
Kurang ajar! Liat lo Alenna! Gue pasti bakal bales lo lebih dari ini!. Dan Amel karna lo udah berani ikut campur! Gue bakalan berlaku sama ke lo!. Liat aja nanti!
Batin Sarah bersungguh-sungguh.
Flashback off!
πππ
"Erghhh" Lenguh Alenna perlahan matanya terbuka. Hal yang pertama ia lihat adalah sosok pria yang kini tengah tersenyum lembut kepadanya.
"Udah sadar?" Tanya Steven kepada Alenna. Alenna menutup matanya lagi berpura-pura.
"Belum nih" Jawab Alenna masih dengan mata yang tertutup. Steven tersenyum lalu ia mencubit hidung Alenna gemas.
"Aww sakit!" Rintis Alenna lalu membuka matanya dan duduk, di bantu dengan Steven.
"Lo kok disini?" Tanya Alenna.
"Nemenin lo" Kata Steven enteng. Alenna mengangkat alisnya sebelah.
"Kenapa?" Tanya Steven yang melihatΒ mimik wajah Alenna.
"Ini kan udah waktunya belajar, tapi lo kok disini?. Madol ya lo?!" Tuduh Alenna dengan jari telunjuk nya.
"Kalau iya kenapa?"
"Wah parah... Udah sana sana! Belajar!" Usir Alenna mendorong Steven pergi. Namun Steven tak mau
"Kalau gue pergi, yang jagain lo siapa?" Tanya Steven.
"Gue kan udah bangun... Gak perlu di jagain lagi" Kata Alenna. Memang benar tidak perlu kan?. Pikir Alenna.
"Gak perlu gimana? Liat tuh hidung! Darahnya masih ngocor!" Tunjuk Steven ke arah hidung Alenna. Benar saja, darahnya masih mengalir tanpa Alenna sadari.
Oh iya... ***** lah! Nyusahin aja!.
Batin Alenna malu. Ia pun berusaha mengambil kain yang berada di atas meja samping kasur namun sebelum itu, matanya terbelalak melihat ada 3 kain yang sudah penuh dengan darah. Alenna yakin itu pasti darahnya.
Srettt!
Dengan cepat Steven mengambil kain yang Alenna berniat ambil dan segera membersihkan/mengelap darah yang mengalir bebas dari hidungnya. Alenna terkejut dengan perbuatan Steven.
__ADS_1
Bagaimana tidak, jarak antara mereka terbilang sangat dekat. Jantung Alenna berdetak cepat dari biasanya.
"Gu-gue bisa sendiri" Alenna menahan tangan Steven yang tengah berada di hidungnya dengan memegang kain itu.
"Diem!" Titah Steven menyingkirkan tangan Alenna dan kembali melanjutkan nya. Alenna pun menurut dan membiarkan Steven membersihkan darah yang mengalir.
Matanya memperhatikan wajah Steven. Jarak mereka sangat dekat sehingga Alenna menjadi gugup.
"Gue tau lo terpesona sama gue" Kata Steven tiba-tiba dan menatap mata Alenna. Alenna segera mengalihkan pandangannya karna malu.
"Apaan sih! GR (percaya diri) banget sih jadi orang" Sipu Alenna tanpa menatap Steven yang memperlihatkan Alenna karna melihat gadis itu tersipu malu.
Karna gemas, Steven mengacak-acak rambut Alenna pelan. Alenna menatapnya kesal, alhasil rambutnya jadi berantakan.
"Stop! Rambut gue berantakan nih!" Kesal Alenna. Steven terkekeh lalu ia pun merapikan rambut Alenna pelan.
"Aduh... Romantis amat sih!" Saut seorang pria tiba-tiba. Steven dan Alenna melihat Amel dan Aldo tengah berdiri di ambang pintu berduaan memperhatikan Alenna dan Steven.
Alenna dan Steven jadi salah tingkah sekarang karna melihat tatapan penuh kecurigaan dari Amel dan Aldo.
Dua sejoli itu menghampiri Steven dan Alenna.
"Lah... Lo sendiri ngapain disini?. Bukannya lo izin ke guru mau ke toilet?. Kok nyasar kesini?. Sejak kapan toiletnya pindah ke UKS?" Tanya Aldo bertubi-tubi. Ia tahu apa yang di lakukan Steven di sini.
Ia tengah menjenguk Alenna karna khawatir dengan keadaan gadis tersebut. Bagaimana Aldo bisa tau? Karna saat di kelas, Steven terlihat tidak konsen dan selalu melamun.
Jadi intinya kesimpulan Aldo adalah, bahwa Steven sedang memikirkan dan khawatir kepada Alenna.
"Halah... Bacot lo" Ketus Steven memberikan tatapan tajam kearah Aldo. Sedangkan Aldo hanya memutar bola mata malas.
"Lo jadi cowok gak gentle banget sih!. Kalau suka tuh bilang suka, jangan di tahan tahan" Kata Aldo ceplas-ceplos. Mata Steven membulat mendengar perkataan laknat dari temannya.
"Gue keluar dulu. Sini lo nyet!" Steven menarik Aldo paksa keluar dari UKS bersamanya.
"Ehhh iya iya ampun" Takut Aldo sebelum ia benar-benar meninggalkan ruang UKS.
Kini tinggal tersisa Amel dan Alenna. Amel duduk di sisi ranjang.
"Gimana, masih mimisan?" Tanya Amel. Alenna menggelengkan kepala pelan.
"Udah enggak kok" Alenna tidak berbohong. Darahnya sudah berhenti keluar dari hidungnya. Mungkin ini berkat Steven, pikir Alenna.
__ADS_1
"Bagus deh"
"Owh ya... Gue mau nanya. Yang ngelempar bola basket ke gue siapa?" Tanya Alenna. Ia sadar bahwa kejadian tersebut memang disengaja.
Ada orang yang melempar bola basket ke wajahnya dengan sangat kencang.
Jujur Alenna sudah mencurigai Sarah, namun ia hanya ingin memastikannya saja.
"Soal itu lo gak perlu pikirin dulu" Itu bukanlah jawaban yang Alenna harapan sehingga ia menatap Amel dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Gue tau kok pelakunya dia" Ucap Alenna tiba-tiba. Amel tersenyum manis kepada Alenna.
"Lo tenang aja, gue udah bales kok perbuatan dia. Selagi ada gue, lo bisa cerita semua masalah, keluh kesah, dan unek-unek lo ke gue" Kata Amel tulus. Batin Alenna menghangat mendengar ucapan Amel.
Ia merasa bahwa ia masih mempunyai sahabat yang bisa ia andalkan.
"Lagian kenapa lo gak mau cerita semua masalah lo. Itu bisa ngurangin beban lo" Ujar Amel.
"Bukannya gak mau cerita, tapi sekalinya cerita pun bakal percuma, kan dasarnya cuma pada mau tau, bukan pada mau bantu.
Mendingan diam aja, nyelesain semuanya sendiri tanpa harus cerita sama orang lain.
Jadi ya biar mereka taunya semua baik baik aja, kan simpel" Jawab Alenna tersenyum. Itulah yang menjadi alasan nya untuk tidak terlalu mengumbar masalah yang ia hadapi ke orang lain.
"Inget ya len! Lo harus lebih terbuka sama gue. Gue nih sahabat lo, gue siap dengerin semua cerita lo dan sebisa mungkin gue ngasih solusi dalam masalah. Ngertikan?" Jelas Amel serius.
Alenna tersenyum dan mengangguk paham. Amel memeluk Alenna dengan erat, Alenna pun membalas pelukan Amel.
"Gue gak mau lo kayak tadi lagi. Gue gak mau lo terluka. Gue benci ngeliat sahabat gue yang di tindas dan dibikin nangis sama keluarganya sendiri. Gue ngerasain apa yang lo rasain, Alenna" Alenna mengangguk pelan dan tak sadar air matanya meluncur begitu saja.
Sekarang hanya Amel yang ia punya. Mulai sekarang mungkin Alenna akan mencoba untuk lebih terbuka kepda sahabatnya itu.
Ia tahu, Amel tulus kepadanya. Gadis itu tak memandang Alenna dari segi fisik atau materi, melainkan dari kepribadian Alenna yang sangat istimewa bagi Amel, begitu juga dengan Alenna. Karna itulah persahabatan mereka masih terjalin hingga kini, Dan Alenna sangat bersyukur akan hal itu.
"Thank's for everything, Amel"
πππ
Perhatian! Author akan UPDATE 2 HARI LAGI. Mohon sabar menunggu... Tapi kalau love dan komentar nya banyak, InsyaAllah up nya di usahain cepet. Owh jangan lupa berikan penilaian kalian tentang cerita ini.
Sampai jumpa!!!
__ADS_1