
"Ukhu....ukhu...." Saras tersedak makanan.
"Apa! Janda pelakor ini yang masak? Selera makan ibu jadi jelek karenanya," ucap Saras menunda kembali suapannya. Padahal dalam hati dia menyukai makanan itu.
Bela penasaran tentang rasanya, ketika Bela akan makan tiba-tiba ada kecoa yang nemplok di pangkuannya.
"Aaaaaa kecoa, kecoa," pekik Bela kaget, kemudian dia berdiri dan berjingkrak-jingkrak mengusir kecoa yang menempel.
Felix terbahak melihat Bela, yang lain mengulum senyum menahan tawa. Tapi, tidak dengan Fira, ia menoleh ke arah sang anak dan Felix tiba-tiba memberhentikan tawanya saat melihat mata sang Bunda lalu menunduk karena takut. "𝘔𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯," 𝘨𝘶𝘮𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘍𝘦𝘭𝘪𝘹.
"Nenek, aku mau pulang saja. Aku malu, pasti ini kerjaan anak haram itu," ucap Bela sinis mendelik tajam ke Fira, kemudian Bela pergi dari sana.
"Kalian lihat! Betapa bandelnya anak ini, pasti wanita ini tidak mendidiknya dengan benar," ucap Saras sinis.
"Bunda, selalu mendidik ku. Tapi, aku tidak suka jika ada olang yang menghina Bunda," celetuk Felix mengangkat kepalanya menatap tajam Saras.
"Anak mana yang tidak diam jika bundanya telus di cemooah tanpa ada bukti yang valid, hanya anak dulhaka dan kulang ajal sepelti itu," sahutnya kembali. masih menatap Saras tanpa takut. "Makanya aku keljai."
Semuanya terdiam, dari mereka ada yang membenarkan jika apa yang di katakan Felix benar.
"Felix benar, anak mana yang tidak marah jika orang tuanya di hina," sahut Amel mendukung ucapan Felix.
"Orang seperti dia kau bela, Mel? Dari tampangnya saja dia bukan orang baik. Anaknya saja masih kecil sudah pintar menjawab, pasti ibunya bukan wanita baik-baik dan anaknya pasti anak haram."
"Jangan pernah anda katakan anak saya anak haram!" saut Fira dingin.
"Aku bukan anak halam!" pekik Felix tidak terima ucapan Saras.
"Jika bukan anak haram mana bapaknya? Tidak ada! Kau pindahan dari kota M pasti hanya untuk menghindari aib dan hinaan orang lain!" Saras mendapat informasi itu dari Bela, dan Bela tahu itu dari Bu Ratih.
"Aku punya orang tua! Aku bukan anak halam!" Jawab Felix membela.
__ADS_1
"Kau salah menilai kami nyonya!"
"Itu benar, dan kau berani melawan ucapanku? ini rumah ku, seharusnya kau menjaga sopan santunmu!" bentak Saras.
"Orang sopan, saya segan. Orang menginjak, saya ngelunjak. Berkaca lah terlebih dulu, apakah anda sudah sopan dan tidak menginjak? Jika sudah, saya akan segan dan tidak ngelunjak," ucap Fira.
"Kau!" tunjuk Saras tepat di depan wajah Syafira. "Janda kurang ajar, beraninya kau membantah ucapan saya. Saya peringatkan kau, jangan pernah kau dekati keluargaku atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Saras menatap tajam Fira.
"Bu, jangan seperti itu! Dia calon istrinya Reyhan," ucap Arman.
"Apa! Calon istri cucuku! Kau sudah gila Arman. Janda seperti ini mau di jadikan mantu kita? Ibu tidak sudi punya mantu janda miskin sepertinya!" kata Saras menolak mentah-mentah kehadiran Fira di keluarganya.
"Apa salahnya jika dia janda, Bu? Dia pilihan Reyhan, aku akan merestuinya jika Rey bahagia bersama Fira." Arman kembali menjawab, dia malah membela Syafira dan mendukung Fira dengan Reyhan.
"Dia tidak sepadan dengan kita. Kita keluarga terpandang, Arman. Pokoknya Ibu tidak merestui Reyhan dengan janda ini!"
"Biarkan Reyhan sendiri yang memilih. Ini hidupnya, kami tidak akan melarang dengan siapa Rey akan menikah," timpal Dinda.
"Kalian ini kenapa sih, malah membela janda murahan ini? Aku Ibu kalian, jadi Ibu yang berhak menentukan siapa yang pantas menjadi pendamping Rey!" Saras kekeh menolak Fira berada di keluarganya.
Fira bangkit dari duduknya. "Maafkan saya, saya pamit pulang," ucap Fira.
Felix mengerti ucapan bundanya, dia juga turun dari kursi menghampiri sang Bunda.
"Pergi sana! Kehadiran kalian tidak di inginkan oleh kami!" cibir Saras.
Ketika Fira melangkah tangannya di cekal oleh Reyhan.
"Duduk!" Rey berucap menatap tajam Fira.
"Tidak, Rey. Kami harus pergi, karena aku kalian jadi bertengkar." Fira membalas tatapan Rey dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"Aku yang membawamu kemari, jadi aku pula yang akan menyuruhmu pergi! Tidak ada satupun dari mereka yang boleh mengusirmu dari sini!" ucap Rey masih menatap mata Fira dan tangannya masih mencekal pergelangan Fira.
Fira menggelengkan kepala berusaha melepaskan cekalan Rey dari tangannya. Tapi sayang, cekalannya sungguh kuat dan sulit untuk di lepaskan.
"Apa-apaan kamu, Rey? Biarkan dia pergi! Jangan mencegahnya!" bentak Saras.
"Maaf, Nek. Kali ini Rey tidak akan mengikuti perintah Nenek! Rey punya hak untuk menentukan apa yang yang menurut Rey baik bagi diriku sendiri." "𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘺𝘢𝘧𝘪𝘳𝘢?" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘙𝘦𝘺 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢.
"Reyhan!!!" emosi Saras memuncak, dia melototkan matanya terkejut akan ucapan cucunya.
Reyhan menghelakan nafasnya, ini yang ia tidak di sukai dari sifat sang Nenek, suka mengatur hidupnya. Padahal, orang tuanya saja tidak pernah mengatur Rey.
Rey berdiri, lalu pergi meninggalkan meja makan sambil tangannya mencekal Fira.
Saras termangu melihat sikap cucunya, dia tidak menyangka Reyhan akan melakukan itu padanya. "𝘐𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶!" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘚𝘢𝘳𝘢𝘴.
Amel dan Dinda ikut meninggalkan meja makan menyusul Rey. Tinggallah Arman dan Saras yang ada di meja makan.
"Jangan campuri urusan Reyhan jika Ibu tidak ingin menyesal kembali! Ingat! Ibu pernah berbuat salah kepada Sofi, dan jangan sampai Ibu melakukan kesalahan lagi!" kata Arman penuh peringatan lalu pergi meninggalkan Saras yang masih terpaku.
****
"Maafkan saya, bukan maksud saya melawan, tapi saya hanya berusaha membela," ucap Fira penuh penyesalan.
Mereka sekarang berada di ruang keluarga.
"Tidak apa-apa, Mama mengerti akan perasaanmu. Lebih baik kalian istirahat!" ujar Dinda. "Mel, tolong kamu antar Syafira dan anaknya ke kamar tamu!" lanjutnya.
Amel beranjak dari duduknya dan mengantarkan Fira ke kekamarnya. Dia juga memberikan baju tidur untuk Fira pakai.
Setelah Fira pergi, Dinda berkata. "Rey, Mama harap kamu tidak terpengaruh oleh Nenek! Mama yakin jika Syafira perempuan baik dan jujur. Mama harap kamu dan dia benar-benar akan menikah."
__ADS_1
Rey mengangguk, kemudian dia juga pamit ke kamar. Mereka semua pergi ke kamar masing-masing meninggalkan Saras di dapur yang masih terpaku akan sikap keluarganya
Bersambung......