BROKEN

BROKEN
ketahuan


__ADS_3

Keesokannya~


Brukkk!


Pintu pun terbuka, menampilkan sosok Amel dan suster Bella di belakangnya. Amel yang dengan tatapan marah menghampiri Alenna dan kenzo yang terlonjak kaget.


"Lo kenapa sih mel? Kayak orang kesetanan aja!" Kata Alenna kesal. Amel tidak menjawab. Ia malah menatap kenzo.


"Kak, izin bicara sama Alenna sebentar bisa gak?" Tanya Amel. Kenzo terdiam sebentar, lalu mengangguk. Alenna bingung, apa maksud Amel. Ia pun memberikan kode tatapan seakan bertanya kenapa? Kepada suster Bella. Namun ia hanya menunduk.


"Yodah, nanti lanjutin makannya, abis itu minum obat" Kata Kenzo sebelum dia pergi. Alenna mengangguk, Kenzo pun pergi meninggalkan kamar. Kini tersisa Alenna, Amel, dan suster Bella. Amel pun duduk di salah atu sisi ranjang, dekat Alenna.


"Lo kenapa sih mel?" Tanya Alenna sekali lagi. Ia tidak tahu kenapa Amel seserius ini.


"Suster" Panggil Amel.


"Maaf nona Alenna. Maafin saya" Ujar suster Bella yang membuat Alenna mengerutkan alis bingung.


"Suster? Buat apa?" Tanya Alenna.


"Alenna, kenapa lo masih aja gak mau terbuka sih?!. Lo kenapa nutupin ini semua dari gue?!"


Dih... Amel kenapa sih?


Batin Alenna.


"Nutupin apa sih mel?" Tanya Alenna lagi. Amel mendengus kesal.


"Tentang penyakit lo"


Deg!


Alenna terdiam. Jangan bilang kalau Amel sudah tahu.


"Suster, jelasin. Biar semua lebih jelas!" Titah Amel kepada suster Bella. Suster tersebut melangkahkan kaki mendekati Alenna.


"Maaf nona Alenna" Mohon suster Bella. 


"Teman anda sudah tahu mengenai-"


"Penyakit" Potong Amel cepat. Alenna memandang Amel terkejut. Jadi dia sudah tahu apa penyakit Alenna saat ini.


Kok bisa?


Batin Alenna.


Flashback.


Amel berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil membawa setenteng tas yang isinya baju milik Alenna. Ya, Amel baru saja mengambil baju Alenna di rumahnya, setelah Amel pulang sekolah. Gadis itu ingin segera menemui sahabatnya tersebut. Sampai saatnya ia mendengar percakapan 2 orang yang membuat langkahnya terhenti.


Amel memutuskan untuk mendengarkan percakapan tersebut. Ia melihat sesosok laki-laki yang ia yakini seorang dokter, tengah berbicara dengan seorang suster yang tempo hari menangani Alenna. Mereka berbicara di salah satu ruangan yang tidak jauh dari kamar Alenna. Amel memilih untuk mengendap-endap mengintip melalui celah.


ngomongin apaan sih?. Kok gue jadi penasaran ya?. Nguping dikit boleh kan? Hehehe

__ADS_1


Amel menajamkan pendengaran nya.


"Dok, apa yang harus kita lakukan?" Tanya suster itu kepada sang dokter.


"Yang jelas, kita tidak bisa membiarkan Alenna merasa lelah. Karna itu bisa bahaya untuknya. Walau hanya sedikit" Kata sang dokter. Amel mengerutkan alisnya mendengar nama sahabatnya di sebut-sebut dalam percakapan tersebut.


Amel semakin penasaran.


"Lebih baik kamu beritahu kondisi Alenna kepada keluarga nya" Saran sang dokter. Suster tersebut menggeleng.


"Tapi dia tidak mau hal tersebut terjadi dokter. Saya udah janji sama dia, kalau saya gak bakal bilang sama siapa-siapa. Termasuk keluarganya sekaligus" Jelas sang suster.  Amel seketika mematung mendengar hal tersebut.


Alenna, penyakit?


Batin Amel. Dokter pria itu tampak memijit dahinya, frustasi.


"Ya sudah, kamu bisa pergi sekarang" Suster Bella mengangguk paham dan berjalan meninggalkan dokter pria itu. Amel menempel pada dinding bersembunyi. Suster Bella keluar dan segera menutup pintu. Namun baru ia ingin melanjutkan langkahnya, Amel segera menarik tangannya cepat.


"Ehhh ada perlu apa ya?" Tanah suster itu kaget.


"Saya temennya Alenna" Suster itu langusng berubah ekspresi, menjadi terkejut.


"Baiklah ada perlu apa?" Tanya suster Bella.


"Tolong jujur sama saya. Sebenarnya apa penyakit Alenna?. Tolong kasih tau saya suster" Mohon Amel sedikit memaksa.


"A-alenna baik-baik sa-"


"Bohong!. Saya tau, pasti suster nyembunyiin sesuatu kan?" Desak Amel membuat suster Bella semakin resah.


"Saya mohon" Mohon Amel. Suster Bella ragu memberitahu Amel. Namun melihat tatapan gadis itu, seolah membuat suster Bella meluluh. Suster itu menghela napas.


"Baiklah... Saya akan beritahu, asalkan anda bisa menjaga rahasia ini dari siapa pun. Termasuk keluarga nya Alenna" Ujar suster Bella. Amel semakin menduga bahwa ini sangatlah penting dan... Berbahaya?. Amel pun mengangguk.


Suster Bella yang melihat itu, segera bercerita.


"Alenna mengidap penyakit koarktasio aorta" Kata suster Bella.


"Apa itu Sus?" Tanya Amel tal mengerti.


"Koarktasio aorta adalah salah satu penyakit kelainan jantung karena adanya penyempitan aorta yang tidak normal, yaitu saluran yang menyalurkan darah pada kepala dan tangan"


"Ini bisa membuat aliran darah yang keluar dari jantung menuju seluruh peredaran darah tubuh jadi terhambat" Lanjutnya.


"Gejalanya apa suster?" Tanya Amel.


"Gejala yang terjadi bergantung pada parahnya penyempitan pada saluran aorta penderitanya"


"Tapi biasanya berupa tangan dan kaki terasa dingin, mimisan, nyeri dada, nyeri kepala, sesak napas, tekanan darah tinggi, pusing, hingga pingsan" Jawab suster Bella panjang. Amel sedikit mengerti sekarang.


"Tapi emang bahaya banget ya suster?" Tanya Amel lagi. Gadis itu takut jika penyakitnya sangat berbahaya.


"Koarktasio aorta yang tidak diobati akan menyebabkan beberapa komplikasi mematikan seperti tekanan darah tinggi, serangan jantung, gagal jantung, dan stroke"

__ADS_1


Dada Amel sesak. Tidak mungkin itu terjadi pada Alenna? Yakan?. Itulah yanga ada dipikiran Amel saat ini.


Flashback off


Alenna terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Amel sudah mengetahui penyakit nya ini. Ia takut bahwa sebentar lagi, fakta ini akan menyebar luas. Ia pikir semuanya akan berjalan lancar-lancar saja. Tapi dugaannya salah.


"Lo gak usah khawatir. Gue gak akan bilang sama siapapun, termasuk keluarga lo" Ujar Amel seolah membaca pikiran Alenna. Alenna tersenyum mendengar itu. Benar, seharusnya ia percaya pada Amel.


"Makasih mel. Gue percaya sama lo, ka di tolong jangan kecewain gue" Kata Alenna. Amel mengangguk.


"Maaf, kalau gitu saya permisi dulu. Ada hal yang harus saya kerjakan, permisi nona Alenna dan nona Amel" Pamit suster Bella yang sedari tadi diam.


"Iya, makasih ya suster Bella informasi nya" Suster Bella mengangguk mendengar ucapan terimakasih dari Amel. Baru beberapa langkah, suster Bella berbalik lagi menghadap Alenna dan Amel.


"Oh ya... Nona Alenna harus check up setiap seminggu sekali. Jangan sampai enggak. Dan makanan lebih di jaga lagi, jangan lupakan minum obat yang teratur nona" Lanjut suster Bella. Alenna tersenyum lalu mengangguk.


"Iya suster, makasih ya" Kata Alenna sambil tersenyum manis. Suster Bella pun pergi dari ruang rawat Alenna.


Kini tatapan Alenna menatap Amel yang sedang memalingkan wajahnya kearah lain. Alenna tahu bahwa Amel marah padanya.


"Mel... " Panggil Alenna pelan.


"Lo marah sama gue?" Tanya Alenna lagi. Kini tangannya menyentuh tangan Amel. Namun Amel malah menjauhkan tangannya. Alenna tersenyum melihat tingkah Amel. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Diam diam Amel melihat Alenna yang ternseyum lewat iris matanya.


"Lo kenapa senyum-senyum sendiri coba" Kata Amel. Senyum Alenna semakin lebar.


"Karna lo lucu" Jawab Alenna masih tersenyum.


Grep!


Amel memeluk Alenna secara tiba-tiba. Alenna tidak terkejut, ia hanya membalas pelukan Amel saja.


"Gue kesel sama lo!. Kenapa lo bisa nyembunyiin ini dari gue sih?. Gue gak mau lo kenapa-kenapa" Ujar Amel masih memeluk Alenna.


"Justru itu, gue gak mau ngasih tau lo karna gue takut lo bakalan kayak gini" Jawab Alenna. Amel mendengus kesal. Lalu melepaskan pelukannya, dan menatap Alenna kesal.


"Ohhh jadi lo gak suka kalau gue khawatir? Iya?" Tanggap Amel.


"Iya" Jawab Alenna jujur dan singkat.


Amel menaikan satu alisnya.


"Kenapa? Bukannya orang lain pada suka di khawatirin ya?" Tanya Amel bingung dengan Alenna.


"Karna, gue lebih suka ngeliat orang lain cuma tahu keadaan Alenna yang baik, yang bahagia, dan yang selalu tersenyum. Bukan Alenna yang sedih, menangis, sakit-sakitan, apalagi terluka. Gue benci itu" Hati Amel terhanyut mendengar perkataan Alenna. Rasanya ingin menangis. Jika Amel menjadi Alenna, mungkin ia akan pergi sejauh-jauhnya dan tak mau kembali, karna ia tak akan sanggup.


Namun, ia sangat salut kepada Alenna yang sangat tegar dan tenang. Gadis itu selalu tersenyum, berusaha agar tetap baik-baik saja. Walau sebenarnya jauh dari kata baik-baik.


"Gue tau len... Tapi, ini masalah serius. Lo gak bisa main-main" Alenna mengangguk.


"Gue harap, lo bisa ngelewatin itu semua. Gue yakin lo pasti bisa" Ampe menggenggam tangan Alenna erat.


"Gue bakalan ngelakuin apa aja buat lo Alenna. Asalkan lo berjuang, gue akan, terus dukung lo" Alenna tersenyum. Walaupun sebenarnya hatinya menjerit dan ingin menangis karna ia sangat bahwa mendapat dukungan seperti ini dari sahabatnya. Sungguh, sangat luar biasa bagi Alenna. Bahkan Johan saja tak pernah bersikap layaknya ayah yang akan mendukung anaknya saat menghadapi masa-masa sulit. Yah... Walaupun Johan tidak tahu menahu soal penyakit Alenna. Tapi Alenna berharap, Johan akan mendukung nya di saat-saat dimana ia memang harus berjuang. Seperti sekarang.

__ADS_1


"Semoga"


🌺🌺🌺


__ADS_2