BROKEN

BROKEN
must strong


__ADS_3

"Sekarang"


Pria yang memegang sniper pun mengarahkan moncong tembakan tersebut ke tubuh Kenzo yang setengah berlari menggandeng Alenna. Pria itu bersiap untuk menembak, hanya tinggal menunggu intruksi dari sang boss.


"Tembak!"


Dan...


Dor!


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"AKHHH!" Alenna terkejut saat mendengar suara tembakkan dan bersamaan dengan itu, Kenzo ambruk dengan perut yang berdarah. Alenna terkejut bukan main. Ia segera terduduk untuk memeriksa tubuh Kenzo.


"Kenzo! Kenzo bangun ken! Kita pergi dari sini" Ucap Alenna menggoyang-goyangkan tubuh Kenzo.


Pria itu masih bisa melihat Alenna dan kesadaran nya masih cukup.


"Pergi len... " Ucap Kenzo pelan sambil mendorong tubuh Alenna untuk pergi dengan lemas.


Alenna menggeleng.


"Gak! Gue gak bisa ninggalin lo!"


Tolak Alenna.


"TOLONG!!! SIAPA PUN TOLONG!" Teriak Alenna meminta bantuan.


Ia menggenggam tangan Kenzo erat. Ia tak mau kejadian kemarin terulang lagi. Ia tak mau!.


Salah satu mobil berwarna hitam berhenti di pinggir jalan dekat dengan keberadaan Alenna dan Kenzo. Seseorang turun dari mobil itu lalu menghampiri Alenna dan Kenzo yang tengah tepar di trotoar.


"Tolongin pleaseee tolongin" Alenna memohon kepada orang itu. Tanpa membalas, orang berseragam hitam itu langsung membawa Kenzo kedalam mobil dengan hati-hati diikuti dengan Alenna yang memangku kepala Kenzo.


Tak sadar air mata Alenna keluar begitu saja. Hatinya sangat khawatir sungguh.


"Kenzo please bertahan. Bentar lagi kita sampe di rumah sakit. Plisss bertahan" Kenzo terus meringis kesakitan di perutnya. Alenna melafalkan doa di sepanjang jalanan.


"Pak, tolong lebih cepat" Ucap Alenna ingin Kenzo segera mendapatkan penanganan medis.


Sopir menganggukan kepala dan menambahkan kecepatannya.


Tuhan tolong... Jangan sampai dua kali terjadi. Alenna pasrah...


Batin Alenna.


"Kalau boleh tau, bapak siapa ya?" Tanya Alenna hati hati.


"Saya salah satu anak buah tuan Kenzo" Alenna menghela napas saat mendengar bahwa yang menyelamatkan nya saat ini adalah anak buah Kenzo.


Syukurlah....


Batin Alenna merasa sedikit lega.


"Oh makasih pak" Orang itu hanya mengangguk sebagai balasan. Awalnya Alenna curiga dengan gerak gerik orang ini. Tapi ternyata dia orang-orang Kenzo. Baguslah...


Disisi lain.


Sarah tersenyum puas saat melihat kejadian tersebut.


Sorry Kenzo... Lo seharusnya sama gue, bukan sama cewek murahan itu. Kalau aja lo sama gue, pasti ini gak bakalan terjadi. Sekarang, Terima resikonya.


Batin Sarah.


Sarah mengeluarkan amplop berwarna coklat yang dilihat cukup tebal isinya. Sarah memberikan benda tersebut ke penembak handalnya.


"Sekarang, kita harus cepat pergi dari sini" Beberapa saat kemudian, Sarah dan orang bayarannya telah lenyap dari apartemen tersebut, entahlah mereka pergi kemana dengan berbagai upaya agar bisa melarikan diri.


Beberapa menit kemudian, orang berseragam anak buah Kenzo datang ke kamar dimana Sarah menjalankan aksinya.


Namun sudah terlambat karna sudah tidak ada tanda-tanda keberadaan sarah disana.


Mereka berdecak kesal karna kehilangan jejak.


"Kita kehilangan jejak" Ucap salah satu anak buah Kenzo.


"Kita harus memberitahu tuan Kenzo" Saut salah satu dari mereka.


"Baik" Sambung salah satu dari mereka juga. Entahlah, jumlah anak buah Kenzo saat ini tak menentu. Mungkin bisa lebih 10 orang. Ini baru yang ada di ruangan, bagaimana dengan yang lain? Entahlah berapa orang...


"Cepat lakukan. Lalu setelah itu, kita cari mereka di tempat lain"


Pria yang habis bicara ini memanglah anak buah yang paling dekat dengan Kenzo. Bahkan Kenzo menganggapnya sebagai paman.


Karna itu, ia lebih bisa memerintah anak buah yang lain.


Tentu saja tidak dengan maksud jahat.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Alenna merasakan sesuatu berbunyi di saku celana Kenzo. Pancaran cahaya ponsel Kenzo sedikit menembus keluar dari sana.


Alenna mengerutkan alisnya lalu dengan hati-hati dia mengambil ponsel dari saku celana Kenzo.


Pria itu tidak sadarkan diri sekarang, jadi agak lebih leluasa untuk Alenna mengambil benda pipih tersebut.


Alenna kembali fokus ke tujuan utamanya dan melihat ada panggilan masuk yang ada di hadapannya. Ia melirik Kenzo sekilas.


"Maaf Kenzo, gue lancang" Ucap Alenna lalu menjawab panggilan dengan nama 'my bodyguard'ย  tersebut.


"Hallo?" Tanya Alenna bergetar. Jujur saja ia masih takut.


"Apa nyonya dan tuan baik-baik saja?" Tanya bodyguard Kenzo. Alenna mengerutkan alisnya.


Lah... Seharusnya kan mereka udah tau kalau Kenzo di tembak.


Batin Alenna merasa keheranan.

__ADS_1


"Nyonya Agantra?" Alenna tersadar dan mengabaikan panggilan 'nyonya Agantra' untuknya.


"Eh i-iya. Ke-kenzo dia... kena tembak" Ucap Alenna gelagapan.


"Hah?! Lalu kalian sekarang dimana?biar kami bawa tuan Kenzo kerumah sakit" Panik bodyguard Kenzo. Alenna kembali bingung.


"Kalian bukannya udah nyuruh orang buat bawa Kenzo kerumah sakit. Nih kita udah di dalam mobil" Beberapa saat setelah Alenna bilang begitu, hening. Tidak ada suara dari sana.


"Hallo?. Apa ada yang salah?" Tanya Alenna memastikan. Jujur saja, hatinya menjadi tambah takut dan was was.


"Nyonya kami tidak mengirim siapapun untuk menjemput kalian. Bahkan kami baru tau kalau tuan Kenzo yang kena tembak"


Alenna tercengang mendengar ucapan bodyguard Kenzo. Ia reflek melihat pria yang tengah menyetir di dalam mobil itu. Rupanya, pria itu tengah melakukan panggilan juga dengan orang lain.


"Baik, akan saya lakukan sekarang" Ucap pria yang membawa Alenna dan Kenzo masuk kedalam mobil tadi. Alenna memperhatikan pria itu dengan seksama. Alenna menggeleng pelan lalu ia beralih ke jalanan.


Sialan! Ini kemana?.


Batin Alenna. Jujur saja ia tidak tahu ini di daerah mana.


"Nyonya? Anda baik baik saja kan?. Sekarang beri tahu kami anda ada di daerah mana?. Biar kami jemput" Alenna beralih ke panggilan yang masih tersambung.


"Ada apa nyonya? Apa ada yang salah? Kenapa anda memandang saya seperti itu?. Jangan khawatir..." Ucap pria yang sedang menyetir itu, memergoki Alenna yang melihatnya dengan tampang was-was.


"Nyonya? Dari mana suara itu?"


Sambung terus berlanjut sedari tadi.


"Saya gak tau ini dimana" Ucap Alenna berbisik agar tak ketahuan.


"Tolong lacak ponsel ini" Lanjut Alenna masih dengan berbisik.


"Baik... Jangan pernah matikan ponselnya"


"Ingat, jangan berisik"


"Kami akan segera menemukan anda. Bertahanlah... Tolong jaga tuan kami"


Alenna mengangguk seolah menjadi jawaban. Tanpa mematikan sambungan teleponnya, Alenna menaruh ponsel Kenzo di saku cardigan nya.


Alenna menatap Kenzo yang masih memejamkan matanya.


Kenzo pleaseee bertahan... Ini semua gara-gara gue. Coba kalau lo gak di hidup gue, pasti lo gak perlu menderita.


Batin Alenna.


Gadis itu memeriksa napas Kenzo yang ternyata masih terasa walaupun agak melemah. Alenna menitikan air mata saat melihat darah Kenzo semakin banyak keluar.


Untuk kali ini, gue mau jadi manusia yang lebih bermanfaat. Walaupun harus membahayakan diri sendiri.


Batin Alenna bertekad.


"Hmm pak, kita kok belum sampe ya?" Basa basi Alenna berpura-pura bodoh.


"Masih jauh nyonya" Alenna mengepalkan tangannya.


Setiap ujung cardigan itu ia pegang seolah menjadi tali. (โ€”) seperti ini.


Alenna mengulum bibir bawahnya.


Ia memindahkan kepala Kenzo dengan sangat hati hati agar bisa di taruh di tempat duduk. Alenna bangun perlahan dan sedikit meringkuk.


"Ada apa nona?" Tanya pria itu melihat Alenna yang bangun dari duduknya. Alenna tersenyum paksa melihat pria tiya lewat pantulan kaca.


"Saya mau nyalain AC pak. Panas" Bohong Alenna. Sebenarnya jika benar Alenna hanya ingin menyalakan AC mobil, dia bisa dalam keadaaan duduk. Tapi bukan itulah tujuan Alenna.


Pria itu mengangguk dan kembali fokus menyetir.


Alenna mencuri-curi kesempatan selagi pria itu tak terfokus kepadanya.


Alenna bersiap di belakang kursi pria itu dan sedikit kesulitan karna ruang yang sempit. Ia mengendap-endap dan mencari momen yang pas itu menjalankan aksinya.


"Nyonya an-"


Sreg!


Dengan cepat Alenna melilitkan leher pria itu dengan cardigan nya dan terus menarik ujungnya seperti sedang mencekik. Niat pria itu gagal saat ingin menoleh ke arah Alenna karna Alenna sudah mencekiknya duluan.


Pria itu kesulitan bernapas sekarang dan wajah nya merah.


"Lep-akh" Pria itu terus meronta dan tangannya terlepas dari setir mobil. Mobil pun oleng.


"Buka pintunya!!" Titah Alenna sangat kencang. Pria itu masih terus meronta. Jujur saja Alenna takut karna sekarang mobil tidak ada yang mengendalikan.


"Gue Bilang Buka Sialan!!!" Pria itu segera membuka pintu di samping nya. Dengan cepat Alenna pindah ke kursi di samping pria itu, masih dengan tangan yang memegang cardigan. Tentu saja cardigan yang ia lilitkan di leher itu.


Alenna menendang perut pria itu dengan sangat keras berharap tubuh pria itu keluar dari mobil. Mobil terus melaju dengan pintu kemudi yang terbuka. Jalanan di daerah ini sepi.


"Akh!" Entah kenapa dahi Alenna bisa kepentok kaca mobil di dekatnya. Alenna merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dahinya. Darah...


Tapi gadis itu mengabaikan nya.


Gue harus kuat!. Gue harus ngeluarin si brengsek dari mobil ini dan bawa Kenzo kerumah sakit.


Batin Alenna bertekad.


Drttt drttt.


Ponsel pria itu bergetar dan membuat Alenna sedikit mengalihkan pandangannya pada ponsel pria itu yang berada di atas dashboard.


Alenna terkejut bukan main saat sekilas melihat nama siapa yang terpampang di ponsel pria itu.


Sarah... Lo bener-bener keterlaluan!.


Gue bakal bales semua perbuatan lo!.


Batin Alenna. Benar, yang menelpon pria itu adalah Sarah. Terlihat dari layar slide nya. Berkali kali Sarah terus menelpon.

__ADS_1


Sepertinya pria itu sadar bahwa ada yang menelponnya, pria itu berusaha mengambil ponselnya tapi selalu di cegah oleh Alenna.


"Keluar brengsek!" Alenna terus mendorong pria itu keluar.


Pria itu tak tinggal diam, tangannya terus berusaha melepaskan lilitan di lehernya. Sedangkan kedua kakinya masih di pedal gas, membuat mobil terus berjalan.


Karna gelagapan pria itu jadi tidak konsen untuk menyetir. Di tambah pasokan oksigen yang menipis.


Sungguh membuatnya hampir mati.


Bugh!


Alenna menendang wajah orang itu yang berada di dekatnya.


Saya pria itu memegang wajahnya karna kesakitan, Alenna memanfaatkan kesempatan dengan menendang pria itu sekuat tenaganya dan melepaskan cardigan nya dari tangan gadis itu.


Bruk!.


Bunyi suara seseorang jatuh. Siapa lagi jika pria yang mengaku anak buah nya Kenzo. Dia keluar dari mobil karna tendangan Alenna dan jatuh di jalanan dengan cardigan Alenna yang masih melilit di lehernya. Pria itu mengambil napas dengan rakus.


"KURANG AJAR!!!" Teriak pria itu geram. Ia mencoba untuk duduk dengan susah payah dan mengeluarkan ponselnya.


Pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Lo dimana brengsek?!!!. Kenapa lama banget sih!"


Pria itu menghirup napas terlebih dahulu sebelum menjawab.


"saya... Nyerah nona Sarah... " Ucap pria itu terengah-engah.


"APA MAKSUD LO SIALAN?! JANGAN BILANG MEREKA LOLOS!"


"iya... Mereka lolos. perempuan itu berhasil membawa mobil saya"


"AKH GAK GUNA! liat aja, gue bakal bikin perhitungan sama lo!"


Tuts!


Sambungan telepon terputus secara sepihak.


Disisi lain...


Alenna telah mengambil alih jalannya mobil tersebut. Padahal sedikit lagi mobil itu akan menabrak tiang jalanan, Untung saja Alenna segera mengambil alih, kalau tidak tamatlah sudah.


Gadis itu mengambil napas lega saat rencananya berhasil. Ia menoleh ke belakang sebentar untuk melihat keadaan Kenzo.


"Gue mohon... Bertahan Kenzo..." Alenna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk sampai di rumah sakit.


Ia memang tidak mengetahui jalan ini, karna itu ia memutar balik mobilnya dan melewati pria yang tadi mengaku sebagai anak buah Kenzo.


Tapi Alenna tidak peduli. Yang jelas, ia harus membawa Kenzo kerumah sakit.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Tok! Tok! Tok!


Pintu rumah Alenna pun terbuka dan menampilkan Johan. Pria paruh baya itu sempat terkejut saat melihat siapa yang datang.


"Selamat malam, Pak" Ucap tamu tersebut. Kedua orang tamu itu lengkap berseragam polisi.


"Ya, selamat malam. Ada apa ya pak?" Tanya Johan hati-hati. Jujur iaย  bingung kenapa bisa ada polisi mendatangi rumahnya. Perasaan ia tidak melakukan tindakan kriminal.


"Apa benar ini kediaman Alenna Patricia?" Johan terkejut saat anaknya di sebut-sebut. Ia mengangguk canggung.


"Ya benar, saya papa nya. ada apa ya pak?. Oh mari masuk pak" Johan melebarkan pintunya lebar, mempersilahkan.


Polisi itu menggeleng


"Tidak perlu pak. Saya hanya bertanya apa anak bapak yang bernama Alenna Patricia sedang di rumah?" Tanya polisi itu to the point.


"Dia pergi dan belum pulang. Saya tidak tahu dia ada dimana. Memangnya ada masalah apa ya pak? " Tanya Johan khawatir anaknya kenapa-kenapa.


"Kasus kematian temannya yang bernama Aldo Alviansyah meninggal karna di bunuh Dan kami butuh keterangan dari Alenna untuk menjadi saksi mata. Karna ada yang mengadu bahwa dia berada di tempat yang sama bersama korban saat kejadian tersebut"


"Otomatis anak bapak bersangkutan dalam masalah ini"


Johan diam mendengarkan.


"Jadi saya harap, bapak bisa bekerja sama dengan kami untuk meminta Alenna memberikan keterangan" Lanjut polisi satunya lagi.


"Ba-baik. Saya akan mencoba anak saya untuk memberikan keterangan" Kedua Polisi itu mengangguk.


"Terima kasih pak. Kalau begitu kami pamit. Maaf karna telah mengganggu tidur nyenyak anda" Mereka berjabat tangan.


"Iya pak, Sama-sama"


Setelah itu polisi itu pergi dari rumah Alenna.


Johan terdiam di ambang pintu dan melamun.


"Alenna..." Gumam Johan sangat khawatir dengan anaknya. Jujur saja Johan takut. Disini Alenna menjadi saksi mata dan bisa saja status nya berubah menjadi tersangka. Banyak yang seperti itu.


papa harap tidak terjadi sesuatu yang merugikan.


batin Johan berdoa


Johan menghapus pikiran negatif mengenai Alenna dan masuk kedalam rumah setelah menutup pintu.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


**Hai guys! i'm back!!!. maaf nih updatenya lama... kan udah semester 2 jadi author harus banyak belajar. mohon mengerti ya... ๐Ÿ˜Š


KALIAN TAU GAK APA MAKSUD DARI GRUB YANG ADA DI MANGATOON? AUTHOR BINGUNG....


kalau ada yang tau tolong tinggalin komentar ya....


sampai jumpa๐Ÿ‘‹๐Ÿ˜Š**

__ADS_1


__ADS_2