Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Terluka


__ADS_3

Karena waktu sudah mau malam, Fira memutuskan untuk pulang. Ia menjalankan mobilnya dengan santai, namun ketika melihat ke belakang ia melihat mobil hitam. Awalnya ia tidak curiga, tapi saat ia berbelok mobil itu terus mengikutinya.


"Siapa mereka? kenapa mengikutiku?"


Fira memberhentikan mobilnya lalu keluar, dan ternyata mobil itu juga berhenti. Keluarlah lima orang pria bertubuh besar dan berwajah seram.


"Kenapa kalian mengikutiku?" tanya Fira.


"Kami ingin nyawamu!" jawabnya.


"Kenapa dengan nyawaku? Apa aku begitu berharga sehingga kalian menginginkanku?" Fira berucap sambil menyederkan punggungnya di mobil dan tangan bersedekap di dada.


"Jangan banyak omong kau! Habisi dia!" ucap salah satu dari kelimanya, mungkin saja dia sang bos.


Mereka berlima maju untuk menyerang Fira. Fira segera lari ke tempat yang lebih luas agar bebas bergerak. Perkelahianpun terjadi, salah satu dari mereka ada yang membawa pisau tajam.


Orang itu menyeringai keji, berjalan perlahan kearah Fira. Ia mengusapkan ujung pisau ketangannya dengan tatapan membunuh. Fira yang melihatnya lebih waspada, ia terus melawan kelimanya sendirian. Tapi, tubuhnya perlahan merasa lelah karena seharian ia harus bekerja menjadi sopir. Sebuah tendangan dari salah satunya mengenai tubuh Fira dan diapun jatuh tersungkur.


Ketika orang yang tadi membawa pisau ingin menancapkan ke Fira, seseorang datang menerjang tubuhnya hingga terjungkal dan terkapar.


Fira mendongak dan orang itu juga menoleh ke arah Fira.


"Kau!" Fira.


"Cewek gila!" Reyhan.


Orang yang membantu Fira adalah Rey, tadi dia sedang dalam perjalanan pulang bersama Daffa. Dia melihat orang yang ingin melayangkan pisau, dan dia kaget jika orangnya seorang wanita.


Reyhan dan Daffa keluar dari mobil bergegas membantunya, dan Rey tambah kaget jika wanita itu si cewek gila.


Si penjahat kini menyerang Reyhan dan Daffa, datang lagi dua orang yang membatu Fira. Fira menyunggingkan senyuman ketika melihat mereka. "Bang Leo, bang Alex, kalian datang di waktu yang tepat," batinnya.


Fira kembali bangkit, kembali melawan. Lawannya kini menjadi seimbang, satu lawan satu. Pihak dari mereka terkapar lemah, sang bospun memerintahkan anak buahnya untuk mundur.


"Mundur!" perintah si penjahat.


Ketika mereka ingin mundur, Rey akan mengejar. Namun dengan tiba-tiba, dari samping ada orang yang menyerangnya menggunakan pisau.


Fira yang melihat itu terkesiap, kemudian berlari ke arah Reyhan dan mendorong tubuh Rey.


"Awaaas!" teriak Fira.


Sreett....


Hingga akhirnya, pisau itu menggores pangkal lengan, Fira terluka.


"Syafira...!" ucap Leo dan Alex.


Mereka berdua mengepalkan tangannya, amarah semakin memuncak lalu keduanya terus menyerang tanpa ampun hingga mampu melumpuhkan pertahanan mereka, empat darinya bisa mereka kalahkan dan salah satu darinya melarikan diri.

__ADS_1


"Kita bereskan mereka," ucap Leo.


"Baik," jawab Alex.


Sementara Reyhan mematung di tempat, kemudian kesadarannya kembali saat melihat tangan Syafira mengeluarkan banyak darah.


"Apa yang kau lakukan cewek gila?" bentak Reyhan.


"Menurutmu?" jawab Fira santai.


"Kenapa kau menolongku?"


"Terus gue harus diam saja melihat orang dalam bahaya? sorry, itu bukan diri gue."


"Rey, cepat bawa dia! Tangannya terus mengeluarkan banyak darah," kata Daffa.


Dengan panik dan khawatir, Reyhan menarik pergelangan tangan Fira membawa dia ke mobilnya.


"Hei, gue gak pa pa. Jangan berlebihan napa?" ucap Fira menolak.


Reyhan tak menggubris dia terus membawa Fira ke mobilnya. "Daffa, tolong loe bawa mobil dia!" titah Rey pada Daffa.


"Siap bos."


"Bang, urus mereka! Jangan biarkan mereka lolos begitu saja!" pekik Fira kepada Leo dan Alex.


"Siap, Ra. Kau obati lukamu! Biar di sini jadi urusan kami," jawab Leo.


****


Brakk!


Gebrakan meja terdengar jelas di telinga.


"Jadi kalian gagal menyingkirkannya?" bentak Mahendra.


"Maafkan kami bos, dia di bantu empat orang pria," ucapnya takut.


"Kalian saja yang tidak becus melawannya. Cuihh tampang saja yang menyeramkan tapi kekuatan masih cetek," ucap Mahendra penuh amarah.


Dia membanting apa saja yang ada di dekatnya karena kesal dan marah.


"Aurel, akan ku habisi kau! Tak akan ku biarkan kau hidup dan merebut segalanya dari ku!" gumamnya, matanya menyala penuh dendam.


****


Rumah sakit.


Rey terus menuntun Fira membawanya ke dalam ruangan. Fira hanya menghelakan nafasnya secara kasar, batin nya terus menggerutu karena kesal.

__ADS_1


"Dokter...Dokter.." Reyhan terus berteriak memanggil dokter.


Dokter dan suster yang ada di sana merasa terganggu akhirnya menghampiri.


"Ada apa tuan?" tanya salah satu Dokter yang sudah berada di dekat Reyhan.


"Tolong kau obati lukanya!" titah Rey pada Dokter. Wajahnya terlihat sangat khawatir dan ketakutan.


Fira hanya terdiam melihat kehebohan Rey, percuma membantah karena Rey akan terus memaksanya.


Dokter tadi memeriksa luka yang ada di lengan Fira. Matanya membola ketika melihat luka yang begitu panjang dan dalam.


"Astaga, nona! Ayo ikut saya! Ini harus segera di tangani lukanya cukup besar."


Fira dan Reypun mengikuti Dokter. Saat sudah berada di dalam, dokter meminta Fira membuka jaket yang ia kenakan.


"Mau ngapain kau menyuruh dia membuka baju?" ucap Rey, dia merasa tidak rela tubuh Fira di lihat oleh orang lain.


"Kami akan mengobati dan menjahit lukanya tuan," jelas sang dokter.


"Cari Dokter perempuan! Saya tidak suka kau yang menjahitnya!" sergah Reyhan.


Fira memutarkan matanya, dia lama-lama menjadi jengah akan sikap Reyhan.


Dokter itu menuruti permintaan Reyhan, dan Syafira segera di tangani. Sedangkan Reyhan menunggu di luar ruangan.


Tak lama kemudian tangan Fira selesai di jahit, ia merengek kepada Rey untuk mengantarkan dia ke tempat tadi.


"Ayolah, Rey. Gue harus menjemput Felix, pasti dia sedang menunggu gue."


"Mobil loe sudah di bawa Daffa ke rumah gue, jadi biarkan anak loe yang kerumah gue!" ucap Rey tanpa penolakan.


Fira mendengus kesal, kemudian ia menelpon Dika agar mengantarkan Felix ke alamat yang Fira berikan. Dia juga menjelaskan jika dia mengalami sedikit musibah.


"Ayo!" ajak Reyhan sambil menggandeng tangan Fira.


"Kenapa loe jadi baik?" Fira mendekatkan wajahnya dan memicingkan mata curiga.


Rey di tatap seperti itu jadi gugup karena wajah mereka berdekatan.


"I ini sebagai tanda terima kasih gue untuk loe," jawab Rey terbata.


"Dan kenapa dari tadi loe gandeng gue terus? entar suka loe," tanya Fira sekaligus menggoda Reyhan dengan iseng.


Reyhan kembali gugup, kini wajahnya memerah dan ia melepaskan genggamannya.


Fira tertawa melihat kegugupan Rey.


"Ngeselin loe," ucap Rey kesal.

__ADS_1


Merekapun pergi berlalu meninggalkan rumah sakit, tujuan selanjutnya adalah rumah Reyhan.


__ADS_2