
"Hallo tuan Kenzo, ada perlu apa tuan menelpon saya?"
"beli seragam sekolah dan baju lainnya untuk Alenna. Lalu antarkan ke sini"
"Baik tuan. Tapi beli berapa banyak bajunya, tuan?"
"Sebanyak-banyaknya"
"Baik tuan"
Tuttt!
πΊπΊπΊ
Flashback off!
"APAA?!!! LO MAU KE AMERIKA?!!" Teriak Amel melengking, membuat Alenna menutup telinganya.
"Ihhh berisik!" Kesal Alenna kepada Amel. Amel pun nyengir.
"Hehehe sorry. Abis gue kaget, emang bener lo mau ke Amerika bareng kak Kenzo?" Tanya Amel tak percaya. Alenna hanya mengedikkan bahu tidak tahu.
"Lo gimana sih len?!"
"Gimana apanya?" Tanya Alenna.
"Kalau lo beneran ikut ke Amerika abis ujian sekolah, terus gimana sama Steven? Lo tega ninggalin dia?. Ih jahat!"
Alenna menghela napas. Itulah yang menjadi pikirannya, namun kapan lagi ia harus membalas budi Kenzo?. Lagipula Kenzo yang meminta ini, bukan Alenna sendiri.
"Mangkannya itu, gue juga bingung. Gue juga gak mau kali sampe ninggalin Steven gitu aja. Gue gak sejahat itu"
Kata Alenna. Tolong berikan Alenna ide.
"Emangnya gak ada cara lain? Coba deh lo bujuk kak Kenzo buat nyari ide yang lain"
Tanya Amel.
"Udah, tapi tuh cowok keras kepala. Mau nya cuma itu, gue tau sih ini buat ke baikan gue sendiri. Tapi kan...
Rasanya berat aja" Kesal Alenna. Amel terdiam sebentar. Ia juga tidak mau sampai Alenna pergi begitu saja meninggalkan nya. Ia tak sanggup, jika sahabatnya pergi.
Lagi-lagi Amel teringat, bahwa ini semua untuk kesembuhan Alenna. Bagaimanapun, Alenna harus sembuh. Mungkin ini salah satunya cara.
"Yaudah, mau gimana lagi. Terpaksa lo harus Terima dan lo juga mau gak mau harus pergi ninggalin Steven" Alenna terdiam.
Ah gila! Dada gue kok sesek sih?. Rasanya gak sanggup.
Batin Alenna.Β
"Oh ya, bukannya kata lo kak Kenzo bakalan tunangan sama si Sarah?. Terus gimana sama tunangannya?" Tanya Amel tiba-tiba.
"Gue juga gak tahu. Kenzo cuma bilang kalau itu urusan dia sama papa. Dia juga gak peduli kalau pertunangan nya batal, yang penting dia berhasil nyembuhin gue. Udah gitu doang"
"DEMI APA??!" lagi lagi Amel berteriak membuat Alenna memukulnya dengan bantal.
"Halah bacot!. Kuping gue sakit!"
Ketus Alenna menatap Amel kesal.
"Ihhhh Alenna!. Kak Kenzo so sweet banget sih!. Iri deh gue" Ujar Amel membuat Alenna memutar bola mata malas.
__ADS_1
"Apaan banget deh lo"
"Gue rasa nih ya, dia benar-benar cinta banget sama lo!. Liat aja deh, dia kayaknya cuma cinta sama lo dan bukan Sarah!. Plus dia cuma bahagia sama lo, Alenna!"
Kata Amel antusias. Alenna hanya diam.
Cuma bahagia sama gue?
Batin Alenna mengingat ucapan Amel barusan.
"Ma-maksud lo dia cuma bahagia sama gue?" Tanya Alenna bingung. Amel berdecak sambil menyentil dahi Alenna.
"Iya Alenna ku sayang... Kak Kenzo cuma cinta sama lo dan dia cuma bahagia kalau sama lo. Masa lo gak peka sih?" Kata Amel gemas. Sahabatnya ini masa tidak peka masalah itu. Membuat Amel gemas sama.
"Kamu bilang seperti itu, memangnya kamu pernah ngertiin perasaan saya?. Kenapa kamu seolah-olah gak pernah tahu apa perasaan saya ke kamu. Padahal dengan gamblang saya utarakan ke kamu. Bayangkan jika apa yang di rasakan Sarah saat tahu bahwa saya tidak mencintai nya, malah terjadi sama saya sendiri. Disaat orang yang saya cintai malah mencintai orang lain. Bayangkan perasaan saya Alenna"
Alenna terpaku saat ucapan Kenzo waktu di rumah sakit terngiang-ngiang di otaknya. Kenapa Alenna selama ini tidak sadar? Apakah ia terlalu bodoh untuk memahami perasaan Kenzo? Padahal Kenzo telah membuktikan dan mengutarakan isi hati nya kepada Alenna. tapi kenapa dengan Alenna?
"Len!"
"Alenna!"
"WOY ALENNA PATRICIA!"
Bugh!
"Halah bacot lo Mel!"
Alenna segera berbaring di kasur milik Amel dengan guling yang ia peluk dan tidur begitu saja.
"Aduh pala gue" Rintis Amel karna baru saja di pukul Alenna dengan bantal sangat keras.
Amel pun ikut berbaring di samping Alenna dengan membangsat-bangsatkan Alenna dalam hati. Ingin sekali Amel membalas perlakuan Alenna dengan memukul gadis itu dengan panji kesayangan mamanya. Tapi sayang, melihat kondisi Alenna saat ini, Amel hanya bisa mengurungkan niatnya dan menyumpah serapahi Alenna.
πΊπΊπΊ
Kringgg!!!
Bel tanda istirahat telah berakhir kini berbunyi dan seluruh siswa-siswi masuk ke kelas untuk melanjutkan ujian pada jam terakhir, termasuk Alenna dan Amel yang ternyata satu ruangan. Ini adalah hari pertama mereka ujian untuk kenaikkan kelas. Jika Alenna bisa naik kelas, ia akan menginjak kelas 3 SMA bersama Amel. Steven? Tentu saja ia akan lulus dan masuk ke Universitas yang ia inginkan. Semoga saja hal yang mereka harapkan terjadi.
Alenna harus fokus sekarang. Satu hal yang perlu kalian ketahui, Alenna tidak belajar sama sekali!. Ingat sama sekali tidak belajar. Tapi yasudah lah...
Alenna hanya terus berdoa agar bisa mengerjakan soal ujian dengan lancar dan mendapatkan nilai yang bagus, walaupun tidak tinggi tapi setidaknya di atas Rata-rata agar bisa naik kelas.
Alenna pun duduk yang telah di sediakan. Untung dia semeja dengan kakak kelas XII yang perempuan dan dia juga ramah kepada Alenna. Jika Alenna butuh sesuatu, perempuan di sebelahnya ini siap membantu, begitu juga sebaliknya.
Tak butuh waktu lama, pengawas pun datang dan ujian pun segera dimulai. Banyak diantara mereka yang keringat dingin, frustasi, dan ada juga yang terlihat santai. Steven? Dia terlihat santai saja, sesekali dia melihat Alenna namun Alenna tidak memperdulikan dan terus mengerjakan.
Kenapa Alenna tahu Steven sedang apa? Karna mereka satu ruangan. Alenna di depan dan Steven berada di paling belakang sebangku dengan adik kelas perempuan. Sesuai absen.
Alenna tentu saja tidak cemburu, toh cuma ujian.
Entah kenapa Alenna menyelesaikan soalnya dengan sangat mudah dan cepat. Ia pun merilekskan tubuhnya dengan menaruh kepala di atas meja dan di topang oleh kedua tangan yang terlipat. Bagaikan jika Alenna tertidur? , oh tenang kakak kelas di sebelahnya ini pasti akan membangunkan, dan lagi Alenna juga tidak akan di marahi karna tidur. Because di perbolehkan.
Asal kalian tahu, selama Alenna memejamkan matanya banyak sekali pasang mata yang memperhatikan gadis cantik itu. Terutama kaum adam. Jangan lupakan Steven yang terlihat geram karna itu, bagaimana tidak? Banyak teman laki-lakinya ataupun adik kelasnya memperhatikan Alenna, yang ekhem sudah menjadi kekasihnya itu.
Muncul lah rasa cemburu dari hati Alenna. Ingin rasanya Steven langsung memeluk gadis itu karna sangat rindu, namun ia harus menahannya.
Untung saja, otak Steven pintar jadi bisa mengerjakan soal dengan mudah.
"Alenna... " Bisik seseorang di belakang Alenna. Namun Alenna belum menyadarinya, karna sudah mulai pulas tertidur.
__ADS_1
"Alenna... Woy" Panggil orang itu lagi.
Alenna masih belum menjawab. Dari kejauhan, Steven memperhatikan gadisnya dari kejauhan.
"Woy"
Duk!
Pria di belakang nya menendang kursi Alenna hingga menimbulkan suara, namun tidak keras. Berhasil.
"Alenna"
Alenna pun bangun dan menoleh ke belakang dengan hati-hati takut ketahuan pengawas.
"Apaan sih Angga?" Tanya Alenna berbisik. Yap! Itu adalah Angga.
"Nomer 43 dong" Alenna memutar bola matanya malas. Sudah menjadi kebiasaan, Angga pasti selalu bertanya jawaban kepada Alenna.
"Gak tau"
Bodo ah... Pelit dikit boleh kan?.
Batin Alenna masa bodoh.
Angga menggerutu, namun ia terus berusaha menanya kepada Alenna.
"Oh ayolah len, lo gak mau kan naik kelas sendiri?" Tanya Angga berbisik.
Halah... Mancing.
Batin Alenna. Dia tahu bahwa itu hanya pancingan dari Angga. Alenna menggeleng.
"Nah, mangkannya kasih tau. Biar kita naik barengan"
"Bodo"
"Yah Alenna... Ayo dong. Gue tinggal dikit lagi nih"
"Alenna, lo mah gitu"
"Anak-anak, waktunya tinggal 5 menit lagi. Jadi tolong periksa kembali hasilnya, takutnya kalian keliru. Oh ya, sama identitas kalian jangan sampai salah" Kata pengawas. Benar, waktu sudah berjalan seperti semestinya. Alenna sudah tidak sabar ingin mencari udara segar di luar.
"Iya bu!!" Jawab siswa-siswi diruangan Alenna. Mereka pun kembali memeriksa hasil kerja mereka. Kecuali Angga yang masih sibuk membujuk Alenna untuk memberikan jawaban kepadanya. Bukannya Alenna pelit dengan sahabat sendiri, tapi Alenna mau Angga naik kelas dengan hasil kerja nya sendiri. Lagipula, belum tentu jawabannya benar pasti bisa saja salah. Apalagi Alenna tidak belajar, bisa-bisanya Angga bertanya jawaban kepada Alenna.
"Alenna pliss dong... waktunya bentar lagi nih" Alenna tidak menggubris.
"Yah jahat lo len"
Alenna hanya menanggapi dengan mengacungkan jari tengah 'π' kalo
Kata Lisa BLACKPINK sih middle finger up.
Angga menghela napas. Ia pun menyerah dan kembali mengerjakan soal yang belum tuntas tersebut dengan menyumpahi Alenna terus menerus.
Entah sudah berapa kali Alenna di sumpahi dalam sehari ini.
Tak sadar, Steven hanya terkekeh di tempat duduknya menyaksikan kejadian tersebut.
"Itu baru cewek gue"
πππ
__ADS_1