
"Aku ingin pesta pernikahan ku sangat meriah, Mah. Kalau bisa undang para awak media agar mereka tahu bahwa anak orang terkaya di kota J menikah dengan anak pengusaha mainan se kota J."
"Kamu tenang saja, Mama sudah merencanakan semuanya, Mama juga sudah menyiapkan tempat bulan madu untuk kalian. Besok kita akan melihat hasil dekorasinya dan lusanya kamu akan menikah di liputi langsung oleh awak media." Elsapun menjelaskan setiap rangkaian acara kepada Bela. Dengan antusiasme yang luar biasa Bela begitu memperhatikan dan membayangkan seperti apa kenyataannya.
"Aku sudah tidak sabar menunggu besok lusa, pasti aku akan menjadi wanita tercantik di sana." Bela senyum-senyum sendiri membayangkan dirinya bisa bersanding dengan Reyhan.
"Astaga! Mama lupa belum ngasih tahu Papamu." Elsa mengambil telepon genggam lalu menelpon sang suami.
"Halo, Pah. Kapan pulang?"
"Mungkin seminggu lagi, masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan." Hendra sedang berada di luar kota mengurus kerjasama dengan pihak pembangunan apartemen.
"Bisa tidak pulangnya besok? lusa Bela akan menikah dengan Reyhan. Kami butuh kehadiran mu di samping kami."
"Akan ku usahakan pulang." "Ssssttthh.."
"Papa sedang apa?" tanya Elsa penasaran dengan suara seseorang seperti sedang dalam situasi menahan de***an.
"Ah, tidak sedang apa-apa. Papa hanya sedang mengulum lolipop jadi terdengar seperti suara aneh." Hendra mengelak. "Sudah dulu, Mah. Papa mau melanjutkan dulu pekerjaan, nanggung soalnya." Hendra mematikan lebih dulu panggilannya.
"Pah, halo Pah, halo! Ck, malah di matikan." Cebik Elsa.
"Apa katanya, Mah?" tanya Bela penasaran.
"Nanti di usahakan."
****
Di tempat yang berbeda
"Terus baby puaskan om sampai loyo." Racaunya menahan sesuatu yang terasa di ujung tanduk.
"Ssssttthh, siap Om. Bayarannya harus doble karena aku yang main, om hanya berbaring, duduk, meremas, mengulum asetku seperti lolipop."
__ADS_1
"Akan saya berikan asalkan kau mampu memuaskan om."
****
Serangkaian acara telah selesai di laksanakan. Kini Rey dan Syafira resmi menyandang status suami istri. Semua orang memberikan selamat kepada kedua mempelai pengantin.
"Selamat ya, Sayang. Mama harap kamu mampu menjadi istri yang bisa menyenangkan suami, menerima suami dalam hal apapun, menjadi istri yang patuh terhadap suami di dalam hal kebaikan." Sofi memeluk Fira, matanya sudah meneteskan air mata haru melihat adiknya Mita sudah menemukan tambatan hati.
"Iya, Mah. Aku akan mengingat semua nasehat Mama, dan aku juga berterima kasih karena Mama sudah bersedia menerimaku, menyayangiku dengan segenap hati Mama walaupun Mama tahu aku bukan anak Mama. Sekali lagi terima kasih." Gadis yang sudah tak sendirian lagi begitu erat memeluk wanita di hadapannya. Dia tidak bisa menahan tangis bisa bertemu wanita sebaik Sofi.
Reyhan yang berada di sampingnya mengusap-usap punggung sang istri, meski dalam pikiran banyak pertanyaan mengenai Istrinya, Rey berusaha untuk tidak membahasnya sekarang.
Fira mengurai pelukannya dan beralih menatap Orang tua kandungnya. "Daddy, Mami." Dita langsung saja memeluk putri kesayangannya.
"Semoga kamu bahagia, sayang. Maafkan Mami belum bisa membuatmu bahagia, maafkan Mami karena sudah menitipkanmu pada asisten kita. Mami sayang sama kamu sampai harus melakukan tindakan itu. Sekarang kamu sudah dewasa dan sudah resmi menjadi seorang istri, Mami berharap kamu dan Reyhan bahagia selalu." Dita juga tidak bisa membendung air matanya. Baru saja kemarin bertemu putri kandungnya dan sekarang harus melihat ia di bawa suaminya.
Giliran Dika yang memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Dika mengambil tangan Fira dan Rey lalu di genggam menjadi satu. "Daddy hanya berdoa semoga kalian mampu melewati setiap cobaaan dalam rumah tangga. Janganlah kalian membawa masalah di dalam rumah tangga kalian ke luar rumah, sebab jika sudah keluar maka akan banyak orang yang berusaha mencari celah untuk memisahkan kalian. Reyhan, Daddy minta sama kamu untuk selalu menyayangi dan mencintai putriku. Saya titipkan dia padamu secara baik-baik dan jika nanti kamu ingin mengembalikannya, kembalikan dia pada kami secara baik-baik pula."
"Aku tidak bisa berjanji dalam segalanya, namun aku akan terus berusaha membahagiakan dia dan menyayanginya sampai aku tutup usia." Reyhan menjawab ucapan Dika dengan sungguh-sungguh.
Reyhan menelan ludahnya secara kasar. Dia menjadi takut kalau sampai berbuat salah bisa habis. "𝘔𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘵𝘶𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪."
Dika menyeringai, dia tahu jiga saat ini Reyhan sedang gelisah akibat ulahnya.
"Akhirnya, Abang ku tidak jomblo lagi. Aacieeee punya istri." Celetuk Amel menjahili sang Abang.
"Iya dong, sekarang Abang punya ayang untuk di pamerin di depan kamu." Reyhan merangkul pinggang Fira dan dengan songongnya dan bangga Rey memamerkan Fira pada semuanya. "Abang bisa begini, bisa begini, atau lebih dari ini juga bisa." Reyhan memeluk Fira, mengecup pipinya. "Lah kamu, kasian gak punya ayang." Reyhan tertawa bahagia bisa membuat adiknya mati kutu.
"Iiissh, Abang durhaka. Awas ya, aku akan balas Abang kalau aku sudah punya ayang." Amel memberenggut kesal di ledek sang Abang.
"Kamu sama aku saja." Celetuk Doni yang kebetulan berada di samping Amel.
"Nah, ide bagus. Kamu sama dia saja sama-sama jomblo." Reyhan semakin jahil untuk mengerjai adiknya.
__ADS_1
"Aku sama om-om ini? iiihhhh ogah!" cebik Amel.
"Hei, aku bukan om-om ya! Enak saja kau bicara seperti itu dasar bocah." saut Doni tidak terima dirinya di katai om-om.
Para orang tua di sana tersenyum bahagia melihat perdebatan kecil antara mereka. Tidak dengan Arman yang terus saja melihat Sofi.
"Ka, apa kabar? apa kamu tidak mengenaliku?" Sofi menyadari jika Arman terus memperhatikannya.
"Ka kamu Sofi adikku? wajahmu begitu mirip dengannya." Arman terbata saat berucap, dari tadi dirinya sangat penasaran.
"Bunda, Ayah, aku mau bobo." Bocah kecil yang berada di pangkuan Doni merengek minta tidur.
"Kamu Bobonya sama Uncle om saja ya," bujuk Doni.
"Tidak mau, aku mau sama Bunda dan Ayah." Felix menolak tegas ajakan Doni.
"Tidak apa, sini sama Ayah." Rey mengambil Felix dan memangkunya.
"Kalian istirahat juga, ini udah malam sekali, pasti kalian capek." Usul Dita kepada Doni dan kepada para tamunya.
"Cieee malam pertama," goda Amel.
Pletak... sebuah sentilan keras di layangkan seseorang ke kening Amel.
"Aduuhhh, apaan sih om, maen sentil anak orang saja?" Amel memberengut mengusap keningnya.
"Kamu yang apaan, sudah tau ini malam pertama mereka masih saja di kecengin."
"Terserah aku dong. Atau....om juga mau lagi?" Amel memicingkan mata curiga. "Hahahaha aku lupa, om kan tidak punya ayang. Kasian tidak punya ayang. Ciee jomblo tak laku" Gelak tawa Amel pecah menyadari kalau Doni juga jomblo.
Doni menggeram kesal. "Dasar bocah."
"Biarin bocah, yang penting bocah juga sudah bisa bikin bocah. Apa om mau bikin bocah?" sahut Amel menarik turunkan alisnya seolah menggoda Doni.
__ADS_1
Pletak....
Bersambung....