Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Apa?!


__ADS_3

"Halo, Bang. Apa kalian sudah tahu siapa yang sudah berencana menabrakku?" tanya Fira di balik telpon.


"Kami sudah mencari tahunya sesuai yang terekam di cctv jalan. Setelah kami telusuri, itu mobil milik Bela, dan kemungkinan pengemudinya juga Bela."


Fira menghelakan nafasnya. "Ya sudah, terima kasih atas bantuannya. Aku harap kalian selalu waspada, takutnya malah Felix yang menjadi sasaran mereka."


"Siap, kami akan selalu waspada."


Setelahnya Fira mematikan telponnya. Dia membaringkan tubuhnya di samping Felix dan memeluk tubuh mungil yang sudah berada di alam mimpi. "Rasanya begitu berat. Semoga kita mampu melewati cobaan ini, Nak." Gumam Fira lalu memejamkan matanya menanti esok pagi. Keduanya terlelap, mungkin karena kecapean jadi mudah untuk tidur.


****


Kediaman Arman


Reyhan melangkah masuk, wajahnya terlihat berseri-seri sesekali bersiul riang. Dinda yang berada di ruang tv merasa heran melihat tingkah anaknya. "Kamu habis dari mana seharian ini Rey?" tanya Dinda.


Reyhan memberhentikan langkahnya kemudian membalikan arah menuju sang Mama dan mencium keningnya "Habis bermain," jawabnya santai.


Dinda semakin aneh ketika Reyhan tiba-tiba saja menciumnya. "Iya, darimana? seharian ini kamu tidak ketoko. Mama dan Papa sampai menanyakan kamu ke semua toko, dan mereka bilang kamu tidak masuk."


Reyhan sudah senyam-senyum sendiri. "Bermain bersama Syafira."


"Apa?!" Dinda terlonjak kaget hingga membuatnya berdiri dari duduknya. "Kamu bermain dengannya selama ini?" pekik Dinda, Rey mengangguk. Dinda semakin melototkan matanya, dia tidak percaya jika anak sulungnya seperti itu. Bermain yang ada di pikiran Dinda adalah bermain di kamar layaknya suami istri.


"Mama kenapa syok gitu?" tanya Rey bingung.


"𝘐𝘯π˜ͺ 𝘴𝘢π˜₯𝘒𝘩 𝘡π˜ͺπ˜₯𝘒𝘬 𝘣π˜ͺ𝘴𝘒 π˜₯π˜ͺ 𝘣π˜ͺ𝘒𝘳𝘬𝘒𝘯."


"Mama ingin bicara sama kamu! Habis mandi Mama tunggu kamu di sini!" ucapnya tegas.


"Emangnya mau bicara apa sih?"


"Pokoknya Mama tunggu!" perintahnya.


"Baiklah, kanjeng ratu." Reypun berdiri lalu meninggalkan Mamanya.


"Ada apa sih?" tanya Arman yang baru saja pulang bersama Amel habis meninjau tokonya.


"Nanti papa juga akan tahu. Pasti capek ya?" Dinda menghampiri Arman mengambil tas kerjanya lalu mencium punggung tangan suaminya dan di balas oleh Arman mencium kening sang istri sambil memeluknya.

__ADS_1


"OMG! Sudah tua, masih saja romantis. Tak tahu tempat sekali kalian." Sindir Amel mencebikkan bibirnya.


"Ck, ganggu saja kamu. Kamu pasti irikan melihat Mama dan Papa seperti ini?" Dinda mempererat pelukannya di hadapan Amel.


"Yee, malah pamer, jelas irilah. Aku kan mau di peluk juga," balas Amel cemberut.


"Ya sudah, sini Papa peluk biar kamu tidak iri." Bukannya memeluk Amel, Arman malah membalas pelukan istrinya dan mencium pipi Dinda.


"Iihhh, kalian benar-benar orang tua durhaka." Amel kesal, kakinya ia hentak-hentakan lalu dia mendudukkan bokongnya ke sofa secara kasar.


Tawa keduanya pecah melihat tingkah Amel, mereka merasa senang mengerjai putrinya. Kemudian keduanya pergi ke kamar, dan tak lama kemudian Reyhan turun lalu menghampiri Amel yang sedang menonton tv.


Rey merebut keripik singkong yang di pegang oleh Amel lalu duduk di sampingnya.


"Isshh, Abang! Itu punya aku!" pekik Amel kesal.


"Abang juga mau Amelia Putri!" jawab Rey mengunyah keripiknya.


"Abang kan bisa ambil sendiri!"


"Maunya punya kamu, gimana dong?" balas Rey cuek yang terus menyantap keripiknya tanpa memperdulikan sang adik.


"Iiiih, Abang nyebelin sama kaya Mama dan Papa." Amel melipatkan kedua tangannya di dada.


"Tahu ahhh.."


Arman juga ikut bergabung bersama keluarganya.


"Mumpung ada Papa, Mama ingin bicara serius sama kamu, Reyhan."


Reyhan diam mendengarkan perkataan Dinda.


"Mama minta kamu segera nikahi Syafira!" ucap Dinda tegas langsung pada intinya.


Semuanya terkejut akan permintaan Dinda. "Tidak bisa, Mah." Reyhan menolak perintah Dinda, karena dia berpikir tidak mungkin menikahi sepupunya.


"Kenapa tidak bisa? Kamu sendiri yang bilang jika dia calon istrimu dan kamu akan menikahinya." tanya Dinda kembali.


Reyhan bingung harus menjawab apa. "π˜’π˜’π˜³π˜¦π˜―π˜’ π˜₯π˜ͺ𝘒 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢," 𝘣𝘒𝘡π˜ͺ𝘯𝘯𝘺𝘒.

__ADS_1


"kalau Abang nikah sama Syafira, aku jamin Abang tidak akan menyesal," sahut Amel mendukung ucapan Dinda.


"Pokonya Mama mau kamu nikahin Syafira! Bagaimana jika dia hamil anakmu?"


Duaaar....! Semua orang terkejut.


"Maksud Mama?" Reyhan bertanya penuh kebingungan, dia tidak mengerti maksud Mamanya.


"Tadi kamu bilang kamu habis bermain dengan Fira, dan Mama minta kamu nikahi dia sebelum dia hamil anakmu!" sergah Dinda.


"Apa?! Reyhan berani bermain itu dengan Fira?" pekik Arman.


Reyhan semakin bingung, "Aduh, Mah. Yang di maksud bermain versi Rey bukan seperti yang ada di pikiran kalian berdua! Ini salah paham!"


"Mama tidak mau tahu, kau harus nikahin Fira satu bulan lagi!"


"Apa?!" kali ini Arman, Amel juga ikut terlonjak kaget. "Secepat itu?" tanya mereka bertiga.


"Iya, secepatnya!" jawab Dinda yakin, tegas, dan menekankan kata secepannya. "Kalau tidak? Mama akan mati saja!" ancamnya.


"Kenapa begitu?" tanya ketiganya kembali.


"Percuma Mama hidup kalau Reyhan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku pasti akan malu dengan mereka." Dinda pura-pura sedih, wajahnya ia murungkan, dan air mata buayanya ia keluarkan.


Arman dan Amel menatap Reyhan penuh permohonan untuk menyetujui permintaan Dinda. Reyhan membuang nafas secara kasar. "Iya, aku akan menikahi Syafira secepatnya sesuai target yang Mama berikan."


"Nenek tidak setuju!" pekik Saras baru saja sampai rumah dan menolak tegas ucapan Reyhan. Dia habis ketemuan dengan keluarga Elsa membahas perihal perjodohannya dengannya Bela. "Nenek sudah menentukan tanggal pertunangan kamu dengan Bela dua Minggu lagi!"


"Apa?! kenapa tidak bilang pada kami?" jawab kompak mereka berempat.


"Bu, aku Ayahnya, seharusnya aku yang mengatur semuanya, bukan Ibu!" Arman tidak setuju dengan Saras, dia sudah berniat menjodohkan Rey dengan Fira. Menurut dirinya, Firalah yang terbaik. Dia semakin yakin memilih Fira ketika mendengar cerita Felix mengenai bundanya.


"Ibu tahu mana yang terbaik buat Reyhan, jadi Ibu sendiri yang mengatur segalanya. Kalau Ibu meminta persetujuan kalian, kalian pasti akan menolak." Kata Saras kekeh dengan keputusannya.


Saras memang sudah merencanakan pertunangan Rey dan Bela dua Minggu lagi. Tadi dia sendiri menemui keluarga Bela, bahkan dia juga sudah memilihkan cincin, tempat, serta sudah mengatur segalanya.


"Aku menolak, Nek!" Rey berdiri dari duduknya. "Jangan mengatur hidupku! Aku punya pilihan sendiri!" Rey berdiri kemudian melangkah pergi dari sana, namun langkahnya terhenti ketika Saras mencegah dan yang lain histeris.


"Jika kamu menolak, lebih baik Nenek bunuh diri saja!" ancamnya mengambil benda tajam di dalam tas yang sudah di persiapkan olehnya dan siap untuk di goreskan ke pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Jangan...!" pekik pemuanya..


Bersambung....


__ADS_2