
"Turunin mas!" ucap seseorang.
"Jangan dengarkan dia! Dia ini istriku, dia lagi marah sama saya karena saat ini sedang hamil," ujar Reyhan.
Mata Fira melotot kaget, "Jangan asal ngomong kamu! Bohong, dia bo....." Ucapannya terhenti karena secepat kilat Rey mengecup bibir Fira di depan banyak orang.
Rey gemas, dan tanpa sadar dia mengecup Fira. Rey sendiri terdiam saat dia sudah menjauhkan wajahnya, dia juga tidak menyangka jika dia akan melakukan hal itu. Sama halnya dengan Fira, dia mematung dan menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Rey karena malu, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Ini adalah kecupan pertama bagi mereka berdua, karena pada dasarnya mereka sama-sama belum pernah pacaran.
Di dalam mobil pun mereka terdiam, Fira hanya memandangi pemandangan di sebelah kirinya.
Jantung keduanya berdegup kencang, ada rasa yang tidak biasa yang mereka rasakan. Malu, gugup, jantung dag dig dug, menjadi satu. Fira sendiri tidak berani menoleh ke arah Reyhan, nyalinya tiba-tiba menciut saat Rey memperlakukannya seperti tadi.
"Seharian ini aku akan bersamamu, dan sekarang kita mau ke mana?" tanya Rey berusaha menormalkan kegugupannya, tapi matanya fokus ke depan.
"Antarkan aku ke rumah Tante saja," balas Fira.
Rey mengerutkan dahinya, dia bingung.
"Alamatnya?" tanya Rey kembali.
Fira menoleh, lalu menyebutkan alamatnya. Rey sempat kaget karena itu rumah Mahardika teman papanya.
Dalam hati Rey berkata, "Ada hubungan apa dia sama om Dika? apa dia simpanannya? tidak! kamu jangan berpikiran negatif, Rey!" Rey menggelengkan kepalanya mengusir pikiran negatif yang sempat melintas di kepalanya.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di kediaman Mahardika. Dari depan teras sudah terlihat Felix sedang bermain sepeda di temani Dita.
"Syafira datang," ucap Dita dengan bahagia dan bertepuk tangan.
"Bunda," pekik Felix, lalu dia menyimpan sepedanya dan berlari ke arah Fira kemudian memeluk kaki Bundanya.
Fira tersenyum, dia mengusap kepala anaknya dengan sayang.
Rey yang baru turun sempat mematung, banyak pertanyaan di benaknya tentang Fira.
"Bunda, kaki Bunda kenapa?" tanya Felix ketika melihat lutut Bundanya di perban.
Fira hanya menggunakan rok kerja di bawah lutut, itu sebabnya dia bisa terluka saat jatuh ke aspal.
"Bunda kalian tidak apa-apa, tadi dia jatuh karena di kejar sama guguk, tapi guguknya Bunda lawan dan kabur," kata Rey.
"Telus guguknya tidak kenapa-kenapa 'kan?" celetuk Felix polos.
"Felix, harusnya kamu khawatir sama Bunda, bukan sama guguknya," saut Fira kesal.
"Bunda, Bunda tidak akan kalah kalau hanya lawan guguk, Bunda kan hebat, jago bela dili, jago main pistol, jago main pedang," balas Felix.
"Pedang?" ucap Rey dengan mata melotot karena kaget.
__ADS_1
"Fira, sakit?" tanya Dita sambil melihat lukanya.
Fira berucap, "Tidak, ini tidak sakit, aku kan kuat."
"Kuat, Bunda kuat, kayak supelhelo," ucap Dita menirukan gaya bicara Felix.
"Uti, itukan gaya bicala aku," sela Felix.
"Hehehe, bial sama," ucap Dita kembali.
Fira menggeleng kepala sambil tersenyum, sedangkan Rey masih bingung dengan apa yang ia lihat saat ini karena mereka terlihat sangat akrab sekali.
Mereka pun masuk dengan Felix yang minta di gendong oleh Rey. Dan Dita, dia berlari dengan girang menghampiri ruangan kerja suaminya sambil berteriak, "Papi, ada Syafira, anak kita, Papi."
"Syafira, anak kita?" gumam Rey sangat pelan.
Tak lama kemudian Dika keluar bersama Dita yang menuntunnya, "Ayo, Papi! Itu Syafira datang," kata Dita.
"Iya, Mih. Ehh ada Reyhan juga!" ucap Dika saat sudah tiba di ruang keluarga, lalu dia ikut duduk berhadapan dengan Rey dan Fira. Sedangkan Dita dan Felix ke taman belakang bermain tutup mata.
"Halo, om," sapa Rey.
"Halo, juga. Apa kalian datang secara bersamaan?" tanya Dika penasaran.
"Kami hanya kebetulan ketemu di jalan," balas Fira.
"Ti tidak, om. Mana mungkin aku sama dia memiliki hubungan, kami kan hanya sepupuan."
Deg!
Rey baru sadar, jika Fira adalah sepupunya, wajahnya menjadi murung saat mengetahui dia tidak mungkin bersama Fira.
Dika mengkerutkan dahinya. "Sudahlah, tidak usah di pikirkan! Mumpung kalian di sini, Saya mau nitip Dita sama kalian, ada urusan yang harus saya urus," kata Dika.
"Baik, Om!"
"Baik, Om!" balas mereka berdua.
Dika pun berlalu pergi meninggalkan keduanya.
"Bunda, ayo ikut main," ajak Felix saat menghampiri. "Ayah Ley juga ikut ya," lanjutnya.
"Ya sudah, ayo," balas Fira dan Rey. Dan mereka berdua mengikuti langkah Felix.
"Kita mau main apa, sayang?" tanya Fira yang sudah ikut bergabung bersama Dita.
"Main tutup mata," jawab Dita.
"Gimana caranya?" tanya Rey.
__ADS_1
"Sekalang kita hompimpa, telus yang kalah matanya di tutup pakai kain lalu tangkap kita dan tebak siapa kita," ucap Felix.
"Ok, siapa takut, pasti kita menang ya, Tan," kata Fira.
Merekapun hompimpa dan ternyata Rey yang kalah. "Aahhh, kalah," ucap Rey lesu.
"Sekalang Ayah tutup matanya!" kata Felix memasangkan kain di bantu oleh Fira.
Rey di putar terlebih dulu barulah di lepaskan.
"Ayah Leyhan, kami di sini, tangkap aku!" kata Felix.
"Aku di sini," kata Dita
Rey maju mengulurkan kedua tangannya mencari ke asal suara.
"Mas Rey," panggil Fira lembut.
Felix sudah tertawa melihat Rey yang terus ke bingungan, Felix mencolek pinggang Rey dan berlari ke belakang Fira, Sedangkan Dita ikut mencolek lengan Rey lalu ikut berlari mengikuti Felix. Sehingga mereka semua berada di belakang Fira.
"Kami di sini," ucap Mereka.
Fira tertawa dia gemas karena Rey masih belum bisa menangkap. Rey menajamkan pendengarannya dan berjalan sedikit berlari untuk menangkap.
"Dapat!" Pekiknya
Tapi, sebelumnya kaki Rey kesandung kakinya sendiri hingga dia oleng dan jatuh bersama orang yang ia tangkap.
Bruukk....
"Dapat, kena kamu, Fira." ucap Rey tertawa, dia merasa menang saat bisa menangkap Fira lalu dia membuka penutup matanya dan keduanya saling memandang dengan Rey yang berada di atas Fira.
Dita yang melihat itu tersenyum tipis.
"Hole, Ayah Ley, menang," pekik Felix lompat-lompat di tempat sambil bertepuk tangan.
Dita juga ikut bertepuk tangan karena bahagia. "Menang, Fira kalah, Rey menang," kata Dita.
Rey dan Fira tersadar lalu Rey menyingkir dari tubuh Fira, mereka berdua bangun lalu duduk, wajah keduanya sudah memerah malu dan salah tingkah.
"Maaf," ucap keduanya.
"Hahahaha, Bunda sama om Ley blushing," ledek Felix.
"Cieee," timpal Dita.
Tambah merah lah wajah keduanya di ledek habis-habisan oleh Dita dan Felix. Keduanya memalingkan muka karena sudah kepalang malu.
Bersambung.....
__ADS_1