
"Alenna awas!"
Buk!
Alenna menutup hidungnya yang sangat sakit dan mengeluarkan darah, ditambah pusingΒ karna terkena bola basket yang melayang ke wajahnya. Lebih tepatnya ke hidung. Darah terus mengalir bebas dari hidungnya. Alenna melihat siswa-siswi menghampirinya dengan pandangan yang kabur. Wajahnya pucat seperti mayat.
Sampai akhirnya, ia merasa bahwa ada seseorang yang menggendong nya pergi dari lapangan. Alenna tak tahu jelas siapa orang itu, tetapi di saat yang bersamaan pandangannya menjadi gelap gulita.
πππ
Dengan teliti dan tulus, Steven membersihkan darah yang mengalir di hidung Alenna. Mata gadis itu masih tertutup belum tersadar.
Sudah 3 Kain yang di gunakan Steven telah penuh dengan darah yang sangat banyak. Ia sangat khawatir karna darahnya tak kunjung berhenti.
Steven memperhatikan wajah pucat Alenna. Steven merasa bahwa gadis di hadapannya ini menanggung beban yang sangat banyak sampai-sampai ia lebih memilih untuk tidak bangun. Benar, sudah lumayan lama Alenna pingsan, sekitar 3 jam.
Kalian pasti bingung kenapa Steven bisa ada disini. Karna ia lah yang menggendong Alenna dari lapangan dan membawanya ke UKS. sebenarnya ia sudah seharusnya belajar di kelas, namun karna khawatir akan Alenna dan takut bahwa Alenna masih tak berhenti mimisan, Steven pun berpura-pura izin ke toilet dan pergi ke UKS.
dan benar saja, Alenna masih belum sadar dan mimisannya tambah banyak karna sudah hampir mengenai seluruh seragam Alenna. di UKS tidak ada orang kecuali Alenna dan dirinya. Steven sungguh mengutuk anak PMR yang tidak bertanggung jawab kepada Alenna.
nih anak PMR kemana coba? bukannya di urusin!. halah, gak guna!
batin Steven geram.
Flashback.
"Lo mau ngomong apaan?" Tanya Steven kepada Amel. Kini mereka berada di dekat gudang yang berdekatan dengan lapangan. Di gudang tersebut banyak peralatan olahraga, seperti bola dan lain lain. Jadi tak heran bahwa gudang tersebut dekat dengan lapangan.
"Gue udah tanya ke dia. Tapi dia bilang enggak" Jawab Amel. Steven diam mengangkat sebelah alisnya.
"Tanya apaan?" Tanya Steven bingung.
"Yang semalem lo bilang di pesta"
Steven mengangguk. Kini Steven tahu. Kembali ke pesta semalam, setelah mengantarkan Alenna pulang. Steven kembali ke pesta dan bertemu dengan Aldo dan Amel di sana, mereka baru datang. Mereka pun mengobrol dan bercanda ria. Namun beberapa saat kemudian, Steven bilang ke Aldo bahwa ia ingin berbicara empat mata dengan Amel. Tanpa rasa curiga, Aldo mengizinkan nya. Jadilah Amel dan Steven berbicara empat mata.
"Owh... Tentang dia cemburu atau enggak ke sih Kenzo" Kata Steven.Β
Ya, itulah yang di bicarakan Amel dan Steven tadi malam.
Steven ingin tahu, apakah Alenna cemburu atau tidak saat melihat Sarah dan Kenzo berduaan. Merasa butuh bantuan, Steven pun meminta Amel untuk membantunya bertanya kepada Alenna.
"Iya, dan jawabannya adalah enggak"
__ADS_1
"Lo yakin?" Tanya Steven.
"Enggak" Amel menggeleng yakin.
"Kenapa?" Tanah Steven.
"Yah... Feeling gue sih enggak. Soalnya tuh Alenna tipe orang yang tertutup. Dia bisa aja nyembunyiin sesuatu dari gue. Gue yakin itu. Dan asal tau aja, setelah gue nanya itu, dia langsung kayak kepikiran dan bengong. Kayaknya dia cemburu, tapi masih gak yakin" Jelas Amel panjang lebar. Steven mengangguk paham. Ia paham opini Amel, ia rasa juga seperti itu.
"thanks ya udah mau bantuin gue" kata Steven tulus.
"Iya kak, sorry juga gue cuma bisa bantu segitu" Kata Amel merendah.
"Iya gapapa. Thanks sekali lagi" Ujar Steven lagi.
"Kalau lo butuh bantuan mengenai Alenna, bilang aja ke gue. Sebisa mungkin gue bantu. Gue yakin lo bisa dapetin a-"
"Alenna awas!" Ucapan Amel terpotong karna mendengar seseorang berteriak.
Steven dan Amel segera keluar saat mendengar nama Alenna di sebut.
Dan yah... Steven melihat bola basket menghujam wajah Alenna.
Segera Steven berlari menuju tempat Alenna berada diikuti dengan Amel.
Steven menerobos kumpulan siswa-siswi yang mengerubungi Alenna. Dengan cepat Steven mengangkat Alenna alam bridel style dan membawanya pergi dari lapangan.
Rahangnya mengeras melihat darah segar yang terus mengalir dari hidung Alenna sampai ke baju. Sedangkan gadis itu telah tak sadarkan diri.
Jantung Steven berdetak lebih cepat karna khawatir.
Amel yang masih di lapangan pun menatap tajam kearah siswa-siswi yang tadi bermain basket.
"Siapa yang ngelakuin?!!" Tanya Amel marah, jangan lupakan napasnya yang memburu. Ia marah karna sahabatnya di buat pingsan apalagi sampai mimisan karna orang bodoh yang bermain basket.
"Gue!" Kata seorang gadis yang berpakaian seragam olahraga.
Seolah tau siapa gadis itu, Amel menghampiri gadis itu dan...
Plakkk!
Satu tamparan melayang di pipi gadis itu. Semua siswa-siswi yang menyaksikan terkejut karna Amel menampar sang kakak kelas yang terbilang cukup terkenal tersebut.
"Mau lo apa sih Sar?!!. Apa salah Alenna sama lo?! Hah?!" Tanya Amel membentak. Sarah memegangi pipinya yang merah.
__ADS_1
"Apa urusan lo?!. Lo tanya apa salah dia Sama gue?!. Salah dia banyak!" Balas Sarah tak kalah membentak.
Amel tak habis pikir dengan gadis licik di hadapannya ini. Apakah urat malunya telah putus? Ia bahkan tak merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan!.
"Apa?! Karna dia lebih deket sama Steven dan lebih di perhatiin sama Kenzo dari pada lo yang busuk? Yakan?!!"
"Lo-"
"Cowok mana yang mau sama lo Sarah?! Steven dan Kenzo tuh gak buta!. Mereka bisa bandingin mana buah segar dan mana buah yang BUSUK!!!" Ketus Amel sangat menohok. Napas Amel dan terkendali begitu juga Sarah yang sangat marah sekaligus malu.
"Seharusnya lo tuh malu! Lo udah ngerebut keluarga Alenna sekaligus kebahagiaan nya!!" Lanjut Amel. Sarah terdiam masih dengan mata yang penuh dengan amarah.
Amel melihat sekeliling, dilapangan ini sudah banyak orang. Sangat ramai. Lalu tatapannya kembali ke Sarah. Tatapan yang meremehkan dan senyum meremehkan.
"Disini udah banyak orang, gak malu aib lo gue buka?. Sebenernya masih banyak aib lo yang belum gue sebar, tapi yah... Karna gue kasihan dan masih punya hati. Jadi kali ini gue tahan. Tapi kalau suatu saat lo ngelakuin lebih dari ini, jangan salahin gue kalau satu Indonesia tau aib busuk lo yang sebenarnya" Sakartis Amel dengan senyum miring yang membuat siapa pun yang melihat nya akan bergidik ngeri.
Seolah tak terjadi apa-apa, Amel pergi meninggalkan lapangan dan Sarah yang masih terdiam dengan tangan yang mengepal.
Sungguh Sarah sangat malu sekarang.
Ia melihat sekeliling.
"Apa lo liat liat!. Pergi sana!" Ketus Sarah ke mereka yang masih berdiri menonton kejadian tersebut. Sarah sangat malu, bagaimana tidak? Dari kelas 10-12 menyaksikan hal tersebut. Mau di taruh mana muka Sarah?
"Huhhhhhh! Dasar gak tau malu!"
"HuhhhHhhhh!"
"Jahat banget sih!"
"Cantik-cantik tapi busuk! Cuih!"
"Najis!"
Cemooh mereka dengan tatapan tajam, kesal, dan jijik di sorot kepada Sarah. Karna tak kuat, Sarah pun pergi berlari menjauh dari mereka semua.
Kurang ajar! Liat lo Alenna! Gue pasti bakal bales lo lebih dari ini!. Dan Amel karna lo udah berani ikut campur! Gue bakalan berlaku sama ke lo!. Liat aja nanti!
Batin Sarah bersungguh-sungguh.
Flashback off!
πππ
__ADS_1