
Acara makan malam telah keduanya lewati, Rey mengulurkan tangannya membawa sang istri berdiri. Reyhan menyematkan kedua tangannya di pinggang sang istri dan Fira menaruh kedua telapak tangannya di bahu Sang Suami.
"Terima kasih untuk kejutannya, Sayang. Ini malam yang paling spesial bagi kita berdua." Reyhan menempelkan kening dia ke kening Fira.
"Jika harus memilih, antara napas dan cinta. Maka aku lebih memilih napas terakhir untuk mengatakan, 'Aku cinta padamu'. Jangan pernah sekalipun kamu berpaling dariku karena mungkin aku tak akan sanggup. Aku ingin selalu bersamamu sampai kelak kita tutup usia."
"Aku tak akan pernah berpaling darimu meski banyak pria yang mendekati. Aku akan selalu bersamamu sampai dimana kita tak bisa lagi membuka mata. Aku harap kamupun sama tak akan pernah berpaling dariku meski tubuh, wajah, dan rambutku mulai berubah."
Keduanya saling memandang dan saling mengungkapkan perasaan.
"Aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, bukan karena fisik mu tetapi karena siapa aku ketika aku bersamamu." Reyhan memegang dagu sang istri, memiringkan sedikit kepalanya kemudian kembali menempelkan benda kenyal milik keduanya.
Kali ini kecupan Reyhan semakin lama semakin menuntut. Tangan Rey sendiri semakin mempererat pelukannya sampai tidak ada jarak dari keduanya. Rey sudah tidak bisa menahan lagi, diapun mengangkat sang istri ala bridal style membawa sang istri ke dalam.
Seperti biasa, keduanya melakukan hubungan suami istri dan seperti biasa, Rey melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan.
Drrrttttt....Drrrrrtttt....
Handphone Fira berbunyi, setelah keduanya selesai membersihkan diri. "Mas, tolong angkat panggilan nya!" ucap Fira dalam pelukan Rey bersiap untuk tidur.
Reyhan kebetulan dekat dengan meja rias dan diapun mengangkatnya. "Halo."
"Halo, Rey. To tolong! Felix...Felix Rey!" suara di sebrang telpon terdengar sangat panik.
"Ada apa dengan Felix, Mah?" Rey menjadi ikutan panik takut anaknya kenapa-kenapa.
"Felix demam dan muntah-muntah, dia terus mengigau nama kamu. Tolong datang kemari bersama Syafira!"
"Baiklah, aku dan Fira akan kesana sekarang juga." Rey pun mematikan panggulannya.
"Sayang, Felix sakit."
"Ayo, Mas. Kita kesana sekarang!" Fira segera bangun dan segera menarik tangan suaminya.
Keduanya langsung meluncur tanpa berganti pakaian dan masih mengenakan pakaian tidur.
****
"Apa kata Rey, Fi?" tanya Dinda pada Sofi.
"Dia dan Fira segera kemari. Ayo kita cepat bersiap pada posisi masing-masing!"
Merekapun bersiap memberikan surprise untuk Reyhan. Dinda juga mengundang teman Rey, Daffa dan Gilang. Doni, dan Nicho pun ikut berpartisipasi dalam merayakan ulang tahun Reyhan.
Daffa, Gilang, Doni, dan Amel sudah siap di dekat pintu masuk. Sedangkan yang lain bersembunyi.
__ADS_1
Ruang tamu sudah di dekor sedemikian rupa. Tirai rumbai berwarna silver bertuliskan happy birthday 29 terpangpang di belakang kursi dekat jendela. Banyak balon berwarna silver dan putih di atas langit-langit. Di atas meja, sudah tersedia juga makanan minuman bahkan piring dan kue.
****
Selama perjalanan menuju apartemen, Reyhan cemas dan panik. Ia ingin segera sampai melihat keadaan anaknya. Fira sendiri terlihat santai karena memang ini salah satu rencana dia.
"Mas, nyetirnya jangan ngebut!" Ucap Fira mengingatkan.
"Aku ingin segera sampai, Ra. Aku ingin melihat keadaan Felix." Rey tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya
"Aku juga sama ingin segera melihatnya, namun kita juga harus hati-hati demi keselamatan kita!"
Reypun memelankan laju mobilnya. Tak lama kemudian mereka sampai. Langkah Reyhan sedikit tergesa ingin cepat sampai dan Firapun mengikuti suaminya.
Rey segera membuka pintu namun ia bingung melihat keadaan di dalam sangat gelap gulita tak ada cahaya sedikitpun. "Sayang, kenapa apartemen nya gelap? mereka pada kemana dan sepertinya tempat ini sepi?"
"Aku juga tidak tahu, Mas." Fira mensejajarkan tubuhnya memegang tangan Rey. "Coba kamu nyalakan lampunya?"
Rey meraba tempat dimana ada saklar lampu ruang tengah.
Ceklek....
"Surprise....!" Orang yang bersembunyi di dekat pintu masuk langsung berkata, 'Surprise'.
Rey sampai terlonjak kaget memegang dada saking terkejutnya. Rey menatap sekeliling ruangan itu, dia tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat dekorasi indah. Dia lupa akan hari ulang tahunnya sendiri dan dia di kejutkan lagi oleh para orang tua yang menyanyikan lagu happy birthday dengan Felix berada paling depan membawa kue tart ulang tahun berwarna putih.
Reyhan menoleh kepada istrinya. "Sayang," lirih Rey terharu dan bahagia.
"Selamat ulang tahun, Mas. Semoga panjang umur, di mudahkan rezekinya, selalu sayang kepadaku dan kepada Felix dan semoga kamu menjadi Suami dan Ayah yang bertanggung jawab." Fira memberikan buket bunga mawar kepada Reyhan lalu mengecup pipi suaminya.
"Terima kasih, aku beneran lupa hari ulang tahun ku sendiri." Rey memeluk istrinya dan mengecup kening sang istri.
"Aaaaaa, so sweet...." Amel menggigit jari telunjuknya saking baper melihat keromantisan sang Kaka.
"Kamu mau? sini aku peluk jaga!" Doni yang ada di dekat Amel mendadak memeluk Amel di hadapan mereka semua.
"Eh, Om! Apaan sih! Jangan peluk-peluk!" Amel mendorong kasar Doni. Wajahnya memberenggut kesal.
"Biar romantis seperti mereka." Jawab Doni cuek.
"Romantis sih romantis, enggak usah maen sosor juga kaliiii!!!!" Amel mencebik kesal.
"Pepet teruuussss, Paman! Sampai dapat!" celetuk Daffa dan Gilang.
"Asyiaappp." balas Doni.
__ADS_1
Para orang tua menggelengkan kepala.
"Ayah, kapan potong kuenya? aku pegal dari tadi pegang ini. Mereka enak nyuruh aku yang pegang." celetuk Felix cemberut dan tentunya kesal.
Yang lain tertawa melihat wajah Felix yang menggemaskan. "Aduh, kasian. Sini, biar Aunty saja yang pegang!" Amel mengambil kue yang ada di tangan Felix.
"Ayah, aku juga mau di peluk dan di sun kaya Bunda! Masa cuman bunda saja!" Felix kembali protes melipatkan tangannya di dada. Pipi Felix mengembung kesal.
Rey tersenyum. "Ya sudah, biar adil Ayah juga memeluk kamu." Rey mengangkat Felix dalam gendongannya lalu mencium seluruh wajah anaknya.
"Selamat ulang tahun ya, Rey." Ucap Dinda di susul oleh yang lainnya.
Para orang tua memberikan ucapan selamat dan memberikan nasehat-nasehat untuk rumah tangga Rey dan tentunya untuk Rey sendiri.
"Daffa, jangan maen colek-colek!" Amel menggeplak tangan Daffa sebab Daffa mencolek kuenya.
"Gue udah ngiler pengen makan kuenya, Mel." Daffa cengengesan.
"Tunggu si Bos dulu lah! Tapi gue juga udah lapar, gue nyicip dikit boleh?" Gilang ikut mencolek kuenya juga.
"Kalian ini, sabar napa! Gue juga sama ingin segera makan kuenya. Tapi tunggu mereka dulu!" Amel, Daffa, dan Gilang saling berbisik.
Doni menggeleng melihat ketiganya.
"Woy, berbisik mulu. Gue denger, mana kado buat gue? dan kamu, Mel. Mana hadiah buat Abang?" Rey menengadahkan tangannya kepada mereka bertiga.
Ketiganya cengengesan karena tidak ada yang membawa kado. "Tidak ada." jawab ketiganya kompak dan Rey mencebik.
"Aku punya hadiah untuk kamu, Mas." Fira menatap penuh cinta suaminya.
"Mana dan Apa hadiahnya?" Rey benar-benar penasaran.
"Ikut aku! Kalian juga boleh ikut! Ini hadiah buat semuanya." Fira menggandeng tangan Rey ke dalam kamar mereka.
Semua orang penasaran karena Fira belum memberitahukan perihal kehamilannya. Dan dia juga mengunci kamar yang ia tempati supaya tidak ada yang membuka kamar itu.
Fira membuka lebar-lebar pintu masuk kamarnya. Rey tertegun, dan semua orang terpaku pada setiap dekorasi dan foto yang tergantung di balon. Perlahan Rey melangkah masuk, dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata kala melihat sebuah foto USG di sematkan dalam balon yang berterbangan.
Tulisan happy birthday menghiasi dinding, di atas ranjang putih di hiasi bunga mawar merah bertuliskan l love U, dan balon berwarna hitam, putih, silver menghiasi langit-langit kamar itu.
"Sayang, kamu...?!"
"Dia sudah ada di sini, Mas." Fira mengambil tangan Rey dan menaruhnya ke perut dia. "Aku hamil anak kita."
Reyhan tidak bisa lagi berkata, ini kado ulang tahun teristimewa dalam hidupnya. Lelaki itu sampai meneteskan air mata bahagia dan dia mengecup seluruh wajah istrinya lalu memeluk Fira masih dengan Felix ada di gendongannya. Ketiganya saling berpelukan.
__ADS_1
Mereka yang ada di sana ikut terharu, terutama para orang tua yang akan kembali mendapatkan cucu.
Dengan adanya anak, Fira berharap rumah tangganya semakin utuh, kuat, dan semakin harmonis. Anak adalah salah satu kekuatan dalam keutuhan rumah tangga. Banyak orang yang bercerai karena menginginkan kehadiran seorang anak, namun itu kembali lagi kepada diri kita masing-masing apakah kita mampu bertahan atau malah tergoda akan sebuah rayuan syetan.