
"Halo, Mbak. Kita harus segera ke kontrakan Fira! Sedang terjadi sesuatu di sana." Ucap Doni sambil melangkah keluar apartemen bersama Felix yang berada di gendongannya.
"Bunda kenapa Uncle om?" tanya Felix khawatir.
"Bundamu tidak kenapa-kenapa, sayang."
"Don, suruh anak buahmu berjaga! Takutnya mereka melakukan tindakan di luar dugaan kita." Balas Sofi di sebrang telpon.
"Baik. Aku sekarang sedang menuju ke sana." Donipun mematikan panggilannya dan meluncur menuju TKP.
****
"Ada apa?" tanya Dita. Keduanya sedang berada di rumah Dika.
"Fira mendapat perundungan dari warga."
"Astaga! Ayo kita kesana! Aku tidak mau terjadi sesuatu pada putriku." Dita sudah panik, dan keduanya juga segera meluncur ke sana.
****
"Bapak tega menampar Ibu karena dia?" bentak Ratih sambil menunjuk Fira. "Ini sudah membuktikan jika wanita itu murahan! Bapak sendiri sudah tergoda dan masuk perangkap wanita licik itu!"
Heru sendiri syok, baru kali ini dia menampar istrinya. "Bu, maafkan bapak! Semua yang kau lakukan salah!"
"Lihat, suamiku saja sudah kena rayu olehnya! Kalian tunggu apa lagi, hah? usir dia! Beri dia pelajaran!" Ratih terus memprovokasi para warga.
"Berhenti! Kalian jangan percaya padanya!" Bu Siti berhenti di hadapan para warga yang ingin menyeret Fira. Pak Komar, Heru, dan Fadil sudah menghadang warga agar tidak gegabah. Namun mereka kalah jumlah, alhasil mereka tersungkur akibat orang suruhan Bella mendorong mereka.
Fira mengepalkan tangannya, dia sudah tidak bisa bersabar lagi. "Berhenti! Kalian ingin mengarak ku keliling kampung bukan? lakukanlah jika kalian bisa!" pekik Fira berdiri tegak tanpa rasa takut di dekat orang yang sudah membelanya.
"Syafira!" Bu Siti dan yang lain terkejut. "Jangan, Nak. Itu sama saja mereka melecehkanmu!" cegah pak Komar tidak terima.
"Halah, banyak cingcong kalian!" salah satu suruhan Bella ingin menarik tangan Fira. Tapi, Fira mencekal balik lalu menariknya kedepan dan memukul pundak pria itu menggunakan sikunya.
"Ayo maju!" teriak Fira.
__ADS_1
"Maju kalian! Arak dia dan usir dia dari sini!" Ratih terus saja menyuruh.
Kali ini tidak ada yang mendengarkan Ratih. Para warga enggan melawan Fira karena mereka berpikir tidak perlu untuk berkelahi. Karena tidak ada yang maju, maka para orang-orang Bella maju. Ada sekitar 7 orang mengelilingi Fira menatap nakal tubuh gadis cantik berwajah bak boneka hidup.
"Ck, gue paling tidak suka di tatap seperti itu." Gumamnya sambil meludah ke tanah.
Fira menatap sekeliling, dia sudah memasang kuda-kuda untuk melawan mereka. Fira tahu jika mereka suruhan seseorang karena Fira yakin kalau orang kampung sini tidak bisa berkelahi.
Mereka sudah mulai maju, dengan gesitnya Fira membalas pukulan demi pukulan, tendangan juga sudah di layangkan. Tangannya sibuk menghadang mereka agar tidak kena pukulan, sedangkan matanya terus fokus memperhatikan setiap gerakan yang dilayangkan padanya.
Sekian lama beraksi, mereka sudah terkapar di tanah. Fira tersenyum sinis ke arah Ratih. "Kau salah cari musuh nyonya Ratih Purwasih. Saya tidak seperti para wanita lainnya yang akan pasrah bila di rundung warga." Ucap Fira menatap tajam ke arah Ratih.
Ratih sendiri termangu, dia tidak menyangka jika wanita yang di bencinya pandai berkelahi. Begitupun dengan para warga yang juga melongo, mereka tidak menyangka tubuh mungil itu mampu menghajar pria kekar berjumlah 7 orang.
"Kau pasti menggunakan ilmu sihir! Lihatlah, dia benar-benar berbahaya! Apa kalian akan diam saja jika dia masih berada di kampung sini!" bentak Ratih kepada para warga.
"Nak, Fira. Mending kau pergi jauh dari sini! Bapak tidak mau mereka mengeroyok mu!" kata pak Komar.
"Kalian juga sudah bersekongkol dengannya. Usir keluarga pak Komar dari sini!" Teriak Ratih.
"Tidak! jangan usir kami! Kami mau tinggal dimana jika kalian usir!" Bu Siti bersimpuh di hadapan para warga. Fira menjadi merasa bersalah karenanya keluarga pak Komar jadi korban.
"Jangan pernah kau bersimpuh dan memohon kepada mereka yang tidak punya hati!" pekik seseorang.
"Bunda..." Felix meronta minta turun dari gendongan Doni. Doni kewalahan dan akhirnya menurunkan Felix.
Namun ketika Felix berlari ke arah Fira, tubuhnya di tangkap oleh Ratih. "Kalau kau tidak mau menuruti perintahku, anak harammu ini akan ku pukul!" Ancamnya.
"Jangan kau sentuh anakku!" Kata Fira penuh penekanan.
"Telanjangi dia dan arak dia!" kekehnya, orang suruhan Bella sudah mendekat ingin melakukan yang di perintahkan Bella dan Ratih.
"Bunda..." pekik Felix meronta dari cekalan Ratih.
"Fira jangan lakukan itu!" teriak Heru. Fira terus memandang mata bulat Felix yang sudah basah oleh air mata.
__ADS_1
"Bunda...! Jangan sakiti Bundaku!" teriaknya.
"Diam kau anak haram!" Ratih membentak Felix ingin memukul wajah anak kecil itu.
"Jangan kau sentuh anakku Ratiiih...!" Fira berlari menerjang para pria yang ingin mendekatnya dan secepat kilat Fira menarik tangan Ratih lalu menampar Ratih secara keras hingga membuat pipi Ratih memerah cap lima jari.
"Sudah ku bilang jangan kau sentuh anakku! Aku masih memberi hati pada kalian ketika kalian menghina, mengeroyok diriku. Tapi, aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh orang-orang yang di sekitarku!" Bentak Fira.
"Sudah cukup kau berbuat sesukamu, Ratih! Kali ini saya yang akan bertindak! Kalian semua, keluar dan seret mereka yang sudah berani mengusik ketenanganku!" teriak Fira lantang.
Tiba-tiba saja para pria berjumlah 20 orang keluar dari tempat persembunyiannya termasuk Leo dan Alex. Mereka yang ada di sana tidak mengerti dan bertanya siapa Syafira sebenarnya.
Doni hanya diam menyaksikan sambil melipatkan tangannya di dada. Orang-orang Fira menyeret paksa para ajudan Bella. Ratih sudah gemetar, kini tinggal dirinya yang belum di seret. Saat Leo ingin menyeret Ratih, Ratih berontak.
"Hei, kenapa kau menyeretku ku, hah? aku tidak bersalah!" Ratih menolak Leo.
"Diam!" bentak Fira menatap tajam Ratih. Seketika Ratih terdiam melihat sorot mata tajam itu.
"Kau pasti simpanan pria kaya itu, kau pasti sudah memberikan tubuhmu untuknya. Siapa yang tidak tahu Doni Alexander yang terkenal sebagai pengusaha muda Cafe dan Restoran. Kau pasti telah menggodanya juga!"
Tiba-tiba saja Doni mencengkram keras rahang Ratih. "Beraninya kau bicara seperti itu mengenai keponakanku? Kau ingin tahu dia siapa?" Doni melepaskan cengkraman nya hingga membuat Ratih tersungkur ke tanah.
"Kalian dengarkan baik-baik, dia yang kalian usir dan kalian kasari adalah keponakanku pemilik sah Sunshine Cafe & Resto sekaligus cucu dari Albern Alexander." Teriak Doni menyebutkan siapa Fira yang sebenarnya.
"Dia Aurelia Syafira!"
Duaarrrr...
Bersambung...
Bagi kalian yang sudah berkenan mampir membaca ceritaku, ku ucapkan beribu terima kasih. Maaf jika kemampuan menulis ku tidak seperti mereka. Maaf jika ceritaku kurang berkenan di hati kalain. Dan maaf apabila ada kesalahan dalam setiap kata.
Semoga kalian tetap di berikan kesehatan, dan yang pasti di berikan rezeki yang berlimpah agar kembali bisa membeli kuota dan membaca ceritaku. 🤣
Yang tidak suka ceritanya skip saja!
__ADS_1