
"Di dia?" Dika bergetar melihat foto gadis cantik yang selama ini sering menemui mereka.
"Dia putri kita. Lihatlah baik-baik!" Dita menjelaskan kapan semua foto dan rekaman itu di ambil, waktu bahkan tempatnya pun di jelaskan oleh Dita.
"Ja jadi putriku masih hidup? di dia dekat bersama kita?" Dika gemetar, matanya berkaca-kaca menahan haru. Anak yang di sangka tiada ternyata masih hidup.
"Lalu, kenapa Mas Mahendra berusaha menyingkirkan anakku?" tanya Dika setelah bisa menguasai keterkejutannya.
"Harta. Dia mengincar harta milik putriku. Mahendra takut jika perusahaan yang selama ini di kelola olehnya di ambil kembali oleh pemilik sah. Syafira baru bisa mengelola dan menjadi pemimpin perusahaan kalau umurnya sudah 18 tahun. Maka dari itu Kakamu berusaha menyingkirkan Fira karena takut perusahaan di ambil alih oleh putriku. Padahal semua harta yang Mahendra miliki, milik mendiang ayahku Albern Alexander. Dia telah mencuri dokumen penting yang dimana semua harta warisan Ayahku jatuh kepada anak-anaknya dan cucu kandungnya. Tapi, Kakamu telah merubah semuanya menjadi atas nama dirinya." Jelas Dita panjang lebar.
Terkadang harta mampu membuatmu buta bak akan hidup selamanya di dunia, padahal dunia hanya sementara, dan harta tidak akan di bawa mati.
"Aku tidak percaya semua ini! Kau pasti berbohong seperti yang selama ini kau lakukan!" Dika enggan mempercayainya karena takut menerima kenyataan.
Dita menjadi kesal sendiri. "Terserah papi saja! Mau percaya atau tidak juga terserah! Aku sudah mengatakan semua yang ku sembunyikan darimu selama ini." Pekik Dita pergi dari sana.
"Apa yang Dita katakan benar adanya. Saya sendiri menjadi saksi tumbuh kembang putrimu dan sering melihat Mahendra ataupun Bela berusaha melenyapkan Syafira." ucap Sofi lalu melangkah, dan Dika terdiam.
"Siapa kamu? kenapa kau begitu akrab dengan istriku?" pertanyaan Dika menghentikan pergerakan Sofi dan diapun membalikan tubuhnya.
"Perhatikan baik-baik wajahku!" Sofi perlahan membuka topeng wajah yang mirip dengan wajah manusia.
Seketika Dika termangu, dia merasa tidak asing akan wajah itu. "Kau?!"
"Aku Sofi adik dari Arman Al-Hussein sahabatmu." Ucap Sofi setelah berhasil membuka topeng dan rambut palsunya.
Mata Dika membola, dia semakin terkejut akan kejutan dari dua orang wanita yang berbeda. Sofi tersenyum tipis lalu pergi menyusul Dita.
Bi Caca tak lain dan tak bukan adalah Sofi, dia dan Doni memanipulasi kematiannya agar misi ia berhasil. Sedangkan wajahnya ia tutupi dengan topeng kulit mirip wajah asli, sehingga orang-orang tak bisa mengenalinya.
Awalnya ia pura-pura bekerja menjadi dishwasher di Cafenya untuk memantau orang di bawah naungan mereka, dan ternyata penyamaran itu berlanjut ketika sebuah kecelakaan di sengaja seseorang. Dia mutuskan untuk terus menyamar sampai waktu yang sudah di targetkan
__ADS_1
(Perlahan semuanya mulai terungkap ya, siapa dibalik penyerangan, siapa Syafira sebenarnya, dan mungkin sebentar lagi orang yang telah menodai Sofi pasti akan ikut terungkap. Sabar saja dulu dan tetap pantengin terus di sini! Selamat membaca, semoga kalian suka)
****
"Halo, Pak Heru. Tolong Bapak serahkan rekrutmen karyawan pada Rani ya! Dan bapak sendiri ikut saya ke mall, ada klien yang ingin mengajukan kerja sama dengan pihak kita dan dia menentukan tempatnya di restoran. Saya tunggu bapak di sana! Jangan lupa bawa berkas-berkasnya!" kata Fira di sebrang telpon. Saat ini Fira menuju apartemennya untuk berganti pakaian.
"Baik, Bu Bos. Siap laksanakan," jawab Heru lalu mematikan panggilannya setelah Fira matikan.
"Apa katanya, pak?" tanya Rani yang berada di ruangan tempat menyeleksi calon para pekerja.
"Kamu dan tim urus mereka semua, saya dan dia akan melakukan meeting dadakan. Sepertinya ini penting karena Fira berbicara tegas dan tidak mau di bantah."
"Hhmmmm, baik. Kami akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini."
"Kerja bagus." Heru pun pergi dari sana setelah mengambil berkas yang di minta Fira.
****
"Kamu tenang saja! Aku akan menjaganya dengan baik. Kan ada Mbak Sofi dan Mamimu yang membantuku mengurus Felix.
Fira mengkerutkan dahinya. "Mami?" tanya Fira bingung.
"Iya, Ibu kandungmu." Balas Doni.
"Hmmm, ya sudah aku pergi dulu. Sayang kamu jangan nakal sama Uncle om! Belajar yang rajin dan makan yang banyak agar badanmu sekat dan kuat, ok!" kata Fira pada bocah kriwil yang ada di gendongannya.
"Baik, Bunda. Aku akan menuluti semua pelintah Bunda. Bunda juga halus banyak makan bial sehat kaya aku!" balas Felix lalu mencium pipi bundanya dan kening sang Bunda penuh perasaan.
Fira memejamkan mata saat bibir mungil itu mengecup area wajahnya. "Aku cayang Bunda, celamanya." Kata Felix setelah selesai mengecup sayang sang Bunda.
"Bunda juga sayang Felix selamanya. Felix adalah anak Bunda, penyemangat Bunda, pelitanya Bunda." Fira mencium gemas pipi gembul itu dan mendusel-duselkan hidung mancungnya ke hidung Felix.
__ADS_1
****
"Maaf kami telat," ucap Fira setelah sampai di Restoran yang ada di dalam mall. Fira sudah sampai duluan sedangkan pak Heru terjebak macet.
"Tidak apa, Nak." katanya berdiri lalu membalikan tubuhnya. Mata Fira membola saat melihat orang yang ia kenal.
"Om Dika! Jadi Om yang mengajukan kerja sama sama perusahaan kami?"
"Iya, dan maaf jika saya memaksa kamu menemui saya hari ini juga. Silahkan duduk!" Dika mempersilahkan Fira duduk, matanya tidak lepas memandang wajah cantik anak gadisnya. Ingin rasanya Dika memeluk erat sang anak, menyalurkan rasa rindu dan kasih sayang yang pernah hilang.
"Aku tidak tahu jika orang nya adalah Om Dika!" kata Fira sambil mendudukan bokongnya.
"Om juga tidak percaya bahwa kamu direktur utama SUNSHINE CAFE & RESTO yang sudah terkenal di kota M bahkan terkenal se Indonesia dan juga terkenal se Asia."
"Aku tidak seterkenal itu, Om." Balas Fira.
"Syafira."
"Iya."
"Apa kamu tidak mau memeluk Deddy?" tanya Dika gamblang. Dan Fira menatap penuh pertanyaan.
"Saya ayah kandungmu?" langsung saja Dika mengatakan dirinya adalah ayah Fira karena sudah tidak sabar ingin mengatakannya.
"Jangan bercanda, om?" Fira terkekeh, antara percaya atau tidak karena Doni belum mempertemukan dirinya dengan orang tua Fira. Sedangkan Fira sendiri sangat sulit mencari tahu mengenai orang tuanya.
"Saya tidak sedang bercanda! Saya punya bukti bahwa kamu anakku." Dika menyodorkan amplop coklat ke hadapan Fira.
Awalnya Fira ragu, karena penasaran akhirnya Fira mengambil amplop itu dan membukanya. Tangannya gemetar setelah melihat hasilnya. Di tulisan itu tertera bahwa Dika dan Syafira 99,9% dinyatakan positif. Itu artinya Dika dan Fira ayah dan anak kandung.
Bersambung....
__ADS_1