
Matahari sudah terbit dan Alenna sudah bersiap keluar dari kamar dengan penampilan rapih. Gadis itu melihat kesana kemari sampai matanya tertuju kepada Johan yang tengah terduduk di sofa dengan tatapan lurus. Alenna menghampiri.
"Pah" Panggil Alenna pelan. Johan menoleh lalu tersenyum.
"Alenna, kamu mau kemana?. Kamu liat Sarah sama Karin?" Tanya Johan. Alenna berpikir sejenak lalu menjawab.
"Papa harus datang ke kantor polisi biar tau semuanya dan Alenna harap papa bisa menerima kenyataan" Kata Alenna membuat Johan berdiri di depan Alenna dengan wajah terkejut.
"Kantor polisi? Untuk apa?" Tanya Johan.
"Biar tau, papa harus kesana" Jawab Alenna lalu tersenyum.
Tin! Tin!
Suara mobil tiba-tiba terdengar dari arah luar, Alenna menoleh sekilas.
Johan masih diam mematung, bergulat dengan pikirannya.
"Alenna izin pamit ya pah. Alenna mau menenangkan diri dulu sama Kenzo. Mohon izin ya pah" Pamit Alenna kepada Johan. Pria paruh baya itu terdiam sebentar.
"Kamu mau kemana?" Tanya Johan.
"Ke Swedia pah. Alenna mau menenangkan diri disana sama Kenzo. Papah gak usah khawatir, gak lama kok" Kata Alenna. Johan mengelus rambut anaknya lembut.
"Hati-hati disana, nak. Jangan berpisah dengan Kenzo" Alenna mengangguk. Ia pun berpamitan dan pergi keluar dari rumah. Segera Alenna masuk kedalam mobil berwarna hitam, tenang kali ini benar-benar anak buah Kenzo, karna Kenzo telah memberitahunya tadi.
Mereka pun pergi dari perkarangan rumah Alenna dan berangkat menuju bandara.
Disisi lain, Johan hanyut dalam pikirannya karna perkataan Alenna tadi yang membuatnya bingung. Kenapa ia harus ke kantor polisi? Apa ada Karin dan Sarah disana?. Itulah yang menjadi pertanyaan di kepala Johan.
Segera ia melangkahkan kaki menuju kamar dan bersiap untuk pergi ke tempat yang Alenna sebutkan tadi, kantor polisi.
πΊπΊπΊ
"Nona Karin, ada yang ingin bertemu dengan anda" Kata salah satu polisi yang bertugas untuk menjaga Karin dan Sarah selama proses penyelidikan hingga akhirnya melakukan persidangan.
Karin di bawa oleh polisi itu untuk menjumpai tamu yang baru saja di sebutkan oleh polisi tadi di sebuah ruangan.
Setelah pintu ruangan itu terbuka, Karin segera masuk dan ia melihat Johan yang sudah duduk di kursi yang di depannya telah ada meja panjang dan kursi satu lagi. Karin pun datang dengan rasa takut dan perlahan duduk di depan Johan. Karin hanya diam sambil menunduk dan Johan hanya diam tanpa berniat mengeluarkan suara sedikitpun sebelum polisi yang mengantar Karin keluar.
Tugasnya membawa Karin sudah selesai, polisi itu pun keluar dari ruangan dan menutup pintunya. Kini tersisa Karin dan Johan yang terdiam canggung.
"Apa yang telah kamu lakukan, Karin?" Tanya Johan dengan nada datar. Karin mendongak dengan wajah yang pucat dan bibir yang kering, sekaligus matanya juga sembab.
__ADS_1
"Ma-maafin aku Johan... " Kata Karin dengan meneteskan air mata dan mulai menangis.
"Aku tak butuh tangisan mu Karin. Aku hanya butuh penjelasan, kenapa kalian bisa ada disini?" Tanya Johan menuntut penjelasan. Karin terdiam sebentar sebelum menjawab.
"Aku jahat Johan. Aku dan Sarah yang udah membunuh istri kamu, Vinna. Aku yang udah ngerencanain semuanya, karna aku cinta sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu dan aku juga iri sama Vinna yang lebih sempurna dari pada aku. Maafin aku Johan..."
Deg!.
Seperti ada benda lancip yang menusuk hati Johan dan itu terasa sangatlah sakit, sangat sakit.
Johan menggeleng tak percaya sedangkan Karin kembali menangis dengan kedua tangan menutup wajahnya. Mata Johan memerah menahan tangis.
"Aku sungguh minta maaf Johan. Aku melakukannya karna aku mencintaimu dan itu semua sudah membuat ku menjadi orang yang jahat, Johan. Maafkan aku... Aku mohon" Kata Karin sambil memegang tangan Johan tapi Johan segera menepis nya dengan kasar. Karin kembali menangis dengan terisak.
"Kau sudah membuat ku kecewa Karin. Aku lebih mengutamakan mu dari Vinna, semuanya ku berikan pada mu dan aku mengabaikan dia!. Tapi kau malah berbuat hal yang Sangat rendahan seperti ini" Kata Johan dan terpancar jelas kekecewaan di wajah Johan. Ia menatap Karin yang tengah menangis dengan kecewa yang teramat dalam.
"Maafkan aku Johan, aku menyesal" Mohon Karin tapi Johan menggeleng pelan.
"Aku benar-benar kecewa padamu Karin. Aku tak bisa menerima semuanya dan aku... Akan menggugat cerai" Karin mendongakkan kepala terkejut mendengar ucapan Johan.
"Tidak Johan! Aku mohon... Maaf kan aku" Mohon Karin kembali menyentuh tangan Johan tapi kembali di tepis.
"Aku tidak bisa hidup bersama mu lagi Karin. Aku sungguh kecewa, masalah harta aku akan memberikan mu, tapi kau harus pergi dari keluarga ku dan nanti bawalah Sarah. Aku masih mempunyai Alenna"
"Maafkan aku Johan... Aku menyesal. Vinna, aku sungguh minta maaf" Kata Karin menutup kedua wajahnya dengan tangan dan terus menangis keras.
πΊπΊπΊ
Johan kembali berjalan di ruang selanjutnya, dimana ada Sarah di dalam sana. Perasaannya sungguh kacau saat ini, satu waktu yang menyakitkan harus ia Terima mentah-mentah. Hati Johan sungguh sakit mengetahui bahwa istrinya, Vinna telah meninggal karna di bunuh dan pembunuhnya adalah Karin. Wanita yang ia cintai.
Johan melihat Sarah yang bpak tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa. Johan duduk di hadapan Sarah dan Sarah sudah menyadari kehadiran Johan, namun perempuan itu hanya diam dan menatap datar Johan.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Sarah?" Tanya Johan setenang mungkin, walaupun terdengar nada dingin di baliknya. Sarah hanya menaikkan satu alisnya.
"Bukannya papa udah tau?" Tanya Sarah santai.
"Tidak. Jelaskan sekarang" Titah Johan. Sarah tertawa sinis.
"Ini semua karna anak papa, Alenna. Coba aja waktu itu aku cepet ngebunuh cewek itu, pasti sekarang gak bakal kayak begini ceritanya" Ujar Sarah santai dan terkesan tak takut dengan ucapannya.
Tangan Johan mengepal, napasnya memburu, rahangnya mengeras, dan perasaannya telah menggebu-gebu emosi. Namun ia harus tahan untuk itu, Johan harus ingat bahwa sekarang ia tengah berada di kantor polisi. Terlebih yang di hadapinya adalah anaknya sendiri, Sarah. Ia harus bersabar penuh.
"Jadi kamu ingin membunuh Alenna?" Tanya Johan tetap bersikap tenang. Sarah mengedikkan bahu.
__ADS_1
"Mungkin dan segera" Johan tak habis pikir dengan Sarah, anaknya yang selalu ia bela di banding Alenna. Kini sudah sangat berubah menjadi sangat jahat dan kurang ajar.
"Lalu apalagi?" Tanya Johan.
"Apanya?"
"Yang kamu lakukan lagi? Selain ingin membunuh Alenna?" Tanya Johan.
"Sarah udah ngebunuh Aldo, si cowok tolol yang mau aja temenan sama Alenna. Sarah juga udah nembak Kenzo dan... Sarah juga yang udah bantu mama buat ngebunuh tante Vinna. Puas sama penjelasannya?" Enteng Sarah berbicara.
Kenzo?. jadi anak itu tertembak... Anak ini sudah gila. Benar-benar gila...
Batin Johan terkejut mendengar pengakuan Sarah yang bilang bahwa Kenzo tertembak.
"Baiklah, kenapa kau melakukan itu kepada mereka?" Tanya Johan lagi.
Sarah menampilkan senyum miring nya yang meremehkan kepada Johan.
"Karna mereka emang pantas mati!. Mereka gak perlu hidup kalau cuma ada disisi Alenna dan jadi guardian Angelnya cewek itu. Mending mereka pergi dan ninggalin Alenna yang menderita sendirian. Sarah lebih suka itu" Kata Sarah yang terdengar begitu jelas di telinga Johan. Pria itu menggeleng pelan tak percaya dengan perkataan Sarah, anaknya.
"Kamu memang sudah keterlaluan Sarah. Kau memang pantas mendekam di penjara selamanya karna perbuatan mu. Papa dan mama akan segera bercerai, kamu ikut Karin nantinya. Papa akan menunggu kamu masuk kedalam sel, Sarah" Kata Johan sarkas dan sukses membuat Sarah terdiam sekaligus terkejut.
"Bercerai?" Tanya Sarah tak percaya.
"Ya. Secepatnya" Jawab Johan membuat Sarah menggeleng tak terima. Johan bangkit dari duduknya dengan tiba-tiba.
"Akan papa tunggu proses persidangan. Papa gak akan keberatan kalau kamu mendapatkan hukuman yang sangat berat, papa sudah tidak peduli kepada kalian. Papa sangat kecewa sama kamu Sarah" Ucap Johan membuat Sarah menggeleng.
"Papa pergi" Johan pun pergi meninggalkan Sarah yang masih terdiam dan melamun. Entah apa yang gadis itu pikirkan, yang jelas terlihat mimik wajah sedih di wajahnya. Sebutir air mata keluar dari matanya dan lama kelamaan semakin banyak, membuat gadis itu terisak.
Sedangkan Johan sudah memilih untuk langsung meninggalkan kantor polisi dan pulang ke rumah. Di perjalanan, ia menangis tersedu-sedu karna tertampar oleh kenyataan pahit yang harus ia Terima.
"Aku sangat bodoh Vinna!. Aku bahkan lebih memilih dia yang nyatanya sudah membunuh mu!. Aku lebih memilih Sarah di banding Alenna yang padahal sudah melakukan pembunuhan pada temannya sendiri"
"Aku sungguh seorang ayah yang sangat bodoh dan jahat, Vinna!" Kata Johan di sela-sela tangisnya. Satu kata yang pantas mendeskripsikan perasaannya saat ini yaitu, menyesal. Ya, pria paruh baya itu sangat menyesal.
Maafin papa Alenna, Vinna aku mohon maaf. Aku sungguh menyesal. Tolong ampuni hamba Tuhan.
Batin Johan.
Pria itu kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi agar cepat sampai dirumah untuk menenangkan diri dan mengeluarkan semua emosinya di sana.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
vote dan comment nya boleh dong... ππβΊ