Bukan Janda Biasa (Hanya Status)

Bukan Janda Biasa (Hanya Status)
Kuliah


__ADS_3

"Bunda..." Pekik Felix berlari menghampiri Fira.


"Bunda, habis dali mana? Kenapa pulangnya malam? Aku khawatil sama, Bunda."


"Kata Om Uncle, Bunda hanya butuh waktu untuk sendili. Emangnya benal, Bunda?" lanjut Felix.


Fira yang baru turun dari mobil, terenyuh. "𝘚𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶."


Saat Fira ingin menggendong, Doni melarangnya.


"Jangan dulu menggendong Felix! Tanganmu masih terluka, entar jahitannya bisa terbuka lagi jika banyak beraktifitas berat."


"Kata Om Uncle benal, aku masih bisa beljalan kok, Bun!" Sahut Felix. "Bunda halus banyak istilahat ya!" lanjutnya penuh peringatan.


"Siap, komandan. Akan saya laksanakan," Fira berucap sambil memberikan hormat layaknya prajurit.


"Laksanakan!" kata Felix tegas layaknya komandan.


Tumbuh kembang seorang anak itu berbeda-beda, ada yang cepat ada pula yang terlambat. Felix termasuk cepat, meski umurnya 3 tahun, pertumbuhannya sangat bagus. Di usia yang segitu, Felix sudah pintar berbicara, terkadang mengerti jika orang dewasa sedang bicara serius.


****


Kediaman Arman.


Sepanjang perjalanan pulang, hati Reyhan benar-benar dongkol. "Bisa-bisanya gue di kerjain si cewek gila, di kejar malah enggak ke kejar, cepat banget larinya."


Dengan kasar, Rey mendudukkan tubuhnya di dekat Amel yang sedang terus menerus memindahkan channel Tv.


"Kenapa, Bang?" tanya Amel masih mencari channel Tv yang bagus.


"Kesel," ucap Reyhan.


Amel menoleh, mengerutkan dahi.


"Kesel kenapa? Perasaan tadi baik deh."


"Abis ketemu cewek gila, Abang jadi kesel. Tapi, lucu juga dia." Rey menyunggingkan sudut bibirnya merasa gemas.


Rey memejamkan mata, menyenderkan tubuhnya, dia kembali teringat akan kejadian tadi.


"Siapa sih cewek gila itu? Kok, bisa-bisanya dia bikin Abang kayak gini? Kadang kesel tapi, sedetik kemudian tersenyum." Amel heran melihat perubahan sang Kaka setelah pulang dari kota M suka manggil cewek gila.


Tanpa sadar Rey berucap, "Syafira."


"What?! Jadi, Syafira, yang di maksud Abang si cewek gila! Bahkan dari dulu Abang sering bilang cewek gila mulu," cerocos Amel terkejut mendengar ucapan abangnya.

__ADS_1


Rey, yang mendengar nama Syafira di sebut langsung membuka matanya kaget.


"Hah, apa kamu bilang? Syafira! Abang tidak bilang gitu ah!" Reyhan sendiri kaget, spontan saja dia menjawab Syafira.


"ow ow ow, sekarang aku tahu, ternyata cewek gila itu spesial toh. Pertemuan dengannya membuat Abang dag dig dug der, terngiang-ngiang di ingatan," goda Amel.


"Apaan sih, gak jelas," Reyhan berusaha mengelak.


"Kalau gak jelas, dia tidak akan sering Abang sebut."


"Enggak, Mel. Abang gak nyebut namanya."


"Tadi Abang bilang Syafira si cewek gila, hayo ngaku? Dia kan, yang Abang temui di kota M dulu?"


"Enggak! Siapa bilang? Enggak gitu kok!" Reyhan gelagapan, wajahnya sudah terlihat merah di goda sang adik.


"Cieeee, ternyata eh ternyata. Pantesan ketika Syafira kerumah, Abang memperkenalkan dia sebagai calon istri. Rupanya sudah kenal dari dulu toh." Amel terus menggoda sang Kaka.


"Tau ah, ngeselin kamu," cebik Rey sambil pergi meninggalkan Amel.


Tawa Amel pecah, saat melihat tingkah sang Abang yang malu-malu kucing. "Hahaha malu-malu tapi mau."


****


Malam telah berganti menjadi pagi, Syafira sudah bersiap untuk masuk kuliah karena hari ini hari pertama Fira kuliah. Fira mengambil kuliah dari pagi sampai siang, dan selama seminggu hanya masuk tiga hari.


Felix juga sudah siap ingin ikut, sedangkan Doni menginap di salah satu hotel terdekat. Dia memutuskan untuk berada di kota J dulu sampai semua urusannya selesai.


Terlebih dulu Fira mampir kerumah pak Komar, dia memberikan sarapan untuk Fadil dan juga menyelipkan uang jajan untuknya, setelahnya Fira mengantarkan Fadil kesekolah.


Karena pak Komar dan Bu Siti masih belum pulang, Fira akan menggunakan angkot itu untuk berpergian kemanapun. Tanpa sepengetahuan keluarga Pak Komar, Fira sudah menyewa angkotnya kepada sang pemilik yang asli dan Fira memberikan setoran kepada Bu Siti menggunakan uang hasil dari Cafe & Restoran nya.


"Fadil, kamu yang benar sekolahnya! Tunjukan pada Ibu sama Bapak, kamu pasti bisa menjadi yang terbaik. Ka Fira akan mendukungmu, dan jika nanti kamu mau, kamu bisa bekerja di Sunshine Cafe & Resto," kata Fira saat menurunkan Fadil di depan sekolahnya.


"Kalau ka Fira kenal sama pegawai dalam, bolehlah rekomendasi kan aku. Aku ingin sekolah sambil bekerja ka, agar tidak terlalu merepotkan Bapak sama Ibu." Balas Fadil, siapa yang tidak tahu Sunshine Cafe & Resto. Namanya sudah terkenal ke seluruh kota.


Fira tersenyum, "Nanti aku usahakan ya, asalkan waktu bekerja kamu, tidak mengganggu sekolahmu!"


"Aku pasti akan mengatur waktunya, terima kasih ka, aku masuk dulu."


Kemudian Fadil menyalami Fira Felix menyalami Fadil.


"Dadah om Fadil," ucap Felix melambaikan tangan.


Pemuda SMA itu membalas lambaian tangan Felix, kemudian Fira meluncur ke kampusnya. Felix sendiri tidak mau di titipkan ke Doni, padahal Doni sudah membujuknya menggunakan berbagai cara. Tapi, Felix kekeh ingin ikut bundanya.

__ADS_1


****


Kampus


Rumor mengenai mahasiswi baru telah tersebar luas di kalangan kampus, Mereka begitu penasaran dengan sosok wanita yang menjadi perbincangan di kalangan mereka.


Bukan tanpa alasan Fira terkenal begitu saja di kampus terbarunya. Sebab pemilik universitas sendiri yang mengumumkan jika akan ada mahasiswi baru jurusan manajemen bisnis.


Fira telah sampai di area parkiran khusus untuk mobil. Wanita itu memarkirkan angkot lalu keluar menuntun Felix. Seperti biasa dia mengenakan pakaian simpel namun sopan, kali ini Fira memakai atasan kemeja kotak-kotak berwarna biru dengan kancing terbuka semua, bagian dalamnya kaos berwana biru langit yang ia masukan ke dalam celana jeans berwana hitam, dan sepatu sneaker berwarna putih. Tidak ketinggalan tas gendong wanita di sematkan di bahu kirinya.


Banyak pasang mata memperhatikan Fira, sebagian dari mereka mengejek penampilan Fira. Bahkan dari mereka ada yang mencibir jika Fira hanya orang miskin karena mengenakan angkot.


Ketika berjalan Fira di kagetkan oleh suara klakson mobil. Mobil itu berhenti tepat di dekatnya. Sang pemilik mobil keluar, dengan girang menghampiri Syafira.


"Syafira, kamu kuliah disini?"


"Iya, hari pertama masuk," jawab Fira tersenyum.


"Aunty cantik, aku tidak di sapa?" tegur Felix cemberut.


"Hehe maaf, Aunty ulangi lagi ya."


"Tidak ucah! Udah kelewat," Felix mencebikkan bibirnya kesal. Amel terkekeh, dia mencubit gemas pipi kenyal itu.


"Kamu ngapain di sini, Ra?" Reyhan turun dari mobil menghampiri Syafira dan Amel.


"Menurutmu?" bukannya menjawab malah bertanya kembali.


"Kuliah," jawab Rey serius.


"Nah, itu kamu tahu. Masa kesini mau jualan tahu bulat."


Reyhan mendelik kesal kearah wanita yang ada di hadapannya. "𝘐𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘨𝘶𝘦 𝘣𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘮 𝘵𝘶𝘩 𝘣𝘪𝘣𝘪𝘳 𝘱𝘢𝘬𝘦 𝘣𝘪𝘣𝘪𝘳 𝘨𝘶𝘦." Reyhan menatap gemas Fira. "𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢! 𝘓𝘰𝘦 𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘙𝘦𝘺? 𝘚𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘙𝘦𝘺𝘩𝘢𝘯!" Reyhan memijat pelipisnya berharap pikiran kotor itu menghilang.


Felix memperhatikan Reyhan dengan tatapan yang sulit di artikan. Mata polosnya yang bening tidak bisa di tebak jika bocah itu sedang merencanakan sesuatu.


"Bunda, aku mau ikut Ayah Ley!" celetuknya.


Mereka terkejut mendengar penuturan Felix yang mengatakan Reyhan Ayah.


"Ayah Rey?" tanya Amel bingung.


"Iya Aunty, ini ayah Ley. Ayah aku!" tutur Felix menekankan kata Ayah.


"Apa....!"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2