
Alenna terduduk sambil terus melafalkan doa agar pria yang tengah berada di ruang sebelahnya ini bisa terselamatkan dan tidak terjadi sesuatu yang Alenna takutkan.
Ya Tuhan... Semoga Kenzo gak kenapa-kenapa. Alenna gak mau Kenzo bernasib sama kayak Aldo. Jangan sampai ya Tuhan... Alenna mohon. Setelah ini, Alenna pasrah.
Batin Alenna.
Mata gadis itu sudah sangat sembab dengan perban yang ada di dahinya. Sudah 3 jam lebih Alenna menunggu, tapi tidak ada dokter yang keluar untuk memberikan Alenna keterangan tentang kondisi Kenzo. Ya, Kenzo sedang menjalankan operasi sekarang. Dokter bilang, timah panas itu harus segera di keluarkan, terlebih darah Kenzo sudah sangat banyak yang keluar, dan karna itu tadi Kenzo sempat mengambil donor darah yang cocok dengannya. Untunglah di rumah sakit ini masih tersedia kantung darah yang cocok dengan Kenzo. Dokter juga bilang, untung saja Kenzo cepat di bawa kemari, jika telat semenit saja mungkin nyawanya tak tertolong.
Alenna mengusap wajahnya karna frustasi dan jujur saja ia mengantuk. Gadis itu yakin kalau sekarang sudah lebih dari jam 12 malam.
Alenna menyenderkan tubuhnya di dinding dan memejamkan mata.
Belum sempat ia tidur, seseorang menepuk pundaknya dan sontak Alenna membuka mata.
Ia melihat seorang suster tersenyum ramah ke arahnya dan dialah yang menepuk pundak Alenna tadi.
Alenna langsung berdiri dan wajahnya kembali terlihat khawatir.
"Suster, gimana sama Kenzo, sus?" Tanya Alenna tak sabaran.
"Operasi berjalan lancar. Pasien masih terpengaruh obat bius, mungkin besok pasien terbangun. Tapi harus tetap di rawat disini sampai beberapa hari sampai dia benar-benar pulih" Alenna menghembuskan napas lega mendengar bahwa Kenzo 'baik-baik saja'. Alenna mengangguk paham.
"Terima kasih, suster" Kata Alenna.
"Kami akan memindahkan pasien keruang rawat" Alenna mengangguk dan suster itu pun pergi.
Terima kasih Tuhan....
Batin Alenna bersyukur.
Tak lama, para suster mendorong bangsal yang di atasnya ada Kenzo tengah berbaring. Alenna mengikuti mereka yang membawa Kenzo ke ruang rawat.
Setelah Kenzo sudah berada di ruang rawat, para suster yang tadi mengantar kini pergi keluar meninggalkan Alenna sendirian dan Kenzo yang masih belum sadar.
Alenna duduk di kursi dekat bangsal Kenzo. Gadis itu memperhatikan wajah Kenzo. Alenna tersenyum miris dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sekarang gantian, lo terbaring disini. Padahal waktu itu gue yang terbaring di atas sana dan seharusnya tetap begitu"
Ucap Alenna bermonolog.
"Ken, bilang sama gue kalau ini semua karna gue. Lo ketembak gara-gara gue, lo ngeluarin banyak darah karna gue, lo di operasi karna gue, dan lo... Sial karna masuk ke hidup gue" Alenna kembali meneteskan air mata terus menerus.
"Coba kalau gue gak pernah kenal lo, pasti ini gak bakal kejadian" Alenna terdiam.
"Kali ini... Gue bakal berusaha lagi untuk terakhir kalinya. Setelah itu, gue nyerah dan ngebiarin tuhan berkehendak" Alenna menghapus air matanya perlahan walau benda bening itu terus keluar dari matanya.
Tangan gadis itu tergerak untuk mengelus rambut Kenzo lembut.
"Lo selalu sabar ngerawat gue selama gue sakit. Sekarang, gue bakal ngelakuin hal yang sama" Alenna tersenyum tipis.
Ceklek!
Alenna menoleh ke arah pintu yang terbuka dan menampilkan seorang suster yang masuk kedalam ruangan dimana Alenna dan Kenzo berada.
"Ada suster?" Tanya Alenna berjalan mendekati suster tersebut perlahan.
"Ini sudah sangat malam. Sebaiknya anda pulang saja" Saran suster tersebut. Alenna menggeleng pelan.
"Gak suster, saya mau disini" Tolak Alenna.
"Saya tau anda khawatir, tapi lihatlah anda sangat terlihat kacau. Jadi lebih baik anda istirahat, besok baru anda datang lagi kemari"
Alenna terdiam. Benar apa kata suster ini, ia harus istirahat. Tapi entah kenapa ia ingin tetap ada disini, ia takut jika Kenzo kenapa-kenapa lagi.
Alenna melihat Kenzo dengan tatapan berat hati untuk pergi.
__ADS_1
"Tenanglah... Kami akan menjaga pasien dengan baik dan aman"
Alenna beralih ke suster tersebut.
"Suster harus janji sama saya kalau Kenzo bakal aman disini" Jujur saja Alenna masih sangat ragu. Terlebih insiden dimana ada orang yang mengakui kalau dia adalah anak buah Kenzo. Membuat Alenna menjadi paranoid.
"Saya janji"
Gadis itu pun menghembuskan napas berat.
"Baiklah, saya pergi. Besok saya kemari lagi" Suster itu mengangguk lalu setelah itu Alenna berjalan keluar kamar setelah sebelumnya melihat wajah Kenzo sebentar.
Yang pria sangat tampan dan yang wanita sangat cantik dan perhatian. Benar-benar pasangan idaman. Anaknya bagaimana ya nanti?
Batin suster itu saat ingin kembali mengecek kondisi Kenzo.
Alenna pun pergi meninggalkan rumah sakit dengan berjalan kaki. Mobil yang ia bawa? Tentu saja ia tinggal di rumah sakit dengan kunci mobil yang ia pegang. Malas sekali membawa mobil itu, lagipula papanya bisa curiga karna ia membawa mobil asing kerumah.
Jadilah, ia hanya pulang dengan berjalan kaki menyusuri sepinya malam membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Cardigan yang ia pakai sudah ia lepas tadi untuk menjalankan misi dan tinggalah ia memakai kaus berlengan pendek, tapi tidak terlalu pendek.
Duh... Dingin banget... Harus cepet sampe rumah nih. Kalau gak bisa masuk angin. Semoga di jalan gak ada orang jahat...
Batin Alenna.
Akhirnya Gadis itu mempercepat langkahnya supaya bisa cepat sampai di rumah.
🌺🌺🌺
Tok! Tok! Tok!.
"Pah! Buka pintunya pah!" Ucap Alenna sedikit berteriak sambil terus mengetuk pintu.
Alenna memeluk tubuhnya yang kedinginan karna angin malam. Tubuhnya sampai menggigil dan bibirnya bergetar.
"Pah... Buka pintunya" Panggil Alenna lagi dengan suara yang perlahan mengecil.
Pintu pun terbuka dan menampilkan Johan yang baru bangun. Ia langsung menyuruh Alenna masuk kedalam rumah.
"Ya Tuhan Alenna... Tunggu sebentar, papa ambil selimut buat kamu" Johan pun mengambil selimut dan menyelimuti Alenna.
Alenna merasa lebih hangat sekarang. Johan ikut duduk di sofa samping Alenna.
"Kamu dari mana aja? Kenapa baru pulang?. Terus mana Kenzo nya?, kok pulang sendiri?" Tanya Johan bertubi-tubi membuat Alenna bingung harus menjawab yang mana dulu.
"Pah... Alenna capek. Alenna ke kamar ya... " Ucap Alenna mengalihkan pertanyaan Johan.
Johan terdiam sejenak lalu tersenyum.
"Iya kak, istirahat lah. Tapi besok kamu harus ikut sama papa" Alenna mengerutkan alisnya bingung dan wajah Johan kembali menjadi serius.
"Kemana?" Tanya Alenna penasaran.
"Besok ikut saja" Alenna terdiam lalu mengangguk pelan. Yasudahlah... Ia malas banyak bertanya. Lebih baik ia ikuti saja apa kemauan Johan saat ini.
"Yaudah. Alenna ke kamar dulu" Pamit Alenna kepada Johan dan langsung berdiri lalu berjalan ke kamar.
Setelah itu, Alenna kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan menatap langit langit kamarnya. Alenna menghembuskan napasnya berkali-kali.
Tiba-tiba muncul ide di kepalanya, gadis itu segera bangun dan berjalan menuju lemari pakaian lalu mengambil kamera miliknya yang berada di tumpukan baju.
Alenna mengotak-atik kamera itu lalu menaruh nya di atas meja samping ranjang dengan lensa yang mengarah padanya. Alenna mulai merekam dirinya sendiri di kamera tersebut.
Beberapa saat kemudian, Alenna selesai merekam dan menyimpan rekaman tersebut lalu memindahkan nya ke laptop.
Gadis itu menamakan file rekamannya dengan nama
__ADS_1
All about my life(1)
Lalu menyimpan file itu dengan aman dan terkunci. Hanya dialah yang tau apa kunci tersebut.
Alenna tersenyum setelahnya.
"Semoga kalian bisa lihat ini, setelah semuanya selesai" Ucap Alenna. Ia kembali menaruh laptop dan kameranya di tempat semula lalu kembali berbaring di tempat tidur. Gadis cantik itu pun tertidur lelap.
🌺🌺🌺
Keesokannya...
Alenna terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Ia masih belum bergeming dan terus mengerjapkan mata beberapa kali untuk menetralkan penglihatannya. Alenna pun merubah posisinya menjadi berdiri lalu berjalan kearah pintu dan membuka nya.
Johan yang pertama ia lihat di depan pintu. Pria paruh baya itu menyunggingkan senyum. Alenna hanya diam tak merespon.
"Pagi Alenna" Sapa Johan hangat. Alenna mengangguk pelan.
"Pagi juga pah. Kenapa?" Tanya Alenna langsung.
"Kamu lupa?, hari ini kan kita mau pergi" Alenna berpikir untuk mengingat sebentar dan kemudian ia mengangguk pelan menandakan bahwa ia hampir lupa kalau tadi malam Johan mengajaknya pergi pagi ini.
"Oh iya Alenna lupa" Alenna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Yasudah, sekarang sudah ingat kan?. Bersiap-siap lah" Alenna mengangguk.
"Yaudah. Alenna siap-siap dulu" Johan mengangguk lalu pergi dan menunggu Alenna di ruang tamu.
Alenna bergegas masuk ke kamar lalu mandi dan mempersiapkan hal lainnya. Alenna mencuri-curi sesuatu entah apa itu.
"Aduh... Mana sih HP gue?!" Gumamnya kesal karna benda yang di cari tidak ada. Ia terdiam sebentar dan kembali memutar memori kejadian beberapa hari lalu. Tersadar, gadis itu menepuk dahinya pelan.
"***** baru inget kalau HP gue sama Sarah" Setelah itu, ia pun keluar dari kamar dengan tas selempang yang bertengger manis di bahunya.
Alenna pun menyusul Johan di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, mereka pun pergi ke tempat yang Alenna bahkan tidak tahu dimana. Yang jelas ia membiarkan Johan membawanya pergi dengan mobil.
🌺🌺🌺
"Loh? Kok kita kesini?" Tanya Alenna heran saat ia sudah keluar dari mobil dan menapakkan kaki di aspal. Alenna melihat lurus ke kantor polisi yang sekarang sudah berada di hadapannya.
Papa ngapain ngajak gue kesini?. Perasaan gue kok gak enak ya?.
Batin Alenna curiga. Johan berdiri di samping Alenna.
"Ada yang perlu kamu jelaskan di dalam sana Alenna. Tidak perlu takut, nak" Alenna semakin bingung dengan ucapan Johan yang terdengar sangat tenang.
"Jelasin apa, pah?" Tanya Alenna lagi.
"Tentang kematian teman mu, Aldo" Alenna terdiam. Tatapannya penuh keterkejutan dan mulutnya sedikit terbuka. Kejadian hari dimana Aldo pergi untuk selama-lamanya kembali terputar di kepala Alenna.
Johan memegang bahu Alenna.
"Jangan takut, nak. Papa ada di samping kamu, Katakan saja yang sejujurnya" Alenna masih bingung harus bagaimana. Ia tidak bisa sembarangan memberikan keterangan apalagi sampai melapor kalau Sarah yang telah membunuh Aldo dan juga sekaligus orang yang menembak Kenzo. Semua itu perlu bukti, kalau Alenna sampai salah langkah, pasti semuanya akan berbalik pada gadis itu.
duh... bimbang...
batin Alenna bingung.
Alenna menghela napas saat Johan merangkul Alenna berjalan masuk kedalam kantor polisi. Jujur... Alenna belum siap untuk memberikan keterangan.
gue belum siap buat ngasih keterangan... Seenggaknya gue harus cari bukti dulu! Baru bisa beri keterangan. Kalau gak, bisa jadi gue yang malah berstatus tersangka. Apalagi Sarah orang yang licik. Dia pasti udah manipulasi semuanya...
Pokoknya gue harus nyelidikin Sarah! Sampe nemu bukti.
__ADS_1
Batin Alenna.
🌺🌺🌺