
Felix kini berada di rumah Mahardika, anak kecil itu terus meneliti setiap bangunan yang ada. Matanya begitu takjub akan kemewahan yang tertera di setiap sudut ruangan.
"Ada apa?" tanya Dika.
"Lumahnya kaya istana," celetuk Felix.
Dika terkekeh, dia merasa gemas melihat kepolosan dan kejujuran Felix.
"Ayo masuk! Kita main ya, ayo main!" Dita menuntun Felix membawa mereka masuk.
"Ayo, kita suit dulu, siapa yang kalah halus jaga, bagaimana?" kata Felix.
"Iya, ayo, suit," balas Dita tepuk tangan.
Dita dan Felix melakukan suit, dan ternyata Felix yang kalah. Jadi, Felixlah yang jaga.
Sedangkan Dika terus memperhatikan wajah sang istri, ia bisa melihat jika Dita menyukai Felix. Kemudian dia duduk untuk memperhatikan tingkah mereka sambil mengerjakan laporan.
Mereka berdua sedang melakukan permainan petak umpet, Felix terus mencari kesana kemari. Dita terkikik di balik sofa dekat jendela karena dia merasa jika Felix tidak akan menemukannya. Padahal Felix hanya pura-pura tidak tahu.
"Uti, Uti di mana?" pekik Felix pura-pura mencari, padahal Felix diam-diam menghampiri Dita.
"Dol, ketahuan," ucap Felix terkekeh.
"Yaah.. ketahuan," kata Dita lesu.
"Hahaha Uti kalah,"
"Iihhh Felix curang," tuduh Dita merasa tidak terima cepat di temukan.
"Aku tidak culang, Uti! Uti kalah, Uti kalah," jawab Felix.
Dita mengejar Felix karena di ledek sesekali menggelitikanya, mereka tertawa bahagia layaknya cucu dan nenek. Dika ikut tersenyum melihatnya, dia berpikir jika kehadiran Felix membawa kebahagiaan tersendiri bagi Dita.
Felix terus berlari menghindari Dita, tetapi tubuh kecilnya tidak sengaja menabrak seseorang ketika berada di dekat pintu masuk.
"Apa-apaan ini? kau siapa? berisik sekali, pergi sana! Ini bukan tempat penitipan anak," ucap Bela.
"Ehh, ada nenek sihil. Ngapain disini?" tanya Felix sinis.
Bela memicingkan mata kemudian matanya melotot kaget.
"Ck, anak bandel ternyata, pergi! Ini bukan tempat kamu, orang miskin seperti kamu tidak pantas di sini!" usir Bela.
Felix menatap Bela tajam, lalu dia mengitari tubuh Bela.
"Hey, hentikan!" bentaknya. "Pergi!" Bela menangkap Felix untuk membawanya keluar. Tapi tiba-tiba Felix menggigit tangan Bela dengan kencang hingga berbekas.
Bela teriak kesakitan membuat Dika yang berada di ruang keluarga keluar, dan Dita sendiri sudah gemetar ketakutan.
"Ada apa ini?" tanya Dika menghampiri.
"Jahat, dia jahat. Usir cucuku, aku takut," ucap Dita menyembunyikan tubuhnya di belakang Dika.
"Dia anak kecil, Bel. Jangan kasar sama dia!" kata Dika.
"Dia yang bandel Om. Dia itu anak seorang janda pelakor miskin," jawab Bela kesal.
__ADS_1
"Tante jangan csembarangan kalau bicala, itu fitnah. Bunda bukan janda pelakol!" Felix berucap menahan amarah dia tidak suka bundanya terus di hina.
"Ck, anak haram, gak tau diri," umpat Bela.
Dengan marah Felix mengambil tas bela lalu membuang tas itu hingga berantakan.
"Heeei," bentaknya. "Tas itu mahal, kau tidak mampu untuk membayar," ucap Bela marah berusaha membereskan isi dalam tasnya.
"Dia codala om?" tanya Felix menatap Dika.
Dika mengangguk.
"Nenek sihil sepeltinya tidak pantas jadi sodala Om. Dia sepelti mostel," kata Felix menatap polos ke arah Dika.
Bela yang mendengar perkataan Felix murka, ia bangun dan ingin menampar anak kecil itu. Tapi tangannya keburu di cekal oleh Dita.
"Jangan pukul cucuku!" ucap Dita menatap tajam Bela. Dita langsung melepaskan cekalannya dan kembali sembunyi di belakang tubuh Dika.
"Dia anak kecil. Jangan main kasar," Dika tidak suka sifat Bela yang kasar terhadap anak kecil.
Felix meledek Bela dengan menjulurkan lidahnya tanpa sepengetahuan Dika.
"Dia kurang ajar padaku, Om. Aku harus kasih dia pelajaran!" Bela berusaha untuk menangkap Felix tapi kali ini Dika yang mencegah.
"Bela cukup! Jangan bikin kekacauan di sini, pergi kamu!" Bentak Dika.
"Kenapa Om malah membelanya? Aku keponakanmu dan kau malah membela anak sialan itu. Akan ku adukan pada Papa!" ancamnya. Kemudian dia pergi dengan amarah meninggalkan kediaman Mahardika.
Dika menghelakan nafasnya. "𝘗𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵𝘬𝘢𝘯," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘋𝘪𝘬𝘢.
****
"Kau ini kenapa? Pulang malah marah-marah!"
"Aku marah kepada Om Dika. Masa dia lebih membela anak janda itu daripada aku," umpat Bela mengadu.
"Janda siapa?" Elsa menaruh benda yang ia pegang di meja lalu menatap Bela penuh tanya.
"Janda yang waktu itu kita ketemu di mall. Dia yang kata Bu Ratih janda pelakor itu." Jelas Bela mengingatkan.
"Yang benar kamu? Kenapa bisa anaknya ada di rumah Dika? Kenal dari mana dia?" Elsa terkejut, dia tidak yakin janda miskin seperti Fira bisa kenal dengan Dika.
"Aku juga tidak tahu. Apa dia menggoda Om Dika, Ma?" ucap Bela penuh curiga.
"Bisa jadi seperti itu! Janda itu pasti hanya menginginkan uang Dika saja. Istrinya 'kan gila, jadi dia bisa memanfaatkan itu!" pekik Elsa karena kaget.
"Iya iya, Mama benar."
****
kediaman Dika.
"Kita belum berkenalan dari tadi, siapa nama kamu?" tanya Dika sambil makan siang.
"Namaku Felix Nicholas Saputra," jawab Felix dengan lancar menyebutkan huruf R dan S.
"𝘕𝘪𝘤𝘩𝘰𝘭𝘢𝘴 𝘚𝘢𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢!" 𝘨𝘶𝘮𝘢𝘮 𝘋𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪.
__ADS_1
"Lalu papamu di mana?" tanya Dika kembali sambil mengunyah.
"Papa ku cudah bahagia di culga baleng Mama," jawab Felix.
Dita yang ada di samping Felix mengusap rambut kriting Felix. Dika terdiam, dia menaruh sendok dan garpu lalu minum.
Dita melihat Dika ingin bertanya kembali, namun Dita segera mengalihkan perhatian mereka.
"Uti udah makannya, sekarang kita main tebakkan yuk!" ucap Dita.
"Ayo, aku dulu ya," ucap Felix semangat. "Om, Uti, coba tebak! Hewan, hewan apa yang gak ada giginya?" tanya Felix pada Dika dan Dita.
"Hewan? katak," jawab Dita.
"Salah," balas Felix menggerakkan telunjuknya.
"Kupu-kupu, ular, burung," timpal Dika.
"Saaalahh."
"Terus apa?" tanya Dita bingung.
"Hewannya ompong. Jadi, gak ada giginya," kata Felix terkekeh..
Dita tertawa sedangkan Dika hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Mana ada hewan ompong, emangnya dia manusia."
"Ada Om. Hewan yang balu tumbuh gigi telus giginya ompong kalena halus ganti gigi, kita juga sama bisa ompong, belalti hewan juga bisa ompong." Jelas Felix penuh percaya diri.
Dita tertawa sambil tepuk tangan mendengar Felix bicara.
"Coba tebak lagi, binatang apa yang paling panjang?" tanya Felix kembali.
"Uti, jawab ular," Dita ikut menjawab.
"Iya, ular, ular 'kan panjang," timpal Dika membenarkan.
"Kulang tepat, gimana nyelah?"
"Nyerah deh," kata mereka menyerah.
"Jawabannya, ulal yang ngantli belas," kata Felix terkikik.
"Ko bisa ngantri belas? emang ular suka makan beras ya, Mas?" Dita bertanya pada Dika dengan polos.
"Bisa juga, mungkin ular nya lagi ngantri beras yang dari pemerintah kali," celetuk Dika tersenyum.
"Ooohhh gitu ya," ucap Dita yang mangguk-mangguk, sedangkan Felix dan Dika tertawa melihat kepolosan Dita.
Tak terasa waktu sudah sore, kehadiran di kediaman Mahardika membuat kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Mereka bercanda, berbicara ngaler ngidul, bahkan Felix juga tidur siang di temani Dita.
Bersambung....
****
Maaf ya, jika melenceng. hari ini cukup pusing mikirin alurnya. Jadi, apa saja yang ada di fikiran aku tulis. 😅🙏🙏 dan hasilnya seperti di atas.
__ADS_1