
"Sial banget sih gue hari ini!. Dari Amel yang susah di bangunin, gue terlambat, diomelin pak Dwi, Amel fitnah gue, terakhir Angga yang ngompor-ngomporin! Kurang siap apa lagi coba gue, untung gue penyabar, kalau gak udah gue robohin nih sekolah pakek martil nya Thor!" Oceh Alenna sambil terus berjalan dengan wajah yang di tekuk.
Ia sendiri tidak tahu harus kemana, yang jelas ia akan melewati tikungan. Namun pada saat ia ingin berbelok...
Brukkk!
"Aduh... Pantat gue... " Rintis Alenna kesakitan sambil mengusap bokongnya.
"Woy! Kalau jalan pakek mata dong! Gak liat apa ada orang segede gue?!. Aduh... Sakit" Omel Alenna masih terduduk di lantai tanpa menatap lawan bicaranya.
"Sorry, gue gak liat. Sini gue bantu" Tubuh Alenna kaku saat itu juga.
Itu kan suaranya...
Alenna mendongakkan kepala dan melihat siapa yang telah menabraknya.
Steven?.
Batin Alenna terkejut.
Steven menjulurkan tangannya dan dengan ragu Alenna menerima juluran tangan tersebut.
Sumpah... Kesialan apa lagi sih ini?
Atau malah... Keberuntungan?.
"Lo gapapa?" Tanya Steven kepada Alenna.
"Bohong kalau gue bilang gapapa, karna bokong gue sakit nih... " Jawab Alenna sejujurnya. Ayolah... Jangan mengira Alenna akan melupakan rasa sakitnya dan kembali bersikap lembut secara tiba-tiba seperti yang ada di novel atau film drama kebanyakan.
"Perlu ke UKS?" Tanya Steven lagi untuk memastikan bahwa Alenna baik-baik saja.
"Gak usah, kayak gue kecelakaan aja. Gak parah ini kok" Jawab Alenna dengan santai. Steven mengangguk paham.
Disisi lain...
"Aduh... Alenna kemana sih? Ngilangnya cepet amat tuh anak" Kata Amel yang sibuk mencari Alenna bersama Angga. Bagaimanapun mereka harus meminta maaf kepada Alenna. Karna mereka tahu, bahwa Alenna anak yang sensitif.
"Nyari kemana lagi nih? Capek gue!" Kata Angga yang memegang lututnya dan menghela napas panjang.
"Mana gue tahu, pokoknya kita harus cari Alenna sampe ketemu!" Tekat Amel.
"Aduh istirahat dulu yah... Capek nih gue turun naik tangga. Emang lu gak capek apa?" Pinta Angga yang sudah lelah. Keringat membasahi tubuhnya.
"Gak! Lagian lo lemah banget sih jadi cowok. Masa begini aja udah capek! Kalah sama gue" Oceh Amel kepada Angga.
"Ye itukan elo yang kelaminnya masih di ragukan" Kata Angga ceplas-ceplos dengan santai. Amel menatap Angga dengan tatapan tajam membuat yang di tatap bergidik ngeri.
"Ngomong sekali lagi coba!" Kata Amel dalam dan dingin. Angga mulai ketakutan sekarang.
Kena lagi dah gue.
Batin Angga.
"Hehehe canda Mel, yaelah... Gitu aja marah" Cengenges Angga yang membuat Amel memutar bola mata malas.
"Awas aja lo ngo-"
"Kalau gitu gue pergi dulu ya" Ucap seseorang yang terdengar familiar membuat ucapan Amel terhenti. Angga dan Amel menatap kearah sumber suara. Ternyata itu adalah...
__ADS_1
"Itu Alenna" Ucap Angga yang menyadari kehadiran Alenna dan seorang pria. Jarak mereka tidak terlalu jauh, namun sepertinya Alenna dan pria itu tidak menyadari kehadiran dua makhluk tersebut.
"Dia lagi sama Steven, ngapain?" Tanya Amel tanpa melirik kearah lain selain kearah Alenna dan Steven.
"Mana gue tahu" Kata Angga.
"Ayo samperin!"
"Jangan, biarin mereka bicara dulu" Angga menarik lengan Amel untuk bersembunyi untuk menyaksikan apa yang di lakukan Alenna dan sang most wanted tersebut.
"Alenna, tunggu dulu" Steven menarik lengan Alenna yang hendak pergi. Alenna berhenti dan kembali menghadap Steven.
"Apa?" Tanya Alenna.
Steven belum menjawab, melainkan ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas yang seperti surat namun lumayan tebal, seakan terisi sesuatu didalamnya.
Lalu memberikannya kepada Alenna.
Dengan tatapan bingung, Alenna mengambil kertas tersebut.
"Apaan nih?" Tanya Alenna masih bingung. Steven hanya mengedikkan bahu acuh. Karna penasaran Alenna segera ingin membukanya namun ditahan oleh Steven.
"Eitsss, nanti aja bukannya dirumah. Hati-hati, disitu ada isinya"
kata Steven yang membuat Alenna semakin penasaran dengan isi didalam nya.
"Emang ini apaan sih? Kok gue penasaran ya?" Tanya Alenna berterus terang.
"Udah nanti juga lo tau. Buka aja dirumah" Jawab Steven masih sama yaitu, nanti aja. Alenna mengedikkan bahu tanpa beban lalu menyimpan keras undangan yang lumayan tebal itu kedalam saku bajunya.
"Yodah, kalau gitu gue pergi dulu ya. Bye!" Ucap Alenna lalu pergi meninggalkan Steven.
"Itu sih Steven ngasih apaan ke Alenna?" Tanya Angga yang sedari tadi mengammati Alenna dan Steven.
"Gue jadi penasaran, sebenernya Alenna sama Steven ada hubungan apa sih?" Ujar Amel kebingungan.
"Sama gue juga penasaran" Kata Angga yang sama sepemikiran dengan Amel.
"Ngomong-ngomong sih Alenna kemana ya?" Tanya Angga lagi.
"Mana gue ta- eh!!!Β Kodok loncat kecebur kali mati di panci!!!" Teriak Amel latah saat merasakan ada seseorang yang tiba-tiba memegang bahunya. Sontak membuat gadis itu kaget setengah mati.
Angga yang mendengar itu segera menutup telinganya karna teriakan Amel yang melengking. Mereka berdua pun melihat kearah belakang, dimana ada seseorang yang tengah memegang sebelah bahu Amel. And ternyata itu adalah...
πππ
"Ehh kak Aldo, tumben kak. Dari mana nih?" Kata Angga dengan cengiran di wajahnya.
"Aldo? Kamu ngapain disini?" Tanya Amel yang terkejut dengan tatapan tak percaya.
"Kenapa, Gak boleh?. Kamu sendiri ngapain disini, bareng dia lagi" Sinis Aldo dengan wajah dingin.
"Umm itu tadi kita lagi nyari Alenna. Eh ketemu, tapi dianya lagi ngobrol sama kak Steven, jadinya kita gak jadi deh" Kata Amel berusaha menjelaskan.
"Terus nguping?" Tanya Aldo yang lagi lagi terdengar sinis. Membuat Amel dan Angga menelan ludah bersamaan.
"I-iya dikit"
"Ikut gue" Aldo menarik tangan Amel pergi entah kemana dan meninggalkan Angga sendiri.
__ADS_1
"Aldo, mau kemana?" Di tengah perjalanan Amel bertanya kepada Aldo. Namun Aldo tidak menggubris nya dan terus menarik pergelangan tangan Amel.
"Lah... Sih Amel di bawa kemana tuh, Aldo gak bakal ngapain ngapain sih Amel kan?" Kata Angga bermonolog masih dengan tatapan yang terarah ke pada Amel dan Aldo. Saat mereka berdua hilang dari pandangan, Angga memutuskan untuk kembali ke kelas nya.
Aduh... Padahal gue mau ngomong sesuatu ke Alenna. Tapi Alenna nya malah pergi. Terus sih Amel malah pergi ama pacarnya lagi.
Nasib... Jomblo.
Batin Angga bersedih.
πππ
Pulang sekolah
"Len, lo kemana aja? Di tungguin juga" Tanya Dinda menepuk pundak Alenna yang terdiam kaku di depan rak buku yang menjulang tersebut.
Sekaligus dengan tangan yang memegang buku dengan posisi berdiri. Buku yang ia pegang seolah menutupi wajahnya?
"Iya len, kita cariin juga. Ternyata lo disini, ngapain?" Saut Salsa.
"Emang apa lagi yang gue lakuin selain baca?. Ini kan di perpustakaan, ya pastilah gue lagi baca" Jawab Alenna kesal. Benar apa kata Alenna, mereka sedang berada di perpustakaan sekarang. Sebenarnya alasan Alenna datang ke perpustakaan bukan semata untuk membaca, melainkan...
"Oh iya ya" Ujar Salsa yang menyadari kebodohannya.
"Ngemeng-ngemeng, lo kok baca buku terbalik?" Tanya Aulia yang menyadari bahwa Alenna membaca dengan buku terbalik.
Aduh gue kok bisa **** gini sih?.
Batin Alenna.
"Eh i-ini tadi gue lagi ngecek kualitas buku nya. Takut ada yang rusak" Bohong Alenna kepada Aulia, Salsa, dan Dinda.
Good Alenna, alasan yang masuk akal.
Batin Alenna.
"Ohhh" Ucap Aulia, Salsa, dan Dinda bersamaan.
Untung aja percaya...
Batin Alenna bersyukur.
"Eh udah yuk! Langsung kerumah sih Salsa aja. Gak sabar nih gue mau nonton" Ajak Aulia yang sangat tidak sabar.
"Iya ayok!" Dinda menarik tangan Alenna dengan tiba-tiba.
Aduh, males banget sumpah...
Somebody help me please...
fortunately, I am patient.
πππ
Batin Alenna. Mereka pun ke luar dari perpustakaan dan pergi menuju parkiran sekolah. Namun sebelum itu Alenna merasa
Wait, apparently someone can save me. but does it have to be him?
Batin Alenna saat melihat sesosok yang seperti nya dapat menolongnya saat ini.
__ADS_1
but should I ask him for help?
πππ