BROKEN

BROKEN
Andai


__ADS_3

Aku akan menghentikan semuanya sekarang, Vinna...


Batin Johan. Pria itu berkutat pada beberapa berkas yang terdapat di atas meja kerja pria itu. Johan hari secepatnya menyelesaikan ini semua, ia tak mau terjerumus terlalu dalam lagi.


Hingga Akhirnya setelah pulang dari kantor polisi, Johan langsung pergi ke pengadilan untuk menuntut perceraian dari Karin. Keputusan nya sudah bulat, ini yang terbaik untuk dilakukan.


Johan sudah mendapatkan surat cerai dan Ia juga menandatangani surat tersebut, hanya tinggal meminta Karin menandatangani nya saja. Setelah itu, mereka sudah resmi bercerai dan berhak menjalani hidup masing-masing. Johan ingin segera bercerai dengan Karin, karna itu besok dia berniat untuk pergi ke kantor polisi lagi untuk bertemu Karin.


"Kenapa kau melakukan hal itu Karin?. Kenapa kau sampai membunuh istriku, Vinna?. Apakah  aku kurang berlaku adil padamu?. Kurasa kau salah, seharusnya Vinna yang merasakan itu. Bukan kau" Kata Johan dan meneteskan air mata saat melihat sebuah bingkai kecil yang menampilkan foto dirinya, David, Alenna, dan Almarhumah istrinya yang berada di atas meja kerja.


Setiap Johan mengingat Vinna, rasa bersalah terus menerus bermunculan dan bahkan bertambah pada dirinya. Johan merasa menjadi suami dan seorang ayah yang sangat jahat di dunia.


"Katakan Vinna, apa keputusan ku sudah tepat?" Monolog Johan terus menatap bingkai itu, seolah istri nya tengah berada disana sambil merespon Apa yang pria itu ucapkan.


"Bagaimana aku bisa memaafkan Karin, sedangkan aku sendiri tidak bisa memaafkan diriku sendiri?. Andai kau masih ada disini, kau pasti sudah memelukku dan membuatkan secangkir teh hangat. Aku merindukan mu, Vinna"


"Andai kita tidak bertengkar pada saat itu, Andai aku tidak pergi ke club malam dan Andai aku tidak bertemu Karin di tempat terkutuk itu, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Dan Andai kau masih ada disini dan semuanya berjalan semestinya. kau, aku, David dan Alenna hidup harmonis selamanya" Tangis Johan pecah begitu saja sekarang. Ingin rasanya ia berteriak sekencang nya, namun apa yang ia lakukan? Hanya bisa menangis dan menyesali semua yang sudah terjadi.


Anggaplah Johan cengeng, pengecut atau sebagainya. Tapi cobalah mengerti posisinya, ia tidak akan perduli dengan ucapan orang lain mengenai dirinya. Mau sejelek apapun ia dimata banyak orang, seolah menutup mata dan telinga, tidak peduli.


"Aku yakin, kau pasti sedang menertawakan aku di atas sana. Yakan?. Lakukanlah, aku memang pantas mendapatkan nya, aku tau itu. Bahkan itu tak sebanding dengan perlakuan ku padamu dulu"


"Aku Mengabaikan, membentak, mencaci, bahkan kasar padamu, sungguh tak sebanding. Apalagi kejahatan ku?. Oh bahkan saat kau menghembuskan napas terakhir mu, aku tak ada disisimu dan memberikan dukungan. Dengan brengseknya aku malah berleha-leha dengan wanita itu. Tak ada kata lain selain menyesal, maafkan aku Vinna"


Flashback...


Tok! Tok! Tok!.


Alenna mengetuk pintu kamar ibunya sambil membawa nampan yang berikan makanan. Setelah pulang sekolah, Alenna langsung memasak makanan untuk ibunya. Bahkan seragam sekolah pun belum ia ganti. Karna Alenna takut, ibunya kelaparan. Vinna memang tidak bisa pergi kemana-mana karna ia lumpuh. Walau bisa menggunakan kursi roda, namun tenaganya untuk naik ke kursi roda sendiri, sudah tidak kuat. Jadilah, Alenna yang selalu mengurus Vinna dengan tekun dan tanpa lelah.


Mungkin ada dari kalian yang bertanya, kenapa Vinna bisa lumpuh?. Maka jawabannya karna Karin dan Sarah. Kenapa? Karna mereka lah yang telah mencelakai Vinna saat wanita itu hendak pergi menggunakan mobil, dengan menyabotase mobilnya. Bahkan saat itu, Vinna sempat koma selama beberapa hari dan akhirnya sadar, namun kakinya lumpuh total.


Tok! Tok! Tok!.


"Mah, Alenna masuk ya?. Alenna bawa makanan"


Dengan tidak sabaran, Alenna segera membuka pintu kamar karna tak kunjung mendengar suara dari sang ibu. Segera ia masuk kedalam kamar. Ia tersenyum saat melihat ibunya tengah tertidur di atas ranjang. Alenna pun berjalan mendekat, ia menaruh nampan nya di atas meja samping ranjang lalu mengguncang tubuh ibunya perlahan.


"Ma, bangun mah... Ayo makan dulu" Kata Alenna lembut membangunkan sang ibu.


Ibu nya masih belum terbangun dan tidak merespon.


Aneh... Gak biasanya mama kayak gini.

__ADS_1


Batin Alenna. Namun ia segera menepis pikiran negatif dari otaknya dan mencoba membangunkan Vinna beberapa kali.


"Mah? Mama bangun. Alenna bawa makanan. Mama belum makan kan?, Alenna masak makanan kesukaan mama. Ayo mah bangun"


"Mah? Bangun dong mah..."


"Mah?"


Tak ada respon sedikitpun walau Alenna sudah mengguncang tubuh Vinna dengan lumayan kuat. Alenna memeriksa denyut nadi dan napas Vinna.


Alenna menghela napas berat. Detak jantung nya bertambah cepat, napasnya memburu, dan tiba-tiba air mata menetes dari mata indahnya. Ia merosot dan terduduk lemas dengan tatapan sendu dan nanar. Ia menggelengkan kepala lemah. Bibirnya seolah terbungkam.


Sedetik kemudian, ia telah terisak sambil menutup mulutnya menahan isak tangis sambil terus menggeleng tak percaya.


Ia mengusap air matanya kasar lalu kembali mendekati Vinna lalu mengusap rambut panjang yang masih berwarna hitam tersebut walaupun umur Vinna sudah tua.


"Mah, bangun. Jangan ninggalin Alenna, mama gak boleh ninggalin Alenna. Mama udah janji" Alenna menangis tersedu-sedu. Ia memeluk tubuh ibunya dan menangis.


"Ayo mah, Kita pergi dari sini. Tapi mama harus bangun dulu" Alenna terus bermonolog dengan jasad Vinna.


Beberapa saat kemudian, ia menggeser tubuhnya menjadi duduk di pojok kamar dengan kedua tangan yang memeluk kedua lutut, serta menenggelamkan wajahnya di sana sambil terus menangis dengan bahu yang bergetar. Mulai saat itulah, kehancuran dalam diri Alenna berawal.


satu-satunya lentera hidup Alenna telah pergi dan kini hidupnya telah gelap gulita. Tak ada cahaya penerangan, barang sedikit pun.


Alenna menggapai handphone nya di saku baju, lalu menghubungi Johan dengan tangan yang bergetar. Namun Johan tak mengangkatnya. Sudah ratusan kali, namun tetap tidak di jawab. Alenna pun menyerah...


sebuah suara mobil terdengar menandakan bahwa Johan, Karin, dan Sarah telah sampai di rumah. Mereka keluar mobil dengan menenteng beberapa paper bag sambil di selingi canda dan tawa.


Alenna tidak melakukan apapun selain tangisnya yang bertambah kencang.


"ALENNA!" teriak Johan memanggil Alenna saat pria paruh baya itu sudah berada di dalam rumah. Namun Alenna masih diam dan tak menggubris.


"Alenna? Kamu dimana?" Kini suara Karin terdengar.


"Lagi tidur kali" Acuh Sarah.


Terdengar suara sepatu milik Johan mendekati kamar Vinna, pria tiu membuka pintu kamarnya.


Ia terkejut saat melihat Alenna yang tengah meringkuk di pojok kamar dengan bahu yang bergetar.


Johan berjalan masuk kedalam dengan tanda tanya di otaknya. Kini matanya beralih kepada ranjang  yang terdapat Vinna sedang  terbaring tak berdaya disana.


"Alenna? Kamu kenapa?" Johan mendekati Alenna namun dengan cepat Alenna menjauh. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Johan dengan mata yang di penuhi bulir kristal. Johan terkejut sangat terkejut

__ADS_1


"Papa kemana aja?. Kenapa gak bisa di telpon?" Tanya Alenna masih dengan air mata yang mengalir dan tentu saja hidungnya sekarang sudah merah.


Johan bingung harus menjawab apa.


"Pa-"


"Papah! Ini taro di-" Entah sejak kapan Sarah berada di ambang pintu kamar Vinna dengan tangan yang memegang beberapa belanjaan. Ucapan sayah terpotong saat melihat Alenna dan Johan. Ia bingung kenapa Alenna menangis.


Alenna melihat kearah Sarah, lebih tepatnya pada tangan gadis itu yang tengah memegang banyak belanjaan. Alenna menunduk lalu tersenyum miris. Ia sudah tau, kemana Johan pergi.


Sarah hanya diam, jujur ia juga penasaran dengan apa yang terjadi. Terlebih melihat Vinna yang hanya tidur di atas ranjang, membuatnya semakin bingung.


"Gak usah di jawab. Alenna udah tau" Ketus Alenna menunduk.


"Kamu kenapa? Kenapa nangis?. Terus kenapa mama belum bangun?" Tanya Johan heran. Alenna melirik ranjang Vinna dan otomatis Johan mengikuti arah mata Alenna. Lalu kembali menatap Alenna heran.


"Kenapa?" Tanya Johan kepada Alenna. Sungguh Alenna ingin berbicara, tapi suaranya seolah tertahan untuk berbicara. Jadi ia hanya bisa menangis.


"Jawab apa Alenna!, kamu kenapa?!" Tanya Johan menuntut dengan mengguncang tubuh Alenna.


Alenna menepis tangan Johan kasar dan bangkit dari duduknya.


"PAPA LIAT AJA SENDIRI!. GAK USAH SOK PEDULI! SEMUA UDAH TERLAMBAT" Teriak Alenna sambil menunjuk kearah Karin lalu berjalan dengan terburu-buru ke kamar, saat berpapasan dengan Sarah yang berada di ambang pintu. Alenna memberikan tatapan yang sulit di artikan. Antara marah, sedih, kecewa, atau bahkan dendam. Yang jelas sulit untuk di artikan.


Sarah mengerutkan alis. Ia pun beralih kearah Johan dan ikut melangkah masuk kedalam kamar Vinna.


"Alenna kenapa sih pah?" Johan hanya diam sambil terus memperhatikan Vinna.


Pria itu berjalan mendekat kearah ranjang Vinna dan mencoba membangunkan istrinya. Namun tak ada respon. Pria itu memeriksa denyut nadi Vinna.


Saat itulah ia tahu kenapa Alenna bersikap seperti itu dan menangis dengan terisak. Sumber kebahagiaan nya telah pergi untuk selamanya. Johan terduduk lemas dengan tatapan kosong dan air mata yang lolos begitu saja.


Sarah yang melihat itu semakin di buat bingung, ia pun bertanya kepada Johan namun pria itu tak menjawab sampai akhirnya ia memeriksa sendiri ada apa sebenarnya dengan memeriksa denyut nadi Vinna.


Ia lumayan terkejut saat tahu bahwa Vinna sudah meninggal, tapi keterkejutan itu tak bertahan lama. Karna seulas senyum kemenangan terpampang di wajahnya. Bukankah ini yang ia dan Karin inginkan sejak awal? Kematian Vinna.


Namun mereka harus berakting bahwa mereka juga merasa sedih dan kehilangan, hal itulah yang membuat mereka tidak di curigai.


Flashback end!...


Kini, Johan hanya bisa menyesal dan menyesal. Ia bahkan tidak tahu, apakah ia masih bisa bahagia atau tidak setelah ini. Hanya Alenna dan David yang ia punya sekaligus yang ia percaya. Tak ada yang lain.


Bahkan Johan sendiri tidak tau, apakah Alenna dan David akan memaafkannya atau tidak akan pernah memaafkannya. Johan hanya bisa menangisi takdir yang membuatnya menyesal seumur hidup.

__ADS_1


Andai semua ini hanyalah mimpi buruk yang ku alami saat aku tertidur. Andai semuanya tak benar-benar terjadi, dan andai aku tak hidup di dunia ini. Pasti ini semua tidak akan membuatku menyesal dan terus menyesal.


🌺🌺🌺


__ADS_2