Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Perseteruan


__ADS_3

Orang-orang suruhan Hendra sudah standby untuk melaksanakan perintah bosnya. Kini mereka sedang mengintai pergerakan target, mereka terdiri dari 10 orang bertugas mengepung rumah Dika.


"Bos itu mereka, sepertinya dia mau keluar." Tunjuk salah satu anak buah yang melihat Sofi keluar rumah.


"Bagus, ini memudahkan kita menangkap target. Segera hubungi orang-orang agar segera menjalankan misi!"


Salah satu dari mereka menghubungi yang lain. Tak lama kemudian Fira dan Reyhan juga keluar dengan tergesa.


"Rencana bos Besar sudah mulai berjalan. Setelah mereka bertiga menjauh kita culik seorang bocah kecil," titah sang Bos menunggu Fira menjauh dari rumah Dika.


Setelah dirasa aman, mereka semua keluar dari mobil, sebagian berjaga dari luar dan sebagian lagi masuk ke dalam rumah.


"Angkat tangan!" pekik sang Bos menodongkan senjata api.


Dika, Dita, dan Felix tentunya terkejut karena anak buah Fira belum sampai. Di rumah Dika tidak ada penjagaan sama sekali jadi memudahkan orang suruhan Hendra melancarkan aksinya.


"Siapa kalian? mau apa kalian menyergap kami?" tanya Dika.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami, yang kami inginkan bocah kecil di belakang mu!"


Dika melirik Felix, Felix sendiri malah menatap orang-orang itu tanpa rasa takut.


"Tidak akan ku biarkan kalian menyentuh cucuku!"


"Baiklah, jika itu mau mu jangan salahkan kami kalau kami melakukan tindakan kekerasan! Bawa bocah itu!" titahnya kepada anak buah dia.


Dua orang ingin menarik Felix, Dika segera menerjang tubuh mereka sampai tersungkur. "Bawa Felix keluar dari sini!" kata Dika pada Istri nya. Kemudian Dika bersiap melawan orang-orang suruhan Hendra.


Dita memangku Felix ingin lari ke luar lewat belakang namun langkahnya terhenti ketika penjahat yang lain menghadangnya.


"Mau kemana kau nyonya? serahkan anak itu pada kami!"


"Tidak akan!" Dita berlari mengelilingi dalam rumah mengecoh mereka yang mengejar. Para penjahat juga ikut mengejar.


Dita terkepung oleh 4 orang dan dia berada di tengah-tengah. Dita melihat setiap pergerakan mereka dan dia melawan ke empatnya dengan Felix masih berada di gendongan.


Sedangkan Dika sudah melawan 4 lainnya termasuk sang Bos yang memerintahkan mereka. Pukulan demi pukulan terus di layangkan oleh Dita dan Dika untuk mempertahankan Felix. Tenaga keduanya mulai terkuras, terutama Dita yang kekuatannya tidak sekuat Syafira.


Dita kelelahan sampai akhirnya seseorang menendang perutnya sampai tersungkur jatuh dan orang itu segera mengambil alih Felix.


"Uti...!" pekik Felix. Dita memegang perutnya yang terasa sakit.


"Felix...! Lepaskan cucuku." Dita bangkit namun sayang, dari belakang ada yang memukul pundaknya dan Ditapun pingsan.


"Dita...!" Dika membabi-buta dan kembali menyerang mereka sendirian. Tidak lama kemudian para anak buah Fira yang berjumlah 8 orang membantu.


"Alex, Felix di bawa mereka." Pekik Dika masih menyerang. Sebagian anak buah Hendra sudah meninggalkan tempat itu setelah mendapatkan Felix dan sebagiannya lagi tertangkap oleh anak buah Alex.

__ADS_1


Alex pun segera keluar mengejar mobil yang membawa Felix. Dia menaiki mobil mengejarnya. Namun sayang Alex kehilangan jejak mobil itu. Alex memukul stir mobil, "Sial...gue terlambat datang dan kehilangan jejaknya."


****


Sofi menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Pikirannya begitu khawatir akan keselamatan sang Ibu. Tibalah Sofi di tempat sepi jauh dari keramaian kota dan tempatnya sangat kumuh tak berpenghuni.


Sofi keluar menghampiri Ibunya yang sedang berjongkok ketakutan. Dia merasa kasihan melihat tubuh tua itu terlihat seperti gelandangan. "Ibu, apa kau tidak apa-apa?" tanya Sofi khawatir.


"Ibu tidak apa-apa, untung kamu datang tepat waktu." Saras menatap Sofi dan dia memberikan kode kepada beberapa orang yang membantunya.


Tiba-tiba ada dua orang menyeret Sofi secara paksa.


"Ikut denganku!" bentaknya.


"Tidak mau! Siapa kalian?" kata Sofi memberontak dan dia menggigit tangan orang yang mencekalnya.


"Aaaaaaa, dasar wanita sialan! Tangkap dia!" teriak orang itu memerintahkan yang lain menangkap Sofi.


Datanglah bala bantuan berjumlah 5 orang dan mereka saling menyerang. Anak buah Hendra berjumlah 10 orang. Rupanya Hendra benar-benar menyiapkan segalanya.


"Ternyata ucapan Fira benar kalau ini hanya jebakan semata. Ibu, aku tidak menyangka kau akan bertindak sejauh ini." Gumam Sofi sambil melawan mereka.


Diam-diam Saras memperhatikan pergerakan Sofi. Di saat Sofi lengah, dia mengeluarkan sapu tangan yang sudah di campur obat bius. Dia memberikan kode kepada salah satu anak buah Hendra agar memukulnya.


"Aaaaaa Sofi, tolong Ibu!" Saras pura-pura kesakitan ketika seorang pria memukulnya.


Sofi pun terkulai lemas pingsan, kemudian salah satu dari mereka membawa Sofi tanpa sepengetahuan yang lain.


"Mundur...!" titah orang yang sudah memukul Saras. Mereka pun mundur dan berlari meninggalkan tempat itu.


"Dimana Nyonya Sofi?" tanya anak buah Fira. Mereka celingukan.


"Tidak ada, kita terkecoh, Bos."


"Sialan.... baru kali ini kita sampai kecolongan."


****


Fira dan Rey sudah tiba di Cafe SC and R. Apa yang dikatakan Rani benar, Cafenya berantakan kursi dan meja terbalik dan ada beberapa barang hancur. Fira melihat ada 5 orang preman bertubuh besar sedang berkelahi dengan para pegawai nya.


"Mana yang namanya Syafira? keluar! Hadapi kami!" teriaknya.


"Saya di sini!" jawab Fira menghampiri para preman itu.


Pegawai yang sudah terkapar dan kelelahan mundur setelah Fira mengkode.


"Rupanya kau, cantik juga. Tapi sayang, kau harus mati di tangan kami." Ucap sinis salah satu preman itu.

__ADS_1


"Tidak semudah itu kalian melenyapkan ku." Balas Fira dingin.


"Ck, preman seperti kalian mau melenyapkan istriku? silahkan kalau bisa! Lenyapkan saja!" celetuk Rey.


Fira melotot tak percaya. "Kok kamu ngomongnya gitu? bukannya membantu ku malah mengompori mereka," Fira kesal.


"Aku sedang membantu, membantu mereka agar mereka terpancing lalu menyerang kamu. Aku ingin lihat seberapa hebat seorang Aurelia Syafira." Reyhan cuek saja atas apa yang telah di ucapkannya.


"Oh, jadi kamu hanya ingin melihat saja tanpa mau membantuku?" Fira semakin kesal.


"Iya," balas Rey.


"Kalau gitu aku tidak akan memberikan jatah selama satu Minggu!" ancam Fira.


"Eh, jangan lah! Aku tidak bisa kalau harus libur." Reyhan panik, kalau soal jatah dia paling takut.


Pertengkaran keduanya di perhatikan oleh semua orang yang ada di Cafe.


"Ini gimana kelanjutannya? malah kalian yang bertengkar? mau berkelahi atau tidak?" tanya salah satu preman suruhan Hendra.


"Diam!" bentak Fira dan Rey bersamaan.


"Makanya kalau kamu tidak ingin jatahnya di kurangi lawan mereka!" Fira melanjutkan pembahasan yang tadi.


"Kamu serius, Sayang? masa aku yang harus melawan mereka sendirian? bonyok dong aku." Rey mengacak rambutnya kesal.


"Aku serius. Kamu lawan mereka sekarang atau...."


"Iya, iya," Rey mengiakan dan langsung saja tangannya meninju kelima preman itu dan menendang mereka sampai mereka jatuh ke lantai.


Rey mengibaskan tangannya. "Aduuhh, Sayang. Tangan aku sakit tahu. Mereka cukup kuat loh," Reyhan menggerutu.


"Masa cuman segitu? kamu kan laki, harus kuat dong!" ledek Fira.


para preman itu bangun dan ingin membalas keduanya secara bersamaan. Secepat kilat Fira memegang kedua sisi bahu Rey dan ia melompat lalu Rey langsung memeluk pinggang Fira memutarnya sampai kaki Fira menerjang kuat wajah para preman.


Bersambung....


𝗦𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗸𝘂 𝗯𝗶𝗻𝗴𝘂𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗹𝘂𝗿𝗻𝘆𝗮 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗮𝗽𝗮 𝗹𝗮𝗴𝗶. 𝗣𝗶𝗸𝗶𝗿𝗮𝗻 𝗸𝘂 𝗯𝘂𝗻𝘁𝘂, 𝗶𝗱𝗲𝗸𝘂 𝗺𝗲𝗻𝘁𝗼𝗸 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗸𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿.


𝗝𝗮𝗱𝗶, 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗶𝗻𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗵𝗮𝘀𝗶𝗹𝗻𝘆𝗮. 𝗦𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 𝘀𝘂𝗸𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝘂𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗼𝘀𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮.


𝗧𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗲𝗻𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝗸𝗲 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗮𝘂𝘁𝗵𝗼𝗿 𝗿𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶𝗸𝘂. 𝗔𝗽𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗸𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝗯𝘂𝗸 𝗿𝗲𝗻𝗴𝗴𝗶𝗻𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗶𝘀𝗮 𝗹𝗲𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗰𝗮𝗸-𝗮𝗰𝗮𝗸𝗮𝗻.


𝗕𝘂𝗮𝘁 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻, 𝗸𝘂 𝗱𝗼𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂, 𝗱𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗺𝘂𝗿 𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴, 𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗿𝗲𝘇𝗲𝗸𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝘀𝘁𝗶 𝘀𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗸𝘂𝗼𝘁𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗹𝗶-𝗸𝗮𝗹𝗶 𝗹𝗶𝗽𝗮𝘁 𝗿𝗲𝘇𝗲𝗸𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗮𝗺𝗶𝗶𝗻.


𝗧𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 😊😘

__ADS_1


__ADS_2