
"Jujur, aku tidak mengerti dengan semua yang terjadi? Kenapa Mama masih bisa hidup, bukankah waktu itu aku sendiri menyaksikan Mama tiada?" lirih Fira sambil memotong steak daging di hadapannya.
Reyhan hanya diam memperhatikan kedua perempuan berbeda usia itu. Sedangkan Doni sibuk menyuapi Felix karena bocah manis bermata bulat itu tidak mau lepas dari Doni.
"Ketika monitor jantung berbunyi, Mamamu memang sudah tidak bernapas lagi. Pada saat itu kita 'kan di suruh keluar oleh Dokter, dan Dokter sedang berusaha melakakukan tindakan dengan menggunakan alat pacu jantung. Hasilnya seperti yang kamu lihat, sekarang Mamamu masih hidup." Jawab Doni di sela tangan sibuk menyuapi.
"Dan Mama yang menyuruh Dokter untuk memanipulasi kematian Mama. Orang yang kalian kuburkan bukan jasad Mama, melainkan hanya sebuah boneka." Sahut Sofi sambil mengunyah spaghetti.
"Kenapa Mama lakukan itu?" Fira memberhentikan pergerakan tangannya lalu menatap serius mata Sofi.
"Semua ini tidak lepas dari idenya Doni. Kami hanya ingin menjadikan kamu wanita tangguh, kuat, dan yang pasti salah satu cara kami melindungi kamu."
Fira menggeleng kepala. "Sungguh sulit di mengerti. Apa hubungannya memanipulasi kematian Mama dengan melindungiku? tidak masuk akal!" Fira tidak habis pikir keduanya malah membohongi dia. Dia sendiri tidak mengerti kenapa kematian Sofi harus di manipulasi.
"Jika Mamamu masih ada, yang ada kau manja Syafira! Dan kau akan susah di bujuk untuk memperdalam ilmu dengan alasan capek lah, lelah lah, panas lah. Makanya kami merencanakan ini agar kau pokus dalam segalanya. Buktinya sekarang kau menjadi wanita tangguh yang sukses." Doni menjelaskan alasannya hanya semata-mata demi kebaikan Syafira sendiri.
"Ya juga sih, aku akui usaha kalian berhasil menjadikanku wanita tangguh. Bahkan saking tangguhnya, aku menjadi kebal akan cemoohan orang." Fira terkekeh sendiri mengingat orang lain mengatai dirinya janda miskin murahan.
"Penampilan kamu juga ikut berubah, Ra. Dulu hidungmu tidak memakai tindik, sekarang kau malah memakainya seperti telinga saja." Sofi menyindir penampilan Fira yang berbeda.
"Hehehe, 'kan Syafira yang sekarang bukanlah Syafira yang dulu," jawabnya cengengesan.
"Kamu yang sekarang jauh lebih cantik, lebih dewasa, lebih pintar, lebih tangguh, dan yang pasti lebih glowing. Keponakanku saja sampai kepincut akan pesonamu." Celetuk Sofi menyindir halus pria maco nan tampan yang berada di hadapan dirinya.
Reyhan merasa tersindir, dia menundukan wajahnya dan tersenyum tipis. "Syafira terlalu mempesona." Gumamnya, namun masih bisa di dengar oleh mereka.
Doni dan Sofi sudah terkekeh melihat tingkah Reyhan. Fira sendiri cuek bebek menyantap hidangannya. Gadis berwajah cantik itu sangat sulit di tebak, hanya dia dan Tuhanlah yang tahu akan dirinya yang seperti apa.
"Reyhan, kamu pasti mengenali siapa saya. Saya harap kamu menyembunyikan pertemuan kita kepada keluargamu terutama Nenekmu!" ucap Sofi serius.
__ADS_1
Reyhan mendongak, dia mengerutkan alisnya. "Kenapa harus seperti itu?" tanya Rey bingung.
"Ada saatnya dimana saya harus menampakan diri di hadapan kalian semua. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk muncul di keluarga kalian. Saya harap kau mampu menjaga rahasia pertemuan kita!" Sofi menatap Reyhan penuh peringatan.
Reyhan membuang nafas. "Jika itu yang terbaik, aku akan melakukannya demi bibi." Reyhan yakin jika bibinya belum siap bertemu keluarga dia. Rey sendiri sudah tahu cerita mengenai Sofi. Dia tidak akan memaksakan bibinya untuk menemui keluarganya. Biarlah waktu yang mempertemukan Sofi dengan keluarganya, begitulah pikiran Rey.
****
POV Reyhan
Bruukkk
Setelah pulang dari sana, aku langgusng melemparkan tubuhku ke atas kasur
dan terlentang menatap langit-langit kamar sambil tangan sebelah kanan aku selipkan ke bawah kepala. Aku tidak menyangka jika orang ku temui tadi adalah bibiku, bibi yang kami sangka sudah tiada. Saat melihat dia aku langsung mengenalinya, wajahnya sangat mirip dengan nenek. Dan yang membuatku terkejut lagi, ternyata Syafira mengenalnya bahkan, dia memanggil bibiku mama, sungguh takdir Tuhan memang tidak ada yang tahu.
Aku bingung sekarang harus apa? sedangkan bibiku bilang jika aku harus menyembunyikan pertemuan kita kepada keluargaku. Dan aku juga bingung, apakah aku akan melanjutkan rencana ku untuk menikahi Syafira, atau semua itu tidak akan terjadi sebab kami saudara.
Lalu aku membalikan badanku menjadi tengkurap kemudian memejamkan mataku sejenak, agar ketika ku bangun aku bisa memikirkan bagaimana cara selanjutnya.
****
Apartemen
Setelah Mama Sofi menceritakan segalanya, kini kami sudah berada di dalam apartemen yang Doni siapkan untuk kita.
"Mah, jujur, aku masih belum percaya semua ini. Aku harus kehilangan kaka-kaka ku, harus mengetahui kenyataan jika aku bukan anak kandung Ibu, bahkan ternyata Mama juga masih hidup," ucap Fira yang duduk sambil menyenderkan kepalany di pundak Sofi.
"Percaya tidak percaya, semuanya memang terjadi, Ra," balas Sofi memegang tangan Syafira.
__ADS_1
"Sole, Oma, Bunda." Pekik Felix yang baru datang bersama Doni, lalu dia duduk di pangkuan Fira.
"Sore, juga kesayangan Oma, habis dari mana nih?" tanya Sofi mengusap kepala Felix.
"Aku habis belmain, pelmainannya selu Oma, dan banyaaakkk," ujar Felix dengan gembira. "Di sana aku main pelosotan, mandi bola, aku juga belenang iya kan, Uncle om?" kata Felix.
"Iya, dan apa kalian tahu? dia tidak mau ku ajak pulang, aku sampai harus membujuk dirinya," cibir Doni kesal.
"Aku kan ****** belmain ke tempat pelmainan Uncle om, jadi aku puasin mainnya," saut Felix.
"Mumpung masih ada Uncle om disini, kalian ajak saja dia bermain!" celetuk Fira dengan senyum jahilnya.
Doni melototkan matanya, "𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘴𝘪𝘯𝘨, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘪-𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘺𝘦𝘯𝘨."
"Emang boleh, Bunda?" tanya Felix memastikan.
"Ti.." Sebelum Doni melanjutkan ucapannya, Sofi cepat-cepat memotong.
"Boleh, kamu boleh mengajak Uncle om kemanapun kamu mau!"
Doni melotok ke arah Sofi, tapi Sofi hanya cuek tak menanggapi.
"Hole....asyikk aku akan belmain lagi besok. Aku akan belenang lagi. Nanti aku akan ajak Uti, Kakung, Kakek, Nenek sama om Fadil, bial tambah selu. Aku juga akan ajak Ayah Ley, Aunty Amel, Opa Alman, Oma Dinda," pekik Pelix melompat dari pangkuan Fira dan berjingkrak-jingkrakkan senang.
Doni menyenderkan punggungnya secara kasar, lelaki manis bermata sipit itu pasti akan kembali kerepotan jika menemani Felix bermain.
"Enin Saras di ajak tidak?" tanya Fira ingin tahu jawaban anaknya.
"Tidak! Dia jahat cama Bunda," tolak Felix menyilangkan kedua tangannya menyerupai huruf x sambil memanyunkan bibir mungilnya.
__ADS_1
Bersambung...