
Para preman itu bangun dan ingin membalas keduanya secara bersamaan. Secepat kilat Fira memegang kedua sisi bahu Rey dan ia melompat lalu Rey langsung memeluk pinggang Fira memutarnya sampai kaki Fira menerjang kuat wajah para preman.
"Waw, kau hebat sayang." Reyhan menurunkan Fira dan mengecup singkat bibir sang istri.
"Kamu juga hebat, nanti aku akan memberikan servis terbaik lagi." Fira mengerlingkan matanya menggoda sang Suami.
"Sayang," Reyhan meradang. Dia ingin sekali memakan istrinya sekarang juga.
Salah satu dari mereka mendapatkan pesan masuk. "Mundur!" pekik sang bos preman. Dan mereka segera kabur meninggalkan tempat itu.
"Lihatlah! Mereka langsung kabur karena takut ku hajar." Ucap Reyhan membanggakan dirinya.
"Ini aneh, Mas. Aku merasa ada sesuatu di balik ini semua." Fira melepaskan diri dari pelukan suaminya dan membenarkan kursi yang tergeletak di bawah.
Para pegawai Fira juga ikut membereskan tempat itu.
"Apa ini ada kaitannya dengan Nenek?" kata Rey.
Fira yang sedang berjongkok mengambil kursi pun mendongak. "Aku belum tahu pasti, Mas."
"Mbak, apa ada barang yang hilang?" tanya Fira kepada Rani yang kebetulan ikut membantu membereskan cafe itu.
"Tidak, Ra. Semua barang berharga aman. Cuman, aku melihat ke anehan saat salah satu dari mereka membaca pesan masuk dan mereka langsung kabur meninggalkan tempat ini." Rani sempat melihat salah satu dari preman itu membuka handphone.
"Hhmmmm, kita harus cari tahu, Sayang." Sahut Rey penasaran kiranya siapa dalang dari semuanya.
Fira berpikir tanpa sengaja tangannya memegang pecahan gelas saking pokusnya memikirkan rencana Hendra.
"Aaaaawww," pekik Fira. Jari telunjuknya tergores sampai mengeluarkan darah segar.
"Sayang!" Rey segera mengambil jari itu dan menyesap darahnya kemudian ia buang ke pinggir.
Deg!...
Jantung Fira berdetak tak menentu, ada rasa gelisah yang ia rasakan ketika pikirannya tertuju ke Mama Sofi dan anaknya.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Rey memastikan karena Fira tidak bergeming dari jongkoknya.
Fira tersadar dari lamunannya. "Aku tidak apa-apa, Mas."
Handphone Fira berdering, lalu dia mengangkatnya.
"Ra, kami kecolongan. Sepertinya ini semua di rencanakan dan kami tidak bisa menyelamatkan Mama mu."
"Maksudnya Mama berhasil di bawa?" tanya Fira terkejut.
__ADS_1
"Benar, Ra."
Kembali ada panggilan masuk dan kali ini dari Dika. "Bentar, Bang. Daddy menelpon ku." Fira pun mengangkat nya.
"Halo, Dad."
"Fira, tolong Daddy mereka menculik Felix!" ujar Dika khawatir.
"Apa?! kok bisa?!" Fira bangkit dari jongkoknya dia memberikan isyarat kepada pegawainya untuk mengurus kekacauan yang terjadi.
"Kenapa, Sayang?" tanya Rey ikut berdiri.
"Kalau gitu aku akan segera kesana!" Fira mematikan sambungan telepon nya. "Mama Sofi dan Felix di culik."
"Apa?!" Rey benar-benar terkejut.
"Mbak, aku ada urusan, tolong handle semuanya!" kata Fira kepada Rani. Wajah Fira sudah tegang, raut wajahnya berubah tegang.
"Baik, Ra."
"Ayo, Mas. Kita pulang ke rumah Mami!" Keduanya pun segera meluncur ke rumah Dika.
****
"Dad, Mami kenapa?" Fira menjadi khawatir.
"Dia kena pukulan dan sampai sekarang belum juga bangun.
"Kenapa ini bisa terjadi?"
Dikapun menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi tadi di rumahnya.
"Apa kalian tahu mereka membawanya kemana?" Fira sudah gelisah dan cemas dia menatap serius Alex.
"Kami tidak tahu, Ra. Kami kehilangan jejak mereka." Alex merasa bersalah tidak bisa menyelamatkan Felix.
Fira membuang nafas secara kasar. Tidak berselang lama Leo juga bergabung bersama Fira. Dia masuk bareng Reyhan.
"Bang, bagaimana bisa Mama Sofi ikut di bawa?" dari tadi Fira sudah penasaran ingin bertanya.
Leo menceritakan apa yang mereka alami. "Jadi kemungkinan nyonya Saras ikut andil dalam penyerangan ini dan bisa jadi dia ikut merencanakan segalanya," kata Leo.
Fira kembali menarik nafas lalu membuangnya. "Terus rumah Papa Arman bagaimana?"
"Rumah itu aman, sepertinya mereka hanya mengincar nyonya Sofi dan kamu." Leo menyimpulkan segalanya.
__ADS_1
"Sudah ku duga." Fira memejamkan matanya mencoba berpikir dalam ketenangan.
"Sayang, apa kamu pusing?" Rey memijat kening Fira.
Fira memegang tangan suaminya supaya Rey berhenti memijat kening dia. "Tidak, Mas. Aku hanya butuh ketenangan saja karena butuh pikiran yang tenang untuk menyusun sebuah rencana menyelamatkan mereka."
****
"Kita berhasil, Mahendra. Saya sudah membawa dia ke tempat yang kau inginkan. Sekarang giliranmu memberikan uangnya." Saras duduk di pinggir ranjang dekat Sofi. Dia memperhatikan wajah cantik sang anak. Meski Sofi sudah berumur 46 tahun namun wajahnya seperti masih berumur 35 tahunan.
"Kerja yang bagus. Anda ternyata cerdik juga. Saya ingin Sofi terjaga dengan aman dan pastikan dia tidak bisa kabur!" kata Hendra di sebrang telpon.
"Saya jamin anak ini tidak akan bisa kabur. Saya tunggu uangnya!" Saras mematikan sambungan itu. Dia menatap wajah Sofi.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu harus mengorbankan kamu demi menghidupi kehidupan Ibu karena Arman sudah tidak lagi memberikan Ibu uang sejak terbongkarnya ke burukan Bela." Gumam Saras, hati kecilnya menolak melakukan tindakan ini. Namun kebutuhannya yang glamor membuat dia enggan mendengarkan kata hatinya.
Saras mengusap rambut anaknya dan dia meninggalkan tempat itu.
Tanpa Saras sadari, ada orang yang mengikutinya sampai ke tempat di mana dia berada. Orang itu mengendap masuk dan melemparkan sesuatu ke setiap penjaga rumahnya.
"Kenapa rasanya ngantuk sekali, padahal masih pukul 2 siang." Kata penjaga yang berjaga di depan rumah kosong jauh dari kota dan keramaian.
"Iya, saya juga mengantuk. Saya tidur dulu sebentar." Karena ngantuk semakin menyerang membuat orang-orang suruhan Hendra terkapar tidur sambil duduk menyenderkan punggungnya ke dinding.
"Bagus, tidurlah yang nyenyak!" ucap seorang pria.
"Selanjutnya kita ngapain, Bos?" tanya pria di sebelahnya.
"Menyelamatkan wanita itu! Saya tidak habis pikir kenapa bisa, Ibunya Arman menculik wanita itu? apa kesalahannya dan apa yang di rencanakannya?"
"Saya juga tidak tahu, Bos."
"Hhhmmm, kau tunggu di sini dan kasih tahu saya jika ada sesuatu yang mencurigakan!" perintahnya.
Pria itu celingukan dan mengendap-endap supaya tidak di ketahui orang lain. Merasa sudah aman, dia masuk ke ruangan dimana Sofi terbaring. Perlahan dia mendekati ranjang dan berdiri di dekat Sofi. Dia menatap intens wajah wanita yang selama ini ia cari.
"Aku menemukanmu, tidak akan ku biarkan kau pergi lagi dari hidupku. Kehadiranmu mampu membekas di ingatanku dan sangat sulit melupakan kejadian itu. Aku minta maaf atas segalanya, Nona." Dia mengusap pipi Sofi lalu membawa pergi Sofi dari tempat itu.
****
Mahendra menggoyangkan kursi yang ia duduki. Matanya terpejam, bibirnya tersenyum. "Sebentar lagi semua rencanaku berhasil. Sofi akan ku miliki dan Syafira akan mati." Sudah banyak rencana yang ia susun. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, begitulah pikiran Mahendra.
Hendra tidak tahu saja jika Sofi berhasil di selamatkan oleh pria misterius.
Bersambung....
__ADS_1