
Dua Minggu telah berlalu. Paska peristawa ledakan yang mengakibatkan tewasnya Mahendra dan Saras kehidupan mereka kembali normal seperti biasanya.
Fira menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Pikiran dan tubuhnya benar-benar terasa lelah. Setiap kejadian demi kejadian menghampiri mereka secara berturut-turut tanpa ada jeda sedikitpun.
"Ya Tuhan rasanya sangat lelah." Gumam Fira tengkurap di atas kasur.
Reyhan masuk membawakan minuman hangat untuk istrinya. Ia menaruh nampan itu lalu duduk di pinggir ranjang memperhatikan sang istri yang sedang berbaring dengan posisi tengkurap.
"Sayang, aku bawakan minuman jahe untukmu agar badanmu terasa lebih segar."
"Hmmmm, terima kasih, Mas."
"Pasti kamu lelah dan pegal. Badan kamu juga pasti capek."
"Sangat, Yank. Badanku memang sangat lelah. Rasanya terasa remuk." Fira masih tengkurap memejamkan matanya.
"Aku pijitin mau gak?" Reyhan menawarkan jasa pijat pada istrinya.
Fira langsung membuka matanya menatap wajah sang suami. "Jangan ah! Seharusnya aku yang mijitin kamu." Fira merasa tidak enak kalau suaminya melakukan hal itu.
"Tidak apa-apa. Sekarang kamu buka bajunya aku pijitin biar badanmu terasa ringan!" Reyhan serius menawarkan diri dan tidak ada maksud apapun.
"Kenapa harus buka baju? begini juga bisa." tanya Fira memicingkan mata curiga.
"Biar memudahkan ku memijit tubuhmu. Masa di pijit pakai baju? lagian kita suami istri jadi kamu tidak perlu malu."
"Oh gitu. Apa tidak merepotkan mu?" tanya Fira memastikan.
"Tidak, sayang. Aku beneran ikhlas memijitmu."
"Ya sudah, tapi hanya pijit doang kan?"
"Iya. Bawel banget sih istriku ini." Rey mengecup singkat bibir Syafira.
Dan Fira pun menuruti perintah Reyhan. Ia membuka dress yang ia kenakan menyisakan hotpants berwarna hitam dan pembungkus gunung kembarnya.
__ADS_1
Reyhan pun mulai memijit kaki istrinya penuh perasaan. Awalnya biasa saja, namun lama-kelamaan hawa panas menjalar ke tubuh Rey di kala dia memijat punggung sang istri dan tanpa sengaja memegang pinggiran kenyal milik istrinya.
"Pijitan kamu enak sekali, Mas. Terima kasih ya." Kata Fira menikmati pijitan suaminya.
"Sama-sama. Tapi kamu harus membayarnya." Reyhan menyeringai, ia merencanakan sesuatu.
"Kenapa mesti bayar? bukannya tadi kamu yang nawarin buat mijitin aku, kenapa sekarang malah perhitungan gitu?" Fira tidak tahu saja kalau suaminya minta sesuatu lebih bukan hanya sekedar uang.
"Ya harus dong. Semuanya tidak gratis."
"Kok gitu?!" Fira yang tengkurap membalikan badan menatap suaminya. "Tadi katanya ikhlas, masa sekarang minta bayaran?" Fira mencebik.
Tanpa aba-aba Rey langsung mengukung istrinya. Dia sudah tidak tahan melihat pemandangan di depannya yang sungguh menggoda dirinya.
Rey meremas pelan milik sang istri lalu me**mat bibir Fira. "Kamu harus membayarnya dengan ini, sayang." Rey kembali menempelkan bibir keduanya.
Tangan Rey mulai melepas pembungkus berbentuk kacamata itu. Tangannya silih berganti meremas, memilin sesuatu yang ia sukai. Bahkan tangannya sudah nakal mengusap perut istrinya dan menjalar ke bawah perut dengan bibir saling bertautan.
Fira menggelinjang hebat ketika Rey mengobrak-abrik milik dia. Bibir Rey menyusuri leher sang istri memberikan jejak berwarna merah keunguan di sana. Wajah Rey semakin turun ke bawah me*j**at, me**ulum, me**esap, aset kembar sang istri.
"Sayaaang, aah." Fira memejamkan mata menikmati segalanya, ia terus mengeluarkan suara merdu di kala Reyhan memasukan bola ke gawangnya. Dengan semangat, Rey terus membobol gawang itu.
Rey menarik selimut menutupi tubuh keduanya yang tanpa sehelai benang apapun. "Terima kasih, Sayang." Rey mengecup kening sang istri yang ada dalam dekapannya sebagai tanda terima kasih sudah memuaskan hasrat nya.
"Sama-sama, sayang." Fira menelusupkan wajahnya ke dada Rey dan tangannya memeluk pinggang sang suami.
"Sayang, apa kita perlu bulan madu? selama menikah kita belum pernah bulan madu kemanapun."
"Apa kamu mau kita bulan madu?" bukannya menjawab, Fira malah bertanya balik.
"Kalau aku tidak perlu. Di rumah juga sama saja melakukan bulan madu. Bahkan di manapun jika ada kesempatan dan tempat yang pas bisa di sebut bulan madu juga. Aku hanya ingin tahu pemikiran dan keinginan kamu saja."
"Aku sepemikiran dengan kamu, aku tidak terlalu ingin melakukan bulan madu. Yang aku inginkan kita semua bahagia, sehat, panjang umur, dan damai. Aku berharap semoga kedepannya tidak ada lagi cobaan seberat kemarin."
"Kita berdoa saja semoga kedepannya tidak ada cobaan berat." Reyhan tiba-tiba mengusap perut istrinya. "Kapan disini ada baby? rasanya aku sudah tidak sabar ingin menggendong anak kita. Kita sudah mau tiga bulan menikah, apa sudah ada tanda-tanda nya?"
__ADS_1
Fira terdiam, dia mengingat-ngingat kapan ia terakhir datang bulan. Seketika senyumnya mengembang kala ia ingat bahwa ia sudah telat satu bulan lebih.
"Kita berdoa saja semoga dia cepat tumbuh di sini." tangan Fira memegang tangan Rey yang ada di perutnya.
Batin Fira berkata, "Aku yakin dia sudah ada di sini, Mas. Aku akan memastikannya besok dan jika benar, aku akan memberikannya sebagai hadiah ulang tahun kamu."
"Aku selalu berdoa semoga di sini cepat ada baby nya. Dan aku berdoa semoga kita bersama selamanya."
Firapun mengaminkan doa sang suami lalu keduanya tertidur dalam keadaan berpelukan.
****
Sofi, Dinda, dan Amel sudah bersiap melakukan joging pagi. Mereka akan berolah raga mengelilingi kompleks perumahan di sekitar situ. Ketiganya sedang menalikan tali sepatu.
"Kalian mau kemana? ini masih pagi sekali loh." tanya Felix yang baru saja bangun. Matanya masih ada beleknya dan Felix menguap lebar-lebar.
Felix tidak tidur bareng orang tuanya atas keinginan dia sendiri. Alasan pada semua orang Felix kangen rumah Arman padahal Felix memberikan waktu kedua orang tuanya untuk berduaan setelah apa yang terjadi.
"Kami mau lari pagi, Nak. Biar pikiran kami tidak stress memikirkan yang terjadi. Lagian kami tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan," kata Dinda menatap Felix.
"Aku ikut ya, Nek? tapi, aku naik sepeda." Felix ingin ikut mereka karena menurut dia pasti akan seru.
"Kamu di sini saja sama kakek Arman. Kasihan dia tidak ada temennya." Bujuk Sofi.
"Mau ikut juga gak papa. Sekalian saja kamu olah raga bersepeda biar supaya sehat." Pendapat Amel menyetujui keinginan Felix.
"Horeee aku ikuti kata Aunty Amel saja. Oma, Nenek tunggu aku ya!" Dengan mandirinya Felix segera mandi dan juga memakai pakaian olahraga lalu segera bergabung dengan para wanita.
"Aku sudah siap." Felix siap, di kepalanya sudah ada helm olahraga sepeda.
"Cepat sekali, pasti kamu tidak mandi ya?"
"Hehehe iya, Oma." Felix cengengesan. "Aku cuman cucu muka dan gosok gigi." Lanjut Felix menatap polos ketiganya.
Mereka tersenyum menggelengkan kepala. "Ya sudah enggak apa, kita berangkat yuk!" ajak Dinda.
__ADS_1
Dan merekapun lari pagi, sedangkan Felix bersepeda bareng ketiganya.
Bersambung....