Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Siapa Kamu?


__ADS_3

Fira dan Reyhan tiba di kediaman Arman.


Fira masih enggan untuk keluar, tiba-tiba saja dia jadi gugup saat akan bertemu keluarga Reyhan.


"Ayo! Kenapa malah bengong. Kamu gugup?" tanya Rey, Fira mengangguk.


Rey menyunggingkan sudut bibirnya, merasa gemas.


Reyhan ke luar, kemudian menghampiri Fira dan membuka kan pintu.


"Tenang saja, keluargaku baik. Mereka tidak akan menggigit mu," goda Reyhan.


Batin Fira berkata, "Seperti mau ketemu camer saja."


Fira menurunkan kakinya dan mengikuti Rey dari belakang.


"Sore, semuanya," sapa Reyhan.


Arman yang sedang mengerjakan pekerjaan di ruang tamu menoleh, matanya terfokus pada wajah Syafira.


"Kamu?!"


Fira yang tadinya menunduk mendongakkan wajahnya, dia ikut terkejut melihat wajah Arman.


"Halo, Om. Kita ketemu lagi," ujar Fira.


"Kenapa kalian bisa bareng? Apa dia pacarmu, Rey?" tanya Arman bingung.


"Iya, pah. Dia pacar Reyhan," celetuk Rey.


Fira menoleh melototkan matanya ke Rey.


Rey tersenyum menggerakkan alisnya menggoda Fira. Syafira yang melihatnya bergidik ngeri.


"Bukan om..."


Tapi mulutnya tiba-tiba di bekap oleh Rey.


"Maksud Fira bukan pacar, tapi calon istri."


Fira semakin kesal, hatinya menjadi dongkol akan ucapan Reyhan.


Sebenarnya Rey tak sengaja mengakui Fira sebagai pacarnya. Karena terlanjur bicara, akhirnya Rey punya ide untuk pura-pura agar tidak di tanya terus oleh orang tuanya.


"Akhirnya, kamu suka perempuan juga. Papa kira kamu suka sesama terong," kata Arman terkekeh.


"Iisss, anak ganteng gini masa suka sama terong? Enggaklah. Rey lebih suka kacang-kacangan," balas Rey sambil tertawa dan Armanpun ikut tertawa.

__ADS_1


Fira yang tidak mengerti malah bengong sambil berfikir keras. "Apa maksudnya terong, kacang" batin Fira.


"Kayanya lagi bahagia, kenapa sih?" tanya seseorang tiba-tiba.


Fira membalikan badan, bibirnya tersenyum melihat orang yang pernah ia tolong.


"Syafira!" pekik Amel dan Dinda yang baru pulang dari acara arisan.


Dengan segera Amel langsung memeluk Fira. Fira meringis karena Amel tak sengaja menekan bagian yang terluka.


"Ssssttthh."


"Kamu kenapa?" Amel mengurai pelukannya.


"Kamu tidak apa-apa? apa luka mu berdarah lagi?" tanya Rey khawatir. Dia memegang dan melihat pangkal lengan Fira yang terluka.


"Astaga! Kamu terluka?" pekik Amel ketika melihat kakanya memegang Fira.


Dinda mendekat, dia ikut terkejut.


"Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai terluka begini?" tanya Dinda panik.


Fira melirik ke arah Rey. Sebelum Rey menjawab terdengar teriak anak kecil dari luar.


"Bunda!" pekik Felix, bocah itu langsung saja memeluk kaki bundanya.


"Bunda, kata Om Dika, Bunda terluka, mana lukanya? apa sakit? apa Bunda sudah ke doktel? aku tidak mau Bunda cakit" Felix terus bertanya tanpa memperdulikan yang lain, dan mata bulatnya sudah berkaca-kaca.


"Heii," Fira berjongkok mensejajarkan tubuhnya. "Bunda gak pa pa sayang, kamu jangan khawatir, om Reyhan sudah membawa Bunda ke rumah sakit. Maafin Bunda, ya. Sudah membuat kamu khawatir," ucap Fira memeluk Felix. Bocah kriwil itu tidak mau jauh dari bundanya, dia terus memeluk ceruk leher Fira.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Fira?" tanya Dika yang ikut berjongkok melihat luka Fira.


Terlihat jelas ke khawatiran di wajah Dika, dan itu tak luput dari pandangan Arman serta Reyhan.


Fira berdiri, Dika juga berdiri.


"Kita duduk, lalu jelaskan apa yang terjadi!" titah Arman.


Mereka semua duduk mendengarkan penjelasan Fira dan juga Reyhan.


Mereka yang mendengarkan kaget dan bersyukur karena keduanya masih selamat.


"Kiranya siapa mereka? kenapa mereka menyerangmu?" tanya Dika penasaran.


"Aku juga tidak tahu, Om. Padahal aku baru dua Minggu di sini. Tapi, sudah banyak kejadian yang menguras tenagaku," jawab Fira.


"Apa kamu punya musuh?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Setahuku tidak, Tante."


"Ini aneh? tidak mungkin mereka menyerang tanpa ada sebabnya. Apa sebelumnya pernah terjadi hal yang sama?" timpal Arman.


Fira berfikir sejenak. "Pernah, tiga tahun yang lalu ada seseorang yang juga menginginkan nyawaku."


"Ini seperti di rencanakan," timpal Reyhan. "Siapa kamu sebenarnya? kamu sangat misterius!" batin Rey menatap terus wajah Fira.


"Maksud kamu?" tanya Fira pada Reyhan.


"Ada seseorang yang menginginkan kematian kamu, dan mereka merencanakan semuanya. Tidak mungkin ini kebetulan," kata Rey membalas tatapan Fira.


Mereka terdiam lalu membenarkan ucapan Reyhan.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Amel curiga jika Syafira bukanlah wanita biasa.


Deg!...


Fira tertegun mendengar pertanyaan Amel. Fira berusaha untuk tidak gugup dan berusaha sesantai mungkin menjawab pertanyaan Amel.


"Aku hanya wanita biasa, aku juga manusia sama seperti kalian. Aku bukan pejabat, aku bukan aparat, aku hanyalah seorang janda ber anak." Jawab Fira berusaha untuk sesantai mungkin.


"Bunda, bukan janda biasa!" celetuk Felix penuh penekanan dari setiap katanya.


"Sudahlah lupakan saja masalah ini! Lebih baik kamu ganti bajunya! Mel, pinjamkan dulu baju mu! Sepertinya ukuran kalian sama," kata Dinda.


"Iya, kamu dan anakmu menginap saja di sini! Ini sudah jam enam sore." Melihat kondisi Fira, Arman berinisiatif menyuruh Fira dan anaknya untuk menginap.


"Benar, Fir. Itu jauh lebih baik di bandingkan kamu harus pulang, takutnya ada hal yang tidak terduga lagi!" sahut Amel.


Fira terdiam, dia bingung antara menolak dan menerima. Jika menolak, apa yang di katakan Amel benarnya juga. Jika menginap, dia merasa tidak enak hati baru kenal sudah menginap di rumah orang.


"Hmmmm, baiklah. Maaf merepotkan kalian," kata Fira.


"Tidak apa, nyawamu lebih utama," balas Arman.


"Kalau gitu saya pamit pulang, kasihan Dita ditinggal lama." Dika pamit kepada keluarga Arman.


"Hati-hati, Dik," balas Arman.


"Terima kasih, Om sudah menjaga Felix. Maaf merepotkan," sahut Fira.


Dika tersenyum mengangguk, dengan replek Dika mengelus kepala Fira.


"Semoga cepat sembuh", ucap Dika.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2