
"Reyhan..." Rey menoleh, seketika wajahnya menjadi terkejut. "Kalau itu Syafira, lalu ini?" Reyhan melihat kebelakang, matanya membola. "Bela!" sontak saja Rey melepaskan tangan Bela yang melingkar di perutnya secara kasar.
"Jayang, i ini tidak seperti yang kamu lihat." Reyhan panik takut wanitanya salah paham.
"Kita emang sedang bermesraan, kok." sahut Bela santai. Saat Bela masuk, ia sempat mendengar pembicaraan Amel. Langsung saja dirinya masuk setelah Amel menunjukan keberadaan Reyhan.
"Jangan sembarangan deh! Gue sedang bekerja, tiba-tiba saja loe meluk gue." Rey mengelak karena emang kenyataannya tidak seperti kata Bela.
"Rey, baru tadi pagi kita....." Fira memberhentikan ucapannya sejenak, ia membuang napas secara kasar. "Tapi, sekarang kamu....Keterlaluan!" Fira balik badan meninggalkan mereka.
Reyhan mengejar mencekal pergelangan tangan Fira mencegah pergi. "Jayang, kamu salah paham. Aku bisa jelasin semuanya."
"Lepasin!" Bela melepaskan genggaman tangan Rey dari Fira. "Biarkan pelakor itu pergi! Seharusnya kamu tidak mengejarnya, aku calon istrimu bukan dia!" pekik Bela mengundang perhatian yang lain.
"Loe bukan calon istri gue!" bentak Rey. "Aku bisa menjelaskannya, Ra."
Amel menghampiri perdebatan mereka. "Ada apa sih?" tanya Amel setelah tiba.
"Menjelaskan apa? apa kamu mau menjelaskan bahwa kamu sedang di peluk olehnya dari belakang dan kamu menikmatinya begitu? bahkan kamu terlihat senang saat di peluknya. " Wajah Fira memberenggut kesal, hatinya panas melihat Rey di peluk orang lain.
"Aku kira itu kamu. Jangan marah!" Reyhan ingin mengambil tangan Fira namun dengan segera Bela merangkul lengan Rey.
"Yang kamu lihat tadi benar, Rey begitu menikmati pelukanku." timpal Bela tersenyum sinis. "Jangan sekali kau mendekati calon suamiku karena kami akan menikah."
Fira menatap Rey meminta penjelasan. Reyhan menggelengkan kepala. "Jangan percaya sama dia! Dia bohong, sayang!" tangan Reyhan berusaha melepaskan rangkulan Bela.
"Aku tidak bohong. Bahkan saat ini aku sedang mengandung anakmu, Rey. Kita akan segera punya anak, sayang." Bela sengaja memperkeruh suasana dan dia terus merangkul tangan Reyhan kencang dan menyenderkan kepalanya di pundak Reyhan.
"Anak?!" pekik mereka karena terkejut.
"Gue tidak pernah menyentuhmu! Jangan menghayal kalau bicara!" bentak Reyhan.
"Reyhan.." lirih Fira seolah-olah kecewa. Mata Fira sudah berkaca-kaca.
Reyhan semakin panik melihat sorot mata kecewa. "Jangan percaya, dia bohong. Aku bisa jelasin semuanya sama kamu."
"Kamu jahat Rey." Fira meneteskan air mata pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Syafira gue yakin kalau Abang gue tidak seperti itu. Loe harus percaya sama Abang gue, Ra." pinta Amel mengejar Fira keluar dari toko.
Reyhan mematung, dia sakit melihat wanita pujaannya menangis. Sedangkan Bela tersenyum puas.
Fira tidak menggubris perkataan Amel, dirinya terus melangkah keluar. Amel berlari ke arah Reyhan. "Bang, kejar Syafira! Jelaskan semuanya kalau itu tidak benar, Bang!" desak Amel menarik Reyhan dari genggaman Bela. Amel sedikit mendorong Bela supaya menjauh.
Rey tersadar dari keterkejutannya, langsung saja dia menyusul Fira. Mata terus celingukan mencari keberadaan janda tersayang dan dia menemukannya lalu berniat mengejar Fira yang sudah dulu naik taksi.
Di dalam taksi Fira mengusap air mata senyum menyeringai.
"Aku tidak peduli orang mengataiku lebay, banyak drama, atau mau di hujat sekalipun aku tidak peduli. Ini hidupku, ini kisahku, aku sendiri yang akan merencanakan apapun yang aku mau selama itu tidak merugikan. Tapi, masih dengan Tuhan yang menentukan." Gumam Fira sambil memejamkan mata. Namun seketika taksi berhenti secara mendadak.
"Aduhh, ada apa pak?"
"Itu, ada orang menghadang kita, mbak." jawab pak supir.
"Ra, keluar! Aku ingin bicara sama kamu. Ku mohon keluar dulu, sayang!" Reyhan terus mengetuk kaca mobil.
Firapun keluar mobil. "Ada apalagi? aku tidak mau merusak rencana indah kalian, apalagi ada anak di antara kalian."
"Aku berani bersumpah kalau itu bukan anakku. Aku tidak pernah menyentuhnya, Ra."
Fira masih belum sadar dari keterkejutannya, untuk ke tiga kalinya Reyhan mencuri kecupan manis di bibir Fira dalam kurun waktu belum satu hari.
Rey membawa Fira ke tempat dimana dirinya suka beristirahat. Rumah minimalis modern milik Reyhan sendiri.
"Kamu bawa aku kemana?" tanya Fira bingung.
"Kemana saja asal bersamamu."
Reyhan membunyikan klakson mobil, dan gerbang pun di buka oleh si penjaga rumah.
Fira memperhatikan setiap interior design rumah nya. Sederhana namun elegan, itulah yang ada di pikiran Fira. Rumahnya terdiri dari dua lantai, halaman depan cukup luas juga bersih dan rapi. "Ayo turun!"
Dengan ragu Fira turun. Reyhan langsung saja menggandeng tangan Fira membawanya masuk.
"Selamat sore, Den." sapa penjaga rumah berumur 50 tahun.
__ADS_1
"Sore juga, mang. Oh iya, perkenalkan ini calon istriku." Kata Rey memperkenalkan Fira pada mang Udin.
Fira mengangguk ramah dan juga menyalaminya. Tindakan Fira membuat Mang Udin terkejut karena ada anak muda begitu sopan sekali padanya. Rey sudah tersenyum melihatnya.
Ketika di dalam, Fira bingung kenapa Rey membawanya kemari.
Ceklek..
Suara pintu di kunci terdengar di telinga Fira. Dia membalikan badan dan menatap Rey yang sedang menyenderkan tubuhnya di pintu sambil menatap Fira penuh perasaan.
Reyhan mendekat, Fira mundur. Rey terus mendekat sampai Fira mentok di terbentur dinding.
"A apa yang ma mau kamu lakukan padaku?" Fira begitu gugup, jantungnya sudah kembali bergetar hebat.
"Kamu sangat cantik. Apa kamu sengaja berdandan seperti ini untukku?" Rey mengukung tubuh Fira. Satu tangannya bertumpu di dinding dan satu lagi ia masukan kedalam saku celananya.
Fira memalingkan wajah karena merasa tak kuat menatap bola mata penuh cinta milik Reyhan. "Aku hanya sedang mau saja berdandan." jawab Fira asal.
"Sayang, aku berani bersumpah kalau aku tidak menyentuh Bela. Anak di dalam kandungannya bukan anakku. Kamu percaya kan sama aku?" Ucap Rey serius.
Fira menggeleng. "Aku tidak tahu kamu benar atau tidak. Bisa jadi kalian sudah melakukannya sebelum bertemu denganku." Wajah Fira sendu namun enggan menatap Rey.
"Hei, lihat aku!" Rey megang dagu Fira menggerakannya agar berhadapan dengannya. "Belum ada satupun wanita ku sentuh selain kamu. Prinsip ku tidak akan menyentuh wanita sebelum menjadi istriku. Tapi, kamu pengecualian. Tubuhku tidak bisa menolak saat berdekatan denganmu."
Fira memalingkan wajahnya, terlihat sekali rona merah itu. Rey kembali menggerakan dagu Fira agar kembali saling berhadapan.
"Sayang," panggil Rey lembut. "Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai dan aku sentuh. Bahkan kamu wanita pertama yang mengambil ciuman pertamaku." Tutur Rey menatap bola mata Fira. Sungguh Reyhan kembali tergoda oleh janda di hadapannya.
"Apa boleh?" tanya Rey mengusap bibir Fira. Seketika Fira terhipnotis dan mengangguk.
Rey memiringkan sedikit kepalanya dan perlahan menempelkan kedua benda kenyal itu. Keduanya terhanyut kedalam sebuah pangutan manis dari bibir mereka. Rey menyudahinya lalu menempelkan kedua kening mereka
"Aku mencintaimu Jayang. Janda sayang."
Fira tersenyum dan langsung memeluk Reyhan. Keduanya saling memeluk menyalurkan sebuah perasaan cinta.
Biarlah dikata bucin, biarlah dikata terlalu mudah di rayu, biarlah dikata gampangan, Syafira tidak peduli.
__ADS_1
Bersambung....