
"Kaka?!...Adek?!..." Nicho terkejut melotot sempurna.
"Aku mau pulang sekarang!" ucap Sofi menunduk tak berani menatap Kakanya.
Arman merasa heran, dalam hati bertanya mengenai sikap adiknya. "Ada apa dengan Sofi? kenapa dia terlihat ketakutan?"
"Terima kasih, Nicho. Kau sudah menyelamatkan adikku dari rencana Mahendra." Arman masih bisa menghargai Nicho dan berterima kasih padanya meski banyak pertanyaan yang ingin di lontarkan.
Nicho mematung, pikirannya masih belum bisa mencerna apa kata Arman barusan. Kata Adik dan kakak seakan berputar di kepalanya.
"Jadi dia adikmu, Arman?" Mama Karin bertanya sebab ia terlalu semangat mengetahui wanita yang akan di nikahi Nicho adalah adik sahabat anaknya sendiri.
"Benar, Mam. Dia Sofi adikku satu-satunya."
Bruukkk.... Nicho terhunyung kebelakang menyenderkan tubuhnya ke pintu. "Jadi dia adiknya Arman, wanita yang selama ini ku cari dan ku rusak masa depannya adalah adik Arman! Kenapa aku begitu bodoh tidak bisa menemukannya?" batin Nicho.
Arman mengkerutkan dahinya. "Kau kenapa? apa kau sakit?" tanya Arman pada Nicho.
Nicho tidak menjawab melainkan menunduk kebingungan.
Mami Karin menatap iba pada anaknya, dia mengerti jika Nicho terkejut dan bingung harus berkata apa. "Arman, ada yang ingin kami sampaikan kepadamu. Berhubung ini masih dini hari, pagi saja kami menyampaikannya di depan keluargamu."
"Mengenai apa itu?"
"Kau juga akan tahu nanti."
"Aku mau pulang." Pinta Sofi pada Kakanya.
"Kita pulang sekarang. Mam, Terima kasih karena sudah menolong adikku. Kami harus segera pulang karena ada hal yang harus kami urus juga." Arman berpamitan kepada Karin.
"Oh, gitu ya. Ya sudah, saya izinkan kalian pulang dan hati-hati di jalannya." Melihat Sofi ketakutan membuat Karin mengizinkan mereka pulang.
Arman dan Sofi pun berpamitan. Sofi enggan menyapa Nicho saat Arman pamit pada Nicho dan ia memegang erat tangan sang Kaka kuat.
"Nic, saya pamit."
Nicho hanya mengangguk saja tanpa menjawab. Setelah kepergian keduanya, Nicho terduduk lesu di dekat pintu masuk. "Arman pasti marah besar jika tahu akulah pelakunya, Mam."
Arman pernah bercerita mengenai peristiwa yang di alami adiknya.
__ADS_1
"Besok kita kerumah Arman menjelaskan semuanya. Kamu harus berani bertanggungjawab atas apa yang telah kamu lakukan! Kau hadapi segalanya, Nic!" nasehat Mami Karin.
****
Mumpung masih ada waktu beristirahat, semua orang tidur sejenak menjernihkan pikiran mereka masing-masing.
"Felix, Bunda harap kamu tidak trauma atas apa yang terjadi." Fira mengusap kepala anaknya yang sudah terlelap duluan akibat kelelahan.
Rey menatap wanita di sampingnya. "Aku yakin kalau Felix tidak akan trauma. Aku malah melihat dia akan menjadi pria pemberani tanpa rasa takut."
"Semoga saja, Mas. Aku lelah, mau istirahat dulu."
Dan merekapun terlelap karena memang kelelahan.
****
Semua keluarga sudah berkumpul di apartemen mewah milik Syafira. Keluarga Dika dan Keluarga Arman bergabung menjadi satu membahas mengenai yang terjadi semalam.
"Jadi, Ibu tidak bisa di selamatkan?" Arman sungguh terkejut dan sedih ketika Reyhan menceritakan segalanya dan salah satu korban dari ledakan itu adalah Saras.
"Maafkan aku, Pah. Aku tidak ingat kalau Nenek ada di dalam, dan aku baru ingat setelah ledakan terjadi." Syafira merasa bersalah karena ia tidak mengingat adanya Saras di situ.
"Fira masih mending tidak melenyapkan siapapun sedangkan saya, saya membunuh Kaka sendiri." Timpal Dika termenung menumpukan sikutnya di paha dan menutup wajahnya menggunakan telapak tangan.
Dita yang ada di samping suaminya mengusap punggung Dika, dia sendiri ikut sedih atas apa yang terjadi.
"Itu akhir dari mereka. Tuhan telah menghukum mereka dengan cara tragis seperti itu. Mereka yang membuat rencana dan mereka pula yang terjebak rencananya sendiri. Orang baik akan selalu di lindungi di manapun kita berada meski dalam keadaan genting sekalipun. Kisah mereka mengajarkan kita untuk tidak menjunjung tinggi harta, tahta, dan rasa egois. Egois dan tamak harta hanya akan menyesatkan dan membuat hancur diri kita secara perlahan."
Felix, si bocah kecil berambut kriwil berumur 4 tahun itu mengucapkan sebuah kalimat luar biasa. Perkataan yang Felix lontarkan membuat para orang dewasa melongo saking takjub akan pemikirannya.
"Wooos, amazing! Sungguh bijak sekali." Amel benar-benar terpukau.
"Eeehhh, tunggu dulu." Felix menyadari sesuatu, dia langsung berdiri mendekati Bunda nya. "Bunda, tadi aku bilang R kan?! Horeeee....aku sudah bisa bicara R. Bunda, aku bisa. R R horeee, aaku bisa, aku bisaaa." Felix jingkrak-jingkrakan meliuk-liukan tubuhnya saking senang bisa menyebutkan hirup R karena selama ini Felix masih cadel R.
Semua orang menjadi tersenyum melihat Felix, saking gemasnya sampai Rey menangkap tubuh Felix lalu mengangkat nya ke atas dan menggelitiki perutnya pakai wajah.
"Anak ayah lucu sekali, sih."
"Hahaha Ayah geli...Hahaha Ayah ampuun!" Felix tertawa lepas tanpa beban.
__ADS_1
Kegiatan mereka terhenti ketika ada panggilan masuk ke handphone Arman. Rey menurunkan Felix dan langsung memangkunya duduk di pangkuan dia.
"Halo, Arman. Kami sudah berada di depan rumahmu, kata security-nya kalian tidak ada di rumah."
"Kami sedang berada di apartemen anak kami. Kalian datang saja kemari!"
"Baiklah, kalau begitu kami kesana sekarang."
"Siapa, Pah?" tanya Dinda.
"Mami Karin."
Sofi menjadi gelisah, ia meremas kuat jarinya saking takut dan gugup. Syafira dan Felix bisa melihat kegelisahan di wajah Sofi. Fira langsung berdiri dan berjongkok di hadapan Sofi. Semua orang heran melihat Fira seperti itu.
Fira memegang tangan dingin Mama nya. "Mah, Mama harus hadapi segalanya, buanglah rasa takut itu dan lihat, ada ka Rio dan Felix hadir di hidup Mama. Jangan menyesali sesuatu yang telah Tuhan gariskan untuk Mama. Aku dan mereka ada bersama Mama."
"Ada apa ini? apa yang kalian sembunyikan dari ku?" Arman bingung dan belum mengerti.
Ting-tong bel berbunyi, Fira langsung berdiri membuka pintu apartemen nya dan langsung tersenyum ramah. "Silahkan masuk Tante, Om."
"Terima kasih, Nak." Karin tersanjung akan kesopanan Fira.
Mereka pun masuk dan langsung duduk di hadapan Arman setelah Fira persilahkan duduk. "Ramai sekali ya di sini, seperti sudah menjadi keluarga besar saja. Mumpung ada Dika juga sekalian kamu jadi saksi ya, Dik!"
"Saksi apa?" tanya Dika.
"Saksi bahwa kedatangan kami kesini akan melamar adiknya Arman menjadi istri Nicho." Karin langsung bicara niat nya.
"Apa?! tunggu dulu! Bukannya Nicho tidak akan menikah sampai bertemu wanita yang...." Arman menggantung ucapannya, seketika dia teringat kalau Fira pernah menyebutkan nama Ayah Rio. Sungguh terkejut bukan main, ia baru menyadari kalau nama itu nama Nicho sahabatnya. "Apa mungkin Nicholas Saputra?!" ucap Arman penuh pertanyaan dan penekanan.
Nicho dan yang lain tidak mengerti yang Arman ucapkan.
"Kau Nicholas Saputra, apa kau juga yang sudah menghancurkan adikku?" Rahang Arman mengeras, tangannya sudah mengepal ingin menghajar kalau memang itu benar.
Deg...!
Semua orang tertegun tapi tidak dengan Fira dan Felix.
Bersambung...
__ADS_1