Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Bersyukur


__ADS_3

"Nek lihat deh, gaunnya sangat indah bukan? dan sangat cocok denganku." Bela berlenggak lenggok memperagakan busana pengantin layaknya model catwalk.


"Cantik sekali, ini sangat cocok di tubuhmu. Reyhan pasti terpesona melihatnya." Saras memuji penampilan Bela.


"Iya, Jeng. Bela terlihat sangat cantik ya." timpal Elsa ikut mengomentari penampilan Bela.


Bela merasa tersanjung, wajahnya terus tersenyum. "Aku harus tampil mempesona, Nek, Mah. Supaya Reyhan semakin nempel padaku dan tidak akan berpaling dariku."


"Itu harus, kamu harus pandai menjaganya sebab sudah banyak pelakor berkeliaran mengincar suami orang, yaaa termasuk di janda miskin murahan itu," balas Saras.


"Nenek tenang saja, aku akan selalu menggenggam erat Reyhan agar tidak berpaling ke wanita lain. Soal janda itu, dia sudah di usir dari kampung sini. Jadi kemungkinan dia sudah tidak akan mengganggu Reyhan lagi."


"Siapa bilang dia sudah pergi? Semalam saja Rey tidak pulang dan katanya mau menginap di rumah si janda." Saras masih kesal dengan sifat Reyhan.


"What?! Nenek serius? itu tidak mungkin!" Bela menolak percaya, jelas-jelas para anak buah Papanya sudah melakukan tindakan yang di perintahkannya.


"Iya, saya serius! Kita harus segera menikahkan kalian agar dia tidak terus mengganggu kalian."


"Kalau gitu acaranya kita majukan saja menjadi sore hari." usul Elsa.


"Hhmmmm sepertinya bagus, cuma apa bisa kita bisa mempersiapkan segalanya dalam waktu sesingkat ini?" tanya Saras.


"Tenang, suamiku orang terkaya di sini, kami pasti bisa menanganinya asalkan ada uang."


"Mama benar, kalau gitu aku aku mau mempercepat pernikahanku." Balas Bela sudah tidak sabar menantikan pernikahannya.


"Baiklah, saya ngikut saja." pasrah Saras.


Mereka bertiga merencanakan segalanya tanpa memberitahukan yang lain.


****


"Tak apa kan kita tinggal di sini?" Reyhan mengajak Fira untuk tinggal di rumahnya. Rumah hasil ia bekerja selama menjadi tangan kanan sang Papa.


"Aku tidak akan masalah tinggal dimana saja asalkan kita tidak kepanasan, tidak kehujanan, dan ada tempat tidur yang nyaman untuk tidur. Tidur di karpetpun tak masalah." Jelasnya.


Reyhan senang Fira tidak mempermasalahkan tempat tinggal. Dia merangkul Fira mengajaknya masuk, sedangkan Felix tidak ikut karena ingin ikut dengan Dika dan Dita menemui para anak di panti asuhan.

__ADS_1


Tentu kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Reyhan. Di sinilah saat ini mereka berada, di tempat dimana Reyhan pernah mengajak Fira tidur siang bareng. (Ingat ya hanya tidur saja, tidak ngapa-ngapain)


Rey terus menggandeng tangan istrinya membawa masuk ke dalam kamar.


"Kenapa kita ke masuk?" Fira mencekal tangan Rey dan bertanya bingung.


Reyhan memundurkan langkahnya tangannya ia lingkarkan ke pinggang Fira memeluk sang istri dari belakang. Dagunya ia taruh di pundak Fira. "Menurutmu kita mau ngapain." Bisik Rey di telinga Fira.


Fira menegang, desiran halus menjalar ke tubuhnya. Jantung pun mulai berdegup tak menentu. "Ki kita ke Felix saja, yuk!" ajak Fira gugup.


"Kenapa, hmmmm? mau menghindar dariku? kamu ingat bukan apa kata Mama Sofi, kamu harus nurut sama suami." Reyhan mulai menyusuri leher jenjang sang istri.


Fira tak bisa berkata karena itu memang benar. Mau tak mau ia menuruti sang suami. "Rey," lirihnya menahan tangan Reyhan yang sudah berada di salah satu aset berharga miliknya.


"Jangan menolakku, sayang!" titah Rey sudah mulai memanas.


Syafira tahu itu adalah salah satu kewajibannya sebagai seorang istri. Diapun memasrahkan segenap jiwa dan raganya untuk suami.


Entah siapa yang memulai keduanya sudah berada di atas tempat tidur.


POV Fira


"Mas," lirih Fira.


Aku memanggil dia mengalihkan aktivitas Reyhan yang hampir saja berhasil.


Dia mendongak. "Kenapa, sayang?"


"Pelan-pelan."


POV Reyhan


Aku mendengus kesal ketika istriku mengganggu pendakianku. Aku pun kembali melakukan tanjakan agar mencapai puncak tertinggi. Aku heran karena terasa sulit. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘪𝘩? 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩?"


Istriku terus terpejam seperti menahan sakit. "𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯? 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯?"


Aneh aku merasakan keanehan di bawah sana, tapi aku tidak memperdulikan karena hasratku semakin menuntut. Beberapa kali usahaku gagal, ku coba lagi untuk yang ke 4 kalinya barulah berhasil.

__ADS_1


"Sakitt!!" pekik Fira mencengkram kuat apa saja yang ia gapai.


Reyhan terkejut. "Kamu?!" Banyak pertanyaan di benakku, kenapa Syafira masih gadis? siapa Felix? karena terlanjur, akupun melanjutkannya sampai tuntas.


Beberapa saat telah berlalu kami telah melewati segalanya. Napas keduanya memburu, dan Reyhan ambruk di atas Fira.


****


"Aku ingin bertanya padamu, kenapa kamu tidak jujur padaku mengenai segalanya?" tanya Reyhan sembari mendekap Fira.


"Karena kamu tidak mempertanyakannya. Ada alasan kenapa aku menyembunyikan nya dari semua orang. Aku ingin orang menerimaku apa adanya tanpa melihat siapa aku dan darimana aku berasal."


"Setidaknya kamu jujur padaku dari awal. Dalam setiap hubungan di perlukan sebuah kejujuran, aku selalu jujur padamu sedangkan kamu?" Reyhan merasa dibohongi, tapi dia juga bersyukur karena dirinyalah orang pertama yang menyentuh janda namun bukan janda.


Fira mendongak. "Kenapa kamu bertanya seperti itu seolah-olah aku berbohong padamu? aku tidak pernah berbohong apapun padamu. Kalau kamu bertanya pasti aku akan menjawabnya."


Rey menghelakan nafas. "Aku hanya tidak percaya saja bisa menikahimu yang notabenya anak dari Mahardika Siregar, seorang janda beranak satu namun janda rasa perawan."


Fira berusaha duduk, tangannya menarik selimut supaya menutupi tubuh polosnya, dia meringis merasakan perih di area bawahnya. "Apa sekarang kamu menyesal?" Fira menatap Rey cemas.


Rey pun ikut mendudukan tubuhnya menatap kembali wajah sang istri. "Iya."


Deg..!


Jantung Fira sudah tidak menentu, dia tertegun mendengar penuturan Reyhan. Setelah apa yang telah terjadi Reyhan menyesalinya?


"Ja jadi kamu menyesali semuanya setelah apa yang telah kita lakukan barusan?" Fira terbata, matanya berkaca-kaca takut Reyhan mendadak meninggalkannya.


"Iya, aku menyesalinya." Reyhan menatap bola mata Fira.


Air mata Fira mendesak keluar, dadanya terasa sesak. Dia bingung kenapa cinta bisa membuatnya lemah.


Rey mengecup dahi Fira. "Aku menyesal kenapa tidak dari dulu menikahimu."


"Mas." Fira langsung memeluk Rey. "Aku kira kamu menyesal menikah denganku. Aku takut kamu meninggalkanku setelah kamu berhasil membuatku memberikan segalanya untukmu."


Reyhan membalas pelukan istrinya. "Tidak, sayang. Aku malah bersyukur bisa mendapatkamu. Maaf, barusan aku hanya mengerjaimu saja." Rey terkekeh, itu artinya Fira memang mencintainya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2