BROKEN

BROKEN
bisa aja!


__ADS_3

From: my brother


Kakak ada di Indonesia sekarang, lebih tepatnya di rumah.


Alenna terpaku membaca pesan tersebut. Sungguh... David tidak main-main dengan kata-kata nya.


Aduh... Gawat.


🍁🍁🍁


Mata Alenna terbelalak setelah membaca pesan tersebut. Kenapa kakaknya begitu nekat untuk datang?. Tidak, pasti David berbohong padanya. Alenna pikir kakaknya ini bercanda, sampai saatnya sebuah notifikasi kembali muncul di layar ponselnya. Alenna semakin terkejut dengan pesan kakaknya.


From: my brother


(1)Kakak gak suka ya, kamu gak masuk sekolah hanya karna hal sepele. Kalau kamu lelah, mending gak usah jalan-jalan!


Plissss jangan bilang kalau bang David...


Batin Alenna menerka khawatir. Ternyata masih ada pesan lagi, Alenna pun meng scroll layar handphone nya untuk melihat pesan selanjutnya.


(2) kakak tadi udah kesekolah kamu, tapi kamu nya gak ada.


yahhhh udah bye aja.


Dengus Alenna gusar. Bagaimana tidak, Alenna tahu kakaknya pasti marah padanya. Yaudahlah... Pasrah aja. Toh udah ketahuan ini.


Batin Alenna lagi, menyerah.


"Erghh" Desah Amel berganti posisi tidurnya, membuat pandangan Alenna teralihkan.


Tunggu... Amel cerita tadi kalau dia abis dari rumah gue. Lah... Berarti dia ketemu sama bang David dong?


Batin Alenna menyadari sesuatu.


Iya, bisa jadi. Apa gue tanya aja ya?. Tapi kan Amel lagi tidur. Gak enak banguninnya. Tuh bocah pasti capek. Duhhhh Alenna, lo ngerepotin orang mulu deh!.


Batin Alenna kesal pada dirinya sendiri. Bagaimana tidak, sudah 2 kali Kenzo melihatnya dalam keadaan lemah seperti ini. Melihat jarum insfud sialan ini menusuk tangannya. Alenna merasa bahwa ia sudah sangat merepotkan sekali bagi orang lain. Jujur, Alenna tidak mau terlihat lemah, namun apadaya.


Sungguh, Alenna merasa... Berhutang budi pada Kenzo.


Ceklek!


Kenzo berjalan memasuki ruangan setelah menutup pintu. Alenna memperhatikan pria tersebut.


Good panjang umur...


Batin Alenna. Baru saja dia memikirkan ekhem... Dia. Ternyata orang yang bersangkutan langsung datang.


Kenzo tersenyum dan duduk di kursi dekat bangsal rumah sakit.


"Gimana, masih pusing?" Tanya Kenzo. Ekhem... Karna kejadian tadi malam. Alenna merasa sedikit canggung dengan Kenzo. Entahlah... Ia merasa malu saja.


Alenna menggeleng pelan. Kenzo tersenyum lalu sedetik kemudian, tangannya mengelus rambut Alenna bagian belakang pelan. Mulut Alenna sedikit terbuka karna terkejut. Ohhh pipinya memerah.


Ehhh apa-apaan nih?


Batin Alenna.


"Saya gak suka liat kamu kenapa-kenapa. Saya muak liat kamu yang berpura-pura kuat, tegar, padahal sebenarnya rapuh. Dan saya juga benci saat kami nyembunyiin sesuatu dari saya" Kata Kenzo. Alenna mengerutkan keningnya.


Nyembunyiin sesuatu?... Jangan bilang.


Mata Alenna perlahan melebar saat menyadari sesuatu.


"Ya, saya tahu kamu nyembunyiin sesuatu dari saya. Tapi sayangnya, saya sudah tahu" Alenna bungkam, pria di hadapannya ini seakan mengetahui isi otaknya. Apa yang harus Alenna katakan.


"Kenapa gak bilang sama saya?" Tanya Kenzo serius. Alenna merasa Tatapannya menuntut. Alenna menelan liurnya sendiri.


"Lo ta-tau dari mana?" Tanya Alenna balik.


"Saya nanya kamu, kenapa nanya balik?"

__ADS_1


Lah... Gue jawab apaann dong.


"Ya gue gak ngasih tau lo karna... Ya menurut gue gak perlu aja. Lagipula gak penting ini kan buat lo" Jawab Alenna seadanya. Ia bingung harus jawab apa.


Kenzo menggeleng pelan.


"Kamu salah, semua yang bersangkutan sama kamu, itu penting bagi saya. Mau dari hal kecil, sampe hal yang besar. Kayak gini" Alenna kehabisan kata-kata. Kenapa pria ini bersikap seolah Alenna adalah tanggung jawabnya?. Bisakah Alenna mempercayai pria ini?.


"Penting gimana?. Gue kan bukan siapa-siapa lo"


"Kata siapa?"


"Gue, barusan"


"Alenna... Kamu itu calon istri saya kelak"


"Hahhhh?!" Alenna sangat kaget dengan ucapan Kenzo.


Enggak... Gak beres nih...


"Lo apa-apaan dah?. Seenaknya aja bilang gue calon istri lo. Gue tuh masih sekolah, yakali udah nikah" Ketus Alenna tidak Terima. Kenzo terkekeh pelan. Alenna memandang nya kesal. Ngomong-ngomong, pipi nya merah.


Kenzo semakin gencar untuk menggoda Alenna.


"Eh tapi emang beneran. Kamu calon istri saya" Ledek Kenzo lagi.


"Masa?"


"Iya"


"Bodo!" Alenna terkekeh.


Aduh... Nih orang, kebanyakan halu. Mana kalau ngomong kayak Google Translate lagi. Bikin pusing kepala aja.


Batin Alenna.


"Alenna" Panggil Kenzo pelan. Alenna menghentikan kekehan nya tanpa menatap sang lawan bicara. sibuk bermain dengan jari jarinya.


"Suka"


"Es krim?"


"Suka"


"Permen?"


"Suka"


"Boneka?"


"Suka"


"Saya?"


"Suka"


Ehhh bentar-bentar, dia tanya nanya apaan?. Batin Alenna menyadari ada yang janggal. Kenzo terkekeh, ia puas dengan jawaban Alenna. Sedangkan yang di goda terdiam seketika, karna ia merasa... Malu. Sedetik kemudian.


"Lah! Bukan! Enggak! Itu salah! Aduh apa sih enggak!" Heboh Alenna saat menyadari Saat Kenzo bertanya "saya", yang bermaksud... Kamu suka saya?


Dan Alenna menjawab...Β  "Suka".


Wajah Alenna memerah. Kenzo tak henti-henti nya terkekeh.


"Acieeeeeee" Saut seseorang membuat Alenna dan Kenzo teralih kan.


Alenna berdecak karna melihat siapa yang menyahut.


"Apasih lo mel..."


Anjirrrr malu banget. Sialan Lo semua!

__ADS_1


Batin Alenna. Amel tak henti-hentinya meledek Alenna dan Kenzo? Nampaknya pria itu malah... Senang?. Ah sudahlah... Buang saja pria itu ke lautan. Pikir Alenna kesal.


🍁🍁🍁


Seorang pria tampak gusar sendiri, sambil mondar-mandir kesana kemari. Ia gelisah, pikirannya kacau, dan hatinya tak tenang.


"Aduh... Kok gue kepikiran Alenna terus sih?"


"Alah kampret!"


"Woy otak! Stop mikirin Alenna!"


"Akhhhh! Kampret asli!" Geramnya kesal. Sedangkan ia tak sadar, ada dua orang wanita tengah memperhatikannya dari radius yang tidak terlalu jauh, seakan mengintip.


"Kak" Panggil seorang wanita paruh baya, sambil menyikut wanita yang lebih muda darinya.


"Hm" Gumam wanita yang disikut itu tanpa menoleh, dan terus memperhatikan pria tersebut.


"Itu si Steven kenapa sih?" Tanya Grace kepada Stephanie.


"Mana Stephanie tau... " Jawab Stephanie masih fokus memperhatikan adiknya yang bertingkah laku aneh, seperti mengusap muka gusar, bengong, mengatukkan jari, bergumam tidak jelas, dan lain-lain.


"Mama kok takut ya?"


"Takut kenapa?"


"Adek lu serem... "


"Bentar deh... Steven kayak nyebut nama Alenna gitu masa... "


"Owh mama tau, pasti dia kangen sama sih Alenna. Iya sih, anaknya cantik gitu" Stephanie mengangguk paham. Ia pun berjalan mendekati Steven yang sedang duduk dengan kedua tangan menutup wajah. Grace tak tinggal diam, iapun mengikuti Stephanie di belakang dan duduk di sofa dengan tenang, sambil memperhatikan mereka.


"Yaelah... Frustasi bener" Goda Stephanie.


"Berisik!" Desis Steven masih dengan tangan yang menutupi wajahnya.


"Idihhh galak amat masnya. Gini nih, kalau lagi jatuh cinta, pasti mikirinnya dia-dia-dia mulu!" Steven berdecak.


"Kak, lu bacot bener dah!. Mending pergi sono lo ama bang Leksi. ganggu bener!" Ketus Steven. Stephanie melotot.


"Nih anak, lama-lama gue kuncir tuh mulut. Lagian nih ya, bang Leksi lagi ada urusan. Jadi otomatis gue dirumah doang, gak ngapa-ngapain" Balas Stephanie. Steven menampilkan wajahnya yang... Ekhem tampan. Ia melihat kakak perempuan nya itu tengah duduk di samping nya.


"Yaudah ngapain kek gitu. Jangan ganggu gue mulu napa?"


"Kenape sih? Sewot aje lo!. Gue mau ganggu apa enggak, ya urusan gue. Lagian cuma gara-gara cinta aja sampe frustasi gini" Ketus Stephanie.


"Lu gak tau apa-apa, mending diem deh"


"Gue tau, lo lagi... Falling in love kan?, yakan?" Terka Stephanie tersenyum jahil.


"Sok tau loh"


"Nih ya.. Gue tuh lebih berpengalaman dari pada lu, bocah ingusan. Mending lo tembak langsung tuh anak, nanti keburu di samber orang" Saran Stephanie kepada adik satu-satunya itu.


"Tembak rambut lo keram!. Emang Enak sih ngomong doang. Tapi ngejalanin nya susah!" Sarkas Steven mendengus.


"Lah bocah... Ya berusaha lah! Gimana sih? Cowok bukan? Laki bukan?. Masa timbang nembak cewek aja bilang susah, gimana sih lo?" Gereget Stephanie pada adiknya ini.


"Gimana caranya?"


Adek gue kelewat pinter apa kelewatan tolol ya?


Batin Stephanie kesal.


"Ya nyatain perasaan lo!. Gak perlu istimewa kok, yang penting lo tulus" Steven tampak berpikir sejenak. Stephanie menunggu.


"Ah tau ah! Pusing!" Nyerah Steven berdiri lalu berjalan ke kamar.


"Dih... Bocah!" Stephanie menatap Grace tengah anteng di duduk dengan meminum segala teh hangat. Sadar diperhatikan Stephanie, Grace membalas tatapannya balik. Lalu mengangkat kedua bahu, acuh.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2