aja dulu pas ngan-" Ucapan Alenna terhenti saat mengingat sesuatu. Air mata Alenna melolos begitu saja, bahkan ia sudah terisak.
"Steven... Kamu bisa kayak gini setelah anterin aku pulang?" Alenna baru sadar sekarang.
Bodoh lo Alenna!. Gara-gara lo Steven celaka!. Kenapa sih? Lo selalu bikin orang susah?!.
Batin Alenna menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku minta maaf... " Mohon Alenna lirih sambil mengelus tangan kanan Steven.
Entah kenapa Alenna merasa bersalah sekarang. Andai saja ia tidak diantar oleh Steven, mungkin tidak akan seperti jadinya. Pikir Alenna.
"A-aku minta maaf Steven. Kamu tau? Aku gak suka liat kamu yang terbaring lemah kayak gini. Aku lebih suka kamu yang jahil. Aku ikhlas kamu jailin setiap hari, tapi enggak dengan keadaan kamu yang kayak gini"
"Dua hari aku gak dapet kabar dari kamu dan dua hari itu juga aku cemas sama kamu. Tapi ternyata, kecemasan aku selama 2 hari ini bener jadi kenyataan. Aku mohon... Sadar... "
"Aku tau kamu kuat" Monolog Alenna. Terlihat konyol memang berbicara dengan orang yang sedang koma sekarang. Tapi Alenna percaya bahwa Steven mendengarnya, ya Alenna percaya itu.
Ya Tuhan... Baru Alenna ngerasain yang namanya bahagia sama Steven. Tapi kenapa kau seolah membuat hidupku menjadi drama yang berakhir tragis?. Apa aku pernah berbuat kesalahan fatal sampai-sampai kau menulis takdir yang membuat orang yang ku cintai seperti ini. Aku tahu kau pasti telah menyiapkan semuanya untuk ku, tapi aku mohon... Biarkan aku bahagia walaupun hanya sedikit. Tak apa jika itu hanya sementara, asalkan kau mengabulkan nya. Aku hanya ingin Steven sehat kembali seperti semua...
Batin Alenna menjerit memohon belas kasihan kepada Tuhan yang maha Esa.
"Steven... Aku pulang ya, setiap hari aku akan kesini jenguk kamu. Aku harap kamu segera sadar saat kita ketemu lagi. Aku pamit" Alenna berdiri sambil menghela napas pelan.
Gadis itu menatap kekasihnya sesaat, lalu setelah itu ia pergi meninggalkan kamar rumah sakit tersebut.
Satu hal yang Alenna pikirkan sekarang,
Ia tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Entah itu akan menimpa Steven atau malah dirinya sendiri. Alenna tidak tahu.
don't know what will happen tomorrow. I leave everything to you God
__ADS_1
🌺🌺🌺