BROKEN

BROKEN
only you


__ADS_3

Angga menghela napas. Ia pun menyerah dan kembali mengerjakan soal yang belum tuntas tersebut dengan menyumpahi Alenna terus menerus.


Entah sudah berapa kali Alenna di sumpahi dalam sehari ini.


Tak sadar, Steven hanya terkekeh di tempat duduknya menyaksikan kejadian tersebut.


"Itu baru cewek gue"


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Akhirnya ujian pun selesai. Senyum Alenna mengembang dan menghela napas lega. Ia segera merapikan alat tulisnya dan berniat berjalan keluar kelas untuk pulang. Ya memang apalagi yang akan di lakukan nya selain pulang kerumah dan 'menikmati hidup'.


Oh ya, jika kalian penasaran di mana David, maka jawabannya adalah David ada di rumah sekarang. Ia belum kembali ke Amerika. Jadi Alenna tidak terlalu kesepian dirumah, walaupun abangnya itu sering pergi juga. Tapi setidaknya masih ada yang mau menemani Alenna dirumah.


Karna itu, Alenna ingin cepat cepat pulang dan bertemu dengan David dirumah.


Selesai, Alenna pun keluar dari kelas setelah mengambil tas yang berada di loker. Jujur Alenna ingin bertemu Steven sekarang, namun ia ingin langsung pulang saja dan bersantai sejenak merilekskan tubuhnya sendiri.


"Weitsss tunggu dong!" Amel secara tiba-tiba datang menghampiri Alenna dan menepuk bahu gadis itu. Sukses membuat Alenna terkejut dan menyumpah serapahi Amel.


"Duh! Ngagetin aja lo" Kesal Alenna. Amel hanya nyengir tak berdosa.


"Lo pulang sama siapa?" Tanya Amel. Alenna hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban 'tidak tahu'.


Amel hanya mengangguk paham.


"Kenapa? Lo mau ajak gue pulang bareng?" Tanya Alenna. Terdengar terlalu percaya diri memang.


"Enggak, gue balik bareng Aldo. Duluan ya!" Pamit Amel pergi begitu saja meninggalkan Alenna yang menggeleng tak habis pikir.


Mangkannya, lain kali jangan GR.


Batin Alenna.


Ia pun kembali melanjutkan jalannya.


Namun baru beberapa langkah, tangan nya sudah ditarik oleh seseorang. Mau tidak mau Alenna mengikuti sang penarik tersebut yang membawanya entah kemana. Sampai saatnya Alenna tahu bahwa ia dibawa ke belakang sekolah.


Alenna melepaskan tarikan tersebut dan berhasil.

__ADS_1


"Steven kamu kenapa sih? Ngapain ajak aku kesini?" Tanya Alenna kesal. Pergelangan tangannya sakit dan terlihat merah. Steven yang melihat itu segera mengambil pergelangan tangan Alenna dan mengelus nya lembut.


"Maaf" Kata Steven sambil mengelus tangan Alenna.


"Ya gapapa" Alenna kembali menarik tangannya pelan dan menatap pria di depannya ini.


"Kamu ngapain ngajak aku kesini?" Tanya Alenna lagi. Steven mendekat dan lagi lagi menggenggam tangan Alenna lalu mengelus nya. Pancaran matanya terlihat serius dan bersungguh-sungguh. Alenna menelan ludahnya sendiri.


"Aku minta maaf len... Aku bisa jelasin kejadian yang kemarin" Ujar Steven memohon kepada Alenna. Namun sang kekasih masih diam dan tak berkata sepatah pun.


"Jadi cewek itu, dia mantan aku"


"Aku udah tau" Kata Alenna cepat. Steven mengerutkan alisnya.


"Tau dari mana?" Tanya Steven heran.


"Cara dia ngomong sama kamu aja udah cukup ngasih tau aku kalau dia mantan kamu" Jelas Alenna.


"Bagus kalau kamu udah tau, jadi kamu gak salah paham lagi. Karna dia cuma mantan aku yang gak lebih cuma masa lalu. Sedangkan kamu, masa depan aku kelak" Pipi Alenna memerah mendengar itu. Steven sadar dan diapun mencubit pipi Alenna gemas.


"Oh ya, kamu kemana selama 2 hari ini? Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Steven dengan nada khawatir. Lagi lagi Alenna terdiam sambil meneguk ludahnya sendiri.


Aduh... Gue jawab apaan nih?


Batin Alenna.


"Hmm itu, aku pergi sama... Sama bang David. Ah iya sama bang David" Bohong Alenna gugup. Dalam hati Alenna berdoa agar Steven percaya. Namun melihat tatapan Steven yang terlihat curiga kepadanya, membuat Alenna semakin gugup.


"Ke-kenapa? Kok ngeliatnya gitu?. Ka-kamu gak percaya sama aku?" Tanya Alenna gugup. Steven menormalkan tatapannya dan tersenyum.


"Enggak kok, aku percaya" Kata Steven sambil mengacak rambut kepala Alenna. Seketika Alenna menghembuskan napas lega.


Maaf Steven, gue bohong lagi sama lo.


Batin Alenna.


"Kirain, kamu marah sama aku" Alenna menggeleng pelan.


"Yodah yuk pulang. Atau kamu mau jalan-jalan dulu?" Tanya Steven.

__ADS_1


"Hmm kayaknya langsung pulang aja. Aku capek" Jawab Alenna yang di angguki oleh Steven. Segera Steven membawa Alenna menuju parkiran dan menaiki motor miliknya.


Tak butuh waktu lama, mereka telah naik motor dan bergegas untuk pergi dari pekarangan sekolah.


Sampai saatnya mereka berpapasan dengan Kenzo dan Sarah yang juga akan pergi meninggalkan sekolah. Sekilas Alenna menatap mata Kenzo yang terlihat hangat menyapanya. Entah Alenna salah liat atau tidak, Kenzo terlihat tersenyum dan mengangguk kecil. secara tak sadar Alenna ikut tersenyum walaupun tipis namun tetap terlihat.


Sarah yang melihat itu hanya merotasi kan matanya jengah. Steven yang melihat Alenna tersenyum lewat kaca spion sadar bahwa kekasihnya tengah tersenyum kepada Kenzo. Tak perlu di tebak, Steven memberikan tatapan yang sangat tajam kepada Kenzo.


Kenzo yang sadar bahwa ada yang menatapnya, kini beralih menatap Steven yang seakan bisa saja menerkam nya dengan tatapan tersebut. Namun Kenzo hanya memasang tatapan dingin tanpa ekspresi.


Aduh gila, perasaan gue kok gak enak ya?. Kenapa sih mereka pada tatap-tatapan begitu? Kayak musuhan aja. Eh bentar, apa bener mereka musuhan?.


Batin Alenna yang merasa atmosfer di sekitar nya semakin menipis.


Brumm!


**! Jantung gue*.


Batin Alenna terkejut saat Steven menancapkan gas dengan tiba-tiba dan sangat cepat. Otomatis Alenna memeluk pinggang Steven dengan sangat erat karna merasa takut.


Steven yang merasakan ketakutan Alenna, hanya tersenyum jenaka. Alih-alih memelankan lakunya, Steven malah semakin gencar mengendarai bak orang kesetanan. Alenna semakin ketakutan di buatnya.


"Steven!! Pelan pelan!" Kata Alenna ketakutan. Steven berpura-pura tak mendengar.


"Ih Steven pelan pelan!. Nanti bisa nabrak!"


"Jangan ngomong gitu dong. Emangnya mau?"


"Ya enggak lah!. Mangkannya pelan pelan" Steven tak meladeni Alenna yang terus saja meronta-ronta meminta agar ia memelankan laju motornya.


Beberapa saat kemudian Sampai akhirnya, Steven tak lagi mendengar suara Alenna yang meronta-ronta seperti tadi. Nampak sunyi. Steven pun melihat kearah kaca spion dan ia baru sadar bahwa kekasihnya tengah tertidur dengan kepala yang bersender pada pundaknya. Segera ia memelankan laju motor menjadi kecepatan sedang.


Karna takut Alenna terjatuh, Steven memegang tangan Alenna yang berada di perutnya. Takut gadis itu melepaskannya.


Membayangkan wajah Alenna yang tertidur pulas membuat hati Steven tersenyum bahagia. Bagi Steven, wajah Alenna yang tertidur Damai lebih baik dari pada melihat gadis itu mengomel tak karuan. Yap, karna telinga Steven sering sakit dibuatnya karna Alenna mengomel selama mereka berpacaran. Ya itu semua memang salah Steven yang sangat jahil pada Alenna. Tapi jujur, ia sangat bahagia hanya karna hal kecil tersebut. Walaupun hubungan mereka baru berjalan 2 bulan, tapi berdoa saja agar hubungan mereka tetap terus berlanjut sampai pernikahan nanti. Itulah harapan Steven.


Alenna, aku memang bukan laki-laki sempurna yang memberikan kamu hadiah mewah, Kata-kata istimewa, dan puisi romantis. Aku minta maaf, Tapi aku bisa memberikan seluruh dunia ku hanya untuk kamu. Aku bisa memberikan apa yang tidak bisa laki-laki lain berikan. Uang? Harta? Hadiah? Rumah? Dan lain-lain... Tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu.


Percuma aku membelikan kamu hadiah mewah jika ujung-ujungnya itu akan menjadi koleksi semata, percuma aku memberikan kata-kata istimewa jika ujung-ujungnya akan menjadi buaian belaka, dan percuma aku membacakan puisi romantis jika itu hanya untaian kaya tertulis yang tak sepenuhnya mewakili perasaanku.

__ADS_1


Alenna you my everything, you my World, you my heart, and... Only you


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2