
Jam kuliah telah usai, Syafira berniat menjemput Felix di toko sesuai yang Amel informasikan jika anaknya ada di toko mainan. Gadis itu terus melangkah mendekati area parkir, tetapi langkahnya di hadang oleh seseorang.
"Syafira tunggu!" Haikal mencegah Fira, lelaki itu berhenti tepat di depan Fira.
"Ada apa?" Fira menatap laki-laki yang berada di hadapannya.
"Minta no hp loe dong! Kita 'kan tetangga, masa tidak bertukar nomor." Haikal menyodorkan benda persegi di hadapan Jamu yang membuatnya penasaran.
Fira melirik ke arah tangan Haikal lalu menatap ke wajah Haikal. "Maaf, aku tidak punya no hp." tolak Fira halus.
"Gue tidak percaya, masa di zaman sekarang loe tidak punya handphone. Ayolah!" pintanya memelas.
"Saya tidak punya no hp untuk di bagikan kepadamu. Maaf, saya sibuk!" sahut Fira cuek lalu melangkah menubruk bahu Haikal yang sudah menghalanginya.
"Ck, Syafira, gue tidak akan menyerah! Loe akan bertekuk lulut di hadapan gue!" teriak Haikal.
Syafira terus melangkah, mengangkat tangan dan mengibaskan tangannya. "Coba saja kalau bisa!" jawab Fira tak kalah keras.
"Hahaha baru kali ini loe di tolak bro. Apa gue bilang, dia wanita berbeda, dia tidak akan mudah luluh." Sahut Dirga temannya Haikal. Lelaki itu terus menertawakan gegagalan Haikal mendekati Jamu.
"Ck, gue akan tunjukan jika gue mampu membuatnya jatuh cinta padaku!" cebik Haikal.
Dirga merangkul pundak Haikal lalu menepuk-nepukan pundaknya. "Coba saja kalau bisa!" ucapnya menirukan gaya bicara Syafira.
Haikal mendelik kesal.
****
"Mel, ku kira kamu sudah pulang!" Fira kaget melihat Amel berada di dekat angkotnya.
"Aku nungguin kamu, mau nebeng soalnya." Amel nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
Fira tersenyum menggelengkan kepala. "Ya udah, ayo! Aku jika mau jemput Felix, setelahnya mau kerumah sakit menjenguk pak Komar"
Fira masuk, dan Amelpun ikut masuk.
"Siapa pak Komar?" tanya Amel ketika Fira sudah menjalankan mobilnya.
"Dia supir angkot yang aku bawa. Aku menyewa angkotnya selama beliau sakit."
Amel manggut-manggut.
****
__ADS_1
"Halo," sapa seseorang dari sebrang telpon.
"Iya, halo."
"Kamu dimana sekarang, Don?"
"Aku di apartemen, ada apa?" jawab Doni sambil mengangkat barbel.
"Kita ketemu sekarang di Cafe xx!"
Tut...panggilan di matikan secara sepihak. Doni berhenti dari kegiatannya. "Kebiasaan."
Donipun segera bersiap-siap, setelah selesai lelaki berumur 33 tahun itu segera meluncur ke TKP.
****
"Fira, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Silahkan!" jawab Fira simpel, matanya dan tangannya terus fokus ke jalan sesekali melihat ke spion belakang.
"Hmmm, kamu ketemu Bang Rey dimana?" Amel penasaran, dia ingin tahu dan ingin memastikan apa benar cewek gila yang di maksud Abangnya Syafira yang ia kenal.
"Ohh, itu. Waktu itu aku tidak sengaja ketemu dia di Cafe, bahkan kami sempat bertengkar." Syafira menceritakan awal pertemuannya dengan Reyhan, bagaimana kejadiannya dan apa saja yang mereka alami ia ceritakan dengan jujur.
"Kau tahu, dia pria paling menyebalkan yang pernah aku temui selama hidupku." Fira terkekeh mengingat kembali pertemuannya. Seketika mata Fira terfokus saat melihat seseorang yang ia kenal. "𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘯𝘪?"
Sejenak Fira memarkirkan mobilnya ingin menghampiri Doni. "Kita makan dulu, ya! Aku lapar." ucap Fira cengengesan, padahal dia ingin menghampiri Doni.
"Baiklah, aku juga lapar."
Kedua gadis remaja itu turun lalu masuk kedalam Cafe. Fira segera menarik Amel mencari tempat duduk agar tidak di ketahui oleh Doni. "𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘶𝘪?" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘳𝘢.
Langkah Fira tiba-tiba saja berhenti. "𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢?" Fira mencari cara agar bisa duduk di samping meja yang Doni tempati.
Fira memegang tasnya, lalu sebuah ide muncul di benaknya. Fira mencari sesuatu di dalam tas itu dan memakainya. Dia mengenakan kacamata hitam, topi pria, lalu kancing kemejanya ia kancingkan.
Amel mengernyit bingung. "Kamu kenapa merubah penampilanmu?" tanya Amel bingung.
"Sssttt, aku harus memastikan sesuatu. Kamu pura-pura jadi pacar aku, ya!" bisik Fira.
"Hah! Jangan aneh deh! Kita ini perempuan, Syafira!" jawab Amel ikut berbisik.
"Ayolah! Bantu aku!" Syafira memelas kepada Amel. "Kelamaan mikir, turuti saja perintahku, ok!" Fira menarik Amel melewati meja yang di tempati Doni.
__ADS_1
Lalu Fira duduk, dan Amelpun duduk di samping Syafira. "Mel, senderkan kepalamu di bahuku!"
"Kau itu mau ngapain, sih?"
"Cepetan, Mel!" pinta Fira.
Amel membuang nafas nya kesal. Diapun menyenderkan kepalanya di bahu Syafira. Dari belakang mereka berdua terlihat seperti pasangan kekasih karena Fira tidak kelihatan sebagai wanita.
"Ada apa Mbak memanggulku? Nanti suamimu mencarimu!" tanya Doni.
Amel dan Fira saling pandang mereka berpikir jika wanita itu selingkuh dari suaminya.
"Suamiku tidak akan mencariku. Dia tahunya jika aku jalan-jalan bareng supir." Jawabnya sambil mengunyah kentang goreng.
"Istri nakal." sindir Doni terkekeh.
Amel dan Fira terus mendengar pembicaraan orang yang berada di belakangnya. Amel jadi ikut penasaran siapa orang yang sedang Fira selidiki.
"Don, kamu harus lebih menjaga Syafira, dia sekarang dalam bahaya. Kemungkinan mereka akan terus berusaha menyingkirkan Syafira. Aku tidak mau putriku terluka lagi!" ucapnya penuh peringatan.
Amel menatap Syafira penuh tanya, "Apakah Syafira yang di maksud itu, kamu?" bisik Amel.
"Aku tidak tahu!" jawab Fira pelan. "𝘗𝘶𝘵𝘳𝘪𝘬𝘶! 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶?" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘳𝘢.
"Aku sudah berusaha melindungi keponakanku dari mereka. Selebihnya Syafira sendiri yang harus berhati-hati."
"Mbak tahu jika putriku memiliki kemampuan beladiri yang luar biasa. Tapi kita juga harus hati-hati, Syafira keturunan Alexander pewaris tunggal kekayaan Albern Alexander. Saat ini nyawanya terus di incar oleh Kaka sepupuku sendiri, jika Syafira tiada seluruh kekayaan itu akan jatuh ke tangan mereka."
Amel membolakan matanya. "𝘒𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘣𝘦𝘳𝘯 𝘈𝘭𝘦𝘹𝘢𝘯𝘥𝘦𝘳? 𝘐𝘵𝘶 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦 𝘈𝘴𝘪𝘢! 𝘈𝘱𝘢 𝘴𝘺𝘢𝘧𝘪𝘳𝘢 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢?" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘮𝘦𝘭.
"𝘈𝘭𝘣𝘦𝘳𝘯 𝘈𝘭𝘦𝘹𝘢𝘯𝘥𝘦𝘳! 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶? 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪." 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘚𝘺𝘢𝘧𝘪𝘳𝘢.
Doni menyenderkan punggungnya ke kursi, lelaki itu menghelakan nafasnya secara kasar. "Aku tidak mengerti, kenapa Dia begitu gila harta. Padahal harta tidak akan di bawa mati. Sudah mendapat bagian, masih saja menginginkan bagian yang lain. Bahkan kau harus menyembunyikan Syafira dari kebiadaban mereka. Tapi sekarang, keberadaan Syafira sudah mereka ketahui."
"Itu sebabnya kita perketat penjagaan. Jaga dia dari jauh agar tidak membuat orang lain curiga jika, Aurelia Syafira bukan janda biasa." perintahnya.
"Baiklah, aku akan menyuruh Leo dan Alex untuk masuk kuliah juga agar bisa menjaga Syafira dari dekat. Selebihnya akan ku taruh anak buahku dari jauh." Pungkas Doni menyetujui rencana Kakanya.
"Iya, itu jauh lebih bagus."
Kedua orang itu terus berbicara kesana kemari, tanpa mereka sadari ada yang mendengar pembicaraan keduanya.
Syafira berdiri lalu menarik Amel meninggalkan tempat itu. Doni menggeleng melihat dua orang yang ia sangka pasangan kekasih. "𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘴𝘳𝘢-𝘮𝘦𝘴𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘶𝘮𝘶𝘮. 𝘊𝘬, 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘪𝘫𝘪𝘬𝘢𝘯." 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘬𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
__ADS_1
Bersambung....