
Elsa berpikir. "Reyhan...!" ucap Elsa.
Bela mendongak menatap penuh tanya pada wanita di hadapannya. "Maksud Mama Reyhan yang akan bertanggungjawab?"
"Kamu ikut Mama! Kita akan menemui Bu Saras agar pertunangan kalian di percepat kalau bisa kita bujuk dia supaya hari pertunanganmu menjadi hari pernikahan kalian."
Bak tertiup angin segar, Bela bernapas lega dan bersemangat kembali. Pikirnya ini adalah cara cepat mendapatkan Reyhan. "Aku setuju. Sebelumnya kita harus membuat suatu bukti agar Nenek Saras percaya bahwa Rey telah menodai ku." Bela langsung mendapat ide untuk membuat sebuah bukti rekayasa.
Dengan semangat membara, gadis yang sudah tak gadis lagi berdiri menarik ibunya keluar dari sana. Tanpa mereka bertiga sadari kegiatannya di perhatikan oleh sang pemilik Cafe.
Fira tersenyum penuh misteri, kedua tangannya memegang sandaran tangan yang ada di setiap sisi kursi. Kedua telunjuknya di ketuk-ketukan, matanya terfokus pada benda persegi di atas meja. "Aku ingin melihat apa yang akan kalian lakukan. Dan aku ingin melihat cara Reyhan menghadapi masalah yang menghampirinya. Akan ku ikuti permainan kalian." Gumam Fira menyeringai.
Tanpa sepengetahuan yang lain dirinya memasang cctv di setiap ruangan VVIP. Bukan tanpa alasan dirinya melakukan itu, dia hanya berjaga-jaga untuk kedepannya, dan hanya dirinyalah yang tahu semua itu bahkan hanya dia yang bisa membuka rekaman tersebut. Alasannya agar dia tahu alasan setiap gerak-gerik mencurigakan di sekitar Cafenya.
Semenjak tragedi kecelakaan, Syafira berubah drastis dalam segala hal. Mulai dari penampilan, pemikiran, tindakan, bahkan dia juga memperdalam setiap ilmu beladiri hanya semata-mata menjaga dirinya dari kejamnya dunia. Dia juga memiliki izin kepemilikan senjata api. Tapi, meski semuanya berubah hatinya tetap baik dan lembut kepada orang-orang sekitarnya, dan akan berubah jahat kepada mereka yang mengusik orang di sekitarnya.
****
Suara panggilan telepon terus berdering mengganggu aktifitas wanita tua. Dia sedang melakukan luluran di salon, hatinya bertanya siapa gerangan yang sudah mengganggu kegiatannya.
"Halo, siapa ini?"
"Saya Elsa, saya ingin bertemu denganmu nyonya! Ada yang ingin kami sampaikan mengenai Reyhan dan juga Bela."
Alis Saras naik sebelah, dahinya mengkerut bertanya-tanya ada apa. "Baik, tentukan saja tempatnya?"
****
Restoran
Saras celingukan mencari keberadaan Elsa. Setelah matanya menemukan objek yang di lihat, dia langsung menghampiri.
"Hai, jeng. Apa kabar?" saras menyapa.
"Baik, jeng." Jawab Elsa lalu keduanya cipika cipiki ala wanita.
"Loh, Bela! Kenapa matamu terlihat sembab, Nak?" Saras memperhatikan Bela, gadis itu terlihat berantakan.
__ADS_1
"Duduk dulu Jeng Saras, biar enak ngobrolnya." titah Elsa. Saraspun mendudukan bokongnya di kursi.
Elsa dan Bela mulai beraksi memperlihatkan raut wajah sedih. Saras menatap silih berganti keduanya.
"Ada apa ini? kenapa kalian terlihat sedih dan Bela, ada apa denganmu?"
"Sebenarnya kami malu mengatakannya. Tapi, mau tidak mau kami harus memberitahu Anda nyonya." Elsa mulai bersuara.
"Ada apa? katakanlah jangan ragu, siapa tahu saya bisa membantu?"
"Hhmmm, Bela hamil." Elsa mulai melakukan aksi memperlihatkan raut wajah sedih dan putus asa.
Saras melotot kaget. "Apa?! Kenapa bisa hamil? pria mana yang sudah berani menodai calon menantuku? lalu bagaimana dengan pertunangan yang hanya tinggal menghitung hari?" cerca Saras bertubi-tubi.
"Pria itu..." Bela terdiam sebentar.
"Pria itu siapa? jujur saja jangan takut!" desak Saras.
"Di dia Reyhan." Bela menangis mengeluarkan air mata biawaknya. "Dia telah memaksaku, Nek. A aku tidak bisa melawan karena tenaganya terlalu kuat." Bela berusaha akting semaksimal mungkin agar Saras percaya.
"Benar Nyonya. Reyhan sudah menodai putri saya, dan kami minta Reyhan tanggung jawab atas janin yang di kandung Bela," timpal Elsa.
"Tidak mungkin cucuku seperti itu?" Saras menggelengkan kepala menolak percaya.
"Aku punya buktinya." Bela mengambil foto di dalam tas lalu menaruhnya di atas meja.
Terlihat dua orang anak manusia berbeda jenis sedang tidur dalam satu selimut. Wajah prianya mirip Reyhan dan wanita di sampingnya adalah Bela.
Dengan gemetar Saras mengambil foto dan melihat, memperhatikan apa itu benar atau palsu. Sekilas foto itu terlihat asli sehingga Saras mampu di bohongi.
"Reyhan!" Saras tidak bisa berkata apapun setelah melihat buktinya.
Bela dan Elsa sudah saling memandang, keduanya tersenyum tipis rencananya berhasil. "Maka dari itu saya ingin Reyhan segera menikahi Bela sebelum kandungannya membesar!" desak Elsa. "Kalau tidak, saya akan melaporkannya kepihak berwajib atas kasus pemerkosaan dan Anda akan malu karena nama baik Anda tercemar." Ancam Elsa.
"Jangan laporkan ke polisi! Saya pastikan Reyhan bertanggung jawab. Saya tidak mau nama baik keluarga saya tercoreng oleh tindakannya. Dan saya juga akan menggantikan hari pertunangan kalian menjadi hari pernikahan." Saras begitu ketakutan bila nama baiknya tercoreng, dia akan melakukan apapun agar namanya terjaga.
"Itu lebih baik Nyonya. Saya harap keluarga Anda mau bertanggungjawab terutama Reyhan!" tutur Elsa.
__ADS_1
"Saya akan memastikan Reyhan menikahi Bela."
Bela menyeringai. "𝘈𝘥𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘨𝘶𝘦 𝘩𝘢𝘮𝘪𝘭. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘨𝘶𝘦 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘦𝘺𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢." 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘉𝘦𝘭𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢.
****
Tak kalah dari kedua nenek sihir, Syafira juga sedang melakukan aksinya. Setelah dari Cafe, Fira sengaja menyempatkan mampir ke salon untuk mempercantik diri. Niatnya dia akan berpenampilan berbeda untuk mengejutkan Reyhan. Dan untuk anaknya, Fira menitipkan Felix pada Sofi atas permintaan Sofi dan juga Dita karena keduanya ingin menghabiskan waktu bersama cucu mereka. Fira sih senang-senang saja anaknya ada yang menjaga.
Fira menaburkan sedikit bedak ke wajahnya, mengoleskan sedikit lipcream berwarna pink di bibir, memakai eyeliner, dan lain sebagainya. Tidak lupa memasangkan tindik hidung di sebelah kiri. Di lanjutkan mengganti pakaian sesuai yang ia inginkan.
Pilihan baju jatuh pada dress berwarna silver tak berlengan bermotif bunga-bunga dengan panjang di bawah lutut. Tatanan rambut di cepol asal tapi, terlihat rapi. Semuanya simpel namun elegan, dandan sederhana tapi, mempesona.
****
Jantungnya bergemuruh hebat, tiba-tiba saja dirinya menjadi gugup. "Ayo, Ra. Jangan gugup seperti ini! Buat Rey semakin terpesona olehmu." Gumam Fira menyemangati. "𝘊𝘬, 𝘨𝘢𝘯𝘫𝘦𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘨𝘶𝘦 𝘪𝘯𝘪," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘳𝘢.
Dengan santai Fira melangkah masuk ke dalam toko dimana Rey berada. "Mel."
Amel menoleh karena kebetulan dia sedang berada satu toko bersama abangnya. "Astaga Syafira! Loe cantik banget." Amel saja sampai pangling.
"Mana abangmu?" bukannya menjawab malah bertanya.
"Hhmmm jadi mau ketemu Abang gue nih?" goda Amel. Dan Fira mengangguk malu.
"Ok, Abang ada di sana!" tunjuk Amel ke tempat Rey berada.
"Boleh aku kesana?" izin Fira.
"Silahkan Kaka ipar. Apa sih yang enggak untukmu." Amel terkekeh sendiri oleh ucapannya.
Reyhan begitu fokus mengecek barang yang sudah mulai kosong. Dirinya terus berkeliling mencatat apa saja yang harus di beli. Ketika sedang mencatat, ada tangan yang memeluknya dari belakang.
Reyhan terkejut, dia begitu hapal wanginya, wajahnya tersenyum cerah. "Jayang, aku tahu itu kamu."
"Reyhan..." Rey menoleh, seketika wajahnya menjadi terkejut.
Bersambung....
__ADS_1