Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Pelajaran


__ADS_3

Duarrr....


Bagaikan tersambar petir, mereka langsung terdiam mematung. Siapa yang tidak mengenal nama Aurelia Syafira yang terkenal sebagai pengusaha muda Cafe dan Restoran di masanya. Nama itu akhir-akhir ini hangat di perbincangkan oleh khalayak umum karena di usia muda mampu mengembangkan usaha hingga sukses.


Mereka semakin terkejut pendengar Aurelia Syafira sebagai cucu Albern Alexander. Ratih termangu mematung di tempat. Tubuhnya mendadak lemas, pikirannya menjadi kacau, dadanya terasa sesak mendengar siapa gadis yang sering ia kata-katai. Hatinya sudah ketakutan namun dia masih enggan mempercayainya.


"Hahaha saya tidak percaya itu! Bisa saja dia telah menyodorkan tubuhnya untuk menjerat kau dan berlindung di belakangmy!" Ratih meracau menolak kenyataan di hadapannya.


"Hahaha kenapa? apa kau takut menerima kenyataan, nyonya Ratih? sayangnya yang dikatakan dia benar bahwa saya pemilik sah SC and R sekaligus cucu Albern Alexander." Balas Fira sinis dan tawa jahatnya keluar.


"Dia bos Besar, Bu. Dia atasan Bapak." Sahut Heru menimpali ucapan Fira.


Bruukk... Ratih tertunduk lesu di tanah. Jika itu benar, dia sudah melakukan kesalahan. Dirinya hanya bisa berandai, andai mau mendengarkan perkataan suami, andai tidak gegabah, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


"Bunda bukan janda biasa!" pekik Felix mencekal erat tangan sang Bunda.


"Felix benar, wanita yang kalian hina, yang akan kalian arak keliling kampung bukanlah janda biasa. Dia putriku!" pekik Dita baru saja tiba di sana bersama Sofi.


Kedua wanita itu mendekati Syafira dan merangkulnya. "Mi, Ma." Lirih Fira menatap keduanya secara bergantian. Mata Fira sudah berkaca-kaca ketika di dekat Sofi.


"Menangis lah jika itu bisa mengeluarkan sedikit beban hidupmu! Kami di sini bersamamu! Kami tahu hatimu sangat rapuh namun kau mampu menyembunyikannya di hadapan mereka." Bisik Sofi di telinga Fira dan masih bisa di dengan oleh Dita.


Tiba-tiba saja Fira memeluk Sofi, menangis di pelukan wanita yang sudah bersedia merawatnya sedari Fira SMP. Bohong jika dia tidak merasakan sakit hati, bohong jika dia tidak merasa marah, bohong jika dia tidak rapuh di katai janda miskin murahan, di tuduh pelakor, dan terus di serang secara mendadak.

__ADS_1


Fisiknya memang kuat, tapi hati kecilnya teluka. Fira harus mengalami serangkaian peristiwa semenjak kecelakaan itu. Tiada tempat berkeluh kesah, tiada tempat mengadu menceritakan apa yang ia rasa. Semuanya ia pendam sendiri berusaha kuat di hadapan orang-orang yang ingin menjatuhkannya.


Doni dan Dita sakit mendengar tangisan pilu Fira. "𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪𝘮𝘶. 𝘛𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘭𝘪𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴." 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘋𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘱𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.


Fira menghapus air matanya, dan kembali menatap Ratih. "Saya akan memberikan Anda pelajaran agar Anda bisa berpikir sebelum bertindak. Maafkan saya pak Heru, saya harus melaporkan tindakan ini kepihak berwajib."


"Silahkan! Saya tidak akan melarangnya." Jawab Heru pasrah, jika dia mencegah yang ada dirinya terancam. Mungkin ini cara Tuhan menegur Ratih untuk tidak gegabah dalam mengambil setiap tindakan.


"Tidak, saya tidak mau di penjara! Pak saya mohon bujuk dia untuk tidak menjebloskan Ibu ke penjara!" Pinta Ratih histeris.


"Kau sudah terlambat, Bapak sudah bilang jangan mengusik Syafira! Tapi, kau malah membangkang ucapanku. Maafkan Bapak, Ibu harus mempertanggungjawabkan perbuatan Ibu." Heru memalingkan wajahnya.


"Pak! Pak! Jangan biarkan Ibu di penjara, Pak!" Ratih berteriak histeris, dia tidak mau di tahan.


Penjara dalam kamus Fira ialah di asingkan kepulau terpencil dan hanya Fira beserta antek-antek yang bisa ke pulau tersebut dan hanya bisa menggunakan halikopter. Tidak ada yang boleh menjenguk mereka selama dalam masa hukuman.


"Ba baik, ka kami mengerti." Mereka tertunduk takut menatap mata gadis di hadapannya. Lebih baik cari aman daripada cari masalah, begitulah pikiran mereka.


"Pak Komar, kalian ikut saya! Kita akan pindah dari kampung sini. Disini semua penghuninya tidak punya akal sehat!" sindir Fira kepada para warga.


Kemudian rombongan Fira pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Ratih di bawa Leo kepenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Berpikirlah dulu sebelum bertindak. Kita tidak pernah tahu kedepannya akan seperti apa. Bisa jadi apa yang kamu lakukan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri. Dan jangan pernah menilai seseorang dari sudut pandang dirimu saja, kau juga harus menilai dari sudut pandang mereka. Terkadang apa yang kita lihat dan kita dengar tidak sesuai dengan kenyataannya. Dan terkadang penilaian kita terhadap seseorang bisa salah. Jika kamu tidak tahu apapun tentang mereka, lebih baik diamlah. Sebab, kalau sampai ucapanmu salah maka kamu sendiri yang akan merugi. INGAT..! DON'T JUDGE A BOOK BY ITS COVER! Begitupun dengan kita jangan pernah menilai seseorang dari luarnya saja.

__ADS_1


****


"Aku bahagia, Nek. Pasti sekarang janda miskin itu sudah di usir dari kampungnya. Pasti sekarang dia sedang di arak keliling kampung oleh warga. Itu pelajaran bagi orang sepertinya. Ja**ng itu harus di kasih pelajaran agar dia kapok." Bela tertawa puas, dia tidak tahu saja bahwa anak buahnya sudah tertangkap oleh pasukan Syafira. Dia baru saja mendapat laporan dari anak buahnya bahwa rencana dia berhasil. Padahal itu hanyalah kebohongan yang sudah di rencanakan Fira.


"Apa kamu yakin seratus persen?" Tanya Saras memastikan kembali.


"Aku yakin, lihat ini! Ini video saat janda itu di arak dan di usir." Bela memperlihatkan relkaman Video pada Saras padahal itu palsu. Video itu di buat dan di edit sedemikian rupa agar terlihat seperti nyata.


Saras bergidik ngeri. "Ohhh, seram sekali. Nenek suka dengan kerja kamu. Dengan kejadian ini Reyhan pasti semakin membenci Syafira dan pastinya akan menikahimu. Nenek jamin itu!"


Bela tersenyum puas dan bahagia. "Aku sudah tidak sabar bersanding dengan Bang Reyhan. Sekarang kita ke mall merayakan keberhasilan kita. Aku akan membelikan nenek satu set berlian asli!"


"Benarkah?" Saras berbinar mendengarnya, dia ingin sekali membeli perhiasan. Tapi, karena tidak punya uangnya dia hanya berkhayal setinggi langit.


"Serius, anggap saja sebagai hadiah atas keberhasilan kita menyingkirkan janda murahan itu." Bela berdiri dari duduknya lalu menyeruput capuccino hingga habis, setelahnya mereka meninggalkan Cafe itu.


"Ck, kalian salah memilih lawan. Syafira tidak mudah di tumbangkan. Aku yakin itu hanyalah sebagian rencana mereka untuk menghancurkan dirimu, Bela." Tanpa mereka sadari Amel mengikuti Saras dari awal keluar rumah. Adik Reyhan itu ingin tahu Saras bertemu siapa karena Saras terlihat terburu-buru.


Entah kenapa Amel sendiri jadi muak dengan Bela? padahal Bela merupakan temannya sejak dari jaman SMA. Dia semakin tidak menyukai sifat Bela yang menurutnya egois. "Aku doakan kalian mendapatkan karmanya! Aamiin, kabulkanlah permintaan hamba ini ya Tuhan! semoga kalian cepat sadar." Amel menengadahkan telapak tangannya berdoa untuk mereka berdua lalu mengusapkan ke wajahnya.


Bersambung....


Beribu-ribu maaf jika ceritanya kurang memuaskan. 🙏 Yang tidak suka skip saja!

__ADS_1


__ADS_2