Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Membantu part 2


__ADS_3

Setelah sampai di dalam rumah, ia melihat Dita sedang menonton televisi dan Felix masih tidur, padahal jam sudah menunjukan pukul enam pagi.


Karena merasa gak ada kegiatan, Fira memutuskan untuk ke rumah rumah Bu Siti. Dia melihat suasana rumah Bu Siti masih sepi.


Batin Fira berkata, "Tumben jam segini Pak Komar belum memanaskan mesin angkotnya?"


Fira mengetuk pintu, namun tidak ada sahutan. Setelah beberapa kali mengetuk, Fira memutuskan untuk masuk karena tak ada sahutan dari dalam.


Ia melihat Fadil sedang merapikan tempat tidurnya.


"Fadil," panggil Fira.


"Ka Fira, ada apa? Maaf Fadil gak dengar," jawab Fadil yang merasa tidak mendengar panggilan Fira karena sibuk membereskan rumah.


"Gak pa pa, kemana yang lain, ko sepi?"


"Ibu sama Bapak lagi di rumah sakit Ka, semalam penyakit bapak kambuh," jawab Fadil murung.


"Sakit apa bapak kamu?" tanya Fira khawatir.


"Kata dokter, sakit tipes. Sama maagh kronis, dan bapak harus di rawat."


"Astaga! Di mana alamat Rumah Sakitnya? Ka Fira minta!"


Setelah mendapatkan alamat RS, Syafira memutuskan untuk kesana. Sebelumnya dia menyuruh Felix untuk diam di rumah menemani bu Dita, dan Felixpun mengiakan perkataan bundanya. Fira yakin Felix mampu menjaga Dita karena di situ ada Fadil juga yang ikut membantu.


Dengan bantuan google maps, Fira sampai di alamat yang Fadil berikan. Dia menanyakan kepada resepsionis ruangan atas nama bapak Komar. Setelah mendapatkan informasinya Fira menuju ruangan dimana pak Komar di rawat.


"Permisi," ucap Fira sambil membuka pintu.


Bu Siti menoleh, "Nak Fira!" Siti terkejut melihat Fira ada di RS.


"Maaf bu, Fira gak tahu kalau bapak sakit." Fira merasa bersalah tidak mengetahui ke adaan pak Komar


"Gak pa pa neng, baru semalem bapak sakit, dan kami memutuskan untuk membawa kemari. Mungkin besok juga akan pulang," kata Bu Siti.


"Kenapa pulang? Bapak 'kan belum sembuh benar, Bu!"


"Kami gak punya uangnya neng, biaya rumah sakit 'kan mahal." Bu Siti menundukan wajahnya, dia bingung mendapatkan uang untuk pengobatan suaminya. Dia hanya memegang uang separuh dari biaya pengobatan Komar. Sedangkan sisanya, tidak tahu akan mencari kemana.

__ADS_1


Fira terdiam, kemudian ia pamit sebentar keluar. Dia memutuskan pergi ke tempat pembayaran untuk membayar semua tagihan pak Komar, dan menemui dokter yang menangani pak Komar.


Fira berbicara pada sang Dokter meminta merawat pak Komar hingga benar-benar sembuh. Tanpa Fira ketahui Bu Siti mengikutinya karena Bu Siti penasaran. Dia terharu menangis bahagia, setelah mendengar perkataan Fira dengan Dokter. Siti berfikir masih ada orang yang mau membantu orang miskin seperti mereka.


Setelah selesai Fira kembali lagi keruangan pak Komar. Tapi, ketika masuk, Syafira malah di sambut oleh pelukan dan tangisan Bu Siti, dia bingung dengan apa yang terjadi.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah mau membantu kami, padahal Ibu tahu kamu juga pasti membutuhkannya. Kami janji, kami pasti akan mengembalikannya."


Fira mengurai pelukannya.


"Bu, ibu tidak perlu mengembalikannya! Aku ikhlas memberikannya."


"Tapi itu uang kamu, dan pasti itu uang hasil kerja kamu selama ini."


"Gak pa pa, mungkin itu adalah rezeki untuk keluarga Ibu. Aku masih ada tabungan ko, tenang saja!" Fira meyakinkan Bu Siti untuk tidak menghawatirkan dirinya.


"Oh iya, Bu. Aku memutuskan untuk menjadi sopir angkot selama bapak Sakit hingga sembuh. Agar bapak tetap mendapat penghasilan dan dapat memberikan setoran kepada pemilik angkotnya." Fira meminta izin untuk sementara menggantikan pak Komar menyopiri angkot.


"Kamu tidak perlu menggantikan Bapak, Nak! Pemilik Angkot juga pasti mengerti." Siti menolak keinginan Fira, dirinya merasa tidak enak hati dan dia juga tidak tega melihat wanita secantik Fira menyupiri.


"Ayolah, Bu! Aku tidak apa-apa, aku ingin mencari pengalaman. 'Kan hasilnya bisa kita bagi dua." Fira terus membujuk, dan meyakinkan Bu Siti.


"Boleh ya, pliss." Fira memohon, Bu Siti pun jadi tidak tega, dan akhirnya dia mengangguk mengizinkan.


Senyum Fira mengembang dengan sempurna, dia memeluk Bu Siti sebagai ucapan terima kasih sudah menguzinkan.


"Barang siapa yang meringankan penderitaan seseorang maka Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu mau menolong saudaranya." (HR.MUSLIM)


****


Setelah pulang dari rumah sakit, Fira memutuskan untuk menarik penumpang, tapi sebelumnya ia pulang ke rumah terlebih dulu memberitahukan kepada Felix perihal dirinya menjadi supir dadakan selama pak Komar sakit.


Tanpa di duga Felix ingin ikut, Dita juga ingin ikut. Awalnya Fira melarang, namun saat melihat permohonan mereka, Fira jadi luluh.


Sedangkan Fadil ke rumah sakit menemani ibunya.


Setelah mengantarkan Fadil, Fira tiba di tempat pengeteman. Banyak yang terheran saat melihat angkot pak Komar di sopiri oleh cewek.


"Wih, cantik bener sopirnya, kalau gini terus jadi seger kita," ucap teman pak Komar.

__ADS_1


"Yang seger tuh minum jus jeruk di siang-siang gini, Pak." Fira menjawab, kemudian membagikan minuman jeruk yang ia beli.


"Bisa aja, si neng mah. Terima kasih neng," ucap teman pak Komar menerima botol minuman.


"Sama-sama, Pak."


"Minumannya bagi sama Uti, ya, Nak!"


Fira menyodorkan minuman jeruk kepada Felix untuk di berikan kepada Dita.


"Siap, Bunda."


Karena ingin segera mendapat penumpang, Fira berinisiatif untuk membantu yang lain mendapatkan penumpang.


"Aku bantuin cari penumpang, Pak."


Setelah mobil lain penuh, barulah angkot Fira yang ia saranin.


"Blok M, blok M, blok M. Pusat kota, blok M, pusat kota. Ayo ibu, Bapak, Teteh, Aa, mari naik mobil saya!"


"Pusat kota?" tanya seseorang.


"Iya, silahkan masuk, Mas!" tanpa melihatnya.


Fira terus mencari penumpang. Setelah merasa penuh, Fira menjalankan mobilnya.


Mobil terus melaju, banyak yang naik turun ketika di perjalanan. Tibalah mereka di pusat kota.


"Lho, itu kan Cafe yang di bangun! Ternyata dekat dengan toko mainan, ada kampus juga, bahkan dekat dengan supermarket. Tempat yang pas sekali," batin Fira.


Mata Fira membola ketika melihat bangunan tertera nama Sunshine Cafe & Resto, Fira melihat sekeliling tempat menilai tempat tersebut.


Ketika Rey akan membayar, ia terkejut karena dompetnya tidak ada.


"Dimana dompet gue?" batin Rey.


Reyhan terus meraba setiap saku berharap ada dompet atau uang yang tertinggal di sakunya.


"Aduh, gimana bayarnya? gak ada uang lagi di saku," batin Rey yang sudah mulai gelisah dan malu jika tidak membayar.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2