
Alenna memasuki kamar tanpa peduli dengan sekitarnya. Ia sungguh bingung dengan situasi ini, ia dikejutkan akan 2 hal. Pertama, ia melihat Leksi kembali ke Indonesia tanpa sepengetahuannya dan menjadi tunangan Stephanie, kakak Leksi. Dan yang kedua, ini sungguh membuatnya tercengang, Leksi bisa berbicara sekarang!. Alenna tahu siapa saja pasti bisa melakukan operasi pita suara, tapi... Ahh! Alenna semakin bingung.
Sampai di kamar, ia menutup pintu dan duduk di balik pintu.
Ia menangis sendu...
Ia sangat tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami.
Leksi seolah tak mengenalnya, bahkan ia tak mau menatap Alenna!.
Sungguh... Bukan Leksi yang ia kenal dulu.
Flashback 7 tahun lalu
Alenna jangan nangis lagi. Bang Leksi pasti bakal balik lagi ke sini kok. Alenna jangan sedih lagi
Leksi menyodorkan buku yang biasa ia pergunakan kepada Alenna. Alenna yang sedang menangis tersedu-sedu pun menerima benda tersebut.
Ia pun membacanya.
Setelahnya, Alenna menatap wajah Leksi yang tengah tersenyum hangat kepadanya. Alenna semakin gencar menangis. David yang berada di samping Alenna hanya diam melihat sahabatnya akan pergi meninggalkan mereka.
"Bang... Bang Leksi bakalan balik lagi kan? Gak ninggalin Alenna kan? Gak bakalan lupa sama Alenna kan? Yakan?" Tanya Alenna bertubi-tubi masih dengan tangisan. Leksi menggeleng dan tersenyum. Alenna segera memeluknya dengan erat, Leksi mengelus rambut Alenna sayang.
"Abang gak bohong kan? Hikss.. Hikss" Tanya Alenna lagi. Leksi lagi lagi menggeleng.
Alenna melepas pelukannya dan menatap Leksi.
"Pokoknya, kalau Alenna udah gede. Bang Leksi harus udah balik ke sini lagi!" Kata Alenna menuntut. Leksi mengambil pena dan bukunya lalu menulis sesuatu di sana.
Pasti! Nanti kalau Alenna udah gede, Bang Leksi bakalan balik lagi kesini buat ketemu Alenna. Nanti kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Alenna jangan lupain Bang Leksi. Tunggu Bang Leksi sampai balik lagi di hadapan Alenna. Tapi sekarang Alenna jangan sedih ya...
Bang Leksi sayang banget sama Alenna. Bang Leksi gak mau kalau Alenna kenapa-kenapa. Apalagi sampai nangis kayak gini. Jangan sedih ya Alenna cantik
Alenna tersenyum membaca tulisan tersebut. Ia malu...
Untuk terakhirnya Alenna memeluk Leksi lagi. Sampai akhirnya pengumuman dari bandara yang mengabarkan bahwa sebentar lagi pesawat yang akan membawa Leksi pergi, akan segera take off menuju Amerika. Alenna pun melepaskan pelukannya dari Leksi.
"Yah... Bang Leksi udah mau pergi... " Kata Alenna dengan suara yang menggemaskan dan dengan bibir yang di buat menjadi manyun.
Leksi sungguh gemas melihat Alenna, namun itu tak bertahan lama. Saat kedua orang tua Leksi datang menghampiri mereka.
"Ayo Leksi" Ucap ibu Leksi, Veronica
Leksi mengangguk dan mengelus kepala Alenna lembut.
__ADS_1
"Bang Leksi harus inget perjanjian kita ya?" Ucap Alenna mengulurkan jari kelingking nya sebagai tanda perjanjian. Leksi dengan senang hati membalasnya dan menyatukan kedua jari kelingking mereka.
"Inget ya lek, jangan lupain gue sama Alenna. Lo udah gue anggap keluarga gue sendiri, kalau lo butuh bantuan atau dalam kesulitan, lo bisa bilang sama gue. Itu harus!" Titah David kepada Leksi. Leksi memeluk sahabatnya itu dengan erat, begitu juga dengan David. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah Leksi pergi.
Apa yang terjadi dengan Leksi, bagaimana keadaannya, ada masalah atau tidak?. Baik David atau Alenna, tidak ada yang tahu.
Leksi berdiri melambaikan tangan kepada Alenna. Karna Leksi lebih tinggi darinya, Alenna harus mendongak dulu untuk melihat wajah Leksi yang tersenyum manis kepadanya. Namun jika diperhatikan, terbesit kesedihan di senyumnya seolah berat baginya untuk meninggalkan Alenna yang sudah sangat ia sayangi dan ia anggap seperti adiknya sendiri.ย
Alenna tersenyum dan melambaikan tangannya juga. Leksi dengan tas yang ia gantungkan di bahu, mulai berbalik dan berjalan pelan memasuki pesan. Alenna mengikuti beberapa langkahย di belakang, seolah tak mau di tinggal. Namun David segera memeluk sang adik yang lagi-lagi menangis.
Leksi menoleh sebentar kearah David dan Alenna sebelum ia benar-benar masuk kedalam pesawat bersama keluarga nya.
David melambaikan tangan kepada Leksi, sedangkan Leksi merasa sangat sakit hatinya saat ia melihat Alenna menangis karna dirinya. Sungguh ia tak menginginkan hal ini akan terjadi pada dirinya yang mengharuskan untuk pergi.
Leksi pun benar-benar telah memasuki pesawat, pintu tertutup, dan pesawat pun pergi membawa Leksi yang meninggalkan Alenna, David, dan kenangan indahnya di Indonesia.
"Udah jangan nangis lagi, Bang Leksi pasti balik lagi kok" Kata David menenangkan Alenna yang menangis deras.
"Yuk pulang" Ajak David sambil membawa Alenna pergi dari bandara. Alenna hanya mengangguk tanpa membantah sedikit pun.
Flashback off!.
"Mana janji lo Bang? Lo bahkan gak mau natep gue lagi!. Gue tau kita udah lama gak ketemu, tapi apa mungkin lo bisa ngelupain semua kenangan kita dulu?!" Histeris Alenna geram dengan apa yang terjadi padanya. Ia frustasi sekarang.
"Apa mungkin karna lo udah gede, lo jadi berubah?. Apa lo juga bersikap kayak gitu ke Bang David? Atau bahkan cuma ke gue doang?" Tanya Alenna pada dirinya sendiri, seolah Leksi ada di hadapannya sekarang.
Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
"Udah cukup hidup gue hancur karna mama yang pergi ninggalin gue, jangan sampe lo dan Bang David nambah kehancuran di hidup gue lagi!. Gak akan gue biarkan lo berubah gitu aja Bang Leksi... " Nada bicara Alenna yang tadinya penuh dengan amarah, perlahan mereda secara perlahan.
"Gimana pun caranya, gue mau lo yang dulu Bang... "
Tok! Tok! Tok! Tok!
"Alenna! Alenna! Keluar kamu!" Panggil johan mengetik pintu kamar Alenna dengan kencang. Alenna terlontar kaget. Ia segera menghapus air matanya dan menetralkan ekspresi nya. Dengan satu tarikan napas dalam-dalam, ia pun membuka pintu.
Terlihat lah wajah Johan yang seperti marah.
"Kenapa?" Tanya Alenna datar.
"Kamu kok tega banget sih sama Sarah?" Kata johan terlontar. Alenna bingung apa maksud Johan.
"Tega? Tega apaan?" Tanya Alenna bingung.
"Tega banget kamu ninggalin Sarah sendirian di pesta ulang tahunnya Steven? Kamu tau gak... Dia pulang malem-malem sendirian!. Kalau kenapa-kenapa gimana?. Papa tau kamu gak suka sama dia, tapi gak gini juga caranya Alenna!. Kamu udah kelewat batas!. Papa emang selama ini diam saat Sarah bilang kamu ngonciin dia, Karin, dan temen-temennya di rumah. Terus kamu matiin lampunya!. Tapi sekarang, kalau kamu berani macam macam sama mereka lagi. Kamu akan papa kirim ke Amerika!" Emosi Johan yang sangat terlihat membuat Alenna semakin bingung.
__ADS_1
Gue? ninggalin Sarah? Ulang tahun Steven?.
Batin Alenna.
"Papa tau dari mana kalau Alenna ninggalin Sarah?" Tanya Alenna mencari bukti.
"Sarah... Dia yang bilang sendiri, papa kecewa sama kamu Alenna. Mana Alenna yang dulu papa kenal? Hah?" Kata Johan. Alenna tersenyum miris.
Owh... Jadi ini cara main lo Sar... Oke gue ikutin.
Batin Alenna.
"Terserah papa mau ngomong apa. Alenna gak peduli. Alenna gak takut papa mau ngirim Alenna ke Amerika juga silahkan, Alenna gak ngelarang. mending pergi dari pada disini punya keluarga, tapi bejat semua!" Ketus Alenna. Ia rasa memang benar, disini ia hanya jadi kambing hitam saja. Yah... Pikir Alenna.
Plakkk!
Alenna memegang pipinya yang panas. Tenang... Ini udah biasa di lakukan Johan pada dirinya. Alenna sudah cukup kebal, walaupun bodohnya ia masih saja meneteskan air mata karna rasa perih fisik maupun batin
"Jaga omongan kamu Alenna!. Papa sayang sama kalian semua, papa gak ngebeda-bedain antara kamu dan Sarah!. Jadi buang jauh-jauh pikiran jahat mu!" Bentak Johan keras, menggelegar di seluruh penjuru rumah.
"Sayang?, Oh jadi ini yang papa maksud sayang?, Iya?!. Dengan cara nampar Alenna papa bilang sayang?. Kasih tau Alenna, berapa kali papa nampar Alenna? Udah berapa kali?!!. Kenapa cuma Alenna yang ditampar? Kenapa cuma Alenna doang yang papa salahin? Hah?" Bentak Alenna balik. Johan terdiam melihat mata merah Alenna.
"Kalau kayak gini cara papa nunjukin sayang ke Alenna. Silahkan tampar Alenna setiap hari, biar Alenna tau kalau papa sayang sama Alenna!" Lanjut Alenna. Air mata telah membanjir deras di pipinya.
Sungguh ia tak mau menangis, ia telah menahannya. Namun tetap saja Alenna menangis.
Bodoh!.
Alenna mengalihkan pandangannya kearah lain. Sampai matanya bertemu Sarah yang berada di tangga. Alenna tau, Sarah pasti senang melihat kejadian itu. Ya pasti!
"Udahlah... Terserah papa mau ngomong apa!. Capek Alenna denger papa yang bisanya cuma ngancem dan nyalahin Alenna. Sedangkan Sarah, emang papa pernah nampar dia kayak gini?!. Jangankan nampar, marah aja gak pernah kan?!" Alenna sangat marah sekarang!. Ia bahkan tidak tahu bahwa Sarah ikut keacara tersebut. Namun sekarang, malah ia yang disalahkan.
Sialan!.
Brakkk!
Alenna membanting pintu dengan sangat keras dan masuk kedalam kamar. Ia tak tahu lagi dengan Johan yang asal saja menuduhnya. Alenna sungguh tak tahan.
Johan hanya diam, entah apa yang di pikirkan pria paruh baya tersebut.
Jujur apa yang di katakan Alenna, memang benar. Selama ini ia tidak pernah marah dengan Sarah, bahkan Alenna yang selalu ia marahi dan ujung-ujungnya Alenna yang kena tamparan darinya.
Sudahlah... Alenna memang terbiasa dengan semua ini. Jadi ia tidak mau terlalu dalam kesedihan. Toh nanti juga terulang lagi.
๐๐๐
__ADS_1