BROKEN

BROKEN
why so hard?


__ADS_3

Seenggaknya gue harus cari bukti dulu! Baru bisa beri keterangan. Kalau gak, bisa jadi gue yang malah berstatus tersangka. Apalagi Sarah orang yang licik. Dia pasti udah manipulasi semuanya...


Pokoknya gue harus nyelidikin Sarah! Sampe nemu bukti.


Batin Alenna.


🌺🌺🌺


"Perkenalkan, saya Adamson Petter. Kau bisa Panggil saya Adamson dan saya yang akan menginterogasi anda saat ini" Polisi itu mengeluarkan tangannya pada Alenna. Perlahan Alenna membalasnya.


"Alenna Patricia" Balas Alenna memperkenalkan diri. Polisi itu mengangguk.


"Baiklah masa perkenalan selesai dan mari kita mulai... Tapi Sebelum anda memberikan keterangan, ada hal yang harus saya sampai kan kepada Anda" Ucap polisi yang duduk di depan Alenna. Kini hanya tersisa polisi dan Alenna yang berada di ruang interogasi dan duduk saling berhadapan.


Alenna mengerutkan alis.


"Apa?" Tanya Alenna.


Polisi itu tidak menjawab dan malah mengeluarkan sebuah pistol dan handphone dari dalam sebuah koper yang ada di samping nya lalu dia menaruh bensa tadi di atas meja. Tepat di hadapan Alenna. Tentu saja polisi itu sudah mengenakan sarung tangan saat hendak mengambil barang.


Mata Alenna terbuka saat melihat handphone dan pistol yang waktu itu ia bawa telah ada di hadapannya sekarang.


"I-ini punya saya" Cicit Alenna menunjuk ponselnya. Polisi mengangkat alisnya sebelah. Jujur saja Alenna takut melihat wajah polisi ini yang serius. Dilihat polisi ini belum tua dan masih muda, dengan perawakan yang tinggi, hidung mancung, mata sipit, bibir tipis, dan kulit putih, oh jangan lupakan alisnya yang tebal di tambah rahang yang tegas.


Banyak yang berasumsi bahwa polisi ini tampan. Alenna juga tak bisa berbohong soal itu, tapi jujur saja Alenna tidak tertarik bahkan tidak terpesona dengan polisi 'muda' di depannya ini.


"Lalu yang ini?" Tanya Adamson sambil mengarahkan matanya pada pistol di meja. Alenna meneguk salivanya.


"I-itu bukan punya saya" Ujar Alenna.Β 


"Jangan membohongi saya nona Alenna... Saya tau benda ini milik anda. Disana juga masih ada sidik jari anda" Alenna menggigit bibirnya bingung sekaligus gugup.


"Berikan keterangan yang sejujurnya nona Alenna... Kami sangat butuh keterangan anda sebagai saksi mata dan jangan sampai status anda berubah menjadi tersangka karna telah sengaja tidak memberikan keterangan dengan benar. Anda pilih yang mana?" Tanya polisi itu memberikan smirk. Alenna semakin bingung.


"Saya mau ngasih keterangan... Tapi saya gak tau harus cerita gimana sama anda" Ucap Alenna akhirnya. Polisi itu mengerutkan alis.


"Cukup mudah... Anda hanya perlu menceritakan kejadian waktu itu, saat teman anda Aldo pergi untuk selama-lamanya. Itu saja. tenang saya tidak gigit..." Alenna terdiam sebentar.


"Sa-saya akan jelaskan pada anda... Ya, saya akan jelaskan" Ucap Alenna terlihat serius.


Mata polisi itu tak lepas dari mata Alenna dan terus menatap Alenna dengan wajah serius.


"Semuanya?" Tanya polisi itu. Alenna meneguk salivanya susah payah. Ia mengangguk sekali.


"Ya"

__ADS_1


"Baiklah, jelaskan pada saya sekarang"


Alenna pun menjelaskan apa yang terjadi saat itu kepada polisi muda itu. Alenna tidak punya pilihan lain selain itu. Ia harus membuka kembali luka yang padahal belum kering, tapi harus ia ungkapkan.


Polisi itu hanya serius mendengarkan dengan mata yang terus menatap wajah Alenna saat gadis itu bicara dan sesekali mengangguk dan jangan lupakan bahwa sesekali polisi itu menulis apa yang Alenna katakan di buku miliknya.


Alenna pun terdiam saat sudah selesai berbicara.


"Sudah? Hanya itu?" Tanya polisi itu santai. Alenna mengangguk pelan.


Yaiyalah cuma itu... Emang mau lo apa lagi?. Ini aja udah bikin gue depresi...


Batin Alenna merutuki pertanyaan dari polisi itu.


"Ya cuma itu. Gak ada lagi" Jawab Alenna dengan sedikit nada ketus.


"Baik, saya sudah mencatatnya. Tapi ada satu pertanyaan saya" Alenna menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya 'apa?'. polisi itu rupanya mengerti ekspresi Alenna.


"Apa saya harus percaya sama ucapan kamu? Apa saya harus mengiyakan apa yang kamu katakan? Dan bagaimana dengan sidik jari di pistol itu? Lalu bagaimana dengan handphone mu yang tertinggal di sana?" Pertanyaan berturut-turut dari polisi itu membuat Alenna kebingungan harus menjawab yang mana.


"Baik, kalau anda masih tidak percaya dengan ucapan saya. Beri saya waktu untuk mencari bukti dan menunjukkan bukti itu ke depan mata anda, supaya anda percaya dengan yang saya bilang. Tidak sulit bukan?" Polisi itu hanya terdiam melihat raut wajah Alenna yang terlihat tenang namun seolah menyimpan sesuatu di balik wajah tenangnya.


"Berapa waktu yang kamu butuhkan?" Tanya Adamson membuat Alenna berpikir sejenak.


"Saya tidak tau pasti. Tapi sebisa mungkin akan cepat" Adamson terkekeh mendengar jawaban Alenna yang menurutnya lucu. Alenna semakin di buat bingung oleh polisi muda di depannya ini.


"Hei... Bagaimana bisa seorang polisi mengulur waktu hanya untuk memberi kesempatan kepada saksi mata yang suatu saat bisa saja menjadi tersangka?. Siapa yang tau?" Alenna mengepalkan tangannya geram. Polisi itu tersenyum remeh kearah Alenna.


Kalau gak inget dia polisi, udah gue tonjok mukanya dari tadi... Biarin muka nya bonyok.


Batin Alenna geram dengan polisi bernama Adamson itu.


"Seenggaknya kalau gak percaya sama saya. Jangan mencela dan menuduh!" Balas Alenna tajam membuat polisi itu terdiam.


"Apa gunanya anda meminta keterangan kalau ujung-ujungnya malah menjatuhkan?. Ingat, status saya masih saksi mata, bukan tersangka" Setelah bilang seperti itu, Alenna berdiri dari duduknya dan hendak melangkah pergi tapi tangannya di cekal oleh polisi itu.


"Hei, kenapa kau pergi? Kita belum selesai" Alenna menepis kasar tangan Adamson yang sekarang sudah berdiri di hadapannya.


"Lepas! Anda gak punya hak untuk menyentuh saya. Saya datang kemari untuk memberikan Semua keterangan dan sudah saya berikan dengan jelas, jadi sudah selesai" Sarkas Alenna membuat polisi itu terdiam.


"2 hari. Saya butuh bukti dalam 2 hari, kalau sampai tidak ada bukti dan kau malah melarikan diri. Jangan salahkan saya kalau kau akan mendekam di sel penjara" Alenna tersenyum miring mendengar polisi Adamson yang seolah tengah mengancamnya.


"Gak ada alasan buat saya melarikan diri. Gak perlu khawatir" Alenna melihat wajah polisi itu sekilas.


"Permisi" Pamit Alenna pergi meninggalkan Adamson yang masih terdiam berdiri sambil menatap punggung Alenna yang perlahan menjauh dari ruang interogasi.

__ADS_1


Tak sadar, seulas senyum yang entah artinya apa muncul di wajah tampan polisi muda itu.


Pertama datang kesini dia sangat gugup tapi lama kelamaan dia berubah menjadi wanita yang sangat pemberani dan mampu membungkam ku dengan beberapa patah kata.


siapa gadis itu sebenarnya?


Batin Adamson.


"Menarik" Gumam Adamson lalu berjalan keluar dari ruang interogasi dengan santai dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.


🌺🌺🌺


Johan langsung menghampiri Alenna dengan wajah khawatir saat anak gadisnya baru saja menampakkan diri setelah di interogasi.


"Alenna... Bagaimana, nak?" Tanya Johan khawatir. Alenna berusaha tersenyum tipis walaupun kepalanya sedang pusing saat ini.


"Semua baik-baik aja kok, pah. Polisi Terima keterangan Alenna" Kata Alenna yang sebenarnya sedikit berbohong karna ia sendiri tidak tau apa polisi tadi akan memberikan keterangan nya pada kejaksaan atau tidak. Alenna tidak tau.


Johan menghela napas lega lalu mengelus rambut Alenna sambil tersenyum.


"Syukurlah... Ayo kita pulang" Ajak Johan. Alenna menggeleng membuat Johan mengerutkan alis.


"Kenapa?"


"Alenna mau ke rumah Amel" Kata Alenna.


"Yaudah, papah antar" Alenna mengangguk dan mereka pun pergi menuju rumah Amel menggunakan mobil.


Di perjalanan Alenna terus hanyut dalam pikirannya sendiri dan menatap kearah jalanan yang di penuhi kendaraan lain yang berlalu lalang.


"2 hari. Saya butuh bukti dalam 2 hari, kalau sampai tidak ada bukti dan kau malah melarikan diri. Jangan salahkan saya kalau kau akan mendekam di sel penjara"


Ucapan polisi itu kembali terngiang di otaknya.


Gimana kalau gue gak bisa dapet bukti dalam 2 hari? Apa gue bakal masuk penjara? Dan semua buktinya udah cukup... Polisi pasti bakalan susah buat percaya sama gue. Terus Gue harus gimana?.


Batin Alenna resah.


Duh... Kenapa jadi tambah rumit gini sih? Kenapa gue gak bisa happy happy kayak anak muda lain sih?!. Emangnya gue gak pantes?.


Batin Alenna lagi lagi kesal karna jujur saja ia iri dengan anak seusianya yang tak perlu memikirkan hal menyusahkan seperti ini di hidup mereka.


Alenna ingin pergi bersama teman, menghabiskan waktu bersama, makan dan nonton film, tertawa sampai terbahak-bahak, dan hal -hal yang menyenangkan lainnya.


Tapi kenapa sangat sulit?.

__ADS_1


🌺🌺🌺


Hai guysss vote dan comment ya... πŸ’œ


__ADS_2