Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Perjuangan Cinta Akan Di Mulai


__ADS_3

"Silahkan masuk! Sekarang kalian tinggal di sini!" Syafira menunjukan salah satu apartemen kepada keluarga Bu Siti. Tempatnya bersebelahan dengan apartemen miliknya.


Bu Siti meneliti setiap sudut ruangan. "Ini benar tempat baru kita?" tanya Bu Siti merasa tidak yakin karena tempatnya begitu mewah.


"Benar, Nak. Ini terlalu mewah untuk kami tinggali." Balas Pak Komar sungkan masuk kedalam.


"Ku persembahkan apartemen ini untuk kalian karena kalian sudah bersedia membantuku selama ini dan yang pasti sebagai hadiah atas kebaikan kalian kepadaku dan anakku." Balas Fira tersenyum tulus.


"Masya Allah, Nak. Baik sekali kamu ini. Padahal kami tidak pernah melakukan apapun padamu, yang ada kamulah yang sering membantu keluarga kami." Bu Siti terharu atas kebaikan Syafira, dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan hadiah semewah ini.


"Untuk Fadil, sesuai janjiku waktu itu, aku akan memperkerjakan mu di salah satu Cafe milikku. Bukan sebagai pegawai melainkan sebagai pemilik Cafe. Aku persembahkan satu Cafe untuk kamu kelola sebagai hadiah ulang tahunmu." Fira juga memberikan Fadil hadiah karena hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun pria remaja itu.


"Ka," lirihnya tidak percaya. "Apa kau serius?"


"Aku serius. Gunakanlah Cafe itu sebagai ladang usaha kalian. Dan saya harap Pak Komar berhenti menjadi supir." Kata Fira serius, raut wajahnya memang tidak sedang mode bercanda. Apa yang Fira berikan kepada keluarga Bu Siti tidak ada apa-apa nya. "Tunjukan pada mereka bahwa kamu akan sukses. Ka Fira tunggu itu!" lanjut Fira menepuk-nepuk pundak Fadil. Fadil membalas Fira dengan memeluknya. "Terima kasih Ka," kata Fadil.


"Ya Tuhan, terima kasih. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih. Semoga kamu selalu di berikan kesehatan, di panjangkan umurnya, di tambahkan rezekinya, dan selalu mendapat kebahagiaan dimanapun kalian berada." Balas pak Komar ikut terharu.


"Sama-sama. Kalian istirahatlah! Aku mau ke dalam dulu." Fira pun masuk ke apartemennya setelah berpamitan.


"Pak, Nak Fira baik sekali sama kita. Ibu tidak menyangka dia begitu royal dan tidak perhitungan."


"Nak Fira memang baik. Bapak merasa terharu ada orang lain segitu baiknya sama kita, Bu."


"Dan Fadil janji, Fadil akan memberikan yang terbaik untuk Ka Fira dengan membuktikan ke suksesan Fadil," timpal Fadil.


****


Kediaman Arman


"Punya Nenek benar-benar matre. Terlihat sekali jika Nenek menginginkan harta. Padahal harta dan tahta tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Syafira. Syafira jauh lebih segalanya, dia seperti berlian di dalam lumpur." Di sepanjang jalan masuk rumah, Amel terus memberenggut kesal.

__ADS_1


"Eiitts, habis dari mana kamu? anak gadis jam segini baru pulang, kamu lihat jam tidak? jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, kamu baru pulang? keluyurun dari mana kamu, Mel?" Reyhan menarik kerah baju adiknya dari belakang seperti induk kucing mengais anaknya.


Reyhan bersembunyi di belakang pintu ketika mendengar mobil Amel berhenti.


"Abang apaan sih? lepasin!" Amel menepis tangan sang Kaka dari bajunya. "Aku bukan anak kucing ya. Lagian terserah aku mau dari mana saja, Abang tidak usah kepo." Jawab Amel mendelik kesal ke arah Abangnya.


"Abang mu tidak akan kepo jika kamu pulangnya masih sore. Kami di sini mengkhawatirkan dirimu, kamu itu perempuan tidak baik keluyuran malam." Sahut Arman dari dalam. Amel menghampirinya dan duduk di dekat Arman.


"Lalu kenapa kalian membiarkan Nenek pulang malam? apa kalian tahu apa yang telah Nenek lakukan di luaran sana? apa kalian juga akan mengkhawatirkan Nenek pabila dirinya pulang malam? Nenek juga perempuan, seharusnya Nenek diam juga di rumah memperbanyak taubat bukan memperbanyak maksiat." telak Amel.


"Amel! Sejak kapan kamu jadi pembangkang seperti ini? Kami tidak mengajarkanmu seperti itu!" sahut Dinda.


"Sejak bang Reyhan memutuskan untuk menikahi Bela. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujuinya! Selama itu pula aku akan terus menimpali ucapan kalian terutama membencimu, Bang."


"Abang juga terpaksa melakukannya? Kau tahu sendiri Nenek nekat banget dan Abang tidak mau ada korban. Lebih baik Abang yang berkorban dari pada ada nyawa melayang." Jawab Reyhan berjongkok di hadapan adiknya.


"Abang tidak berdaya menolak permintaan Nenek." Lanjut Rey berwajah murung. Dirinya juga tidak mau dan enggan menerimanya.


Reyhan terdiam mematung. Batinnya berkata, "Melihatnya menikah dengan orang lain? Tidak! Gue tidak akan membiarkan itu terjadi. Enak saja dia menjadi milik orang lain." (Lah, terus apa bedanya dengan lu Onta?)


"Abang akan memikirkannya dulu." Kata Reyhan.


Dinda dan Arman mengambil nafas kemudian membuangnya. Kedua orang tua itu tidak bisa melakukan apapun selain mengikutinya.


****


Reyhan sudah berdandan rapi, wajahnya terlihat cerah secerah mentari pagi menyinari bumi. Semalaman dirinya sudah berpikir dan memutuskan untuk memperjuangkan orang yang ia inginkan. Biarpun harus bertentangan dengan sang Nenek, biarpun harus melawannnya, biarpun dunia menentang, Rey akan terus melangkah maju demi kebahagiaannya.


"Perjuangan cinta akan di mulai." Gumamnya sambil melangkah menuruni tangga. "Mah, Pah, aku berangkat dulu." Pekiknya melewati begitu saja ruangan makan.


"Tidak sarapan dulu, Rey?" cegah Dinda menawarkan sarapan.

__ADS_1


"Nanti saja bersama Syafira." Reyhan menjawab, tangannya mengambil segelas susu dan meneguknya sampai habis.


"Janda itu sudah pergi jauh," celutuk Saras.


Reyhan menatap sang Nenek kemudian menyimpan gelas kosong di meja. "Dia masih berada di kota ini. Selama dia belum pergi jauh, aku akan mengejarnya." Dengan cuek bebek Reyhan pergi.


"Reyhan hari ini kamu harus fiting baju untuk acara pertunanganmu! Jangan membantah Nenek!" pekik Saras.


"Nenek saja! Aku tidak mau!" balasnya tak kalah keras.


"Kalau kamu membangkang, Nenek akan nekat bunuh diri!" ancamnya kembali.


"Lakukan saja jika Nenek berani. Dosanya juga di tanggung sendiri. Aku tidak peduli!" sahut Reyhan berteriak hingga tubuh kekarnya menghilang di balik pintu.


Amel sudah mengulum senyum, ia yakin abangnya terpengaruh ucapan darinya kemarin malam. "Bagus, Bang. Aku dukung kamu dengan Syafira. Enak saja melepaskan berlian murni demi remahan rengginang. Tak akan ku biarkan itu." batin Amel.


(Ngeyel banget ingin Abangnya bersama Syafira?)


(Ya iyalah, Thor. Meskipun janda bukan hanya sekedar janda. Janda rasa perawan, kaya raya, dan juga bertahta. Harta tahtah Janda)


"Keterlaluan, beraninya dia melawan neneknya." Saras memberenggut kesal.


"Biarkan anakku memilih pasangannya sendiri, Bu! Jangan paksa dia!" kata Arman.


"Ibu tetap akan menikahkannya dengan Bela. Bela itu cantik, pintar, kaya, dan yang pasti dia masih gadis."


"Cantik bisa sirna di makan usia, pintar belum tentu etika nya bagus, kaya bisa saja hanya milik orang tuanya, dan soal masih gadis atau tidaknya emang Ibu bisa merasakannya?" balas Arman.


"Jangan memuji orang berlebihan! Kalau tidak sesuai, auto menyesal. Jangan membenci dengan terlalu! Jika sampai salah benci, auto malu." Timpal Amel kemudian berdiri mengambil roti dan pergi begitu saja sambil mengunyah rotinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2