BROKEN

BROKEN
ratu nyinyir


__ADS_3

"Terus kamu apa? Mau ngasih pelajaran kedia?"


"So pasti!. Dia harus di kasih pelajaran biar kapok. Kalau gak, bisa tambah ngelunjak" Sinis Sarah dengan senyum miring. Karin hanya diam melihat betapa seriusnya putrinya untuk membalaskan dendam kepada anak tirinya.


Tak lama kemudian, Karin ikut tersenyum. Ya lebih tepatnya, tersenyum miring*.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


"Aduh! Alenna kemana sih? Di telponan gak aktif!" Sungut Amel kesal sambil memegang telepon di tangannya. Sudah beberapa kali Amel menelpon Alenna, Tapi gadis itu belum menjawab teleponnya. Amel semakin khawatir dibuatnya. Ia mencoba menelpon gadis itu lagi, namun tetap sama gagal. Di temani dengan Angga di sebelahnya, mereka tengah berada di kantin.


"Mana gue tau" Saut Angga dengan meminum jus mangganya.


"Aduh Alenna lo kemana sih..."


"Hai bebby!!!" Panggil seseorang membuat Amel menoleh dan mendapati Aldo berjalan mendekatinya dengan senyum sumringah. Amel ikut tersenyum. Angga terdiam memperhatikan.


"Hai, do" Balas Amel seadanya. Entah kenapa hatinya sangat tidak enak belakangan ini. Dan firasatnya mengatakan bahwa Alenna dalam bahaya. Aldo menyadari ada yang aneh dengan Amel.


"Hai bang Aldo" Sapa Angga dengan senyum lebar. Aldo menatap Angga dengan tatapan tajam.


"Apa lo?!"


"Santai elah bang. Gue nyapa juga"


Kata Angga.


"Bodo" Aldo beralih kepada Amel.


"Kamu kenapa? Kok gelisah gitu?" Tanya Aldo.


Aduh... Aldo peka banget.


Batin Amel.


"I-itu Alenna" Cicit Amel. Aldo mengerutkan alis bingung.


"Alenna kenapa?" Tanya Aldo lagi.


"Dia dari kemarin gak ada kabar" Jawab Amel.


"Udah coba di telepon?" Tanya Aldo. Amel mengangguk.


"Udah, tapi gak di jawab. Perasaan aku gak enak Aldo" Ujar Amel mengutarakan keresahan nya.


"Tanya aja ke Steven. Mungkin Steven tahu, dia kan pacarnya" Kata Aldo memberikan saran. Amel baru tersadar dan menepuk dahinya.


"Lah iya ya! Kenapa gak tanya sama Steven?.Aduh bukannya dari tadi aja!" Kata Amel. Aldo mengacak rambut Amel gemas.


"Ayo" Aldo menarik tangan Amel membawa nya menghampiri Steven yang berada di dalam kelas.


"Ekhem! Masih ada orang nih..." Dehem Angga yang melihat pemandangan menyedihkan bagi para 'jomnlo'. Namun Amel dan Aldo tak peduli dengan terus berjalan di ikuti dengan Angga di belakangnya.


Eh buset dah... Nih orang lupa kali ya kalau masih ada orang disini?!. Sialan bener!.


Batin Angga kesal.


Sekarang jam istirahat jadi wajar bahwa para murid berlalu lalang di sekitar sekolah, ada yang menuju kantin, laboratorium dan sebagainya.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di ruang kelas Steven dan juga Aldo. Mata mereka mencari sosok Steven, namun keberadaan nya tidak ada.


"Eh Steven kemana?" Tanya Aldo kepada seorang siswa laki-laki yang sekelas dengannya.


"Lah...mana saya tahu. Saya kan Ketu!" Jawab laki-laki itu.


"Justru lo Ketu, mangkannya tau gak sih Steven kemana?. Tinggal jawab aja ribet lu!" Tanya Aldo lagi kepada siswa laki-laki itu, Gilang.


Yap, namanya Gilang. Terlihat di seragam sekolahnya.

__ADS_1


"Dibilang kagak tau juga!. Ngeyel banget sih Aldo ini!. Mentang-mentang most wanted!" Kesal Gilang kepada Aldo.


"Baru nanya udah ngegas!. Ngajak berantem?!"~Aldo


"Kamu sih!" Kata teman sebelah Gilang.


"eh jangan berantem dulu. Kiki cuman minta permen susu milk - milk SUSU ASLI milkita. Ini permen susu mahal


3 loly milkita setara dengan 120 kalory


Bikin sehat, cerdas dan ceria" Saut Julio dari belakang. Julio memang sedaritadi memperhatikan perdebatan itu, namun ia mencari waktu yang tepat untuk 'turun tangan'.


Amel yang melihat geram sendiri dengan ulah sang kekasih dan teman-teman nya.


"Udah Aldo. Kita cari Steven di tempat yang lain aja" Tengah Amel menyudahi perdebatan. Aldo mengangguk kemudian menggenggam tangan Amel untuk pergi meninggalkan kelasnya. Setelah sebelumnya ia memberikan tatapan tajam kepada Gilang. Yang di tatap malah masa bodo amat.


"Awas lo cungkring" Ancam Aldo kepada gilang pelan. Amel yang mendengar itu hanya mengelus bahu Aldo agar bersabar.


Tepat saat mereka baru keluar dari kelas, ia berpapasan dengan Steven yang datang dari lawan arah. Segera mereka menghentikan langkahnya.


"Eh Steven!" Panggil Aldo menarik lengan Steven. Pasalnya Steven tidak sadar bahwa Aldo, Amel, dan Angga lewat di hadapannya, karna pria itu menunduk.


Baru pertama kali Aldo melihat Steven yang menunduk seperti ini, seolah sedang bersedih.


Steven tersadar dan menghentikan langkah nya.


"Kak dari mana aja?" Tanya Amel. Steven menggaruk tengkuknya.


"Dari kelas lo. Nyari Alenna" Jawab Steven pelan. Amel dan Aldo mengerutkan alisnya bingung.


"Alenna kan gak masuk" Jawab Amel membuat Steven sedikit terkejut.


"Pantes aja, gue cariin gak ada. Lo tau gak Alenna kemana?" Tanya Steven dengan wajah khawatir. Amel dan Aldo lagi lagi bingung sendiri. Mereka saling pandang.


"Lah... Gua sama Amel aja lagi nyariin Alenna. Gue pikir lo tau Alenna dimana, gak tau nya lo gak tau juga?"~Aldo.


Steven semakin terkejut karna pernyataan Aldo barusan. Hatinya di penuhi rasa bersalah dan khawatir.


"Aduh... Alenna lo kemana sih?"~Angga


"Lo lagi ada masalah sama dia?" Tanya Aldo hati-hati, takut menyinggung.


"Iya" Jawab Steven singkat.


Mereka terdiam sebentar. Amel tak henti-hentinya menenangkan diri sendiri gak tidak berpikir yang negatif terhadap Alenna. Namja tetap saja, selalu pikiran yang buruk merasuki otak dan benaknya. Terlebih, hanya Amel yang mengetahui masalah Alenna, termasuk penyakitnya.


Itu membuat Amel semakin frustasi. Begitu juga dengan Angga.


"Gi-gimana kalau kita kerumahnya Alenna aja nanti?" Usul Amel kepada Aldo dan Steven.


"Iya, kita perlu kerumah nya Alenna" Kata Aldo. Steven yang diam pun mengangguk dan menerima saran Amel.


"Yodah, pulang sekolah kita kerumah Alenna"


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


"Permisi!!!"


"Alenna! Main yuk!"


"Hush"


Mereka kini sudah berada di depan sebuah gerbang hitam yang menjulang tinggi. Sesuai kesepakatan, mereka datang mengunjungi rumah Alenna setelah pulang sekolah. Yap! Mereka semua khawatir terhadap Alenna.


Setelah lama berteriak-teriak tidak jelas di depan rumah itu, kini seorang satpam datang membuka gerbang tersebut.


"Eh ada nona Amel sama nak Angga, tumben kesini non?. Udah lama banget gak main kesini. Pasti mau ketemu nona Alenna ya?" Tanya seorang satpam yang telah akrab dengan Amel dan Angga. Tentu saja, mereka sering berkunjung kesini untuk menemui Alenna. Tapi dulu. Sekarang sudah jarang, karna Alenna melarangnya. Entah, hanya Alenna yang tahu penyebab nya.

__ADS_1


"Iya Pak Ujang. Alenna nya ada gak?" Tanya Amel kepada pak Ujang. Aldo, Angga, dan Steven hanya memperhatikan percakapan tersebut dan bersuara.


"Nona Alenna belum pulang dari kemarin pas pergi dari rumah bawa mobil" Jelas pak Ujang. Steven tersadar bahwa kemarin Alenna pergi kerumahnya dengan mobil. Pasti setelah itu, Alenna tidak kembali lagi kerumah. Ya, Steven sudah dapat menebak.


"Yah gak ada ya pak?" Tanya Amel kecewa dan menatap Aldo, Angga dan Steven bergiliran.


"Iya non" Mereka menghela napas gusar. Sekarang mereka tambah khawatir kepada Alenna, sungguh mereka sangat khawatir.


"Mau masuk du-"


"Pak Ujang!!! Siapa itu?!" Teriak seseorang orang dari dalam menghentikan ucapan pak Ujang. Sontak mereka semua kaget. Perlahan sosok itu mulai muncul dan menampilkan sosok perempuan angkuh di baliknya.


Pak Ujang diam saja ketakutan. Mereka juga ikut terdiam.


"Di tanyain juga!. Bisu mulut lo?" Kata Sarah yang baru keluar dari dalam rumah dan kini ia sudah berada di dekat mereka, yaitu gerbang.


Sarah memutar bola matanya jengah saat melihat Steven dan kawan-kawan.


"Gue kira siapa, gak taunya lo-lo pada. Temen nya sih cewek murahan itu. Ooopss maksud nya, kekasih cewek murahan itu" Nyinyir Sarah meledek.


Mereka semua memandang Sarah dengan pandangan tidak suka. Kecilin Steven, pria itu memasang ekspresi datar dengan tangan yang mengepal.


"Kenapa? Gak suka?. Emang benerkan?"


Lanjut Sarah lagi dengan senyuman sinis.


"Iyadah apa kata lo. Ratu nyinyir"~Aldo


"Gak punya kaca ya? Perasaan om Johan holkay deh. Masa anak kesayangan nya gak di kasih kaca, biar ngaca!"~Angga


"Murahan teriak murahan. Malu woy malu!"~Aldo.


"Udah mau tunangan masih aja nyari gara-gara!"~Amel


"Gue sih ogah punya tunangan kayak dia, apalagi jadi istri!. Anak gue jadi apaan nantinya?" Aldo.


"gak usah di pikirin. Mending balik aja" Kini Steven ikut berbicara dan pergi berjalan terlebih dahulu tanpa mau menatap Sarah dan dengan keadaan menunduk. Mereka terdiam sebentar.


"Ah gak seru lo kak!. Gue kan lagi tempur!" Teriak Aldo kepada Steven yang mulai menjauh.


"Tau nih kita belum puas. Orang lagi ngelawan ratu nyinyir juga" Saut Angga ikut-ikutan. Aldo menatap tajam Angga.


"Kita? Lo aja kali!" Ketus Aldo sambil menarik tangan Amel pergi. Sebelum itu Amel menoleh kebelakang dan berkata.


"Makasih banyak ya pak, saya pulang dulu. Kapan-kapan mampir lagi" Kata Amel setengah berteriak karna Aldo menariknya menjauh dari sana.


Kini tinggal ada satpam, Sarah, dan Angga.


"Saya balik juga ya pak, makasih" Pamit Angga kepada pak Ujang. Pak Ujang tersenyum dan mengangguk.


"Dadah ratu nyinyir! Jangan lupa ngaca" Ledek Angga sebelum ia pergi. Sarah mendengus kesal. Mereka pun pergi meninggalkan rumah Alenna.


"Pak Ujang, besok-besok jangan biarin mereka masuk atau datang kesini lagi. Ngerti?!" Titah Sarah kepada pak Ujang sang satpam di rumah Alenna.


Pria paruh baya itu hanya mengangguk pelan.


"I-iya" Cicit pak Ujang.


🌺🌺🌺


Alenna, lo dimana? Gue khawatir sama lo. Gue minta maaf~ steven


Lo dimana sih Len? Penyakit lo gak kambuhkan?~ Amel


Alenna Alenna... Lo kemana?. Nanti siapa yang traktir gue cireng kalau lo gak masuk?~ Angga


Gak biasanya Steven kayak gini. Baru kali ini gue ngeliat Steven kayak gitu. Se- pengaruh itukah Alenna bagi Steven?~ Aldo

__ADS_1


Kamu harus bertahan Alenna. Saya akan melakukan apapun untuk kamu. Setelah ini saya akan membawa kamu ke Amerika. Saya mohon Bertahanlah! ~ Kenzo


🌺🌺🌺


__ADS_2