BROKEN

BROKEN
pistol?


__ADS_3

Sejak kejadian Sarah di usir dari rumah, Karin merasa kesepian dan Johan sama sekali tidak peduli. Menurutnya Sarah pantas mendapatkan hukuman sesekali.


Sedangkan Alenna baru bangun dari tidurnya di pagi hari. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, setelah itu ia merubah posisinya menjadi duduk. Alenna masih mengumpulkan nyawanya sebentar, sampai akhirnya ia mendengar handphone nya berdering.


Ia mengambil handphone nya di atas laci di sebelahnya.


Nama Amel terpampang di layar handphone Alenna.


Alenna mengangkat panggilan dari Amel dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


"PAGI ALENNA!!!" Teriak Amel dari sebrang sana membuat Alenna sedikit menjauhkan handphone nya dari telinga.


"Berisik, pagi pagi udah ribut"


"Hehehe, abis gue antusias banget hari ini"


"Kenapa?"


"Aldo ngajakin gue jalan-jalan!"


"Oh"


"***** responnya cuma oh doang. Jahat lo!"


"Terus gue harus gimana? Jingkrak jingkrak sambil teriak teriak gak jelas, gitu?"


"Ya enggak juga sih"


"Nah yaudah sana, katanya mau jalan-jalan"


"Tapi katanya sepi kalau cuma berdua doang"


"Terus?"


"Ya gue ajak lo, Angga, sama Steven. Mereka udah gue ajak dan mereka mau, tinggal lo doang nih..."


Deg!


Alenna terdiam sebentar. Ia masih tidak ingin bertemu Steven sekarang ini. Hatinya masih sakit, ia tak kuat jika bertemu Steven lagi.


"Sorry Mel, gue gak bisa"


"Gak bisa kenapa?. ini kan libur len..."


"Iya tau, tapi gue gak bisa"


"Pliss dong len, kali ini aja... Gue mohon sama lo. Kita udah lama gak liburan bareng. Gue mohon len"


Alenna berpikir sejenak.


Aduh... Gimana nih?


Batin Alenna bimbang.


"Ayolah len gue mohon... Lagi pula ada Steven ini"


Justru itu, gue gak mau.


Batin Alenna menyahut.


"Plisss"


"Hmm yodah"


"Beneran? Yes!"


"Yodah, lo siap siap nanti gue suruh Steven jemput lo. Mereka semua udah ngumpul di rumah gue sekarang"


"Eh gak usah!"


"Udah gapapa, bye bye!"


Tuts!

__ADS_1


Sambungan telepon terputus secara sepihak.


Bukannya langsung bergegas, Alenna malah termenung dengan batin dan pikirannya. Kedua belah pihak selalu beradu argumen.


Kenapa sih hidup gue kayak rollercoaster? Selalu naik turun.


Batin Alenna.


Ia menggeleng pelan lalu berjalan menuju kamar mandi dan bersiap-siap.


30 menit kemudian Alenna sudah siap dengan berpakaian rapi dan tas sudah bertengger manis di sebelah bahunya.


Sekarang ia hanya mengenakan t-shirt, kemeja longgar berwarna cerah, dan sneakers putih. Sederhana bukan?. Sedangkan rambut panjangnya ia biarkan terurai manis.


Jika kalian bertanya apakah Alenna mempunyai style fashion atau tidak? Alenna akan jawab, pasti punya tapi tidak berlebihan dan sederhana, mungkin bisa di bilang biasa saja bagi seseorang yang mengerti bagaimana cara berpakaian, tapi bagi Alenna selagi itu masih layak di gunakan, kenapa harus ribet memilih pakaian yang muluk-muluk.


Tapi bukan berarti Alenna tidak pernah berpakaian seperti itu. Tentu saja pernah.


Alenna melihat dirinya di pantulan kaca yang full body.


Merasa sudah cukup, Alenna pun pergi berjalan keluar kamar.


Saat sampai di ruang tamu, ia merasa ada yang aneh sekarang. Biasanya ia melihat Sarah, Johan, dan Karin di ruang tamu berkumpul. Tapi sekarang hanya ada Johan yang terduduk sambil meminum kopi hitamnya.


Ia pun tak ambil pusing dan kembali berjalan keluar rumah tapi suara Johan menghentikan nya.


"Mau kemana kamu Alenna?" Tanya Johan. Alenna membalikkan badannya.


"Mau pergi" Jawab Alenna seadanya. Alenna hendak berbalik badan tapi suara Johan menghentikan nya lagi.


"Tunggu sebentar" Cegah Johan berjalan menuju sebuah meja yang ada di sisi dinding rumah. Lalu ia mengambil sebuah kotak di atas meja tersebut. Alenna memperhatikan.


Johan berjalan kearah Alenna dan menyodorkan nya pada Alenna. Alis Alenna mengkerut saat melihat benda kotak yang sekarang ada di tangannya sekarang. Ia menatap Johan seolah bertanya apa ini?.


"Tadi Kenzo kesini, dan ngasih ini ke papa. Gak tau isinya apa" Ucap Johan seolah membaca pikiran Alenna. Alenna mengangguk paham.


"Yodah, Alenna pergi dulu" Ia bersaliman pada Johan. Ia mencium punggung tangan Johan lembut dan tersenyum. Hanya karna hal sepele, ia bisa sesenang ini.


Puji syukur Alenna dalam hati.


Setelah itu ia keluar dari rumah.


Ia kembali teringat dengan kotak yang di berikan oleh Kenzo. Sambil berdiri ia membuka kotak tersebut dan melihat isinya.


Lagi lagi Alenna terkejut saat melihat isinya.


Kenzo ngasih gue ini? Buat apaan?


Batin Alenna bingung. Pistol, ya Kenzo memberikannya pistol yang Alenna tidak tahu ada isinya atau tidak. Saat Alenna kembali memperhatikan kotaknya ternyata ada sebuah kertas yang sepertinya surat. Segera ia membuka dan membacanya.


***Kamu pasti bingung kenapa saya ngasih pistol ini sama kamu. Ya tahu itu. Yang jelas gunakan pistol ini saat kamu dalam situasi darurat. Sengaja memang saya memberikan ini, karna saya tahu kamu akan pergi pagi ini dan sebenarnya kamu dalam bahaya, tapi tenang saja saya akan terus mengawasi kamu dari jauh. Ingat! Gunakan benda itu hanya dalam situasi berbahaya atau kamu dalam bahaya. Saya tidak menganjurkan kamu untuk menembak, tapi cukup tunjukkan saja bahwa kamu punya senjata, itu sudah cukup. Saya tidak mau kamu menjadi pembunuh. Terus berhati-hati lah...


Oh dan satu lagi, sebisa mungkin lindungi teman teman mu. Karna mereka juga dalam bahaya.


Have you best Day princess πŸ’—***


Alenna terdiam mencerna isi pesan panjang dari Kenzo.


Pistol? Bahaya?.


Batin Alenna kembali berpikir.


Di tengah lamunannya, sebuah klakson motor berbunyi. Alenna segera tersadar dan melihat Steven yang datang menaiki motor lalu berhenti tepat di hadapan nya. Alenna segera memasukkan pistol nya kedalam tas dan membuang kotak tersebut ke tempat sampah. Suratnya? Tentu saja ia simpan. Jarang jarang Kenzo mengirim kertas surat seperti ini.


Alenna memasang wajah datar, berbanding terbalik dengan dirinya yang dulu saat menyambut kedatangan Steven dengan senyum manis sekaligus ceria.


"Ayo naik" Ajak Steven tak menatap Alenna sedikitpun. Alenna segera berjalan menuju motor Steven dan duduk di belakang. Kali ini berbeda, ia tidak memeluk atau bahkan menyentuh Steven, Alenna lebih memilih memegang pegangan yang ada di belakang atau tidak pegangan sama sekali daripada harus bersentuhan dengan Steven. Jujur saja, ia masih marah serta bayangan saat Steven dan Sarah di club masih bersemayam di otaknya.


Steven pun menyalakan motornya lalu mereka pergi dari pekarangan rumah Alenna.


Sepanjang perjalanan, Alenna dan Steven hanya diam di selimuti suara kendaraan lain yang berlalu lalang.


Alenna sadar betul bahwa Steven mencuri-curi pandang kearahnya lewat kaca spion. Tapi ia tidak peduli dan tidak berniat untuk membalas tatapan Steven. Perlu kalian ketahui, ego memenuhi diri Alenna akhir-akhir ini.

__ADS_1


Berhentilah mereka saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Steven terus saja berargumen dengan otak dan batinnya yang sedaritadi tidak sinkron.


Alenna sendiri hanya diam, pikirannya kosong. Sejujurnya ia benci keadaan awkward seperti ini, tapi apa boleh buat, ia masih sangat marah pada Steven. Luka yang tergores di hatinya belum sembuh.


"Alenna" Panggil Steven akhirnya bersuara. Alenna tidak menyahut dan hanya diam.


Gue pengen banget minta maaf... Tapi kok susah banget sih?!. Pliss Alenna jangan bikin gue jadi susah buat minta maaf sama lo.


Batin Steven frustasi.


"Len" Panggil Steven lagi. Kini Alenna menatap Steven yang ternyata juga lagi menatapnya dari kaca spion tapi Alenna diam tidak menjawab.


"Aku.. Aku min-"


"Jalan, udah lampu hijau" Potong Alenna dingin. Untuk pertama kalinya Steven mendengar nada dingin yang terdengar asing di telinganya.


Steven menghela napas lalu melihat sekilas lampu lalu lintas yang memang benar sudah berwarna hijau. Segera ia kembali menjalankan motornya.


Ia mengeram frustasi saat permintaan maafnya tak kesampaian. Padahal tadi momen yang bisa di bilang tepat bagi Steven untuk meminta maaf.


Sebenernya Alenna tahu bahwa Steven ingin berbicara sesuatu padanya, tapi entah kenapa secara spontan ia malah memotong ucapan Steven dan masih belum siap mendengar apa yang di katakan Steven nanti.


Steven tadi mau ngomong apaan ya tadi?. Dia mau minta maaf? Masa iya?. Atau malah... Mau putus dari gue?.


Batin Alenna penasaran. Membayangkan Steven memutuskan hubungan mereka saja membuat Alenna bergidik ngeri. Bagaimana jika jadi kenyataan?. Ah Alenna tidak mau membayangkan lagi.


Gagal maning... Gagal maning... Susah banget sih minta maaf doang!.


Batin Steven.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di rumah Amel. Steven memarkirkan motornya dan Alenna turun dari motor. Tanpa sepatah kata ia masuk kedalam rumah Amel dan meninggalkan Steven yang berjalan di belakangnya.


Pintu rumah Amel sudah terbuka, jadi ia bisa melihat dan mendengar Aldo dan Angga sedang bertengkar.


Kebiasaan...


Batin Alenna sambil menggeleng pelan.


Amel yang sadar bahwa Alenna sudah datang segera menyapa Alenna.


"Akhirnya sampe juga!. Ayo kuy langsung berangkat!" Ajak Amel antusias. Aldo dan Angga yang masih bertengkar tak mengindahkan apa yang di ucapkan Amel tadi.


"Langsung?" Tanya Alenna.


"Iya" Jawab Amel.


"Mau kemana?"


"Kita pergi ke taman hiburan aja, abis itu baru ke mall!" usul Aldo menyahut. Amel mengangguk.


"Iya, ayok!" Amel menarik Aldo berjalan keluar rumah diikuti Angga di belakang. Tinggal Alenna dan Steven yang berjalan paling belakang.


Mereka pun menaiki mobil milik Amel. Posisinya adalah, Amel dan Aldo berada di paling depan, Angga di bagian paling belakang sendiri, Alenna dan Steven berada di bagian tengah.


Mobil pun di jalankan. Keadaan hening menyelimuti mereka semua. Amel yang peka pun menyalakan radio yang memutarkan musik hits terbaru. Mereka semua menyanyi, kecuali Alenna dan Steven yang hanya diam sibuk memperhatikan jalanan lewat kaca mobil yang ada di sebelah mereka.


"Woy! Diam-diam baek!. Nyanyi ngapa nyayi!" Teriak Angga pada Alenna lewat celah kursi.


Alenna tersenyum tipis kepada Angga lalu kembali diam menatap kaca.


"Alenna!" Panggil Amel berbalik menatap Alenna.


"Hm" Dehem Alenna pelan.


"Lo bawa power bank kan?" Tanya Amel. Alenna mengangguk sebagai jawaban.


"Oke sip! Nanti pinjem" Alenna lagi lagi hanya mengangguk sebagai jawaban. Steven merasa sangat tidak enak melihat sikap Alenna yang dingin dan cuek seperti ini. Ia menyesal, ini semua karna perbuatannya pada Alenna.


Sorry len... Kamu jadi bersikap kayak gini karna aku. Aku maklum... Tapi plisss jangan begini terus. Aku nyesel.


Batin Steven yang tak tahan dengan sikap Alenna.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2