Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Deg-degan


__ADS_3

"Kemana Reyhan? Ini udah pukul 12 siang dia belum juga pulang?" Saras bertanya kepada Arman dan Dinda.


Semuanya sedang berada di tempat dimana Rey akan melangsungkan pernikahan. Orang tua Reyhan tidak tahu jika acara pertunangannya di ganti menjadi pernikahan karena Saras tidak memberitahukan kepada mereka.


Saras sudah bersiap tinggal menunggu Rey datang. Begitupun dengan orang tua Rey yang sudah siap juga. Di balik acara, Arman gelisah takut Reyhan datang dan menikahi Bela.


"Dia berada di rumahnya. Bu, sebaiknya Kita batalkan saja acara ini! Kita tidak boleh memaksa Reyhan." Arman akan berusaha membatalkan acaranya.


"Tidak akan! Ibu akan tetap melanjutkan semuanya, apa kamu tidak malu kalau sampai perut Bela membesar akibat ulah Reyhan? dia lelaki harus tanggung jawab!" Saras menolak tegas.


"Aku yakin kalau putraku tidak seperti itu, Bu. Bisa jadi itu semua jebakan atau mungkin hanya sebuah omong kosong belaka?" Arman kekeh.


"Kamu itu kenapa, hah? kemarin kamu percaya pada semua buktinya sekarang malah berusaha membujuk Ibu membatalkan acaranya, mau mu apa Arman?" pekik Saras kesal.


"Mau ku Ibu membatalkan acaranya!"


"Pah, kalau kita membatalkannya keluarga kita akan tercoreng. Reyhan juga akan malu, maka dari itu dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya." sahut Dinda ikut mengomentari.


"Pokoknya aku menolak tegas pernikahan Reyhan! Dia sudah menikah." Saking kesalnya Arman malah keceplosan.


"Apa?!" keduanya terlonjak kaget.


"Dengan siapa?" tanya keduanya.


Arman menyadari ucapannya. "𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢."


"Dengan Syafira, aku sendiri yang menjadi saksinya," kata Arman pasrah.


"kau bertindak sesukamu, dan tidak memberitahuku? sampai kapanpun Ibu tidak akan merestui mereka. Reyhan akan tetap menikahi Bela karena Bela wanita yang sempurna untuk cucuku!" pekik Saras marah.


Dinda diam, hatinya senang kalau itu memang benar. Namun dia bingung Rey juga harus bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Jangan sampai tindakan Ibu menghancurkan dirimu sendiri! Di sini Reyhan di fitnah." Arman menjawab, setelahnya dia langsung pergi dari sana.


****


Rey terbangun dari tidurnya, ia melihat jam di dinding. "Jam 12 siang." Rey menatap wanita di sampingnya. Tangannya mengusap pipi Fira. "Sekarang kamu sudah menjadi milikku, tak akan bisa ada orang yang memisahkan kita. Terima kasih sudah menjaganya untukku, Aku semakin mencintaimu setelah tahu segalanya mengenai dirimu."


Syafira menceritakan semuanya, mulai dari A sampai Z, dari Sabang sampai Merauke dan berakhir di pelukan Reyhan.


Dering telpon milik Rey terus berbunyi. Rey mengangkatnya.


"Reyhan, kesini sekarang juga! Dada Nenek sakit, tolong Nenek." Di sebrang telpon Saras berakting seolah kesakitan.

__ADS_1


Reyhan panik. "Nenek dimana? aku akan kesana sekarang juga." Setelah mendapatkan alamatnya, Rey bangun pergi membersihkan diri.


Pergerakan Reyhan membangunkan Fira. "Kenapa Rey sepanik itu?" Fira melilitkan selimut dan berusaha duduk.


Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Rey yang sedang menggosok kepalanya menggunakan handuk. Fira terpesona dibuatnya, Reyhan sungguh sangat tampan apalagi dada bidangnya membuat Fira panas dingin.


"Aku tahu kamu mengagumi segalanya, sayang." celetuk Rey berjalan ke almari memakai pakaiannya.


Fira menunduk memilin selimut akibat gugup dan malu ketahuan memandangi Reyhan. Rey melihat menggunakan ekor matanya. Dia tersenyum tipis akan tingkah sang istri.


"Aku akan menemui Nenek. Tadi dia menelpon mengatakan dadanya sakit."


Fira mendongak, ia merasa aneh. "Apa kamu percaya?"


"Iya, aku percaya. Sepertinya dia memang sakit." Reyhan menghampiri Fira lalu mengecup pucuk kepala sang istri. "Aku pergi dulu, nanti aku kembali lagi."


"Apa kamu mau meninggalkan ku dalam keadaan seperti ini? rasanya aku seperti ja**ng baru di pakai langsung di tinggalkan." ucap Fira sinis.


"Hei, pikiran darimana itu? aku tidak pernah berpikir seperti itu sayang. Kamu istriku, sampai kapanpun kamu istriku. Aku pamit ya, aku harus mengurus sesuatu dulu." Rey kembali membawa kepala Fira dalam dekapannya. Lalu ia pergi meninggalkan Fira.


Fira menatap punggung Rey hingga benar-benar hilang. Dia mengambil benda persegi dan menelpon seseorang. "Lakukan tugasmu dengan apik! Jangan sampai ada yang tahu!"


****


"Mah, nenek mana? apa keadaannya baik-baik saja?" tanya Rey ketika melihat Dinda keluar dari ruangan.


Dinda mengernyit. "Ada di dalam." Belum juga Rey selesai bicara, Reyhan langsung masuk saja. "Aneh." gumam Dinda.


"Nenek," panggil Rey. Seketika Rey termangu melihat keadaan sang Nenek baik-baik saja. Malah dia melihat Saras tersenyum cerah sudah memakai pakaian kebaya.


"Reyhan sekarang kamu pakai ini!" Saras menyodorkan setelan jas pada cucunya.


Rey melihat pakaian itu lalu menatap Saras. "Jadi Nenek hanya pura-pura sakit? lalu maksud dari semua ini apa?" Reyhan tidak habis pikir neneknya bisa berbuat seperti itu.


"Kalau Nenek tidak pura-pura sakit, pasti kamu tidak akan kemari. Pakailah! Hari ini kamu akan menikah dengan Bela."


Reyhan melotot kaget. "Apa?! hari ini? aku tidak mau!" tolak Rey ingin pergi.


"Kalau kamu pergi dan tidak menikahi Bela rekaman ini akan menyebar luas." Saras memutar sebuah video Syafira di arak keliling kampung dalam keadaan mekakai pakaian dalam.


Rehyan semakin terkejut saja. "𝘐𝘵𝘶 𝘴𝘺𝘢𝘧𝘪𝘳𝘢? 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢? 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶?" 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘙𝘦𝘺𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢.


"Bagaimana? kamu mau dia menjadi olok-olokan netizen yang julitnya mengalahkan level pedas?" ancam Saras.

__ADS_1


Rey bingung, kalau menolak nasib istrinya terancam. Kalau menerima, ia tidak menginginkan Bela. Akhirnya keputusan jatuh kepada pilihan sang Nenek untuk menjaga nama baik sang istri.


****


"Aku deg-degan sekali, Mah." Bela sudah gugup.


"Tenangkan dirimu! Sebentar lagi Rey akan menjadi suamimu." Elsa menenangkan.


"Apa Papa akan datang?"


"Dia baru saja sampai dan sedang bersiap. Mama juga sudah menyiapkan awak media untuk meliputi acaramu agar mereka tahu bahwa Reyhan milikmu."


Bela tersenyum, dia merasa menang atas diri Reyhan.


****


Fira juga sudah bersiap dan menuju ke tempat yang ia tuju. Dia ingin melihat seperti apa permainan yang di rencanakan Bela. Dia akan memberikan kejutan luar biasa kepada mereka.


****


"Bibi tolong datang selamatkan ku dari rencana kalian ini. Aku tidak mau mengkhianati istriku, Bi." gumam Rey pelan.


Reyhan gelisah, dia melihat kesekeliling mencari orang yang di kenal berharap seseorang membantunya. Matanya melotot kaget saat menemukan Dika, dan Dita. Kedua orang tua Firapun melihatnya dan langsung membuang muka. Reyhan termenung.


Bela sudah duduk di dekat Rey.


"Ayo, Rey. Jabat tangan penghulunya."


Dengan ragu Rey mulai menjabat tangan penghulu setelah mendapat desakan dari Saras. "𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶."


"Sudah siap?" tanya penghulu.


"Siap, Pak." jawab Saras semangat. Dinda menunduk berdoa agar ada keajaiban.


Tak lama kemudian kata sah menggema di ruangan itu. Reyhan menunduk lesu merasa bersalah. "𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩."


"Mas," panggil seseorang. Reyhan mendongak.


Deg..! Dia tertegun melihat wanita yang ia cintai berdiri dengan derai air mata.


Bersambung...


Maaf kalau kurang puas dengan hasilnya dan maaf kalau tidak sesuai dengan yang kalian harapkan.

__ADS_1


__ADS_2