
"*Kemana dia pergi?"
"Dia pergi dari rumah itu tuan"
"Baik, terus ikuti dia. Kirim keberadaan nya. Saya akan menyususl"
"Baik tuan"
Pria berseragam itu memutuskan sambungannya dan mulai menancapkan gas mengikuti sebuah mobil hitam di depannya dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Agar tidak di curigai*.
πππ
Siapapun tolong... Sakit!.
Alenna menangis deras. Tangannya tak kuat untuk memegang stir mobil. Namun ia mencoba sekuat tenaga.
Ia menangis sejadi jadinya dengan sakit yang menyebar luas di tubuhnya. Bahkan Alenna sempat berpikir bahwa...
Apa ini akhir hidup gue?
Batin Alenna.
Citttttt~
Alenna menginjak remaja dengan tiba-tiba. Ia berhenti di pinggir jalan dan jujur ia tidak tahu sekarang ada di mana. Ia hanya mencari rumah sakit terdekat, namun belum ketemu.
Alenna menagis memegangi dadanya. Bahkan untuk memegang handphone saja terasa sangat kaku. Bayangkan, betapa sakitnya...
"Mama... Papa... Sakit... Hiks hiks hiks" Rintih Alenna mengaduh. Napasnya perlahan melemah. Pasrah...
Alenna pasrah. Ia terdiam dengan air mata yang terus mengalir.
Gimana caranya gue memperbaiki semuanya kalau keadaan gue kayak gini?. Apa sempet?. Apa masih ada waktu?.
Batin Alenna.
Drrtttt drrtttt
Handphone Alenna berdering. Ia tak menghiraukan nya walaupun benda itu tak berhenti berbunyi. Alenna tak peduli. Rasa sakitnya mengalahkan semua.
Wajah dan bibirnya sudah pucat. Sangat pucat. Matanya pun sudah merah.
Alenna tersenyum miris.
"Lihat mah... Alenna gak kuat. Sakit mah... Sakit" Alenna terus mengaduh walau ia tahu tidak akan ada yang dengar. Namun sekelibat kalimat terlintas di otak dan hatinya.
__ADS_1
Bahwa...
Siapapun yang nolongin gue saat ini, baik laki atau perempuan...
Gue janji akan balas semua perbuatannya. Apapun itu. Bahkan untuk menyerahkan 'hati' sekalipun.
Itulah yang Alenna tanam pada dirinya. Ia tahu bahwa ini berlebihan, tapi cobalah untuk mengerti keadaan Alenna saat ini. Aku yakin kalian pasti pernah merasakan seperti itu. Alenna menarik napas dan menghembuskannya pelan, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
πππ
"Kak, kenapa lo gak bilang kalau ada Alenna?!" Tanya Steven frustasi.
Stephanie mengerti itu. Ia mengerti perasaan sang adik, namun ia tak tahu harus berbuat apa. Ia pun duduk di samping Steven.
"Gue mau bilang. Tapi lo lagi berantem" Jawab Stephanie lembut. Steven hanya diam dengan wajah yang di tutup oleh tangan. Stephanie mengelus bahu sang adik.
"Gue tau lo frustasi sekarang. Tapi biarin Alenna tenangin pikiran dulu. Kemungkinan besar Suasana hatinya lebih kacau dari pada lo" Kata Stephanie. Steven masih diam. Ia berpikir, sepertinya memang benar. Jelas-jelas Alenna yang tersakiti disini.
"Tapi kan kak, dia bisa salah paham!" Ujar Steven masih dengan nada frustasi. Stephanie mengangguk mengerti.
"Iya gue paham. Tapi biarin dia tenangin diri dulu. Kalau dia udah tenang, lo baru ngomong baik-baik ke dia. Kenapa gue ngomong kayak gini? Karna gue juga perempuan. Gue tau gimana rasanya ada di posisi Alenna"
"Jujur gue greget sama lo. Seharusnya lo tuh lebih tegas sama mantan lo itu. Lo kan cowok, apalagi lo udah punya cewek. Yakali ngebiarin mantan lo ngerusak gitu aja" Lanjut Stephanie. Steven mencerna baik baik ucapan sang kakak. Benar, semua yang di ucapkan Stephanie benar. Steven akui, Stephanie memang sangat bijak saat ini. Ingat, saat ini.
"Thank's kak. Gue bakal coba" Kata Steven. Stephanie tersenyum. Steven memeluk sang kakak erat. Dia sangat manja. Stephanie langsung mendorong sang adik menjauh.
"Kan gue cuma mau ngungkapin rasa Terima kasih sama lo" Kata Steven polos.
"Tau, tapi lo gak cocok manja kayak tadi. Muka lo tuh udah gak baby face lagi. Udah tua" Ledek Stephanie. Steven menatap Stephanie tajam.
"Sialan lo kak. Muka gue ganteng gini"
Sombong Steven.
"Ganteng dari mane coba?"
"Ganteng lah... Buktinya Alenna kepincut" Steven terkekeh sedangkan Stephanie mencubit pipi sang adik gemas.
"Alenna salah minum obat kali"
Ledek Stephanie.
"Eh tapi jujur, lo tadi bijak zangat" Puji Steven. Stephanie tersenyum remeh.
"Jangan muji gue. Gue tuh emang orangnya bijak. Jadi udah biasalah di puji. Sampe bosen di puji terus" Steven memutar bola mata jengah.
__ADS_1
PDnya sampe ke Pluto.
Batin Steven.
"Nyesel gue ngomong gitu"
"Udah ah gue mau ke kamar" Steven beranjak dari duduknya meninggal Stephanie begitu saja.
"Yeee adek gak tau diri!" Teriak Stephanie kepada Steven yang berlalu begitu saja. Syukurlah ia bisa menenangkan sang adik. Ia pun tersenyum. Ia mengetahui satu hal yaitu, hanya Alenna yang dapat membuat sang adik berkelakuan seperti itu. Sebelumnya tidak pernah.
πππ
"Sayang~" Sapa Karin pelan saat masuk kedalam kamar Sarah. Karin mendekati Sarah yang tengah duduk di ranjangnya dengan wajah yang benar-benar kusut.
Saat sudah di dekat Sarah, karin ikut duduk di samping nya lalu mengelus kepala Sarah. Namun Sarah enggan untuk menoleh.
"Udah jangan sedih lagi. Mungkin Kenzo beneran ada urusan" Kata Karin menenangkan putrinya.
"Urusan apa coba?" Tanya Sarah kesal masih dengan wajah yang kusut.
"Mungkin ada urusan penting di perusahaan nya" Jawab Karin lembut sambil terus mengelus rambut Sarah.
"Tapi kan mah... Dia tuh seharusnya bisa nyempetin waktu buat nemenin aku ke toko baju. Gimana sih!" Kesal Sarah. Karin menghela napas pelan.
"Iya mama ngerti. Tapi mau gimana lagi? Kita gak bisa maksa dia. Dia ada urusan mendadak, sayang"
"Gak, aku gak percaya!. Dia pasti cuma nyari alesan. Pasti deh dia bohong sama aku. Atau mungkin, dia malah pergi nemuin Alenna!. Ia pasti gara-gara dia!" Tuduh Sarah keras kepala. Sarah tahu betul bahwa sikap Kenzo berubah saat Alenna muncul dan pergi entah kemana.
Sarah sangat marah saat Kenzo membatalkan rencananya untuk pergi ke toko baju, untuk memilih busana pertunangan mereka nanti. Tapi Kenzo terus saja bersikukuh untuk pergi walaupun Sarah telah membujuknya setengah mati.
Kini pikirannya kacau kesegala arah. Salah satunya adalah Alenna.
Dia yakin penyebab utama nya adalah Alenna.
Cih! Cewek murahan!. Gak tau malu!. Munafik!.
Batin Sarah.
"Kamu yakin kalau penyebab nya Alenna? Siapa tau aja salah" Tanya Karin tak mau anaknya Sarah menerka.
"Yakinlah mah!. Kalau bukan dia siapa lagi?. Kan yang genit dia doang, gak mungkin lah orang lain" Kata Sarah yakin seyakinnya. Karin menghembuskan napas berat.
"Terus kamu apa? Mau ngasih pelajaran kedia?"
"So pasti!. Dia harus di kasih pelajaran biar kapok. Kalau gak, bisa tambah ngelunjak" Sinis Sarah dengan senyum miring. Karin hanya diam melihat betapa seriusnya putrinya untuk membalaskan dendam kepada anak tirinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Karin ikut tersenyum. Ya lebih tepatnya, tersenyum miring.
πππ