
Di kediaman Arman seluruh penghuni rumah terlihat khawatir. "Pah, ini sudah pukul tujuh malam. Tapi, Amel belum juga pulang." Dinda terus mondar-mandir tidak karuan. Hatinya cemas, jiwanya tidak tenang memikirkan anak perempuannya.
"Papa sudah menanyakan keberadaan Amel ke pihak kampus, mereka bilang Amel sudah pulang dari pukul dua siang, Mah." Arman pun ikut khawatir. Pria tua masih terlihat muda itu terus menelpon orang yang ia kenal.
"Tidak biasanya Amel seperti ini. Apa dia di culik? Terus di perkosa dan di tinggalkan sendirian?" sahut Saras tanpa memfilter ucapannya.
"Bu!" Arman dan Dinda menatap tajam Saras.
"I ibu hanya menyuarakan apa yang ada di pikiran ibu."
"Tidak seperti itu juga, Bu! Sama saja Ibu mendoakan Amel celaka!" Timpal Dinda tidak terima.
"Huuaaaa, aku mau ketemu Bunda, hiks hiks."
Suara tangis anak kecil menyita perhatian ketiga orang yang sedang dilanda kekhawatiran.
"Iya, kita pasti akan ketemu Bunda. Kamu jangan nangis ya! Pasti Bunda pulang." Reyhan berusaha membujuk Felix supaya tidak terus-menerus menangis.
Mata Felix sudah terlihat sembab, hidungnya memerah, dan bocah kecil itu tidak berhenti menangis.
"Reyhan, kenapa dengan Felix?" Dinda menghampiri Rey ingin menggendong Felix berusaha meredakan tangisnya. Tapi, Felix menolak Dinda, dia malah menelusupkan wajahnya ke ceruk Reyhan.
"Dia ingin ketemu Fira. Tapi, sampai sekarang Fira dan Amel belum datang menemuinya. Apa mereka sudah ada di sini?"
"Jadi Syafira juga belum pulang?" sahut Arman ikut terkejut.
"Iya, Pah. Tadi pagi aku ketemu Fira di kampus Amel, dan Felix ingin ikut aku. Kata Amel, mereka ingin menjenguk seseorang di rumah sakit, sampai sekarang Amel belum menghubungiku lagi, Pah." Reyhan menjelaskan sambil menimang-nimang Felix agar berhenti menangis.
"Huuuuaaaaa, Bundaaa." tangis Felix semakin kencang.
"Ini pasti kerjaan janda miskin itu, dia orang jahat, pasti dia telah melakukan hal buruk pada cucu perempuanku." tuding Saras marah.
"Kenapa pikiran Ibu selalu saja negatif?" hardik Arman geram.
"Itu kenyataannya, Arman. Amel belum pulang gara-gara wanita itu. Pasti dia yang telah menculiknya."
"Tidak ada yang menculikku!" pekik Amel.
"Huuaaaa Bunda." Felix merentangkan tangan minta di gendong ketika melihat bundanya.
Semua orang memandang kedua wanita yang baru saja datang. Fira mendekati Felix dan mengambilnya dari gendongan Reyhan.
__ADS_1
Hati Reyhan terkoyak melihat memar di wajah Fira serta kasa yang menempel di kepalanya. Reyhan memegang pipi Fira, matanya menyiratkan kekhawatiran. "Muka dan kepalamu kenapa?"
Fira yang berusaha menenangkan Felix termangu, matanya menatap mata Reyhan. "Aku tidak apa-apa, hanya luka kecil akibat kecelakaan."
"Apa! Kalian kecelakaan?" pekik ketiganya.
Amel dan Fira mengangguk kompak.
"Astaga! Ya Tuhan! Kalian tidak kenapa-kenapa 'kan? Mana yang sakit, Mel? Apa tubuhmu ada yang sakit?" tanya Dinda panik. Dinda meneliti setiap tubuh putrinya, namun tidak menemukan memar apapun di tubuh Amel.
"Aku tidak apa-apa, tapi Fira...." Amel menoleh ke Fira.
Dinda dan Arman ikut menoleh juga. "Tidak terjadi luka serius 'kan?" tanya Arman khawatir melihat Fira. Fira menggeleng.
"Itu hukuman untuk orang yang ingin menculik cucuku. Syukurin!" sahut Saras merasa puas tentang peristiwa yang menimpa Fira.
"Tidak ada yang menculikku, Nek! Kami murni kecelakaan karena ada begal."
"Pasti dia dalangnya!" tunjuk Saras sinis.
Araman, dan Dina kesal sekaligus geram pada Saras.
"Dia tidak salah! Seharusnya aku yang ada di posisi Syafira. Dia yang sudah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan aku. Dia rela di pukuli orang supaya aku tidak bunuh oleh mereka." Sela Amel merasa tidak suka dengan prilaku Neneknya.
"Itu hanya akal-akalan dia saja, Mel. Sadarlah! Dia itu tidak baik." Balas Saras meninggi, wanita tua ini terus saja menyalahkan Fira.
"Aku masih sadar, Nek! Jika bukan karena dia, sekarang aku sudah mati!" teriak Amel, dia muak dengan sifat neneknya yang terus berprasangka buruk mengenai Syafira.
"Amel!" Dinda memeluk Amel untuk menenangkan sang putri.
Reyhan memeluk tubuh Syafira, hatinya sakit mendengar wanita yang telah mencuri pikiran dan hatinya di pukuli orang.
"Reyhan!" lirih Syafira. Felix sendiri sudah tidak menangis lagi. Bocah itu malah tertidur di gendongan Fira, mungkin karena capek akibat kelamaan menangis.
"Kalian jangan percaya pada tampang polosnya! Dia merencanakan ini untuk menjerat kalian! Dia ingin harta kalian!" bentak Saras.
"Cukup! Jangan pernah Nenek menjelekan Syafira Karena dia tidak seperti yang nenek pikirkan!" sergah Amel.
Amel sudah tahu siapa Syafira yang sebenarnya, kejadian tadi mengungkap siapa Syafira. Itu sebabnya Amel terus membela Syafira.
Flashback :
__ADS_1
Di saat Fira terbengon melihat tingkah adik Reyhan, tiba-tiba saja beberapa mobil hitam berhenti di dekat mereka. Keluarlah Doni beserta para antek-antek nya.
"Bawa mereka ke markas!" tidak Doni menunjuk tiga orang yang tergeletak. "Dan bawa dia juga ke rumah sakit! Awasi mereka! perketat penjagaan di rumah sakit. Ingat! jangan sampai ada yang curiga!"
"Baik, Bos."
Anak buah Doni membereskan para cecunguk yang sudah menyerang Fira. "Kamu tidak kenapa-kenapa 'kan?" tanya Doni memegang kedua pundak Fira meneliti setiap tubuh keponakannya.
"Tidak kenapa-kenapa bagaimana, mukaku bonyok, dan bagian kepala belakangku sakit akibat cambukan dari mereka." Cebik Fira kesal.
Amel memicingkan mata mengingat kembali pria di hadapannya. "Bukankah dia pria yang di Cafe!" batin Amel.
Doni memeriksa kepala bagian belakang menggunakan tangan. Ketika meraba area dekat jidat, telapak tangan Doni berasa menyentuh cairan, dia melepaskan dan melihatnya.
"Kepalamu berdarah! Kita kerumah sakit! Paman tidak mau kau kenapa-kenapa. Kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut." Doni sudah panik, darahnya cukup banyak, Fira malah tidak berasa jika itu darah, dia berpikir itu keringat bercucuran di kepala, dia sendiri tidak merasakan sakit.
"Paman!" pekik Amel terkejut. Doni menoleh, Fira lupa jika masih ada Amel.
"Ayo, Fir! kita lakukan pemeriksaan! Kau, anak kecil, ikut kami!" tunjuk Doni pada Amel.
"Hei, Tuan cina, aku bukan anak kecil!"
"Terserah kau saja!" Doni menggandeng tangan Fira, wanita beranak satu itu hanya pasrah karena dia tidak akan bisa menolak jika Doni sudah kekeh dengan perintahnya.
Amel mengekor saja kemana Fira di bawa, dia juga ikut naik mobil bareng Doni.
"Bos, kita pulangnya naik apa?" tanya Leo.
"Kau dan Alex bawa angkot Syafira!" jawab Doni sambil melajukan mobilnya.
"Lah, gimana ceritanya kita yang keren begini naik angkot?" cebik Alex.
"Gue udah bilang, jangan memakai pakaian terlalu rapi! Kita mau berkelahi bukan mau jadi model," sindir Alex.
****
Syafira telah selesai di periksa, luka di kepalanya tidak apa-apa dan tidak terlalu serius.
"Paman, jelaskan kepadaku siapa aku yang sebenarnya?" Fira menatap Doni setelah dirinya selesai di obati. Fira duduk di ranjang pasien, sedangkan Amel berada di sisinya.
Doni yang sedang berdiri di hadapan Fira menghelakan nafasnya. Sebelumnya dia melirik ke arah Amel dan menatap tajam. "Kalau sampai kau membongkar jadi diri Syafira pada orang lain akan ku habisi kau!"
__ADS_1
Amel bergidik ngeri melihat tatapan tajam itu. "A aku janji!" ucap Amel menunduk karena takut .
Bersambung...