
*Dengan suara berat, Leksi berkata.
"Abang kangen banget sama kamu, Alenna Patricia" Tanpa disadari, Alenna meneteskan air mata lalu memejamkan mata sejenak. Perlu di ketahui Tubuh Leksi lebih tinggi dari pada Alenna. Jika di bandingkan dengan kenzo, memang Leksi masih kalah. Namun bagi Alenna, tetap saja ia merasa paling pendek saat bersama dengan ketiga pria itu. Ya walaupun ia bisa dibilang mempunyai tinggi badan wanita ideal. Tapi yasudahlah... Memang biasanya juga pria lebih tinggi dari pada wanita. Ya kan?
"Alenna lebih kangen sama bang Leksi*..."
πΊπΊπΊ
Alenna POV
Sudah tidak terasa aku dan Steven menjalani hubungan selama 2 bulan. Semuanya berubah, dimana aku mulai terbiasa menjalani hari-hari dengan dampingan seorang kekasih yaitu, Steven. Kami menjalani hubungan tak jauh berbeda dengan kekasih pada umumnya. Ya kalian pasti sudah tahu seperti apa. Jujur, ini adalah pertama kalinya aku menjalin komitmen dengan seorang laki-laki. Jadi awalnya cukup kaget dan tak terbiasa, namun lama kelamaan aku mulai menyesuaikan kehidupan ku dan mencoba untuk memantapkan hati mencintai satu orang, satu nama, dan satu tujuan, yaitu Steven.
Jika kalian bertanya, bagaimana hubungan ku dengan Leksi? Maka aku akan menjawab bahwa kami baik-baik saja dan bahkan terkesan lebih akrab, walaupun sudah jarang bertemu karna ia sibuk dengan perusahaan nya. Ya aku paham itu dan tidak berniat untuk mengganggu.
Lalu bagaimana dengan Kenzo? Sudahlah lupakan, dia sudah bahagia. Kenapa aku bilang seperti itu? Karna memang pada kenyataannya dia akan bahagia dengan keputusan nya.
Masih tidak mengerti? Baiklah akan ku jelaskan.
Flashback
sebulan yang lalu, lebih tepatnya setelah aku dan Steven resmi berpacaran. Kenzo bersikap aneh dan seolah menghindar dariku. Awalnya aku tidak peduli, namun semakin hari aku merasa ada yang janggal di hatiku. Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, Kenzo seperti sangat berbeda. Dia jadi sering bepergian dengan Sarah. Bukan maksud ku iri atau senang hati, tapi aneh saja mereka menjadi lebih dekat secara tiba-tiba, terlebih Aku sering melihat Kenzo merasa tak nyaman saat di sisi sarah. Ah tapi sudahlah... Bukan urusan ku. Oh ya, aku juga menjalankan check up rutin. Karna Steven disisi ku, aku merasa mendapat dukungan. Walaupun dia tidak tahu yang sebenarnya yang terjadi padaku. Tapi tak apa. Cukup dia di sisiku, aku sudah merasa senang dan merasa lebih sehat.
Hari ini aku sedang dirumah, lebih tepatnya di kamar. Biasa melakukan rutinitas, yaitu menerjemahkan sebuah novel yang akan di terbitkan beberapa waktu nanti. Ini adalah penghasilan ku untuk memenuhi kebutuhanku sejak berada di sekolah menengah pertama sampai sekarang. Jujur aku ingin mencari kerjaan yang menetap agar tidak diam dirumah saja. Tapi apa boleh buat? Aku sudah nyaman seperti ini.
"Nona Alenna!" Jari ku berhenti mengetik. Terdiam sebentar mendengarkan suara seseorang yang sangat ku kenal memanggilku. Aku berjalan menuju pintu setelah menaruh laptopku di kasur. Lalu membuka pintu tersebut. Saat aku membukanya, sudah ada sosok orang yang tadi memanggilku dengan wajah tersenyum.
"Kenapa, bi?" Tanyaku.
"Nona disuruh turun sama tuan Johan"Β Aku mengerutkan alis bingung. Kenapa aku disuruh turun?
"Ngapain?" Tanya ku masih menjaga ekspresi.
"Bibi gak tau non" Kata bi Ajeng. Aku semakin bingung.
"Kalau gitu bibi balik kedapur ya, non?"
Pamit bi Ajeng. Aku hanya mengangguk lalu ia pun pergi.
__ADS_1
Karna bingung, Aku hanya mengedikkan bahu dan turun kebawah. Hah... Malas sekali rasanya. Aku berjalan dengan malas saat menuruni tangga. Tepat saat di ruang tamu, aku melihat Sarah, papaku dan yah... Bisa kusebut ibu tiri. Maaf bukannya tidak sopan, tapi aku tidak ada niatan untuk memanggilnya ibu tiri. Aku biasanya menyebut dia dengan nama saja, yaitu Karin. Dan satu lagi yang membuat ku terkejut ada Kenzo juga disana yang duduk di samping Sarah. Aku pun berjalan menghampiri mereka sambil memasang ekspresi datar.
Mereka menyadari kehadiran dan menatapku begitu juga dengan Kenzo.Β
"Duduklah Alenna" Aku hanya menurut dan duduk tanpa sepatah katapun.
Ekhem! Aku bisa melihat Kenzo yang melihat ku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ya aku melihat nya juga, karna kami saling berhadapan.
"Ada apa?" Tanyaku dingin. Aku malas bertele-tele.
"Ada kabar baik sayang... " Ah tolong hentikan!. Aku benci dengan orang itu. Apalagi memanggilku dengan embel-embel 'sayang'. Siapa lagi kalau bukan Karin?. Aku hanya menaikkan alis dan beralih menatapnya.
"Apa?"
"Sebentar lagi... Kakakmu akan melangsungkan pertunangan" Kata papa. Tunggu! bang David? Tunangan? Kenapa tidak bilang padaku?!. Aku bahkan tidak tau siapa calon tunangannya!. Kenapa aku baru tahu?!.
"Kak David mau tunangan?!. Sama siapa?!" Kata ku terkejut. Yang benar saja, bang David ingin tunangan tapi aku baru tahu!.
"Bukan... Bukan David" Aku mengerutkan alis mendengar kata papa. Jika bukan David, lalu siapa? Leksi?. Tidak! Tidak mungkin. Papa saja tidak tahu kalau bang Leksi telah kembali dan ditambah bang Leksi sudah tunangan. Lalu siapa? Jangan jangan...
"Siapa?" Tanya ku.
"Kenzo telah memutuskan siapa yang akan ia nikahi, dan dia memilih... "
"Sarah sebagai pendamping nya"
Deg!
Tu-tunggu... Mereka mau tunangan?!. Aku tidak salah dengar?.
Mata ku sedikit terbuka lebar karna saking terkejutnya. Aku menatap Sarah dan dia menyeringai penuh kemenangan. Lalu aku beralih menatap Kenzo yang sekarang tengah menunduk. Akh! Tunggu... Kenapa? Kenapa hatiku sakit?!. Tidak mungkin! Tidak mungkin aku... Aku... Suka padanya...
"Pertunangan nya akan di langsung kan bulan depan"
"Lebih tepatnya tanggal 9" Aku semakin terkejut. Namun segera aku menyembunyikan ekspresi keterkejutan ku ini. Itu adalah hari...
Haruskah tanggal itu? Tidak di tanggal yang lain saja?
__ADS_1
Aku yakin... Sarah pasti sangat senang. Aku tahu, dia pantas mendapat kebahagiaan. Walaupun aku sendiri tidak tahu kenapa hati ini terasa sangat berat mendengarnya. Tapi sudahlah, ini sudah keputusan Kenzo untuk mendapatkan tambatan hati. Ya lebih baik.
Disaat itu juga, aku sadar semua perkataannya tempo lalu hanyalah sebuah penuturan yang tidak akan terjadi. Ya, hanyalah bullshit belaka.
Hahaha sungguh miris, hampir saja aku terbang karna itu. Namun kenyataan nya, aku sudah terjatuh sebelum terbang. Tak apa, aku kuat. Aku masih memiliki Steven yang kini menjadi satu-satunya orang di hati ku. Tak ada yang lain, termasuk Kenzo. Maybe.
"Oh gitu. Yaudah, silahkan di laksanakan pertunangannya. Aku senang kalau kalian senang. Semoga kalian bahagia dan langgeng sampe ke pernikahan" Kataku dengan nada yang lumayan hangat untuk didengar dan sebisa mungkin aku tersenyum manis kearah Sarah. Bisa kulihat dari sorot matanya bahwa ia melihat ku seolah olah terkejut?. Entahlah... Aku juga tidak tahu, yang jelas tatapannya aneh. Bukan tajam maupun menusuk, namun berbeda. Aku melirik kearah Kenzo yang juga tengah menatapku. Aku tak bisa mengerti maksud dari tatapannya. Entah terkejut atau apalah itu. Yang jelas, terlihat sendu. Jujur, hati ku teriris melihatnya.
Setelah itu, aku bangkit dari duduk masih dengan senyuman di wajahku. Aku tak mau merusak kebahagiaan mereka. Walau aku sendiri tak mengerti atas perasaan ku yang tak menentu. Namun, aku senang melihat orang lain senang. Termasuk Kenzo, aku berhutang budi padanya dan dia pantas bahagia. Ya benar, dia pantas bahagia walaupun bersama Sarah.
"Alenna ke kamar dulu" Setelah itu aku pun berjalan santai menuju kamar menaiki tangga, setelah sebelumnya melirik papa yang menatapku dengan tatapan... Sendu?. Ya aku merasa menjadi orang yang menyedihkan di hadapan mereka. Hei! Apa maksudnya itu? Aku tidak sedih!. Untuk apa aku sedih?!. Tidak kok aku tidak sedih!.
Sudahlah lupakan. Aku harus kembali bekerja. Masih banyak yang belum terselesaikan.
Selama menerjemahkan, aku jadi tidak fokus sendiri dengan pekerjaanku. Akh! Aku harus minum coklat panas dan bersantai nantinya. Ya, untuk menenangkan pikiran.
Flashback off!
Kira-kira seperti itulah kejadiannya. Sekarang sudah memasuki bulan dimana Kenzo dan Sarah akan melangsungkan pertunangan. Aku pun ikut dalam acara tersebut. Tenang, aku tak punya niat jahat. Aku hanya ingin menghadirinya bukan mengacaukan nya. Aku juga sadar diri untuk membuat keonaran di acara pertunangan orang.
Hanya satu pesanku kepada mereka berdua. Jika mereka senang, aku ikut senang. Aku harap, Sarah tidak menjelek-jelekkan ku lagi setelah ini. Aku harap dia berpikir dewasa saat sudah bersama Kenzo. Aku akan sedikit melupakan perlakuannya kepadaku sementara. Jika dia membutuhkan ku, aku akan membantunya. Jika dia mau, jika tidak ya sudah...
Aku sudah memberitahu Steven masalah ini, dan dia terkejut dengan tanggal dilaksanakan nya pertunangan itu. Pasalnya itu adalah tanggal ulang tahunku...
Iya benar, itu adalah tanggal kelahiranku. Karna itulah aku sempat terkejut. Tapi yasudahlah, anggap saja perayaannya sekaligus merayakan hari jadi ku. Semuanya akan bersenang-senang di hari yang sama. Aku pun turut senang, walaupun sebelumnya hari ulang tahunku sudah lama tak di rayakan. Bukan tak pernah, tapi jarang. terakhir hanya aku dan mama yang merayakan. Dimana papa saat aku ulang tahun?entah lah, jangankan datang atau memberikan ucapan selamat, papa saja tidak ingat kapan aku lahir. Dia hanya ingat ulang tahun Karin dan Sarah. Huhuhu sedih memang, rasanya ingin menangis.
Oke stop menjadi lebay. Tapi memang rasanya ingin menangis. Namun tak masalah, aku bisa merayakannya dengan Steven dan kawan-kawan ku nanti. Yakan?
Ingatkan aku nanti untuk bersiap-siap di hari pertunangan Sarah dan Kenzo yang akan di langsungkan kurang lebih seminggu lagi. Benar, seminggu lagi. Cepat bukan? Tapi ya sudah mau bagaimana lagi... π
Alenna POV off
πΊπΊπΊ
ππππ**maaf updatenya lama...
Jangan lupa untuk Vote dan comment nya untuk cerita ini. Sampai ketemu di episode selanjutnya ππ
__ADS_1
PERHATIAN! UPDATE SEKITAR 2/3 HARI LAGI... TERGANTUNG SITUASI AUTHORNYA HEHHEH... BYE BYE! ππ**