
Sekarang hanya Amel yang ia punya. Mulai sekarang mungkin Alenna akan mencoba untuk lebih terbuka kepda sahabatnya itu. Ia tahu, Amel tulus kepadanya. Gadis itu tak memandang Alenna dari segi fisik atau materi, melainkan dari kepribadian Alenna yang sangat istimewa bagi Amel, begitu juga dengan Alenna. Karna itulah persahabatan mereka masih terjalin hingga kini. Dan Alenna sangat bersyukur akan hal itu.
"Thank's for everything, Amel"
πππ
"Weh anak haram!"
Kata Steven kepada Aldo. Aldo menatapnya tajam.
"Sembarangan bilang gue anak haram, gue nih anaknya David Beckham tahu, lo jangan berani-beraninya sama gue" Protes Aldo sinis. Steven memutar bola matanya malas.
"Lama lama mulut lo gue bekam!"
Sinis Steven membuat Aldo bergidik ngeri.
Waduh...
Batin Aldo sambil memegang mulutnya.
"Mangkannya kalau punya mulut tuh jangan asal jeplak. Awas aja kalau lo sampe ngomong yang enggak-enggak kayak tadi, mulut lo gue solatip!" Ancaman Steven tak membuat Aldo takut, justru pria itu semakin gencar menggoda Steven.
"Yaelah Stev, lo tuh udah ketebak banget kalau lo suka sama Alenna. Jujur aja sih, ungkapin dari sekarangΒ keburu dia di ambil orang, baru nyahok lo!" Kata Aldo. Steven terdiam sejenak.
Segampang itukah sikap gue ketebak?
Batin Steven yang sadar akan sikapnya selama ini. Lebih tepatnya selama bersangkutan dengan Alenna.Β
"Alah... Sok tahu lo!" Bantah Steven.
"Steven, sebagai sahabat gue saranin lo untuk segera bilang sama Alenna kalau lo suka sama dia. Gue khawatir nanti lo keduluan orang lain. Masalahnya saingan lo adalah... Kenzo, sang pengusaha kaya. Bahkan dia yang punya sekolah ini. Jadi, kemungkinan besar Alenna juga bisa berpaling ke dia. Jadi lebih cepat lebih baik kalau mau ngungkapin perasaan lo sama Alenna" Jelas Aldo memberikan saran kepada sahabat nya.
Steven terdiam, entah kenapa ia merasa apa yang dikatakan Aldo saat ini memang benar. Ia tidak seharusnya memendam terlalu lama, apalagi saingannya berat, yaitu Kenzo Zerral Agantra, sang pengusaha kaya raya dan pemilik sekolah ini. Ya... Dia pemilik sekolah ini memang.
Steven ragu jika Alenna akan menerimanya. Ah... Lebih tepatnya ia takut di tolak oleh Alenna.
"Masalah di tolak atau enggaknya, itu urusan belakangan. yang terpenting adalah lo nyatain dulu perasaan lo" Seolah tahu apa yang dipikirkan Steven, Aldo kembali melanjutkan ucapannya.
"Stev, gue sama Amel bakalan berusaha bantuin lo sebisa kita. Tapi lo juga harus berusaha!"
__ADS_1
Bener juga apa kata Aldo... Gue gak mungkin terus terusan mendem perasaan gue sendiri. Seharusnya gue bisa ngungkapin nya kan? Tapi kenapa bagi gue masih sulit?.
Batin Steven berpikir.
"Bentar lagi bel pulang. Lo pikirin aja dulu saran gue" Kata Aldo sambil menepuk bahu sahabatnya dan pergi meninggalkan Steven yang masih hanyut dalam pikiran.
"Gue pasti bisa"
πππ
"Len lo balik bareng gue" Kata Amel menarik tangan Alenna menuju mobil. Ya sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Alenna masih terlihat lemas dan wajahnya pucat.
"Mel... Gue boleh nginep di rumah lo lagi gak?" Tanya Alenna dengan suara yang lemas. Amel menatapnya bingung.
"Kenapa? Lo ada masalah di rumah?" Tanya Amel mulai curiga. Alenna mengangguk pelan.
"Nanti gue ceritain. Tapi plisss izinin gue ya?" Mohon Alenna. Tanpa mengucapkan apapun, Amel mengangguk setuju. Alenna tersenyum sebagai tanda Terima kasih.
Mereka pun pergi menuju mobil dan pergi meninggalkan pekarangan sekolah. Sebelum mobil Amel benar benar pergi meninggalkan sekolah, Alenna melihat Kenzo yang terdiam di parkiran sekolah bersandar pada mobil. Alenna sudah hapal, pasti Kenzo tengah menunggu Sarah.
Alenna hanya diam sambil terus memperhatikan Kenzo melalui kaca jendela. Amel yang penasaran akan arah pandangan Alenna pun ikut melihat lewat kaca spion sebelah kiri mobilnya.
Batin Amel yang menebak mengapa Alenna sangat anteng menatap kearah luar.
Dengan cepat Amel pun menancap gas menuju rumahnya.
Diperjalanan Alenna hanya terdiam dan Amel hanya fokus menyetir.
Mata Alenna tertuju pada kaca spion yang berada di sebelah kiri mobil Amel.
Gadis itu menangkap ada sebuah mobil berwarna hitam tengah berada di belakangnya. Alenna mengira, itu hanyalah pengendara biasa.
Kok kayak kenal tuh mobil ya? Itu bukannya mobil yang waktu itu pernah ngikutin gue?. Ahhhh mungkin beda.
Alenna segera menepis pikiran negatif nya dari otak. Namun ia merasa semakin paranoid saat mobil itu masih berada di belakang mobil amel saat mereka telah memasuki perkomplekan rumah Amel.
"Alenna... Lo ngerasa ada yang aneh gak sih?" Tanya Malem tiba-tiba. Sepertinya bukan hanya Alenna yang merasa khawatir, tetapi amel ikut merasakannya.
"Mel... Cepetan laju mobilnya. Perasaan gue juga gak enak. Ada yang aneh. Cepet Mel!" Pintar Alenna. Tanpa basi basi, Amel menambah kecepatan mobilnya sampai ia sampai di depan rumah Amel.Β
__ADS_1
Dengan terburu-buru, mereka masuk kedalam rumah Amel. Mereka sangat takut. Sedangkan mobil tersebut, ikut berhenti di belakang mobil Amel. Mengerikan bukan?.
πππ
"Huhhhhh" Napas Amel dan Alenna merasa lega. Mereka kini sudah berada di dalam rumah Amel, lebih tepatnya di kamar Amel.
"Siapa sih tuh orang?" Tanya Amel heran. Ia pun berjalan menuju jendela dan membuka gorden. Dilihatnya sebuah mobil yang tadi mengikuti mereka berada di belakang mobil Amel. Mata Amel terbelalak.
"Alenna sini deh. Liat tuh!" Suruh Amel. Segera Alenna berjalan menghampiri Amel dengan wajah bingung.
"Apa?"
"Liat tuh!" Tunjuk Amel. Alenna mengikuti arah tunjukkan Amel. Sampailah matanya melihat apa yang Amel lihat. Ia sudah menduga bahwa ada yang tidak beres dengan mobil itu, lebih tepatnya dengan orang yang mengendarai mobil tersebut.
Pasalnya, ini bukan pertama kali, melainkan mungkin ini sering terjadi pada Alenna. Namun sampai sekarang, ia masih tidak tahu siapa orang tersebut dan apa tujuannya.
"Ada yang gak beres" Kata Amel yang di setujui oleh Alenna. Mereka pun menutup gorden rapat rapat dan berjalan menuju tempat tidur. Amel melihat wajah Alenna yang tampak mencurigakan baginya. Alenna seperti menutupi sesuatu darinya.
"Alenna, jujur sama gue. Lo pasti sering di ikutin kayak gini kan?" Tanya Amel curiga.
"Iya sering" Jawab Alenna spontan.
"Ceritain semua hal yang belum pernah lo ceritain ke gue" Titah Amel. Bagi Alenna, mungkin ini saatnya.
Alenna pun menceritakan semua yang selama ini ia simpan, mulai dari ia yang sering di ikuti, Sarah yang memfitnah dirinya, Johan yang mengancam akan membawa Alenna ke Amerika, lalu kenangan nya bersama Leksi, dan sampai ia bertemu dengan Leksi.
Semuanya Alenna cerita kan kepada Amel. Mulai saat ini tidak ada rahasia lagi yang ia tutup-tutupi.
"Oke gue paham sekarang" Final Amel sedaritadi mendengarkan semua cerita Alenna dengan cermat. Ia mengambil kesimpulan bahwa ada yang janggal dari cerita Alenna, yaitu
"Leksi, gue rasa ada yang gak beres deh sama dia" Opini Amel yang satu pemikiran dengan Alenna.
"Gue juga ngerasa kayak gitu. Bantuin gue mel, nyelidikin bang Leksi" Mohon Alenna. Yah... Alenna percaya bahwa Amel dapat membantunya.
"Tenang, gue pasti bantu lo sebisa gue" Kata Amel. Alenna tersenyum senang. Sekarang tinggal menyusun rencana selanjutnya untuk nanti.
Gue gak sabar...
πππ
__ADS_1