
"Apa...!"
Pekikan seseorang membuat mereka menoleh ke asal suara. "Bela," ucap Amel.
Bela baru saja tiba di kampus berbarengan dengan Haikal. Haikal sendiri terkejut melihat Jamu di kampungnya berada di area kampus.
"Kenapa anak haram itu bilang Abang ayah aku! Maksudnya apa?" Bela menatap benci Fira.
Fira sendiri malah memutar matanya jengah, dia paling malas jika sudah menghadapi ocehan orang yang menurutnya tidak jelas dan membuang waktu saja.
"Felix memang calon anakku karena ibunya calon istriku." Reyhan menjawab tegas penuh keyakinan ketika Bela bertanya.
"Apa!" pekik Bela kembali, dia tambah syok mendengar penuturan Reyhan.
"Dia wanita murahan, janda miskin, tidak pantas menjadi pendamping Bang Rey!" Bela sengaja mengeraskan suaranya agar semua yang ada di sana mendengar.
"Kau itu kenapa? Dia tidak seperti yang kau tuduhkan. Aku memilihnya karena memang aku yang menginginkan dirinya, terlebih dia janda atau bukan aku menerima itu." Reyhan tetap membela Fira di hadapan Bela.
Felix memandang Reyhan, mata bulatnya berkaca-kaca mendengar penuturan Reyhan. "Ayah," lirihnya.
Rey menoleh, dia tertegun menatap mata bulat itu. Ada rasa tidak biasa ketika menatapnya, dia seperti mengenali seseorang dari diri Felix.
"Dia bukan ayahmu anak haram!" bentak Bela tidak terima Rey dengan Fira.
"Stop! Jika kau membenciku lampiaskan semuanya padaku! Jangan kau bawa anakku dalam amarahmu, Bela!" bentak Fira tidak terima Felix terus di katakan anak haram.
"Gue memang bembencimu janda sialan, kau pelakor yang berusaha merebut Reyhan dariku!" maki Bela di tengah keramaian para mahasiswa.
"Fira tidak merebut Bang Rey dari siapapun! Sudah ku katakan jika Abangku tidak pernah menyukaimu! Kau sendiri yang terus berusaha mendekati Abangku di saat kau masih menjadi pacar Haikal. Bahkan sampai sekarangpun kau masih resmi menjadi pacar Haikal, lalu kenapa kau marah ketika Abangku memiliki calon istri? Kau bukan siapa-siapa nya! Ingat kau pacarnya Haikal!" telak Amel merasa muak dengan Bela, Amel menekan setiap kata yang ia lontarkan.
Bela dan Haikal emang pacaran, makanya mereka datang bareng. Dan Amel adalah orang yang dulu pernah di PHP-in oleh Haikal, dekat dengan siapa jadian dengan siapa.
Bela diam tidak berkutik, yang di katakan Amel emang benar. Di kampus, Bela dan Haikal terkenal sebagai pasangan romantis, keduanya selalu menontonkan kemesraan di manapun mereka berada.
Haikal tersenyum sinis menertawakan dirinya sendiri. "Pacar tidak di akui!" sindirnya pada Bela.
"Mending kita masuk!" ajak Amel menarik Syafira masuk kedalam meninggalkan mereka.
"Tunggu, Mel!" cegah Fira ketika tangannya di tarik Amel.
"Sayang, apa kamu mau ikut Bunda?" Fira berjongkok menjejajarkan tubuhnya dengan sang anak.
__ADS_1
"Aku mau ikut Ayah Ley! Boleh ya Bunda." pinta Felix memelas.
Fira menunduk, menarik nafas lalu membuangnya secara kasar. "Mas," panggil Fira lembut menatap Rey penuh permohonan.
Reyhan mengangguk mengerti. "Aku akan menjaganya. Kamu jangan khawatir!" Reyhan mengusap lembut kepala Syafira.
Tingkah mereka di perhatikan oleh orang yang ada di situ. Bela semakin membenci Fira, tangannya mengepal kuat menahan amarah ingin segera meluapkan pada janda itu.
Tangan Bela terangkat ingin menampar Fira. Tapi, dengan segera Fira mencekal pergelangan tangan Bela. Syafira berdiri menatap Bela lembut namun menusuk.
Bela meringis kesakitan lalu Fira menghempaskan Bela hingga terhunyung ke samping.
"Aku masuk dulu, Mas. Felix jangan merepotkan Ayah! Ingat ya, sayang!" kedua kalinya Syafira menyebut Reyhan Mas.
"Mas! Kedua kalinya dia memanggilku, Mas. Ya Tuhan, kenapa jantungku malah berdebar-debar?" batin Rey.
Fira masuk bersama Amel meninggalkan yang lainnya. Rey juga ikut meninggalkan area parkir bersama Felix. Sedangkan Bela menatap murka kepada Syafira.
"Bela, hari ini kita putus!" ucap Haikal lantang masih di tengah keramaian mahasiswa.
Duaaaarr...
Bak di sambar petir, Bela langsung menoleh ke Haikal penuh keterkejutan. "Kenapa putus?" ada rasa tidak terima Haikal memutuskannya.
Amarah Bela sudah memuncak, dia pergi dari area kampus karena malu di tatap sinis oleh orang yang ada di sana.
****
Kantor Mahendra.
Brakkkk...!
Hendra yang sedang meneliti laporan terlonjak kaget, Bela datang menggebrak meja kerjanya.
"Kamu apaan sih, datang main gebrak saja? Bukannya kamu kuliah?"
"Aku malas kuliah, ada janda murahan di kampusku. Kapan Papa menyingkirkan janda sialan itu?"
Mahendra menatap Bela. "Kamu sabar dong! Papa juga lagi mikirin gimana caranya menyingkirkan dia, saat ini Papa lagi pusing ngurusin urusan kantor," balas Hendra kesal.
"Pokoknya, aku mau malam ini Papa singkirkan dia! Dia sudah berani mengusik milikku, dan sudah mempermalukan ku, Pah."
__ADS_1
"Kamu itu bawel banget, Bela! Iya, nanti Papa suruh orang-orang Papa untuk menyingkirkan dia."
"Ok, aku tunggu kabar dari Papa!" kata Bela lalu pergi meninggalkan Hendra.
"Bela, kamu mau kemana lagi?"
"Mau main sama temenku, dah papah, selamat bekerja!"
"Bela, bantuin Papa ngurus kerjaan!"
"Gak mau!" pekik Bela yang sudah membuka pintu.
Hendra mengacak rambutnya dengan kasar, "Punya anak gak bisa di andalkan."
Diapun mengambil benda pipihnya menelpon seseorang. "Halo, kamu habisi perempuan yang mengganggu ketenangan putriku! Nanti Bela akan mengirimkan ciri-cirinya."
Mahendra pun mematikannya dan kembali melanjutkan pekerjaan dia.
****
Toko Mainan
"Ayah, kenapa kita kecini? Aku tidak mau beli mainan!" celoteh Felix ketika sudah sampai di depan salah satu toko mainan milik keluarga Reyhan.
Reyhan tersenyum, "Ini tempat Ayah bekerja, jadi kita mampir dulu kesini."
Ketika akan keluar, Felix kembali berucap membuat Reyhan mengurungkan niatnya.
"Om, maukah jadi ayahku?"
Reyhan menatap intens mata bulat bocah yang ada di pangkuannya. "Om pengen tahu dulu alasan kamu?"
"Felix ingin memiliki Ayah sepelti anak lain, aku belum pelnah di peluk Ayah, aku belum pelnah ketemu Ayah, aku hanya bisa melihat Ayahku di foto saja. Aku ingin melasakan bagaimana lasanya memiliki Ayah, belmain baleng Ayah, dimandiin Ayah, makan di cuapin Ayah, dan aku memanggil Om Ayah kalena aku yakin jika Om akan menjadi Ayahku dan juga Ayah dali adik-adik ku kelak." Felix mengungkapkan apa yang selama ini di inginkan oleh seorang anak kecil.
Mata bocah itu sudah tergenang air, mungkin sebentar lagi akan tumpah. Reyhan tertegun mendengar keinginan anak kecil di hadapannya, pemuda itu memeluk tubuh mungil yang terlihat ceria namun dalam hati merindukan dan menginginkan sosok seorang ayah.
Tangis Felix pecah ketika Reyhan memeluknya. "Huuaaa Ayah aku udah di culga Om, a aku melindukannya, a aku ingin ada yang menjaga Bunda dali meleka yang jahat sama Bunda." Felix terus berucap meski suaranya terputus-putus karena tangis.
Reyhan memejamkan mata, memeluk sayang tubuh mungil itu. "Jadi ayahmu sudah tiada," batin Rey.
"Om, maukah jadi ayahku?" tanya Felix kembali dalam dekapan Rey.
__ADS_1
"Om bersedia menjadi Ayahmu," jawabnya yakin. "Aku sudah memantapkan hati untuk menikahimu, Syafira. Akan ku pastikan kalian menjadi milikku. Jujur, hati kecilku sudah terpikat pesonamu," batinnya yakin.
Bersambung....