
"Syafira."
"Hmmm." Fira menjawab dengan deheman. Matanya terpejam kembali saat mereka satu mobil. Fira enggan melihat karena masih merasa malu dan canggung atas apa yang terjadi antara dirinya juga Reyhan.
"Aku ingin meminta jawaban lamaranku waktu itu. Apa kamu mau menjadi istriku?" Reyhan mengingatkan kembali kata itu yang dulu pernah ia ucapkan.
"Kasih aku waktu. Aku belum tahu pasti perasaanku seperti apa yang jelas aku akan memberikanmu kesempatan untuk membuktikan keseriusanmu." Jawab Fira masih memejamkan mata.
"Sampai kapan? berapa lama lagi ku harus menunggu jawaban darimu? terus yang terjadi antara kita barusan apa tidak membuat dadamu bergetar? kalau boleh jujur jantungku berdebar saat bersamamu." Balas Reyhan jujur, tangannya mengambil tangan Fira dan meletakkannya di dada.
Fira membuka mata langsung menoleh ke arah Reyhan. Jantung Rey berdetak lebih kencang dari sebelumnya, tangan Firapun merasakannya.
"Apa kamu bisa merasakannya? kalau boleh aku mau jujur padamu. Aku mencintaimu, Ra. Entah sejak kapan? aku sendiri tidak tahu. Yang pasti ku selalu merindu pabila tidak bertemu denganmu. Jantungku berdegup kencang saat bersamamu, aku merasa tidak suka jika ada yang mendekatimu. Hatiku sakit ketika melihatmu terluka, aku bahagia melihatmu tertawa. Cinta tumbuh begitu cepat tanpa di duga. Hati kecilku menginginkan kamu menjadi pendampingku. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal ini pada wanita manapun kecuali kamu. Kamu mampu menggoyahkan benteng hatiku saat pertama kali berjumpa denganmu." Reyhan mengungkap isi hatinya secara terang-terangan. Itulah yang selama ini di rasakan olehnya.
Fira diam mendengarkan setiap ucapan lelaki tampan blasteran Arab di sampingnya. Hatinya tiba-tiba saja menghangat, sudut bibirnya sedikit mengangkat menampilkan senyuman tipis. "Kamu bilang mencintaiku? lalu kenapa kamu malah memilih Bela sebagai calonmu? sebentar lagi kalian akan melangsungkan pertunangan." Balas Fira berwajah sendu.
Rey menoleh, dan memberhentikan mobilnya karena sudah sampai di tempat tujuan lalu menghadap Fira masih dengan menautkan jarinya ke jari tangan Fira.
"Dengarkan aku, aku melakukan itu karena terpaksa. Nenek mengancam ku dengan nyawanya. Sumpah aku tidak menyukainya, sumpah aku tidak ingin menikah dengannya. Kamu percaya kan sama aku?" Reyhan menatap serius bola mata janda incarannya. Terlihat kesungguhan dan kejujuran di sorot mata Rey. Fira sendiri bisa melihat itu.
"Buktikan kalau memang kamu mencintaiku karena wanita butuh bukti bukan hanya sekedar janji ataupun ucapan."
Tanpa di duga, Reyhan menarik tengkuk Fira kemudian mengulang kembali yang tadi terjadi.
"Reyhan...!!" Fira mendorong pundak Rey agar terlepas dari serangan lelaki itu.
"Itu salah satu buktinya. Mau lagi?" ucap Rey cuek sambil mengusap bibir Fira.
"Kamu nyebelin, ini kampus bagaimana kalau ada yang lihat?" Fira celingukan takut ada orang memergoki mereka.
"Berarti kalau tidak di kampus dan tidak ada orang boleh dong?" goda Rey tersenyum cerah.
Wajah kembali merona. "Eh, tidak begitu juga." sanggahnya malu dan gugup.
__ADS_1
"Aku anggap itu jawaban bahwa kamu mau menjadi istriku. Masuk gih! Ingat! Jaga hatimu untukku!" perintah Reyhan. Fira mengangguk malu.
(Mana Syafira yang kuat nan tangguh? kok di rayu begitu saja udah klepek-klepek.)
(Lah, Thor. Kan situ sendiri yang buat cerita, saya mah hanya ngikut saja apa maunya author)
(KALIAN TIDAK SUKA? SKIP SAJA OK! NO RIBET!)
Fira sudah bersiap memegang gagang pintu mobil. "Jayang." Panggil Reyhan. "Iya." Jawab Fira kembali menoleh.
Reyhan menempelkan bibirnya di kening Fira, mengecupnya penuh perasaan. "Aku mencintaimu janda sayang."
Fira ikut memejamkan mata dan tersenyum tipis lalu kepalanya mengangguk.
"Sudah ah, lama-lama aku bisa khilaf." Celetuk Rey.
"Ck, dasar mesum." Cibir Fira sambil keluar kemudian berlari masuk ke dalam kampus.
"Hahaha kamu menggemaskan sekali Jayang." Dia menggelengkan kepala kemudian pergi meninggalkan area kampus.
****
Langkah kakiku terasa ringan, beban di pundakku seakan sirna begitu saja. Pikiranku seketika plong setelah melihat dan sedikit menyentuh janda tersayangku. Aku sudah gila berani mengecup bibirnya. Rasanya sungguh terasa nano-nano. Entahlah, sulit di ungkapkan oleh sebuah kata namun terasa nikmat bila di rasa, kalian juga pasti pernah merasakannya.
Sepanjang perjalanan menuju toko senyumku tak pernah pudar menerawang kembali apa yang terjadi hari ini. Sungguh pesona janda anak satu itu mampu mengalihkan duniaku. Hidupku terasa berwarna sejak kehadirannya masuk ke kehidupanku.
Aku tidak menyangkan akan jatuh cinta padanya. Sedari awal, dia sudah mampu membuat ku gila. Gila karena sering membuatku terbayang wajahnya, gila karena pikiran kotorku mulai meracuni otakku dan sekarang aku menyadarinya bahwa aku memang gila. Gila karena tergila-gila pada janda muda.
"Indahnya jatuh cinta, sungguh luar biasa! Syafira kau harus menjadi milik ku apapun yang terjadi," gumam Reyhan.
****
POV Syafira
__ADS_1
Aku melangkah maju masuk ke dalam kampus namun bibirku tidak bisa berhenti tersenyum. Akhir-akhir ini aku sering merasakan perasaan yang berbeda saat berdekatan dengannya. Bisa dibilang jantung mulai berdebar tak menentu ketika pertama kalinya Reyhan mengecupku. Aku sendiri bingung kenapa perasaan ini bisa muncul padahal aku sudah berusaha untuk tidak jatuh kedalam pesonanya.
Aku kembali meraba bibirku yang masih terasa kebas akibat ulahnya. Jika boleh berkata jujur hatiku merasa senang dan bahagia saat bersamanya. Dan tak tau kenapa juga aku malah diam saja saat Reyhan kembali menikmati manis madu di bibirku. Sungguh aku tidak bisa menolaknya. Biar dikata ganjen, centil, terlalu murahan atau apalah aku tidak peduli kata orang yang penting aku tidak merugikan mereka.
"Reyhan, kamu mampu mencuri hatiku. Jika kamu memang mencintaiku, ku harap kamu tidak mengecewakanku. Aku tunggu kamu datang meminangku! Aku mau menjadi istrimu!" Fira mengetiknya di benda yang ia genggam kemudian ia send ke kontak Rey.
****
Toko Mainan
Ketika sampai kasirpun Rey terus tersenyum. Para pegawainya merasa heran sebab tingkah sang bos tidak seperti biasanya. Rey melipatkan kedua tangannya di bawah kepala, tubuhnya di senderkan ke kursi, matanya di pejamkan dan bayangan itu kembali hadir di benaknya.
"Kau kenapa, Bos? senyam senyum seperti orang gila saja," ucap Daffa.
"Gue emang udah gila, Daff."
"Hah! Apa! Loe beneran gila? sejak kapan?" Daffa menempelkan punggung tangan ke dahi Reyhan akibat terkejut.
"Sejak ketemu Jayang." Balas Rey masih betah dengan bayangan tadi.
"Jayang? Siapa dia? apa dia sejenis spesies atau sejenis virus sampai membuat kau jadi gila?" tanya Daffa serius.
"Ya, Jayang virus. Virus cinta sudah menjalar kemana-mana. Syafira aku mencintaimu?" pekik Reyhan tak tahu malu.
"Hadeuuhh, dasar bos gila! Gue kira loe beneran kena gangguan jiwa. Tidak tahunya terkena pesona sang janda." Cibir Daffa mencebikkan bibirnya. Ia kira Rey seriusan tak tahunya hanya sedang jatuh cinta.
"Janda, mengalihkan duniaku."
"Ck," Daffa mencebik.
Tring...sebuah pesan masuk ke handphone Rey. Reypun membuka pesannya, sontak saja Rey langsung berdiri berteriak. "Yes, gue di terima, Daff. Syafira mau menjadi istri gua." pekik Reyhan memeluk Daffa dan memutarkan tubuh mereka.
Batin Daffa menggerutu, "Bos gila, gue yang jadi sasarannya."
__ADS_1
Bersambung....